
Hari ini Bang Noa udah boleh pulang, dan syukurnya bokap gw bilang kalau mereka belum bisa pulang karena pengurusan kontrak kerja dengan kolega mereka di perpanjang karena belum menemui kata deal, meski udah jelas pelaku utamanya adalah Om Ri dan Ucup.
"Lu yakin bang udah gak papa?", Tanya gw.
"Iya udah gak papa kok, tanganmu gimana?", Tanya dia juga sambil megang tangan gw.
"Eng-gak papa kok bang", balas gw gugup.
"Ya ampun, jangan biarin gw suka sama abang gw sendiri", batin gw.
"Maafin aku ya, gak bisa jaga kamu dengan baik", ucapnya murung.
"Hey, kamu udah jadi yang terhebat di hatiku. Kalau kamu gak ada aku gak bakalan lah lepas dari Yoga", balasku sambil menangkupkan kedua tanganku di wajahnya.
"Harusnya aku yang minta maaf, karena aku gak jujur sama kamu tentang Yoga", tambahku lagi.
"Sudahlah, yang penting kamu masih selamat. Ingatlah bahwa aku bakal jadi kakak yang baik buat kamu. Kamu sudah seperti adik kandungku sendiri", ucapnya sambil tersenyum.
"Ingatlah ini baik baik Nia, kau hanya Adik. HANYA ADIK. Jangan berharap lebih", batin Nia. Sembari menampilkan senyum kecutnya.
"Lihatlah dua pasutri ini, sangat romantis", ucap Raesung.
"Bahkan kita kalah", balas Mery yang langsung memeluk Raesung dari samping.
"Maksud kalian?", Tanya gw bingung.
"Raesung dan Mery adalah sepasang kekasih", jawab bang Noa. Dan gw merasa bahwa gw doang yang gak tau apa apa.
"Jahat banget sih gak ada yang ngasih tau aku?", Tanya gw pada mereka semua. Dan semua hanya tertawa. Ingatlah aku orang asing disini.
"Noa, kau yakin mau menyetir sendiri?", Tanya Raesung.
"Iya, gw balik sama Nia aja. Oh ya Hyunsuk mana?", Tanya bang Noa.
"Dia ikut Om Ri tapi nanti dia akan kerumahmu, ada hal yang harus di urus", balas Raesung.
"Oh ok. Gw balik dulu ya sama Nia. Kalian hati hati, ingat untuk mengurus ke pindahan. Sekolah kau, Midam, Gon dan Seung hun", ucap Bang Noa.
Akhirnya kami berpisah karena gw balik sama Bang Noa dan Mery sama Raesung.
"Sejak kapan mereka berpacaran?", Tanyaku.
"Sejak aku tinggal di rumahmu, dia dulu sering ikut Raesung ke tempat Om Ri", jawab Bang Noa sambil fokus mengendarai mobilnya.
"Kenapa Midam dan yang lainnya harus pindah sekolah?", Tanya gw.
"Gw butuh orang untuk ngawasin Susan, karena saat gw nemuin lu kemarin Susan udah gak ada dan saat gw tertembak Yoga kan kabur", jawab Bang Noa.
"Oh, aku ingin satu kelas sama Midam, Gon dan Seung hun ya bang, jangan satu kelas sama Raesung nanti gw liat orang pacaran tiap hari", ujarku saat memikirkan apa yang akan terjadi jika mereka satu kelas.
"Waah, kau banyak maunya sekali sih?", Ucap Bang Noa menggodaku.
"Ya udah kalau gak mau aku aja yang pindah sekolah", balasku mengancamnya.
"Iya iya bawel, jangan marah ya", ucapnya sambil mengusap pipiku.
Sesampainya di rumah kami segera turun dari mobil aku melihat seorang wanita berada di teras rumah.
"Maaf, anda siapa?", Tanyaku pada wanita itu.
"Noa", ucapnya saat berbalik dan memeluk abangku, dengan spontan aku mendorongnya untuk melepaskan pelukan itu, karena di pundak bang Noa ada bekas jahitan kemarin.
"Siapa kamu?", Tanyaku lagi mencegah dia mendekati bang Noa.
"Ah iya, aku Maria kekasih Noa", jawabnya.
Membuatku tak percaya dan menjatuhkan tas yang aku bawa.
"Nia kamu gak papa?", Tanya bang Noa padaku.
"Ah, gak papa aku masuk duluan", aku memutuskan untuk meninggalkan mereka. Bukan tentang apa apa hanya saja gw kaget bahwa bang Noa ternyata sudah punya kekasih. Gw pun pergi ke kamar dan merebahkan diriku di kasur.
