Adik Iparku Kekasihku

Adik Iparku Kekasihku
Laki-laki Di Masa Lalumu


__ADS_3

"Sha, aku cinta sama kamu," ucap Arsen sambil menempelkan keningnya pada Shanon, disela nafas mereka yang masih menderu. Shanon yang terkejut mendengar perkataan Arsen lalu menatapnya. "Tapi ini salah, Arsen. Perbuatan kita ini salah, kamu tahu kan siapa aku? Lebih baik kita lupakan saja apa yang pernah terjadi, anggap saja kita tidak pernah melakukan apa-apa. Tolong Arsen, anggap saja ini sebagai kekhilafan sesaat," pinta Shanon sambil mendorong dada Arsen.


Arsen pun hanya balas menatap Shanon dengan tatapan sayu, namun saat Shanon akan melangkahkan kakinya, Arsen mencekal tangannya.


"Tunggu dulu, Sha."


"Arsen, please. Tolong jangan lakukan ini lagi, masih banyak wanita cantik di luar sana. Kau tampan dan pintar, tidak mungkin ada wanita yang menolakmu."


"Lalu, bagaimana dengan dirimu? Apa kau menolakku?"


Shanon pun menundukkan wajahnya. "Aku sudah punya suami, Arsen. Dan suamiku adalah kakakmu, ini tidak benar. Kita sudah melakukan kesalahan."


"Kalo kita melakukan kesalahan, lalu apa kau pikir Kak Ethan tidak pernah melakukan kesalahan padamu?"


"Arsen, kau tidak pantas berkata seperti itu pada kakakmu sendiri hanya untuk membenarkan kesalahan yang kita lakukan."


"Aku sedang tidak membenarkan perbuatan kita, Sha. Tapi apa menurutmu Kak Ethan benar-benar manusia yang baik? Bukankah kemarin saat kau memelukku, kau menangis karenanya kan?"


Shanon pun tertegun mendengar perkataan Arsen. "Si-siapa? Aku emang nangis karena Mas Ethan, tapi itu karena aku merindukannya."


Arsen pun tersenyum kecut, mendengar kata rindu dari Shanon yang ditujukan untuk Ethan sebenarnya perasaan Arsen begitu sakit, tapi dia berusaha memahami itu karena bagaimanapun juga Shanon adalah istri dari Ethan.


"Kamu ga usah bohong, Sha. Kamu nangis karena orang tuamu udah pulang sedangkan Kak Ethan belum kasih kabar apapun ke kamu kan? Bahkan sampe sekarang dia belum hubungin kamu lagi kan?"


DEG


Jantung Shanon pun seakan berhenti berdetak saat mendengar perkataan Arsen. Ya, semua yang dia katakan memang benar. "Kamu salah, Arsen. Aku nangis karena rindu sama Mas Ethan."


Arsen pun tersenyum kecut. "Lalu kenapa sampai saat ini dia belum juga hubungin kamu?"

__ADS_1


"Mungkin dia sibuk!"


"Sibuk? Sha, buka matamu! Kak Ethan udah lebih dari 24 jam ga hubungin kamu. Bukankah seorang istri seharusnya menjadi prioritas?"


Shanon pun kembali terdiam. Ya, harus dia akui jika apa yang dikatakan oleh Arsen memang benar. Sesibuk apapun seorang suami seharusnya tetap memprioritaskan istri, setidaknya memberi kejelasan kabar apa yang sedang dilakukan olehnya.


"Sha!" panggil Arsen yang melihat Shanon terdiam.


"Darimana kau tahu semua itu, Arsen? Kau sebenarnya siapa? Mengapa kau tahu semua apa yang terjadi di hidupku?" tanya Shanon sambil menatap Arsen dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kita duduk dulu, Sha!" perintah Arsen sambil menarik tangan Shanon agar duduk di atas tempat tidurnya.


"Lihat aku, Sha!" perintah Arsen kembali saat mereka sudah duduk di atas ranjang. Shanon kemudian menatap Arsen.


"Kamu sebenarnya siapa, Arsen? Kenapa kamu selalu penuh teka-teki? Kenapa kamu seperti udah kenal aku? Kenapa kamu juga tahu semua tentangku? Aku benar-benar nggak ngerti sama kamu."


"Sha, kamu pernah alamin amnesia kan?"


"Jadi benar aku dulu pernah kenal sama kamu? Tolong Arsen, aku butuh kejujuran darimu."


"Lebih dari itu, Sha."


"Apa maksudmu?"


"Sha, kamu tahu kan kamu dulu ngalamin kecelakaan parah?"


