
Mendengar ada suara di sampingnya, sontak laki-laki yang ada di atas ranjang itu membuka matanya. "Bagaimana kabarmu, Pa?" tanya Ethan sambil mengangkat salah satu alisnya. Namun, laki-laki itu hanya terdiam, dan hanya menatap Ethan dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu,? Hahahahha..., astaga aku lupa, ternyata kau tidak bisa bicara, hahahaha..."
Laki-laki paruh baya yang ada di atas ranjang pun semakin menatapnya dengan tatapan tajam. Namun, hanya itu yang bisa dia lakukan, karena saat ini dia tidak berdaya. Seluruh tubuhnya lumpuh, akibat sebagian sistem sarafnya yang tak lagi berfungsi. Memang dua tahun lalu dia dan istrinya mengalami kecelakaan yang cukup parah, tapi bukan itu yang menyebabkan dirinya lumpuh. Tapi, setelah kecelakaan itu Ethan memberinya obat-obatan yang membuat sistem sarafnya tidak dapat berfungsi dengan baik.
Chandra pun kian menatap Ethan dengan tatapan yang begitu tajam. Sadar ditatap oleh Chandra dengan tatapan yang membuatnya tidak nyaman, Ethan kemudian mengurutkan keningnya. "Kenapa Papa menatapku seperti itu? Apa Papa tidak suka denganku? Apa Papa tidak suka diperlakukan seperti ini? Apa Papa lupa, Papa yang sebenarnya menyebabkan keadaan Papa jadi seperti ini? Kalau saja Papa mau menuruti semua kata-kata dua tahun yang lalu, tentu Papa tidak akan mengalami hal seperti ini. Dan, tentu saja Mama juga tidak akan sampai kehilangan nyawanya. Apakah Papa sadar, ini semua terjadi karena ulah Papa? Kalau saja Papa mau memberikan seluruh saham Arsen untukku, tentu Papa tidak akan mengalami hal seperti ini kan?"
Ethan kemudian duduk di sisi ranjang Chandra. "Coba Papa pikir, Arsen sebenarnya tidak membutuhkan kekayaan dari Papa karena dia juga sudah memiliki pendapatan yang sangat besar. Jadi, untuk apa Papa mewariskan harta Papa padanya?"
'Tentu saja karena Arsen putra kandungku! Bukan kau, dan dia berhak atas semua hartaku! Kau seharusnya berterima kasih karena akun masih mau memberikan sedikit bagian padamu! Dasar anak tidak tahu diri!' batin Chandra, tatapan mata tajamnya pun tak pernah lepas dari Ethan. Bahkan, matanya dan wajahnya kini tampak begitu memerah, menyiratkan amarah yang begitu besar pada anak tirinya tersebut.
"Papa marah padaku? Kenapa Papa harus marah? Bukankah permintaanku saat itu sangat adil? Apa Papa lupa, sejak dulu Arsen sudah sering merebut kebahagiaanku? Jadi, sudah sepantasnya untuk saat ini, apa yang dimiliki oleh Arsen menjadi milikku, karena aku sudah kehilangan semua yang kumiliki itu gara-gara Arsen! Putra kesayanganmu itu! Mulai dari kasih sayang mama, kehilangan cinta pertamaku, dan juga kalian selalu bersikap pilih kasih antara aku dan Arsen yang jenius itu!"
__ADS_1
Ethan kemudian mencengkram rahang Chandra. "Laki-laki tua, apakah kau tahu kalau saat ini, putramu sudah pulang? Ya putramu sudah pulang dan bertingkah bagaikan pahlawan kesiangan. Hahhahahahaha, tapi aku tidak takut pada tingkahnya yang menjijikan itu, karena aku punya senjata paling ampuh untuk menghadapi putramu itu, yaitu kau. Hahahahha..." Ethan kemudian bangkit dari atas ranjang, lalu pergi dari kamar itu meninggalkan Chandra yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan amarah yang begitu menggelora di dalam dadanya.
'Brengsekkkk, kau Ethan!' umpat Chandra di dalam hati, lalu memejamkan matanya. "Maafkan Papa, Arsen. Maaf Papa tidak berdaya," gumam Chandra.
Sementara itu, Ethan yang keluar dari rumah itu tampak tersenyum menyeringai. "Senjata pertama sudah kuatasi, sekarang tinggal senjata berikutnya. Cinta pertamaku, cinta pertama yang kau rebut, Arsen!"
***
Sebuah mobil Porsche 718 berhenti di depan lobby sebuah gedung kantor berlogo, Chandra Group. Seorang laki-laki tampan tampak keluar dari mobil itu lalu menyerahkan kunci mobilnya pada staf yang sudah ada di depan lobby gedung. Dia kemudian melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri masuk ke dalam gedung itu melewati beberapa orang yang menyapanya.
Kedatangan Arsen di perusahaan itu, memang menarik perhatian bagi seluruh karyawan karena yang mereka tahu kalau selama ini Arsen tidak pernah tertarik pada perusahaan itu. Dan, sejak dulu yang mengelolanya adalah Ethan.
Arsen kemudian menaiki sebuah lift khusus yang ditujukan untuk petinggi perusahaan, lalu berjalan menuju ke ruangan CEO diikuti oleh beberapa orang yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan Arsen," sapa beberapa orang yang berjalan di belakangnya.
"Selamat pagi," jawab Arsen, lalu masuk ke dalam ruangan CEO, diikuti oleh beberapa orang tersebut.
"Tolong berikan laporan keuangan, penjualan, dan produksi selama dua tahun terkahir," pada beberapa orang yang saat ini berdiri di depannya. Mereka pun tampak panik, tapi mereka mencoba untuk tetap bersikap tenang, dengan memberikan apa yang Arsen minta.
"Ini Tuan Arsen," ucap mereka sambil memberikan laporan yang diminta Arsen. Dia kemudian tersenyum kecut membaca laporan itu, kemudian menatap beberapa orang manager yang ada di depannya.
"Tolong, persiapkan rapat sekarang juga! Saya sudah menghubungi beberapa dewan komisaris perusahaan, dan mereka sudah siap melakukan rapat ini."
"A-apa, Tuan? Rapat mendadak?"
"Ya cepat siapkan semuanya sekarang!" perintah Arsen sambil bangkit dari atas kursinya, kemudian berjalan ke ruang rapat, meninggalkan beberapa orang manager yang saat ini menatapnya dengan tatapan cemas.
__ADS_1
"Kita mulai permainan ini sekarang, Kak Ethan," gumam Arsen saat berjalan memasuki ruang rapat.