Adik Iparku Kekasihku

Adik Iparku Kekasihku
Rapat Mendadak


__ADS_3

Sementara itu, Ethan yang baru saja sampai di rumahnya, bergegas masuk ke dalam rumah, dan mencari keberadaan istrinya, Shanon.


"Sha...."


"Shanon sayang..."


Shanon yang saat itu sedang memasak bersama Bi Ijah pun terkejut mendengar panggilan dari Ethan. 'Mas Ethan, astaga dia sudah pulang?' batin Shanon.


"Astaga, apa yang harus kulakukan? Berpura-pura bersikap manis di depannya? Ah, ini benar-benar sangat menyebalkan," gumam Shanon sambil mendekat ke arah sumber suara Ethan yang memanggilnya.


"Princes!" panggil Ethan sambil merentangkan tangannya saat melihat Shanon yang berjalan ke arahnya. Namun, bukannya berlari seperti biasa saat mereka sudah beberapa hari tak bertemu, tapi Shanon malah berjalan dengan langkah yang begitu pelan.


Melihat sikap aneh Shanon, Ethan pun mengerutkan keningnya. "Sayang, kamu kenapa? Kok kamu kaya nggak seneng aku pulang sih?"


Shanon pun tersenyum getir, memang hal yang sangat sulit bagi Shanon adalah berpura-pura. Apalagi berpura-pura baik pada orang yang saat ini dibencinya.


"Sayang, kok diem sih?" ucap Ethan, dia kemudian berjalan mendekat pada Shanon, lalu memeluknya. "Sha, aku kangen."


"I-iya mas, aku juga kangen," balas Shanon pada akhirnya, sembari membalas pelukan Ethan.


"Sayang kita ke kamar yuk. Aku kangen sama kamu."


"Ke kamar? Memangnya hari ini kamu nggak ke kantor, Mas?" jawab Shanon, sambil bergegas melepaskan pelukannya pada Ethan.


"Kantor? Kan aku baru aja pulang, Sayang. Ngapain harus ke kantor? Lagian, kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba aneh gini?"


Shanon pun hanya tersenyum getir, sungguh untuk saat ini dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ingin rasanya dia menghindar dari Ethan, atau mengumpat kasar atas semua kebohongan dan kecurangan yang dia lakukan, tapi ini bukanlah saatnya. Dia harus tetap berpura-pura, setidaknya sampai Arsen berhasil menjalankan seluruh rencananya. Sebenarnya, Shanon sudah begitu enggan hidup dengan Ethan, rasa cinta yang dulu begitu besar pada Ethan, rasanya sudah mengendap, berganti amarah dan benci yang menggumpal di dadanya. Dengan terpaksa, Shanon pun menarik kedua sudut bibirnya.


"Maaf mas, mungkin aku terlalu speechless mas udah pulang, jadi jiwa posesifku tiba-tiba keluar, dan nggak pengen mas pergi lagi."


Ethan pun tersenyum mendengar perkataan Shanon. "Ya udah kita ke kamar yuk!"

__ADS_1


Terpaksa, Shanon pun mengangguk mendengar ajakkan Ethan. Mereka kemudian berjalan menuju ke kamar mereka dengan bergandengan tangan, sesekali Ethan menciumi punggung telapak Shanon sambil melirik pada Shanon yang juga tersenyum padanya, meskipun sebenarnya hatinya sungguh tak rela salah satu bagian tubuhnya ada yang disentuh oleh Ethan. Shanon pun tak tahu, entah mengapa perasaannya tiba-tiba berubah begitu cepat. Jika beberapa hari yang lalu, Arsen mengatakan kalau dia akan menunggu sampai Shanon memberikan seluruh cintanya pada dirinya karena masih ada Ethan di dalam hatinya, dia pikir itu pemikiran yang salah. Karena pada kenyataannya, untuk saat ini Shanon sudah tidak memiliki rasa apapun pada Ethan.


Jantung Shanon pun berdegup begitu kencang, saat mereka mulai memasukki kamar itu, apalagi saat Ethan mulai menempelkan bibirnya pada bibir Shanon, dia pun hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya, di saat itulah tiba-tiba ponsel Ethan pun berbunyi.


"Menggangu saja," protes Ethan. Namun, dia mengabaikan panggilan ponsel itu, dan kembali menempelkan bibirnya pada bibir Shanon. Tapi buru-buru Shanon mengelak, karena hanya ini kesempatan baginya agar bisa menghindar dari Ethan.


"Mas, sebaiknya kamu angkat dulu teleponnya."


"Lebih penting kamu, Sha. Aku kangen banget sama kamu," sahut Ethan yang kini mulai menciumi tengkuk, dan membuka kancing dress yang dikenakan oleh Shanon.


