Adik Iparku Kekasihku

Adik Iparku Kekasihku
Pindah


__ADS_3

Setelah membaca pesan dari Shanon, Arsen pun tersenyum smirk. "Oh, selain tahu semua tentang kebusukan Ethan, ternyata kau juga ikut membantu sampai ke masalah pribadinya, Zian? Jadi, diantara kalian berdua tidak ada yang ditutupi? Baiklah kalau begitu, aku akan membuatmu membuka mulutmu dengan suka rela. Akan kubuat orang kepercayaan dari Kak Ethan yang akan menghancurkan dirinya sendiri," gumam Arsen. Dia kemudian melangkahkan kakinya, keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Ethan.


Zian yang melihat kedatangan Arsen pun tampak begitu gugup. "Selamat pagi, Zian."


"Selamat pagi, Tuan Arsen."


"Apa aku bisa bertemu dengan Kak Ethan?"


"Maaf Tuan Arsen, Ethan belum berangkat."


"Belum berangkat? Bagaimana bisa? Bukankah tadi pagi dia berangkat terlebih dulu dibandingkan aku?"


Zian pun tampak gugup mendengar perkataan Arsen. "Emh.., mungkin saja dia ada urusan lain, Tuan Arsen."


"Urusan lain? Urusan apa? Apa ada hubungannya dengan urusan kantor? Kalau ada hubungannya dengan urusan kantor, dia harus mendapat persetujuan terlebih dulu dariku."


"Apa maksud anda, Tuan Arsen?"

__ADS_1


"Zian dengarkan aku, mulai saat ini Kak Ethan akan kupindahkan ke bagian pemasaran."


"Bagian pemasaran?"


"Ya, mulai hari ini Kak Ethan menjadi kepala divisi bagian pemasaran. Bukan merupakan bagian direksi di perusahaan ini lagi."


"Ta-tapi bukankah Ethan juga memiliki saham di perusahaan ini? Maaf Tuan, anda tidak bisa menurunkan jabatan Ethan begitu saja karena kalian memiliki hak yang sama."


"Apa kau bilang, Zian? Hak yang sama? Apa Ethan tidak pernah memberitahumu kalau Papa sebenarnya tidak pernah memberikan sepeserpun saham pada Kak Ethan? Asal kau tahu, Papa hanya menitipkan perusahaan ini sampai aku bersedia mengelola perusahaan ini lagi!"


Zian pun begitu bingung mendengar perkataan Arsen, karena selama ini yang dia tahu, Ethan dan Arsen memiliki bagian yang sama pada perusahaan itu.


Zian pun pun hanya bisa menghela napas, lalu mulai mengemasi barang-barang miliknya. "Oh iya, satu lagi. Sepertinya Kak Ethan tidak membutuhkan sekretaris, jadi mulai hari ini kau bekerja sebagai staf biasa di bagian pemasaran itu. Kau mengerti kan, Zian?"


Mendengar perkataan Arsen, Zian pun mengangkat wajahnya, lalu menatap Arsen dengan tatapan tanda tanya. "Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau keberatan? Ngomong-ngomong gelang di tanganmu bagus juga. Sepertinya aku pernah melihat gelang seperti itu di halaman belakang rumahku," ucap Arsen sambil berjalan meninggalkan Zian yang saat ini mulai dilanda kecemasan.


"Kau memang benar-benar brengsek, Arsen!" gumam Zian.

__ADS_1


***


Sementara itu, Ethan tampak sedang duduk di tepi ranjang sambil membawa piring di tangannya. Dia depannya tampak seorang wanita duduk di atas ranjang sambil menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.


"Ayo makan," titah Ethan sambil menyuapkan sesendok nasi padanya. Namun, wanita itu hanya memalingkan wajahnya. Ethan kemudian menaruh piring di atas nakas, lalu membelai rambut wanita itu.


"Sayang..."


"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu! Ingat kau bukan siapa-siapa bagiku!"


Mendengar penolakan dari wanita yang ada di depannya, Ethan pun menghembuskan napas panjangnya. Tepat di saat itulah, ponsel Ethan pun berbunyi.


"Zian?" ujar Ethan saat melihat layar ponselnya. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo ada apa, Zian?"


Bersambung...

__ADS_1


NOTE: Maaf cuma up dikit, terima kasih buat yang sudah menunggu othor. Besok othor lanjutkan lagi, love you dear 💙


__ADS_2