
Shanon hanya diam, sambil menundukkan wajahnya. Sesungguhnya dia bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia menjawab tidak, itu sama saja dia membohongi dirinya sendiri, karena memang faktanya, dia memang merindukan Arsen. Kalau dia menganggap iya, bukankah itu jauh lebih tidak etis? Bagaimanapun juga, Arsen adalah adik iparnya.
"Kamu bingung, Sha? Kamu bingung sama perasaan kamu sendiri?"
Arsen kemudian mengangkat dagu Shanon. "Sha, liat mata aku."
"Aku tahu, kamu istri dari Kak Ethan. Kalau dibilang salah, ya aku akui memang salah udah memperlakukanmu kaya gitu, Sha. Aku nggak pantes bersikap kaya gini sama istri dari kakakku sendiri, tapi sekali lagi ini masalah hati, Sha. Kamu cinta pertamaku, dan aku kehilangan kamu lewat kejadian yang begitu tragis. Awalnya, aku emang mau lupain kamu dan membiarkan kamu bahagia sama Kak Ethan, tapi tiba-tiba karena sesuatu hal, aku berubah pikiran, Sha. Aku tahu mungkin saat ini kamu masih sangat mencintai Kak Ethan, tapi aku yakin di salah satu ruang di dalam hatimu pasti ada aku kan?"
Arsen menatap lekat wajah cantik Shanon yang saat ini berderai air mata, lalu menghapus air mata itu. "Sha, aku tahu ini salah. Tapi, tolong ijinkan aku untuk merebutmu dari Kak Ethan, aku tahu di dalam hatimu masih ada cinta yang begitu besar untuk Kak Ethan, dan hanya tersisa sedikit untukku. Tapi aku yakin, sedikit sisa cinta yang kau miliki itu, perlahan akan menguasai hatimu, dan aku akan menunggu saat-saat itu dengan sabar, Sha. Aku akan menunggu sampai seluruh hatimu hanya untukku. Ingat Sha, sampai kapanpun aku akan tetap menunggu."
Mendengar perkataan Arsen, Shanon pun terisak. "Kamu kenapa nangis terus?"
"Kenapa kamu ngomomg gini, Arsen? Ini sama aja kamu nyakitin Chelsea."
"Chelsea?" sahut Arsen sambil mengerutkan keningnya.
Shanon pun mengangguk. "Aku nggak ngerti, Sha."
"Jangan pura-pura, Arsen. Kamu udah pacaran sama Chelsea kan?"
"Pacaran? Kata siapa?"
"Ga usah pura-pura deh, tadi kamu pelukan terus jalan bareng kan?"
__ADS_1
"Astaga, Sha. Aku meluk dia cuma sebagai pelukan perpisahan, terus tadi aku keluar sama Chelsea itu buat anter dia ke bandara."
"Pelukan perpisahan? Bandara?"
"Iya Sha, Chelsea pergi Cambridge. Mungkin dia akan meneruskan study-nya di sana."
Shanon pun terdiam mendengar perkataan Arsen. "Jadi?"
"Iya, Chalsea sudah pergi. Dan aku nggak pernah ada hubungan apapun sama dia. Kamu kenapa? Kamu cemburu?"
Shanon kembali terdiam. "Sha, kamu cemburu?"
Shanon kemudian memejamkan matanya, lalu memeluk Arsen. Arsen yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Shanon pun tertegun. Dia benar-benar tidak menyangka jika Shanon akan menyentuhnya terlebih dulu, bahkan saat ini dia menangis di atas dadanya.
"Arsen, ini salah. Tapi...."
Arsen kemudian mendekatkan wajahnya pada Shanon, lalu mengecup keningnya, turun ke hidung dan terakhir mengecup bibir mungil itu dengan penuh perasaan, hingga membuat bibir itu terbuka, seakan memberi akses Arsen untuk menjelajahi bibirnya.
Arsen pun memaggut lembut bibir Shanon, dan paguttan itu langsung mendapat balasan dari Shanon, bahkan Shanon sudah mengalungkan tangannya di leher Arsen. Ciuman yang awalnya lembut itu, kini pun kian menuntut, Arsen menarik pinggang Shanon agar semakin menempel pada tubuhnya. Dia pun semakin memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk leher Shanon, suara kecapan bibir basah pun mulai keluar dari bibir keduanya, diiringi nafas yang terdengar begitu menderu.
"I love you, Sha," ucap Arsen setelah melepas ciuman itu, wajahnya lalu berpindah turun ke leher Shanon dan memainkan lidah kasarnya di leher putih itu, hingga kembali terdengar dessahan dari mulut Shanon.
Arsen yang sudah dipenuhi kerinduan dan hasrat yang sudah dipendam selama bertahun-tahun, kian merengkuh tubuh Shanon. Akal sehat mereka seakan sudah hilang melebur dalam cinta dan nafsu yang sudah menjadi satu.
__ADS_1
"Do it herder, i want more," ucap Shanon dengan tatapan sayu, saat Arsen baru saja menghentikan kecupan di leher, dan menatap wajah cantik itu.
Mereka kemudian kembali terlibat dalam adegan saling melummat bibir dengan penuh hasrat, bahkan kali ini tangan Arsen mulai masuk ke bawah blouse yang dikenakan oleh Shanon. Arsen mengecup beberapa kali tengkuk Shanon, sementara tangannya mulai membuka zipper bra milik Shanon dan melepas bra itu begitu saja. Dia lalu meremmas salah satu gundukan kenyal itu, hingga Shanon kembali mengeluarkan dessahan.
"Eughhh..., Arsen..."
Arsen lalu menggendong tubuh Shannon dan membawanya ke atas ranjang kemudian membuka sisa pakaian yang mereka kenakan, lalu mulai mengecup seluruh tubuh Shanon, dari atas rambut turun ke bibir, leher, mengisapp dan menjillat gundukan kenyal milik Shanon sambil memasukkan jarinya ke dalam bagian inti Shanon.
"Ahhhh..., Arsen..., ahhhh.., ah.."
"Sha, aku masukin sekarang ya..."
Shanon pun menganggukkan kepalanya, melihat anggukan itu, Arsen mulai memasukkan kejanttanannya yang sudah mengeras ke dalam liang surgawi milik Shanon.
"Ah..., Arsen..."
"I love you, Sha. Ah...."
Arsen kemudian mulai memaju mundurkan pinggullnya, awalnya pelan, lalu dia semakin menaikkan temponya seiring desaahan dan errangan yang kini menggema di seluruh sudut kamar. Arsen pun menghentikan gerakan pinggullnya, saat legguhan panjang keluar dari bibirnya takkala cairan kental miliknya menyembur ke dalam liang hangat itu, hingga cairan keduanya bercampur menjadi satu membasahi paha mereka.
Setelah itu, Arsen menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Shanon, lalu menatap wajah cantik itu. "I love you, Sha. Maaf aku udah lakuin ini ke kamu," ucap Arsen kemudian mengecup kening Shanon.
"Ini juga kemauanku, Arsen. Ini kesalahan kita, bukan cuma kamu."
__ADS_1
Arsen kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping Shanon, lalu menarik tubuh telanjjang itu ke dalam dekapannya.
"Tuhan, aku tahu aku salah, aku tahu aku telah melakukan dosa besar dengan mengkhianati suamiku sendiri, tapi bolehkah aku memohon agar aku bisa bahagia hidup bersamanya. Ya, dia adik iparku, bukan suamiku," gumam Shanon.