
Dengan langkah lemas, Shanon kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Hatinya terasa begitu berkecamuk mendengar penuturan dari Bi Ijah. Dia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya akan melakukan kebohongan sebesar itu. Dan Shannon tidak mengerti mengapa Ethan sampai melakukan kebohongan itu. Setelah ada di dalam kamar, dia akhirnya tergelitik untuk mencari tahu tentang siapa Ethan.
Shanon kemudian mengambil buku nikah miliknya, dan benar saja saat dia melihat buku nikah itu, dia baru menyadari kalau nama ayah kandung yang tercantum pada buku nikah itu adalah Wisnu, bukan Chandra. Mungkin saat mereka menikah dulu, Shanon tidak menyadarinya karena dia merasa begitu bahagia. Jantung Shanon pun seakan berhenti berdetak, dia kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dan menangis.
Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Ethan sampai berbohong sebesar itu padanya, berbagai pikiran pun kini menari dalam benaknya. Terutama mengenai perkataan Arsen.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Mas Ethan melakukan semua ini padaku? Lalu apakah ini ada hubungannya dengan kepulangan Arsen? Bukankah dulu Mas Ethan pernah mengirimkan foto pre-wedding pernikahan kami, jadi Arsen pasti sudah tahu aku adalah wanita di masa lalunya. Pasti itu yang membuat Arsen memilih untuk tidak menghadiri pernikahan kami dengan alasan sibuk. Lalu, mengapa dia memutuskan untuk pulang? Padahal saat dia memutuskan pulang ke rumah, dia pasti sudah tahu resikonya kalau hanya akan menyakiti hatinya. Aku yakin, pasti ada sebuah alasan besar yang membuat Arsen pulang ke rumah. Dan apa mungkin ada hubungannya dengan kebohongan Mas Ethan?"
Shanon pun tampak mondar-mandir di dalam kamarnya sambil menggigit kukunya, hatinya terasa begitu bimbang. Rasanya hari ini begitu banyak kejadian yang membuat kepalanya seakan pecah, mulai dari pengakuan masa lalu Arsen, sampai dengan kebohongan Ethan.
"Kalau aku diam saja, aku tidak mungkin mendapat apa-apa. Ah, lebih baik aku ke kamar Arsen dan ke ruang kerja Mas Ethan saja, mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk disana. Lagipula saat ini Arsen juga sedang pergi bersama Chelsea, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini."
__ADS_1
Shanon kemudian berjalan ke arah ruang kerja Ethan terlebih dulu, ruangan itu masih rapi dan wangi. Namun, di atas meja kerja itu, hanya ada tumpukan file kerja milik Ethan.
Dia kemudian membuka laci meja kerjanya, dan menemukan hal yang sama, hanya sebatas pekerjaan. Namun, saat dia membuka laci kerja bagian bawah, ada yang menggelitik perhatian Shanon. Di laci itu, ada sebuah jepit rambut anak-anak bermotif kupu-kupu.
"Jepit rambut kupu-kupu? Milik siapa ini?" ujar Shanon sambil mengerutkan keningnya, tapi dia tidak mengambil pusing jepit rambut itu.
"Ah mungkin saja milik Vanya, saudara sepupu mereka," gumam Shanon. Dia kemudian meletakkan pita rambut itu di dalam laci milik Ethan. Karena tidak mendapatkan petunjuk apapun, dia kemudian keluar dari ruang kerja Ethan, menuju ke kamar Arsen. Saat dia membuka kamar itu, aroma maskulin parfum Arsen begitu mengusik indra penciumannya. Wangi itu, justru menimbulkan rasa sesak di dalam hatinya, entah mengapa tiba-tiba hatinya terasa begitu sedih, rasanya dia tak rela melepaskan Arsen dan membiarkannya menjadi milik wanita lain. Nyatanya mengikhlaskan di dalam hati, memang tidak semudah mengucapkan dengan lisan.
Shanon kemudian berjalan ke arah meja kerja Arsen, lalu membuka laci meja itu, dan yang pertama kali yang dia lihat saat membuka laci itu adalah foto dirinya dan Arsen saat mereka masih menggunakan seragam putih abu-abu. Shanon pun terisak melihat foto itu. "Jadi, benar apa yang dikatakan oleh Arsen kalau selama ini kami pernah begitu dekat? Oh Tuhan, mengapa semuanya seakan terbalik. Dulu aku begitu membenci Arsen karena sikapnya yang sering kali membuatku kesal, sedangkan Mas Ethan dia begitu pendiam dan tenang. Namun, dibalik sikap yang bertolak belakang itu, ternyata ada kejujuran di balik sikap menyebalkan Arsen, dan kebohongan di balik sikap tenang seorang Mas Ethan. Apa arti dari semua ini, Tuhan?" ucap Shanon sambil memejamkan matanya.
Terima kasih untuk kehadiranmu dalam hidupku...
__ADS_1
Terima kasih atas semua kenangan manis yang kau torehkan dalam hidupku...
Sesungguhnya, aku merasa beruntung bisa mengenalmu. Meskipun pada akhirnya, kau bukan untukku. Tapi semua yang terjadi di antara kita, tidak akan pernah menjadi kisah yang kuhapus begitu saja. Dan kenangan yang pernah kita lalui, tidak mungkin akan kulupa, meskipun rasanya memang sakit, kau tetap akan menjadi bagian terindah dalam hidupku. Karena faktanya tidak seorangpun yang pernah bisa baik-baik saat kehilangan.
Aku hanya ingin menuliskan sebuah pesan untukmu, sebuah pesan yang mungkin tidak akan pernah kau baca.
"Shanon, apapun yang terjadi, cintaku hanya untukmu."
Setelah membaca tulisan itu, Shanon pun menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai. "Tuhan, mengapa harus serumit ini? Mengapa engkau harus mempertemukanku dengan dia di saat yang tidak tepat? Apakah kami memang tidak pernah ditakdirkan untuk berjodoh? Kalau Arsen saja bisa ikhlas? Mengapa aku tidak ikhlas jika saat ini dia bersama, Chelsea?" ucap Shanon sambil terisak.
Saat masih hanyut dalam tangisnya, tiba-tiba Shanon dikejutkan oleh sebuah pelukan hangat yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
"Sha," bisik sebuah suara di telinganya. Sontak, Shanon pun membalikkan tubuhnya dan melihat Arsen yang saat ini sedang berdiri di belakangnya.
"Kamu ngapain masuk kamar aku, Sha? Kamu kangen sama aku?"