"Lu gak ada hak buat ngelarang abang lu ngejalin hubungan dengan siapapun. Dia punya kehidupan sendiri Nia", ucapku pada diriku sendiri.
Tiba tiba pintu kamar terbuka menampilkan Bang Noa dan juga gadis tadi.
__ADS_1
"Ah apa aku mengganggu?", Tanya Bang Noa.
"Tidak, masuklah jika kau ingin masuk", balasku.
"Nia, sebelumnya aku minta maaf tapi bolehkah Maria menginap di sini? Aku akan tidur di sofa ruang tamu", ucapnya sambil menampilkan wajah yang aneh menurutku.
"Terserah abang, ini juga rumah abang kan. Ah aku mau keluar dulu", balasku lalu berlalu meninggalkan mereka belum sempat bang Noa bicara lagi aku benar benar pergi dari rumah itu.
"Apa aku keterlaluan?", Tanyaku pada diri ku sendiri saat aku mulai menyusuri jalan di daerah perumahanku.
Tiba tiba ada mobil berhenti tepat di samping gw.
"Jangan jangan anak buah si Yoga nih?", Batin gw membuatku mulai panik.
"Mau kemana?", Tanya seseorang, setelah gw liat ternyata itu si Hyunsuk.
"Syukurlah", ucapku setelah mengeluarkan nafas lega.
"Kenapa? Kau pikir aku penculik?", Tanyanya dan gw hanya ketawa.
"Mau kemana?", Tanyanya lagi.
Dan gw hanya ngegelingin kepala.
"Masuklah", ucapnya gw pun masuk ke mobil Hyunsuk.
"Kita kerumah aja gimana?", Tanya Hyunsuk.
"Gak mau, di rumah ada pacar Bang Noa", balas gw.
"Pacar Noa? Sejak kapan Noa punya pacar? Gw pikir lu adik sekaligus pacarnya?", Tanyanya lagi.
"Maria, tadi wanita itu mengenalkan dirinya sebagai pacar Bang Noa. Bang Noa juga gak menepis atau melakukan pembelaan apapun. Dan dia juga menginap di rumahku malam ini", ucap gw panjang lebar.
"Apa kau sedang cemburu?", Tanya Hyunsuk.
"Enggak. Ucup jangan ngada ngada", balas gw sambil ngebentak dia.
"Kelihatan kali, mukamu itu tak bisa berbohong", jawabnya sambil tertawa.
"Kan Om Ri gak ada", balas Hyunsuk.
"Maka dari itu ucup, kita kesana dan panggil Bokir sama Raesung. Kalau mau ketemu Andre kuncinya cuma di Bokir dan gw", balas gw kesel banget sama orang satu ini.
"Yakin kita bergerak gak bilang Noa?", Tanya Hyunsyuk.
"Lu harus ketemu sama Andre dulu, kalau emang mungkin bakal kita bawa semua anak buah kita", jawab gw.
"Waaah, dah kaya bos aja ngatur ngatur. Tapi wajar aja lu dulu pacarnya Yoga jadi tau banget", balas Hyunsuk.
"Ya gitu deh, gw merasa menyesal setelah tahu kalau dia lebih gila dari dugaan gw", balas gw.
"Tapi lu sayangkan sama dia?", Tanya Hyunsuk.
"Kalau bukan karena dia yang nyelamatin gw waktu itu, gw gak bakal pernah sudi sama dia", balas gw lalu menyamankan posisi untuk memejamkan mataku.
"Sok misterius banget jadi orang", ucap Hyunsuk.
"Gw denger lu ngomong apa, udah jalanin mobilnya jangan meleng ntar nubruk ", balas gw.
"Iya nyonya", jawabnya dan gw cuma ketawa aja.
Masih kepikiran siapa wanita tadi, saat Hyunsuk mendengar nama wanita tadi ku sebut ada perubahan dalam gestur mukanya.
Sesampainya di tempat Om Ri ternyata sudah ada Bang Noa sama Maria disana, ada Mery bersama Raesung, Bokir Midam dan yang lainnya juga sedang ngumpul disana.
"Ternyata kita keduluan", balas Hyunsuk setengah berbisik. Kulihat Bang Noa menatap kami berdua dengan dingin.
"Waaah, bau baunya bakal jadi adik ipar Bos Besar nih", celetuk jihoon, si lambe turah di antara yang lain.
"Doain aja", balas Hyunsuk. Gw lihat siluet mata Bang Noa berubah.
Kamipun bergabung dengan mereka. Baru saja aku mendudukan diriku di kursi Bang Noa udah mulai bertanya.