"Tapi Mas, ponselnya bunyi terus."


Ethan pun akhirnya menjauhkan wajahnya dari Shanon, sambil menghela nafasnya kasar. "Dasar penggangu!"


Dia kemudian mengambil ponselnya yang masih ada di saku celananya, dan melihat nama Zian, sekretarisnya yang ternyata berulang kali meneleponnya. Ya, Ethan memang mempekerjakan seorang sekretaris laki-laki bernama Zian, yang merupakan sahabatnya sejak mereka duduk di bangku SMA. Dan, karena alasan itulah, yang dulu membuat Shanon yakin kalau Ethan adalah laki-laki yang setia, sebab saat Shanon menanyakan tentang alasan Ethan memilih sekretaris laki-laki dibandingkan wanita, dia selalu menjawab sudah terbiasa dengan Zian, dan merasa kurang nyaman jika berinteraksi dengan wanita.


[Halo, ada apa?] jawab Ethan.


[Ke kantor?]


[Ya.]


[Ada apa sebenarnya, Zian?]


[Arsen mengadakan rapat mendadak dengan para dewan komisaris.]


[Apaaaa?]


[Ya, cepat ke kantor Ethan!]


Ethan pun buru-buru menutup panggilan dari Zian, lalu menatap Shanon yang saat ini tampak mengerutkan keningnya sambil memperhatikan sikap aneh Ethan.

__ADS_1


"Kenapa Mas?"


"Sha, aku ke kantor dulu ya, ada urusan penting yang harus aku selesein," ucap Ethan, lalu mengecup kening Shanon.


"Tapi mas..."


"Aku janji kembali secepatnya, Sayang!" sahut Ethan, lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan Shanon begitu saja yang saat ini terkekeh melihat sikapnya.


"Hahahahaa, ini baru awal mula Ethan!" cibir Shanon.


***


Sementara itu, Ethan yang saat ini mengendarai mobilnya menuju ke kantor tampak begitu kesal. Selama dalam perjalanan, beberapa kali dia tampak mengumpat dan melontarkan kekesalannya pada Arsen.


"Dasar bajingannnn! Kau memang brengsekkkk, Arsen! Kau bilang kepulanganmu hanya untuk sementara karena rindu pada Almarhum Mama dan Papa! Tapi, ternyata kau sudah merencanakan semua ini hah? Dasar bedebah, otakmu ternyata sangat licik! Kenapa aku juga ceroboh seperti ini? Kupikir kepergianku ke Eropa untuk menyelesaikan masalah! Tapi ternyata, menjadi awal masalah besar bagiku karena kau semakin bebas mengobrak-abrik akses perusahaan! Bajingannn kau, Arsen!" umpat Ethan sepanjang perjalanan.


Setelah hampir setengah jam lamanya, Arsen menyusuri padatnya jalanan ibu kota. Akhirnya dia pun sampai di kantor milik mereka.


Bergegas, dia menuju ke ruang meeting, dan saat dia memasuki ruangan itu, tampak ruang meeting sudah dihadiri para petinggi perusahaan yang kini atensinya tertuju padanya, termasuk ayah dari Shanon, mertuanya. Ethan pun pura-pura bersikap tenang saat memasuki ruangan meeting itu, sambil tersenyum. Saat netranya tertuju pada Arsen, tampak Arsen sedang menatapnya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Boleh dibilang tatapan itu adalah sebenarnya tatapan mengejek.


"Selamat pagi menjelang siang, Kak Ethan," sapa Arsen saat Ethan duduk di sampingnya.


"Selamat siang, Arsen!" jawab Ethan sambil menatap Arsen dengan tatapan sinisnya. Setelah Ethan duduk di sampingnya, Arsen kemudian berdiri, dan memulai rapat itu, hingga beberapa saat kemudian dia tiba-tiba memanggil nama Ethan, yang sontak membuat Ethan terkejut.


"Kak Ethan, apakah Kakak bisa memberi penjelasan kondisi perusahaan selama dua tahun terkahir? Kalau selama ini perusahaan kita selalu mengalami keuntungan, mengapa aku menemukan kurva yang menunjukkan kerugian, serta banyak pengeluaran yang tidak disebutkan rinciannya dengan jelas? Dan, oh iya satu lagi Kak, bagaimana sebenarnya proses lelang tender di perusahaan kita? Kenapa pemenang tender selalu perusahaan yang sama, bahkan ada perusahaan fiktif juga?"


Deg.


Jantung Ethan pun seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan Arsen yang ditujukan padanya. 'Dasar brengsekkk kau Arsen! Kau mau mempermalukanku di depan umum?' batin Ethan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2