
Setelah keluar dari kamar Arsen, Shanon kemudian bergegas masuk ke dalam kamarnya. Lalu menutup pintu itu dan menguncinya rapat-rapat agar Arsen tidak masuk ke dalam kamar itu. Saat ini dia merasa begitu benci dengan keadaan ini, keadaan yang terasa membuat posisinya begitu sulit.
Meskipun dia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan oleh Arsen jika dia adalah laki-laki di masa lalunya. Tapi entah mengapa, setelah mendengar penjelasan dari Arsen, hatinya terasa begitu sakit.
"Tuhan, jika benar apa yang dikatakan oleh Arsen kalau dulu kami pernah memiliki kisah yang indah, mengapa engkau mempertemukan kami dalam situasi yang sulit seperti ini? Kalau dia benar-benar laki-laki di masa laluku, mengapa Engkau tidak menyatukan kami saja daripada kami dalam posisi sulit seperti ini? Aku yakin, Arsen pasti merasa sangat tersakiti, dan aku tidak mau menyakitinya terus menerus. Tuhan, aku mohon bantu Arsen untuk menghapus rasa cintanya padaku. Dia berhak bahagia, bahagia dengan wanita lain, dan tentunya bukan aku."
Shanon lalu berjalan ke arah balkon, dan menatap cahaya senja. "Kata orang, jangan pernah mencintai senja jika tidak siap terluka. Jika kau berani mencintai senja, itu artinya kau harus siap terluka. Karena senja selalu hilang tertelan oleh gelapnya langit malam. Sejatinya senja dan cinta itu sama, sama-sama indah tapi di balik keindahan itu, kita juga harus siap terluka dan kehilangan."
Shanon pun memejamkan matanya, diiringi butir-butir air mata yang keluar dari sudut matanya. Entah dia juga tidak tahu rasa apa yang ada di dalam dadanya. Setelah dia sadar dari koma-nya, dia hanya mengenal satu cinta, yaitu Ethan. Dan saat ini, dia harus dihadapkan pada kenyataan jika ada Arsen, yang mengaku sebagai laki-laki di masa lalunya. Bahkan dia pun tidak bisa mengartikan rasa yang ada di dalam hatinya pada Arsen. Yang Shanon tahu, saat ini hatinya terasa begitu sakit, dia tidak menyangka pernikahannya dengan Ethan ternyata kini begitu rumit dan menyakitkan.
Shanon yang masih memejamkan matanya sambil terisak, pun tertegun saat mendengar suara ponselnya yang berbunyi. Bergegas Shanon melihat layar ponselnya dan melihat nama Ethan di layar ponsel itu.
"Mas Ethan," ujar Shanon. Dia kemudian bergegas menghapus air matanya, baru mengangkat panggilan video call itu agar Ethan tidak melihat wajahnya yang berurai air mata.
[Halo Mas.]
[Shanonnnnn sayang, maafkan aku. Aku sibuk banget sayang jadi baru sempet hubungin kamu.]
[Gapapa mas.] jawab Shanon sambil menarik kedua sudut bibirnya, mencetak sebuah senyuman, meskipun di balik senyuman itu ada luka yang begitu dalam di hatinya. Luka karena Ethan yang akhir-akhir ini begitu tertutup padanya, sekaligus luka setelah mendengar pengakuan Arsen.
[Sayang, kok kamu diem?]
[Emh.., Mas kapan pulang?]
[Ga tau sayang, mungkin satu minggu lagi. Kerjaanku belum selesai di sini.]
__ADS_1
[Belum selesai? Tapi kenapa Papa sama Mama udah pulang, Mas?] tanya Shanon memberanikan diri.
[Oh itu karena urusan dengan Tuan Mark sebenarnya sudah selesai, Sayang. Jadi papa dan mama pulang terlebih dulu. Sedangkan aku memang sedang mencari beberapa orang teknisi di sini karena akhir-akhir ini ada hacker yang sering membobol perusahaan kita, kalau kau tidak percaya, kau bisa lihat ini.] ucap Ethan sambil memperlihatkan keadaan sekelilingnya. Shanon pun melihat di dekat Ethan ada beberapa orang yang tampak sibuk di depan komputer.