Shanon pun menganggukkan kepalanya. "Ya, dulu aku kecelakaan. Aku emang ga inget apa-apa Arsen. Saat aku sadar, aku udah ada di Jepang. Mama pernah bercerita kalo dulu aku kecelakaan saat aku kelas 1 SMA, tepatnya beberapa jam setelah penerimaan rapot. Saat itu aku diantar supir pribadiku ke suatu tempat. Aku juga lupa, saat itu aku mau pergi kemana. Dan di saat itulah, tiba-tiba mobil yang kunaiki ditabrak oleh sebuah truk kontainer yang mengalami rem blong. Kata mama, saat itu keadaanku sangat parah, aku mengalami gegar otak, seluruh tubuhku luka, dan mengalami patah tulang di beberapa bagian. Bahkan, dokter di sini pun sudah pasrah dengan keadaanku. Hingga akhirnya kedua orang tuaku membawaku pergi ke Jepang. Aku mengalami koma selama dua tahun, dan saat aku bangun, aku lupa dengan semua yang terjadi dalam hidupku. Aku mengalami amnesia traumatis, Arsen."


Mendengar perkataan Shanon, Arsen pun menangis. "Maafkan aku, Sha. Seharusnya dulu aku bisa jagain kamu."

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku bener-bener nggak ngerti. Tolong katakan padaku, apa kamu pernah kenal aku sebelumnya?"


Arsen pun mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghembuskan nafasnya lagi, rasanya begitu sakit mendengar cerita Shanon. Setelah kejadian kecelakaan itu, Shanon pasti mengalami detik-detik tersulit sepanjang hidupnya, antara hidup dan mati. Sayangnya karena keadaan, dia tidak bisa menemani Shanon di sampingnya, rasanya sungguh sangat menyakitkan.


"Arsen, tolong jawab aku. Apa kamu kenal sama aku sebelumnya? Tolong jangan selalu berteka-teki kaya gini."


"Bukankah aku udah jawab Sha, aku nggak hanya mengenalmu, tapi lebih dari itu. Apa kamu tahu Sha, saat kecelakaan itu, kamu mau pergi kemana?"


Shanon kemudian menggelengkan kepalanya. "Saat kamu kecelakaan, kamu sebenarnya mau temuin aku. Hari itu kita janji ketemu di suatu tempat. Saat itu, sebenarnya aku berniat untuk jemput kamu, tapi kamu bilang kalo kita ketemu aja di sana. Aku emang bodoh, Sha. Kalau saja saat itu aku tetep jemput kamu, tentu kamu ga bakalan alamin kecelakaan itu. Aku akan selalu berusaha lindungin kamu, maafkan aku dan kebodohanku, Sha."


Shanon pun menatap Arsen dengan tatapan penuh tanda tanya sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu nggak percaya sama aku, Sha?"


Shanon pun terdiam, rasanya benar-benar sulit untuk mempercayai perkataan Arsen, sungguh dia benar-benar tidak menyangka jika dulu mereka saling mengenal, dan memiliki hubungan yang cukup dekat. "Kamu nggak percaya sama aku Sha?"


Shanon pun masih terdiam, dan mulai merasakan sakit di kepalanya jika mengingat tentang masa lalunya. Arsen lalu mengangkat dagu Shanon agar menatap wajahnya kembali.


"Tolong dengarkan aku baik-baik, Sha. Laki-laki yang ada di depanmu ini adalah laki-laki yang ada di masa lalumu, laki-laki yang ada di depanmu ini adalah laki-laki yang hampir saja gila karena kehilangan jejakmu, laki-laki yang ada di depanmu ini adalah laki-laki lemah yang selalu saja menangis saat mengingatmu. Apa kamu tahu, laki-laki yang ada di depanmu ini hanyalah seorang laki-laki bodoh yang mencintai seorang wanita dengan begitu naif tanpa mengenal logika, karena yang dia tahu cinta adalah ketulusan. Dan baginya, satu-satunya cinta yang ada dunia itu cuma kamu, Sha."


"Dulu, sekarang, dan masa datang cinta ini buat kamu. Meskipun cinta ini tidak akan pernah bisa memiliki, itu semua nggak penting bagiku."


Mendengar perkataan Arsen, Shanon pun mulai meneteskan air matanya. "Kenapa Arsen?"


"Apanya yang kenapa, Sha?"


"Kenapa kita baru ketemu di saat yang tidak tepat. Arsen, bagaimanapun juga aku udah nikah sama Mas Ethan, kita harus tahu batasan kita, dan kita nggak bisa lanjutin semua ini. Tolong lupakan aku, lupakan semua yang udah terjadi, anggap saja semua yang terjadi cuma kekhilafan dariku! Kamu berhak bahagia sama wanita lain, dan itu bukan aku!" bentak Shanon. Dia kemudian bergegas keluar dari kamar Arsen sambil menangis, meninggalkan Arsen yang hanya termenung menatap kepergiannya.


"Tuhan, jika aku bisa menghapus skenario kehidupan, satu kata yang ingin kuhapus dalam hidupku, yaitu kata pernikahan. Pernikahanku dengan Mas Ethan."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2