Adik Iparku Kekasihku

Adik Iparku Kekasihku
Sebuah Gelang


__ADS_3

"Ada apa, Tuan Ethan? Apa anda mengenal Arsen?"


"Oh.., emh tidak. Saya tidak mengenalnya. Kalau begitu, saya permisi dulu, Profesor Charlotte."


"Iya Tuan Ethan."


Ethan kemudian keluar dari ruangan Profesor Charlotte sambil terus mengumpat. "Brengsekkk! Jadi programmer paling hebat yang ada di Eropa itu Arsen? Dasar brengsekkk! Apa itu artinya jika selama ini dia yang menjebol akses perusahaan?"


Ethan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa ini artinya kepulangannya ke Indonesia hanya untuk mengobrak-abrik rencanaku? Kalau benar, jadi dia sudah tahu kalau aku melakukan kecurangan di perusahaan orang tuanya? Ini tidak bisa dibiarkan, kalau begini caranya, aku harus secepatnya pulang ke Indonesia!" ujar Ethan. Dia kemudian mengambil ponselnya, untuk menelepon Shanon. Namun, panggilan itu tak mendapat jawaban dari Shanon. Akhirnya, Ethan pun mengirimkan pesan pada Shanon untuk memberi tahu kepulangannya.


***


Sementara itu, Shanon yang saat ini tengah sibuk memasak, tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah tangan yang melingkar ke perutnya. "Sha, kan aku udah bilang kalo masak jangan lupa pake apron!" protes Arsen sambil memakaikan apron pada Shanon. Setelah itu, Arsen mengecup tengkuk Shanon.


"Bikin kaget aja deh," protes Shanon.


"Terus maunya diapain? Kaya gini?" tawar Arsen sambil meremmas gundukan kenyal milik Shanon.


"Iihhhh, Arsen! Jangan ngledek mulu dong, aku lagi masak nih, kalo tanganku kena wajan panas gimana? Udah kamu duduk aja sana!"


"Beneran ga mau dibantuin?" ucap Arsen, dia kemudian menggigit bahu Shanon, lalu berlari meninggalkan Shanon yang terlihat sangat kesal.


"Arsennnnn!"


Arsen hanya terkekeh, lalu duduk di kursi meja makan, sambil membaca chat dari salah seorang anak buahnya yang mengatakan kalau saat ini Ethan ada di Cambridge, dan tak berapa lama keluar dari bangunan itu dengan begitu terburu-buru, disertai raut wajah yang terlihat begitu kesal. Arsen tersenyum kecut, lalu mengutak-atik ponselnya, dan menempelkan ponsel itu di telinganya.


"Halo Profesor Charlotte," sapa Arsen. Dia kemudian terlibat perbincangan dengan Profesor Charlotte, hampir setengah jam lamanya.

__ADS_1


"Jadi, kau sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya, Kak Ethan? Aku yakin, setelah ini kau pasti pulang ke rumah. Aku tunggu kedatanganmu, Kak. Karena pertarungan yang sebenernya akan kita mulai," gumam Arsen setelah menutup panggilan teleponnya.


"Arsen!" panggil Shanon yang seketika membuyarkan lamunannya.


"Ada apa, Sayang?"


"Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa Chelsea baru saja meneleponmu?" sungut Shanon saat meletakkan masakannya di atas meja.


Melihat raut wajah Shanon yang menggemaskan, Arsen kemudian menarik tubuh Shanon ke atas pangkuannya. "Kamu cemburu, Sayang?" tanya Arsen sambil menenggelamkan wajahnya di leher Shanon, lalu berulang kali menciumnya.


"Nggak..."


"Terus kok kamu selalu bawa-bawa Chelsea?"


"Siapa tau aja, habis kamu senyumnya gitu sih!"


"Nih kamu liat aku habis telepon siapa?" Arsen kemudian memberikan ponselnya pada Shanon.


"Maaf..." Sesal Shanon.


"Gapapa sayang, tolong mulai saat ini jangan pernah cemburu lagi sama Chelsea ya. Dia cuma teman masa kecil kami, teman masa kecilku dan Kak Ethan juga. Lagipula, kamu tahu kan gimana penantian aku ke kamu, kamu tahu kan gimana hancurnya aku saat kehilangan kamu. Kamu tahu kan..."


Cup


Belum selesai Arsen menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Shanon sudah mencium bibirnya. "Hahahaha..., dasar nakal!" gerutu Arsen setelah Shanon melepaskan ciumannya.


Shanon kemudian membelai wajah Arsen. "Arsen, aku mau tanya sesuatu sama kamu, tolong kamu jawab jujur ya."

__ADS_1


"Kamu mau tanya tentang apa, Sayang?"


"Malam itu, saat tiba-tiba pelipismu terluka. Sebenarnya apa yang terjadi, Arsen?"


Arsen terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafasnya. "Malam itu ada seseorang yang datang ke rumah, Sha. Aku nggak tahu siapa, karena dia pake pakaian serba hitam. Juga pake penutup wajah, waktu aku ngejar dia, dia lempar aku pake pot kecil yang ada di belakang."


"Astaga, jadi pelipis kamu kena pot kecil itu?"


Arsen menganggukkan kepalanya. "Kok bisa Pak Satpam sampai kecolongan?" tanya Shanon.


"Sepertinya dia masuk lewat pintu belakang."


"Apa kamu tidak menyelidiki siapa orang itu?"


"Aku belum sempat melakukan itu, Sha. Sebenarnya aku punya petunjuk dari barang yang ditinggalkan oleh orang itu, tapi aku belum sempat melakukannya."


"Petunjuk? Apa itu, Arsen?"


"Saat orang itu melemparku dengan pot, tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah gelang."


"Gelang?"


"Iya Sha, sebentar aku ambilkan gelang itu. Aku masih menyimpannya di kamar."


Arsen kemudian masuk ke dalam kamar, lalu memberikan gelang yang dia temukan di halaman belakang pada Shanon. Beberapa saat lamanya, Shanon tampak mengamati gelang yang ada di tangannya.


"Kenapa, Sha?"

__ADS_1


"Arsen, sepertinya aku pernah melihat gelang ini."


Bersambung...


__ADS_2