Adik Iparku Kekasihku

Adik Iparku Kekasihku
Fertig Bearbeitet


__ADS_3

Arsen kemudian bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri dan mencengkram kerah Zian. "Dengarkan aku, Zian. Kau akan selamat jika kau menuruti kata-kataku! Sekarang antarkan aku ke tempat dimana Kak Ethan menyekap Papa! Kalau tidak aku bisa membuat hidupmu hancur berantakan!" bentak Arsen.


Mereka kemudian keluar dari ruang kerja Zian. Arsen saat ini tampak menelepon beberapa orang anak buahnya, dan juga polisi agar datang ke alamat yang diberikan oleh Zian.


Tak berselang lama, mereka pun sudah sampai di alamat tersebut. Saat mereka baru saja sampai, mobil polisi sudah terparkir tak jauh dari rumah itu. Arsen dan Zian lalu mendekat pada dua mobil polisi tersebut.


Sementara itu, di dalam rumah itu. Tampak Ethan mendekat pada Chandra yang saat ini sedang tertidur di atas ranjang. "Selamat sore, Papa," sapa Ethan pada laki-laki di atas ranjang tersebut. Mendengar sebuah suara yang ada di sampingnya, sontak Candra pun membuka matanya.


"Papa, kenapa kau menatapku seperti itu? Bukankah seharusnya kau senang dengan kedatanganku? Apa kau sudah Lupa, Pa. Aku adalah orang yang sudah menyelamatkanmu? Coba ingat lagi, pada saat Papa dan Mama mengalami kecelakaan? Bukankah aku yang menolong Papa?"


CUIHHHH


Mendengar perkataan Ethan, Candra pun meludahinya, yang membuat Ethan seketika marah melihat sikapnya.


"Papa!" bentak Ethan, dia kemudian mengangkat tangannya, lalu mencekek leher Candra yang membuat Candra kesulitan untuk bernapas. "Dasar tua bangka! Kau seharusnya bersyukur karena aku masih membiarkanmu hidup di dunia ini!"


Candra pun hanya terdiam, ingin rasanya dia melawan Ethan. Tapi, untuk saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk sekedar berbicara pun tak bisa.


"Sekarang terimalah penyiksaan dariku karena ini harga yang pantas bagimu! Dan juga, ini adalah jalan terakhirku untuk bisa mendapatkan perusahaan milikmu dari tangan Arsen!"


Ethan kemudian menarik tubuh Candra, lalu menghempaskannya ke lantai. Namun, saat dia akan menghampiri Candra. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu pun terdengar.


TOK TOK TOK


Ethan kemudian membalikkan tubuhnya, lalu membuka pintu itu. "Ada apa, Jim?" tanya Ethan pada salah seorang anak buahnya yang kini berdiri di depan pintu kamar itu.


"Maaf Tuan Ethan, ada tiga orang di depan yang mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, mereka mengatakan membutuhkan pendataan warga yang tinggal di sini, Tuan."


"Pendataan?"


"Iya Tuan. Lebih baik Tuan temui mereka saja."


Ethan lalu berjalan keluar dari kamar, lalu menemui tiga orang berbaju batik yang sedang berdiri di depannya.


"Selamat sore, Tuan."


"Selamat sore"


Saat Ethan baru saja berdiri di depan mereka, tiba-tiba dua orang itu menyergap tubuhnya, sedangkan satu orang lainnya, tampak menodongkan pistol di kepala Ethan.


"Apa-apaan ini?"


"Jangan bergerak dan jangan mencoba melawan karena kalian sudah dikepung! Kalau tidak, timah panas ini akan menembus kepala bos kalian ini!"


"HAI BRENGSEKK! SIAPA SEBENARNYA KALIAN!"


"Kami dari kepolisian, maaf Tuan Ethan, anda ditahan atas tuduhan pembunuhan berencana, korupsi di perusahaan, dan kasus manipulasi."


"BRENGSEKK!" bentak Ethan disertai dengan wajah yang memerah. Anak buah Ethan pun hanya bisa pasrah saat beberapa orang polisi menggiring mereka ke dalam mobil polisi.

__ADS_1


"Sekarang, anda ikut kami Tuan Ethan!"


Mau tak mau, Ethan pun mengikuti polisi tersebut. Namun tiba-tiba, langkahnya tertahan saat melihat Arsen dan Zian yang berdiri tak jauh dari mereka.


"KALIAN MEMANG BENAR-BENAR BRENGSSEK! KALIAN BENAR-BENAR KURANG AJAR! AWAS SAJA, AKU PASTI AKAN BISA MEMBALAS KALIAN!"


Arsen pun hanya tersenyum mendengar perkataan Ethan, sedangkan Zian tampak menundukkan kepalanya, merasa bersalah telah mengkhianati Ethan.


"Zian, olong bantu aku membawa Papa keluar."


Arsen kemudian masuk ke dalam rumah itu, dan menemukan Candra yang kini terkapar di atas lantai. "Papa!" panggil Arsen. Dia kemudian memeluk tubuh rapuh laki-laki itu. Keduanya kini pun larut dalam isak tangis.


Beberapa saat kemudian, Arsen dan Zian memapah Candra keluar dari rumah itu. "Zian, tolong bawa Papaku ke rumah sakit, ada satu hal yang harus kulakukan. Nanti aku menyusul."


"Iya Arsen," jawab Zian, diikuti beberapa anak buah Arsen menuju ke rumah sakit. Sementara itu, Arsen tampak mengambil ponselnya, untuk menelepon Shanon.


