
Ethan pun begitu tertegun, sejujurnya dia tak tahu harus menjawab apa, karena dia tidak menyangka jika Arsen akan mengajukan pertanyaan seperti itu, dan semua ini sungguh di luar dugaannya. Kini, keringat dingin serta detak jantung yang berdegup kian kencang membuat tubuhnya melemas.
"Kak Ethan, kenapa kau diam?" tanya Arsen yang seketika menyentak lamunannya.
'Brengsekkkk, kau Arsen!' batin Ethan.
"Kak, bisa tolong jelaskan pada kami semua tentang kondisi perusahaan selama dua tahun terakhir dan tolong jelaskan pada kami juga tentang ketidaksinkronan laporan perusahaan ini?"
"Apa kau sedang menuduhku? Lancang sekali kau bertanya seperti itu? Apa kau sudah lupa kalau selama ini aku yang sudah mengurus perusahaan Papa?"
"Apa, menuduh? Aku sama sekali tidak menuduhmu, Kak. Aku hanya ingin meminta penjelasan darimu, Kak Ethan?"
"Penjelasan bagaimana Arsen? Bukankah semuanya sudah jelas? Semua bisa kau lihat lewat laporan itu!"
"Aku sudah membaca laporan ini, dan karena menurutku ada keanehan pada laporan ini, makanya aku menanyakan semua ini padamu, Kak. Lalu, apa aku salah menanyakan semua ini padamu? Bukankah ini hal yang mudah? Kau tinggal memberi penjelasan saja padaku kan?"
"Ini sama saja kau mencurigaiku, Arsen. Dan aku tidak terima itu!" balas Ethan sambil berlalu meninggalkan ruangan itu, diiringi sorot mata semua orang yang tertuju padanya. Sebenarnya, Ethan merasa sangat malu, dia merasa benar-benar telah dipecundangi oleh Arsen. Harga dirinya seakan jatuh dihadapan semua orang, dan untuk saat ini dia merasa begitu malu sekaligus marah, bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Arsen yang melihat Ethan meninggalkan ruang meeting disertai amarah yang membuat semua orang terpengarah padanya, tampak tersenyum kecut.
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjadi sosok yang berjiwa besar, tapi sayangnya kau memilih menjadi seorang pecundang, Kak," gumam Arsen. Dia kemudian melanjutkan meeting itu kembali, dan memilih mendengar penjelasan kondisi perusahaan milik orang tuanya hanya dari para manager yang selama ini bekerja di bawah kendali Ethan. Serta mengambil kebijakan baru bagi perusahaan mereka, yang sangat berbanding terbalik dengan kebijakan yang selama ini Ethan jalankan.
__ADS_1
Sementara itu, Ethan kini tampak mengendarai mobilnya dengan kecepatan begitu tinggi, disertai umpatan yang ditujukan pada Arsen.
"KAU BENAR-BENAR BRENGSEKKKK, ARSEN! HARI INI KAU TELAH MENJATUHAN HARGA DIRIKU, DAN MULAI DETIK INI JUGA, AKU PUN AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA! AKU PASTI AKAN MEMBUAT HIDUPMU HANCUR! SAMA HANCURNYA SEPERTI SAAT BEBERAPA TAHUN LALU! SAMA HANCURNYA SAAT KAU KEHILANGAN SHANON UNTUK BERKALI-KALI!" teriak Ethan.
Setelah cukup lama berputar-putar mengendarai mobilnya untuk menumpahkan segala kekesalannya, Ethan pun akhirnya melajukan mobilnya ke sebuah perumahan mewah yang tak jauh dari pusat kota.
Dia kemudian turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah itu, menuju ke sebuah kamar utama dan mendekat pada sosok wanita yang saat ini sedang tertidur di atas ranjang.
Ethan menatap wajah cantik wanita itu, lalu mengelusnya dan mengecup keningnya hingga membuat wanita itu terbangun.
Wanita itu pun begitu terkejut saat melihat sosok Ethan yang ada di depannya, dan sontak membuatnya berteriak.
***
Malamnya...
Shanon melihat ke arah jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Ethan belum juga pulang ke rumah. Padahal, Arsen sudah pulang dari kantor sejak sore hari, bahkan mereka sudah makan malam bersama, dan beberapa kali bermesraan.
Shanon melangkahkan kakinya menuju ke atas ranjang, dan saat dia baru saja merebahkan tubuhnya, suara deru mobil pun terdengar.
Meskipun saat ini Shanon begitu membenci Ethan, tapi bagaimanapun juga Ethan adalah suaminya. Dan, Shanon hanya ingin menunjukkan perhatiannya sebagai seorang istri, dibalik dosa yang telah diperbuat olehnya di belakang Ethan. Karena bagaimanapun juga, dan apapun kesalahan yang telah diperbuat oleh Ethan, perbuatan Shanon dan Arsen, tetap saja tidak bisa dibenarkan. Shanon pun beranjak dari tempat tidurnya, lalu keluar dari kamar itu, dan bergegas membuka pintu untuk Ethan.
__ADS_1
CEKLEK
Saat pintu itu terbuka, tampak Ethan berdiri di depannya sambil menatapnya dengan tatapan nanar. "Mas, kok baru pulang? Kamu lembur, Mas?" tanya Shanon sambil mengulas senyum tipis di bibirnya. Tetapi, Ethan hanya diam dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan keberadaan Shanon.
Shanon pun berjalan mengikutinya, meskipun perasaan cemas kini begitu melanda dirinya karena sikap Ethan yang jauh berbeda dibandingkan saat tadi dia baru saja pulang dari luar negeri. Saat memasuki kamar mereka, Ethan pun langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, tampa melepas pakaian kerja dan sepatunya.
"Mas, kamu kenapa? Lebih baik kamu mandi dulu, Mas," ucap Shanon sambil membuka sepatu yang dikenakan oleh Ethan.
"Mas, emang tubuh kamu nggak lengket langsung tidur gitu aja?" sambung Shanon. Namun, ucapan lembut Shanon dibalas bentakan dari Ethan.
"Lebih baik kau diam dan tidak usah campuri hidupku lagi!" bentak Ethan yang membuat Shanon tersentak, seakan tak percaya kata-kata kasar itu keluar dari bibir suaminya. Ethan yang selama ini begitu lembut, tiba-tiba membentaknya dengan begitu kasar.
"Kenapa kau masih diam disitu, hah? Lebih baik kau tidak usah ikut campur pada hidupku lagi!" bentak Ethan kembali yang membuat hati Shanon terasa begitu sakit. Dia benar-benar tak menyangka jika Ethan bisa bersikap kasar seperti itu padanya.
"Hei apa yang kau lakukan! Apa kau tuli!"
Mendengar bentakkan lagi dari Ethan, Shanon kemudian beranjak dari tempat tidurnya itu, lalu keluar dari kamar mereka. Saat dia berjalan ke arah kamar tamu dan melewati pintu kamar Arsen, tiba-tiba tangannya ditarik oleh sosok tangan kekar yang baru saja keluar dari kamar itu. Seketika tubuh Shanon pun tertarik masuk ke dalam kamar Arsen, dan setelah mereka ada di dalam kamar itu, Arsen menutup pintu kamarnya, dan menguncinya.
"Kamu mau kemana, Sayang? Lebih baik malam itu kamu tidur sama aku aja."
Bersambung...
__ADS_1