
[Ethan, ini benar-benar gawat!]
[Ada apa, Zian? Apa Arsen kembali berulah?]
[Lebih dari itu, dia bahkan sudah menurunkan jabatanmu, Ethan!]
[APA? KAU TIDAK BOHONG KAN?]
[Untuk apa aku berbohong padamu? Tidak ada untungnya bagiku. Lebih baik, kau ke kantor sekarang juga!]
Ethan kemudian menutup panggilan teleponnya. "Dasar brengsek! Kau memang kurang ajar, Arsen!" umpat Ethan disertai nafas yang begitu menderu, menahan amarah di dalam dadanya. Sementara itu, wanita yang ada di atas ranjang tampak tersenyum sinis saat melihat Ethan yang kini terlihat begitu kesal.
"Ada apa? Arsen menggagalkan rencanamu lagi? Hahahahaha..., bukankah sudah kubilang kalau kau tidak akan pernah sebanding dengan Arsen? Kau harus sadar siapa dirimu, Ethan. Sebaiknya kau mengembalikan apa yang bukan menjadi milikmu. Saat kau mencoba ikhlas, dan memberikan semua yang menjadi hak Arsen, aku yakin dia pasti akan memaafkanmu, dan memberikan hak yang hampir sama di perusahaan itu."
"Arsen, Arsen, Arsen terus yang kau banggakan. Apa tidak ada nama lain di hatimu selain Arsen? Apa tidak ada sedikitpun rasa cinta untukmu padaku, hah? Asal kau tahu, selama ini satu-satunya wanita yang Arsen cintai hanyalah Shanon istriku! Shanon adalah cinta pertama Arsen sejak dia duduk di bangku SMA, bahkan sampai saat ini dia masih mencintai Shanon! Itulah alasannya aku menikahi Shanon agar mental Arsen jatuh! Jadi, jangan pernah sebut nama Arsen lagi karena kau hanyalah milikku!"
"Tapi aku tidak sudi!"
"Aku tidak peduli! Aku yakin, suatu saat nanti aku pasti akan mendapatkan hatimu!"
"Jangan pernah bermimpi, Ethan!"
"Lihat saja nanti," balas Ethan. Dia kemudian pergi dari kamar itu, meninggalkan wanita itu sendirian yang saat ini terlihat meneteskan air matanya setelah mendengar perkataan Ethan.
__ADS_1
"Ja... Jadi, wanita yang dicintai Arsen itu istri dari Ethan? Astaga, kau memang benar-benar kurang ajar, Ethan."
Selang setengah jam kemudian, Ethan sudah sampai dan masuk ke dalam kantor dengan wajah dan sorot mata yang memerah. Dia kemudian masuk ke dalam ruang kerja Arsen, dengan membuka pintu ruang kerja tersebut dengan kasar hingga membuat Arsen tersentak.
"Arsen!"
Melihat kedatangan Ethan, Arsen pun tersenyum smirk sambil menatap ke arahnya. "Kak Ethan, apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dulu?"
"Cih, aku sedang tidak ingin berbasa basi dengamu, bodoh! Sekarang tolong katakan padaku, kenapa kau melakukan hal seperti itu padaku? Kau tega sekali padaku, Arsen!"
"Melakukan hal apa, Kak Ethan?"
"Jangan berpura-pura bodoh Arsen, kau sudah memindahkanku ke bagian kepala divisi pemasaran kan? Kau pikir aku siapa? Apa kau sudah lupa kalau aku ini kakakmu?"
"Maaf Kak Ethan, aku tidak berniat untuk mengejekmu. Aku juga tidak memiliki alasan apapun, karena menurutku untuk saat ini, itu jabatan yang pantas untukmu. Apa kau sudah lupa kalau kemarin aku sudah memberikan kesempatan padamu untuk menjelaskan tentang kondisi perusahaan ini? Tapi sayangnya kau tidak memanfaatkan kesempatan yang kuberikan padamu, Kak."
"Lalu, apa hubungannya dengan semua ini?"
"Coba kau pikir Kak Ethan, kalau kau tidak mampu menjelaskan kondisi perusahaan ini, bagaimana kau bisa duduk dalam jajaran direksi? Itu hal yang sangat tidak etis, Kak. Jadi, kupikir jabatan kepala divisi pemasaran itu sangat pantas bagimu, karena menurutku hanya sebatas itu kemampuanmu."
"Dasar brengsek kau Arsen, kau sudah sangat merendahkanku"
"Kenapa Kak, apa kau tidak terima? Bukankah aku hanya menjalankan tugasku sebagai pimpinan di perusahaan ini?"
__ADS_1
"Aku juga punya hak di perusahaan ini!"
"Kak Ethan, apa kau sudah lupa? Bukankah Papa hanya menitipkan perusahaan ini padamu? Dan, setelah aku kembali ke perusahaan ini, Papa memberikan kebebasan padaku untuk memberikan jabatan yang pantas padamu. Dan, menurutku kau pantas berada di posisi itu, karena itu sudah sesuai dengan kemampuanmu!"
"Enak saja kau berkata seperti itu. Apa kau sudah lupa semua kerja kerasku dalam membangun perusahaan ini, Arsen?"
"Maaf Kak Ethan, aku tidak akan pernah lupa jasamu yang sudah mengelola perusahaan ini. Tapi, selama kau belum bisa memberikan penjelasan padaku tentang laporan keuangan di perusahaan ini, maaf aku belum bisa memberikan jabatan yang kau inginkan."
"Memangnya, apa yang salah dengan laporan keuangan itu? Bukankah aku pantas mendapatkan hak yang lebih karena aku sudah mengelola perusahaan ini dengan baik?"
"Mendapatkan hak lebih? Apa maksudmu, Kak?"
"Kau menanyakan laporan keuangan perusahaan ini, karena kau curiga pada beberapa pengeluaran besar di perusahaan ini kan? Iya akui, aku memang menggunakan uang perusahaan ini untuk kepentingan pribadiku. Tapi, bukankah itu hal yang pantas aku dapatkan setelah membangun perusahaan ini!"
"Apa maksudmu? Hal yang pantas? Tidak ada kata pantas dalam sebuah kecurangan, Kak Ethan. Kau beruntung aku tidak membawa masalah ini pada pihak yang berwajib, karena aku masih menganggapmu sebagai kakak yang masih kuhormati. Aku tidak akan mengubah keputusanku. Dan, daripada kau bersikap seperti ini, lebih baik kau pergi ke ruang kerja barumu dan memulai pekerjaanmu. Mungkin kalau kau bisa mengerjakan pekerjaanmu dengan baik, aku akan mempertimbangkanmu agar kau bisa mendapatkan jabatanmu yang dulu."
"Dasar brengsek kau!" bentak Ethan. Dia kemudian keluar dari ruang kerja itu.
"Aku harus membuat perhitungan dengan Chandra, karena putra kesayangannya telah mempermalukanku seperti ini!" gumam Ethan saat berjalan keluar dari kantor tersebut.
Sementara itu, Arsen yang melihat kepergian Ethan hanya bisa tersenyum simpul. "Kau ternyata tetap tidak bisa menyadari kesalahanmu, Kak. Baiklah aku pun bisa bertindak lebih."
Bersambung...
__ADS_1