
Noa Pov. . .
Aku mengikuti langkah mereka berdua, tamparan keras yang mendarat dipipiku itu menyadarkanku bahwa tak semua yang menurutku adalah keputusan tepat, juga baik untuk Nia. aku melihat mereka menyusuri sebuah gang di dekat gerbang sekolah. aku terus mengikuti langkah mereka sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah warung aku masih mengintai mereka dari kejauhan, kulihat Nia masuk kedalam dan menyisakan Yoonbin sendirian. Jujur aku tak pernah sama sekali menghajar Yoonbin sampai begini. karena pada dasarnya Yoonbin adalah tipe anak yang jika terpukul satu kali pasti tak memberi ampun lawannya tapi kali ini dia tak membalas pukulan yang ku berikan dengan bertubi tubi. mereka terlihat sedang berbicara sampai pada akhirnya aku melihat Nia memeluk Yoonbin dengan senyum yang tak dapat aku artikan sebagai senyum apa.
"sial", kataku lalu pergi meninggalkan mereka. dengan perasaan kacau aku kembali ke apartemen tempat kami tinggal. sungguh aku tak percaya kekasihku dan saudaraku kini telah menikamku dari belakang, bukankah aku patut untuk marah saat ini? aku menjatuhkan diriku di kasur.
"apa salahku?", ujarku
"apa aku salah mencintai adikku sendiri?", tanyaku lagi.
"tapi kenapa harus dengan Yoonbin?", aku masih bertanya pada diriku sendiri.
"mungkin itu yang di tanyakan Yoga juga saat kau jalan dengan Nia", suara seseorang di depan pintu yang ternyata adalah Haruto.
"darimana datangmu?", tanyaku
"jangan mengalihkan pembicaraan. Nia belum pulang?", tanyanya.
"apa peduliku", jawabku acuh.
"Dia kekasihmu?", Balas Haruto mendekatiku.
"Dia hanya adik bagiku", kata yang tak pernah terlintas keluar begitu saja.
"Adikmu? Bagaimana bisa setelah apa yang kalian lewati dan kau bisa bilang dia hanya adikmu?", Tanya Haruto.
"Dia lebih memilih Yoonbin dari pada aku, dia lebih senang dan nyaman saat bersama Yoonbin. Apa yang salah dariku jika aku bilang dia HANYA adikku", ku berikan penekanan agar Haruto tau apa yang aku rasakan.
Bugh. . .
Haruto menghajarku. "Asal kamu tahu ya, jika tak ada Yoonbin Nia mungkin sudah tak tahu lagi nasibnya. kau harusnya beruntung. Nia masih hidup setelah hampir saja mati di tangan Yoga. luka di kaki Nia apa kau tahu luka darimana?", ucapnya panjang lebar.
"sebelum kau gegabah mengambil keputusan. coba periksa dari kubumu sendiri. mana tahu ternyata dari sanalah semua kekacauan ini terjadi", balas Haruto dan mulai beranjak dari sana.
Emosiku mulai terpacu lagi. "apa maksudmu? kau mau menyalahkan anggotaku?", tanyaku sembari mendekatinya.
"Bokir yang anak buahnya Yoga saja bisa berpindah. kenapa di tempatmu tidak bisa? eh bung, saat kubumu mulai tak terkendali. maka akan terlihat yang mana penjilat dan mana yang membantumu tetap selamat", katanya seperti menusuk ulu hatiku. amarah ini lebih mendominasi daripada pikiran jernihku saat itu.
"keparat kau", teriakku hendak memukulnya.
__ADS_1
"berhenti!!", teriak Junkyu dari arah pintu masuk.
"kalian ini sangat kekanak kanakan tau? daripada mikir siapa yang salah bagaimana kalau kita nyari Nia?", usul Junkyu.
"kalian cari saja, aku akan kembali saja ke rumah", balasku.
buugh. . .
satu tinjuan keras mendarat lagi di tubuhku. "kau benar benar sudah gila hah? Nia disini berusaha tetap hidup dan bertahan untukmu tapi kau malah seperti ini? aku benar benar merasa menyesal telah mempertemukan kalian kembali", ungkap Haruto yang baru saja membuat ususku bergeser dari tempatnya.
"Haruto udah", cegah Junkyu saat ingin memukul dan juga menendangku lagi.
"manusia keparat macam dia memang harusnya di beri pelajaran. Biar dia tahu bagaimana kita dan juga Yoonbin bahkan Nia sendiri berjuang melawat maut yang setiap hari bisa datang sewaktu waktu" teriak Haruto.
"udah udah, percuma kita ngomong sama dia. dia lagi emosi gak akan tahu apa yang kita omongin", suara Junkyu juga seolah memojokanku.