Melihat pemandangan yang diperlihatkan Ethan, seketika Shanon pun merasa lega, jika apa yang dia pikirkan selama ini tidak benar. Namun, detik itu juga dia merasa bersalah pada Ethan karena hampir saja mengkhianati pernikahannya dengan Ethan, saat hampir saja hanyut dalam hubungan terlarang bersama adik iparnya.
[Sha, kamu kenapa Sayang!] tegur Ethan yang membuyarkan lamuan Shanon kembali.
[Eh, emh Mas bukankah Arsen juga menguasai tentang program komputer? Kenapa mas ga suruh Arsen aja yang tanganin masalah di perusahaan, Mas? Bukankah Arsen juga punya kewajiban di perusahaan Papa, sudah sewajarnya kan kalo dia ikut bantuin mas pas lagi ada masalah gini.]
Mendengar perkataan Shanon, Ethan pun sedikit tertegun, dia tidak menyangka jika istrinya akan mengatakan hal seperti itu. Penjelasan darinya seakan kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Tentu saja, dia tidak akan meminta bantuan pada Arsen, karena itu sama saja membuka aibnya sendiri. Dan jika Arsen sampai tahu apa yang menjadi rahasia besarnya, itu adalah sebuah bencana besar baginya.
[Mas, kok malah diem sih? Kenapa mas ga minta bantuan Arsen aja?]
Shanon pun tersenyum. [Iya mas, aku emang udah kangen banget sama kamu, kamu cepet pulang ya.]
[Iya sayang, kalau gitu aku tutup dulu teleponnya ya. Aku mau pantau kerjaan mereka.]
[Iya mas, semoga masalahnya cepet selesai.] jawab Shanon.
Setelah menutup telepon dari Ethan, Shanon kemudian menjatuhkan tubuhnya, dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa begitu sakit, dia merasa bersalah pada Ethan karena telah berfikir yang tidak-tidak tentangnya. Tapi juga sekaligus merasakan sakit saat sebuah perasaan aneh merasuk ke dalam hatinya jika mengingat tentang Arsen, sebuah rasa yang sangat sulit untuk diartikan dengan kata-kata.
"Cinta, kenapa engkau serumit ini."
***
__ADS_1
Sementara itu, Ethan yang baru saja menutup telepon dengan Shanon tampak berjalan ke arah beberapa orang yang terlihat begitu sibuk dengan komputer yang ada di depannya.
"Bagaimana? Apa sudah bisa kau jebol akses yang terkunci?"
"Belum Tuan, sangat sulit. Sepertinya pekerjaan ini sangat mustahil dilakukan. Yang melakukan ini benar-benar sangat profesional."
"Sangat profesional?"
"Iya Tuan, pelakunya sangatlah profesional."
"Jadi sangat sulit untuk menembus akses yang udah dikunci itu?"
"Iya Tuan. Begini saja, lebih baik Tuan pergi ke Cambridge, saya pernah mendengar ada seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa dari Cambridge, saya yakin pasti dia bisa menyelesaikan masalah ini. Bahkan para pengusaha di Eropa ini banyak yang menjadi clientnya."
"Cambridge?"
"Iya Tuan."
Ethan kemudian mengerutkan keningnya. "Cambridge? Bukankah Arsen juga lulusan Cambridge? Apakah aku harus ke sana sekarang juga?" gumam Ethan.
Dia kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengambil ponselnya dan melihat foto seorang wanita di ponsel itu.
"Aku sebenarnya sangat merindukanmu, tapi sepertinya saat ini aku belum bisa pulang. Aku akan menyelesaikan semua ini dulu, untuk mengamankan posisiku. Jadi tolong tunggu aku."
Bersambung...
__ADS_1