"Sha, tolong datang ke alamat ini!" perintah Arsen, lalu masuk ke dalam mobilnya, disertai dua orang anak buahnya.


Beberapa saat kemudian, Arsen sudah sampai di sebuah rumah minimalis yang ada di komplek perumahan tengah kota. Arsen lalu keluar dari mobil lalu mendekat pada Shanon yang sudah menunggunya di depan rumah itu. Sementara anak buahnya, tampak mendekat ke arah seorang penjaga yang berdiri di depan rumah itu, lalu mereka melumpuhkannya.


"Sha!"


"Arsen, sebenarnya ini rumah siapa? Aku pernah melihat Ethan masuk ke dalam rumah ini."


"Kak Ethan menyekap cinta pertamanya di rumah ini."


"Cinta pertama, Ethan? Siapa dia?"


"Bawa dia ke pihak yang berwajib!" perintah Arsen saat bertemu dengan anak buahnya yang melumpuhkan penjaga di rumah itu.


"Baik Tuan."


Arsen dan Shanon, lalu masuk ke dalam rumah itu, dan membuka salah satu kamar utama, kemudian melihat seorang wanita yang sedang duduk di atas ranjang.


"Chelsea!" panggil Arsen, sambil mendekat ke arahnya, diikuti Shanon yang berjalan di belakangnya.


"Chelsea Olivet Phoenix! Phoe... Phoe kecil kami. Ternyata kau adalah cinta pertama dari Kak Ethan?"


Chelsea pun menganggukkan kepalanya sambil menangis. "Chelsea, bukankah kau pergi ke Cambridge? Bahkan aku sendiri yang mengantarmu ke bandara. Tapi kenapa tiba-tiba kau disekap oleh Kak Ethan?"


"Arsen, saat itu aku bertemu dengan Kak Ethan di Cambridge. Awalnya dia hanya mengajakku untuk makan malam, tapi ternyata dia menjebakku dan aku akhirnya disekap di sini. Dia memulangkanku dengan menggunakan jet pribadinya, Arsen."


"Astaga... Kak Ethan memang benar-benar jahat!"


"Terima kasih Arsen, terima kasih sudah menolongku," ujar Chelsea, lalu mengedarkan pandangannya pada Shanon yang kini terlihat salah tingkah.


"Sha, kamu nggak perlu sungkan. Aku udah tahu semuanya. Aku udah tahu kalo kamu wanita yang dicintai oleh Arsen."


"Maafkan aku Chelsea."

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sha. Ingat cinta tidak pernah salah."


"Terima kasih, Chelsea," jawab Shanon, lalu memeluk Chelsea.


"Chelsea, ayo kita pulang."


Chelsea pun menganggukkan kepalanya. Arsen dan Ethan lalu mengantarkan dia ke rumahnya.


"Terima kasih banyak, aku tunggu undangan pernikahan kalian!" ujar Chelsea, sesaat sebelum keluar dari mobil Arsen.


Shanon dan Arsen pun tersenyum. "Jaga dirimu, Chelsea."


"Iya sekali lagi terima kasih banyak," sambung Chelsea. Dia kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Sedangkan Arsen, kini tampak menatap Shanon dengan tatapan yang begitu dalam dan membuat Shanon salah tingkah.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Sekarang kau milikku seutuhnya."


Shanon pun tersenyum. "Tunggu sampai aku sah bercerai dari Ethan, Arsen."


Arsen kemudian mendekatkan wajahnya pada Shanon. "Sha, tahukah kau, sekarang akulah yang menjadi pemeran utama dalam sebuah kisah yang berjudul bahagia, dan bahagiaku adalah kamu," ucap Arsen yang membuat Shanon tersipu malu. Tiba-tiba Arsen semakin mendekatkan wajahnya pada Shanon lalu memaggut bibir tipisnya dengan lembut.


"I love you, Sha."


***


"TIDAKKKKK"


Teriak Ethan ketika majelis hakim memutuskan hukuman seumur hidup padanya.


'Brengsek, ini tidak boleh terjadi! Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak mau membusuk di penjara,' batin Ethan saat dia berada di dalam mobil tahanan, dan ditemani oleh dua orang polisi yang menjaganya.


"Gani, gue ke belakang dulu ya," kata salah seorang polisi kepada rekannya yang kini terlihat mengantuk, dan akhirnya hanya dijawab dengan anggukan kepala.


'Kesempatan bagus, aku harus bisa melarikan diri,' gumam Ethan sambil melirik pada salah seorang polisi yang terlihat lengah. Namun, baru saja dia menginjakkan kakinya keluar dari mobil, tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.


"Hei tunggu, jangan kabur!" teriak beberapa orang polisi yang berjaga di depan mobil tahanan. Ethan pun panik.


"Hei, berhenti! Atau kami tembak!" teriak salah seorang polisi. Namun, Ethan malah semakin mempercepat langkahnya, hingga beberapa kali tembakan peringatan pun tidak dia indahkan.


DOR DOR DOR


Langkah Ethan terhenti, takkala sebuah timah panas menembus dadanya. Dia lalu memegang dadanya dengan tangan kanannya, sambil melirik bagian dadanya yang sudah begitu banyak dipenuhi oleh darah yang berceceran di tubuhnya.


"Tidak," ucap Ethan lirih, dan di saat itu pula, tubuhnya pun ambruk. Perlahan matanya terpejam hingga hembusan nafasnya pun terhenti.


"Maafkan aku, Mama."

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2