"terserah kalian, aku tak ingin melihat kalian. pergi sana", teriakku. aku mengacak acak kamarku. aku benar benar di buat hampir gila dengan keadaan ini.
"mengapa semua harus seperti ini, aku kehilangannya lagi", tangisku pecah
"mengapa selalu aku yang begini?", teriakku. Aku merengkuh lututku untuk kesekian kalinya aku merasa hanya manusia terbuang yang sesungguhnya. Setelah Yoga, kini Yoonbin juga pergi meninggalkanku. Kini seorang yang aku harapkan selalu ada di dekatku juga pergi dan lebih parahnya, mengapa harus dengan saudaraku sendiri. Aku makin tenggelam dalam dunia ini.
Aku mulai membuka mataku yang terasa berat. Aku merasakan kini tubuhku berada di kasur.
"Kau baik baik saja?", Suara itu mulai terdengar lagi hingga membuatku sadar bahwa dia kini berada di sampingku.
Aku melihat dirinya, sama sekali tak ada dosa dari pancaran matanya. Itu membuatku muak.
"Apa yang sakit?", Tanyanya hendak memegang dahiku tetapi ku tepis dengan kasarnya. Aku membalikan tubuhku dan memunggunginya.
Dia menghembuskan nafas kasar. "Baiklah, aku yang salah disini. Maafkan aku telah menamparmu. Maafkan aku telah meninggalkanmu. Aku terlalu emosi waktu itu", jelasnya.
"Bahkan kau tak meminta maaf saat kau memeluknya?", Batinku.
"Mau memaafkanku atau tidak?", Tanya Nia.
"Bukankah kau lebih bahagia bersama Ben?", Tanyaku lirih berusaha sekuat mungkin menahan amarah.
"Aku memang bahagia bersama Yoonbin. . .", Jawaban itu membuatku menoleh kearahnya dan menatapnya tajam.
__ADS_1
"Apa maksudmu kau akan meninggalkanku?", Tanyaku dengan mata yang sama.
"Kenapa memotong pembicaraan ku? Apa itu sopan hm?", Tanya Nia balik.
Aku memilih memalingkan muka terlebih dahulu. Dia memegang daguku dan menolehkan mukaku ke padanya.
"Hey, apa kau sedang merajuk sekarang. Dengarkan baik baik aku dan Yoonbin. . .",
"Kalian sepasang kekasih kan? Kau akan meninggalkan aku dan memilih bersamanya kan?", Teriakku dengan air mata yang tak tahu datang darimana.
"Bodoh", balasnya sambil mendorong tubuhku.
"Jika aku bahagia dengan Yoonbin mengapa aku kemari? Kau selalu melarangku memotong apa penjelasanmu tapi sekarang kau seenaknya menyimpulkan sesukamu", balasnya dengan teriak juga. Aku melihat bagaimana dadanya kembang kempis mencari udara dengan kasarnya setelah berbicara.
"Aku memang senang dengan Yoonbin, karena dia memperlakukan aku seperti adiknya. Dan aku menganggapnya sebagai kakak dan itu tidak lebih", tambahnya.
"Lalu mengapa kau memeluknya tadi", tanyaku dengan menunduk.
"Karena aku bahagia menemukan sosok seorang kakak sepertinya. Jika dia tak muncul mungkin aku sudah tewas tadi", balasnya lalu duduk di lantai dengan bersender di ranjang.
"Apa kau tak bahagia denganku?", Tanyaku lagi.
"Bang, ayolah. Aku bukan hanya bahagia bersamamu. Tapi aku juga akan gila jika kau tak ada disisiku. Kau tau kan aku tak pandai merayu", jelasnya dan menatapku.
"Tapi ketahuilah. Aku sangat amat bahagia berada di sisimu dan menjadi kekasihmu", jelasnya yang membuat hatiku menghangat. Akupun memeluknya.
"Maafkan aku", ucapku dengan berbisik tepat di telinganya.
"Aku tahu, kau memang bayi besarku", balasnya sembari mengusap lenganku sayang.
"Jadi kau memaafkanku?", Tanya ku lagi dan turun dari ranjang menghadapnya.
"Ya ya ya, tapi kau harus membereskan kekacauan ini", ucapnya setelah mencium bibirku.
"Yaaaaa, apa kau menyuruhku membereskannya sendiri?", Keluhku saat aku melihat semua kekacauan yang telah aku perbuat.
"Apa kau meminta aku yang membersihkannya?", Tanya Nia dengan berkacak pinggang mengeluarkan aura yang sangat menakutkan.
"Iya iya aku akan membersihkannya", akhirnya aku memang merasakan bahwa aku benar benar akan menjadi budak cintanya.
__ADS_1
"Anak pintar", balasnya sembari mengawasiku membersihkan kamar.