"Dari mana aja?", Tanyanya entah pada siapa yang lain hanya diam sedang gw menunjuk dengan tangan kearahku sendiri.
__ADS_1
"Siapa lagi yang harus aku khawatirkan Hyunsuk?", Tanyanya lagi. Gw cuma menghela napas panjang gw pun memilih buat ninggalin mereka dan berjalan menuju Bokir dan Jihoon yang duduk di sudut sebelah tempat gw duduk lagi.
"Kalau di tanya tu di jawab, jangan main pergi aja", ucapnya.
"Gw kira lu beda sama Yoga, bisa ngertiin suasana. Mana ada orang mau jawab kalau di bentak begitu", balasku lalu memilih memalingkan muka.
"Perang lu sama abang lu?", Tanya Bokir.
"Kaga, hoon mending lu gabung di sana. Gw mau ngomong serius sama Bokir", jawab gw.
"Kaga asik lu, datang main usir usir. gw juga pingin tau", balasnya.
"Lu gak bisa jaga rahasia sih. Dah sono", balas gw akhirnya dengan ngedumel Jihoon pun ninggalin gw sama Bokir.
"Ada apaan?", Tanya Bokir.
"Soal Andre", balas gw dia mengangguk paham.
"Gw cuma mau kita berempat yang kesana. Gw, elu, Hyunsuk sama si Raesung doang", ucap gw
"Lah kenapa abang lu gak lu bawa sekalian", jawabnya.
"Nanti kalau abang gw tau bisa bisa nanti ada perang dua geng lah, kita cari aman aja jangan buat gaduh dulu", balas gw.
"Yang punya akses untuk Andre kan cuma gw, elu Anton sama Yoga. Kalau kita gak cepet cepet takutnya si Yoga bawa lari Andre", tambah gw. Bokir mangguk mangguk. Saat gw mau bicara lagi tiba tiba abang gw duduk di depan gw sama Bokir.
"Kir, gw pinjam Nia dulu. lu gabung sama anak anak", ucapnya dingin Bokirpun langsung aja gitu padahal pembicaraan kami belum selesai.
"Kir, bisa tolong urusin dulukan?", Tanya gw yang pasi Bokir tau maksud gw.
"Aku mau ngomong", ucapnya membuatku kembali memperhatikan Bang Noa.
"Maafin aku, udah bentak kamu. Aku khawatir", balasnya membuatku tersenyum.
"Gak papa kok, maafin gw juga tadi gw emosi", balas gw.
"Kok jadi lu gw lagi sih?", Balasnya.
"Malam ini aku gak balik ya bang, aku mau di sini aja boleh kan?", Tanya gw.
"Kalau lu gak balik gw juga gak balik. Lagian Maria juga disini gak jadi aku taruh rumah", balasnya membuatku terkejut.
"Kenapa?", Tanyaku.
"Kita pulang dan aku jelaskan", balasnya menggandeng tanganku untuk beranjak dari sana.
"Gw duluan ya, nitip si Maria Mer", ucap Bang Noa yang di hadiahi jempol oleh Mery dan kami berdua pun pergi dari sana.
Rumah Noa Nia
"Jelasin", balasku ketika udah sampai Rumah.
"Maria itu mantan kekasih aku, bukan pacarku", jawabnya.
"La e-emang kenapa? Mau pacar atau bukan juga?", Tanya gw gugup.
"Aku cuma mau ngasih tau itu aja", balasnya, sambil tersenyum.
"Oh Tuhan jangan lagi", batinku.
"Oh, ya udah aku mau ke kamar tidur", balasku.
"Enggak bareng aja?", Tanyanya sambil menampilkan smirknya.
Dengan secepat kilat aku melesat ke kamar dan menutup pintu.
"Ini bukan mimpi kan?", Tanyaku, dadaku bergemuruh hebat, sambil memegang kedua pipiku yang sangat panas menurutku. Mungkin akan terlihat merah jika aku gak buru buru pergi ke kamar.
"Mereka gak pacaran kan? Tapi kenapa gw seneng banget?", Tanyaku pada diriku sendiri.
Aku mendengar suara langkah kaki menaiki tangga, dan ku pikir itu adalah Bang Noa, gw pun bergegas naik ke ranjang dan pura pura tidur.
Aku merasakan langkah itu terus mendekat kearahku, aku pun memiringkan tubuhku agar tak ketahuan kalau aku sedang pura pura tidur.
Tiba tiba aku merasa ada seseorang tengah memelukku.
__ADS_1
"Jangan pernah acuhkan aku", ucapnya dan pelukannya semakin mengerat.