Adik Iparku Kekasihku

Adik Iparku Kekasihku
Sesuai Dugaan


__ADS_3

Shanon pun menatap layar ponsel itu, ingin rasanya dia mengangkat panggilan itu. Namun, dia memilih untuk mengendalikan diri dan menaruh kembali ponsel itu di atas nakas.


Tak berapa lama, Ethan pun keluar dari kamar mandi, lalu mengambil ponselnya dan mengutak-atik ponsel itu. "Kamu mau sarapan apa, Mas? Nanti biar aku siapkan," tanya Shanon. Namun, Ethan hanya diam, dan tetap sibuk dengan ponselnya.


"Mas..."


"Emh-e, oh iya. Ga usah siapin sarapan, Sha. Aku mau pergi sekarang, ada urusan pekerjaan yang harus kuselesaikan," jawab Ethan sambil memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Shanon dengan begitu tergesa-gesa. Shanon pun hanya melihat tingkah suaminya sambil mengerutkan keningnya.


"Beneran kamu nggak sarapan dulu, Mas? Tadi malem kamu pulang telat, terus sekarang kamu tiba-tiba udah berangkat sepagi ini, emang kamu lagi ada masalah di kantor?"


"Iya Sha, emang lagi ada problem yang harus aku selesein. Ya udah, aku berangkat dulu ya," ucap Ethan, kemudian mengecup puncak kepala Shanon, lalu keluar dari kamar itu.


Shanon yang curiga pada gerak-gerik Ethan, sengaja memesan taksi online saat Ethan mengatakan harus pergi ke kantor. Dia lalu, bangkit dari atas tempat duduknya, saat Ethan sudah keluar dari kamar. Setelah mobil Ethan keluar dari rumah itu, Shanon pun bergegas masuk ke dalam taksi, yang sudah menunggunya.


"Pak, tolong ikuti mobil itu!" perintah Shanon pada supir taksi.


"Baik Nyonya."


Memang, Shanon sengaja pergi dengan menggunakan taksi, karena dia tidak ingin Ethan tahu dia sedang membuntutinya kalau dia menaiki mobil pribadinya. Shanon pun merasa begitu penasaran, kemana Ethan akan pergi, karena arah yang ditujunya saat ini, bukanlah menuju ke arah kantor. Apalagi saat ini, mereka mulai masuk ke dalam sebuah komplek perumahan.


Tak berapa lama, mobil Ethan pun terhenti di depan sebuah rumah mewah dua lantai bergaya minimalis, yang letaknya tak jauh dari pintu masuk komplek perumahan itu.

__ADS_1


"Kenapa Mas Ethan pergi ke sini? Ini rumah siapa? Kenapa sepertinya dia sudah biasa masuk ke rumah ini?" gumam Shanon, saat melihat Ethan masuk begitu saja ke dalam rumah itu, tanpa mengetuk pintu rumah itu terlebih dulu.


"Ah, ini bukan waktu yang tepat untuk mencari tahu, ya ini bukan saat yang tepat. Yang terpenting, aku tahu saat ini Mas Ethan tidak pergi ke kantor," gumam Shanon. Setelah apa yang Ethan lalui kemarin, Shanon yakin itu bukan hal yang mudah bagi Ethan untuk melanjutkan pekerjaannya di kantor seperti biasa.


"Pak kita pergi sekarang! Ke alamat ini ya, Pak!" ucap Shanon sambil merubah rute tujuan pada ponselnya, menuju ke kantor.


"Baik Nyonya," jawab supir taksi tersebut.


Dua puluh menit kemudian, Shanon pun sudah sampai di kantor milik orang tua Arsen. Dia tahu, sebenarnya Arsen sudah pergi ke kantor itu. Tapi, bukan itu tujuan utamanya datang ke kantor, bukan untuk menemui Arsen, karena menemui Arsen secara terang-terangan seperti ini, hanya akan menimbulkan kecurigaan semata.


Memang Shanon melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Ethan, tapi bukan Ethan juga yang ingin dia temui, karena dia tahu Ethan tidak ada di kantor itu.


"Selamat pagi juga, Zian," jawab Shanon pada Zian, sekretaris dari suaminya. Zian memang tidak pernah memanggil Shanon dengan embel-embel di depan, Shanon melarangnya memanggil dengan sebutan Nyonya, karena dia tahu Zian adalah sahabat dari suaminya.


"Maaf Sha, kamu mau ketemu sama Ethan? Kayaknya Ethan belum sampe deh."


"Nggak kok, aku ga mau ketemu sama Mas Ethan, aku mau ketemu sama kamu."


"Ketemu sama aku? Ada apa, Sha?" tanya Zian yang saat ini tampak mengerutkan keningnya.


"Aku mau kembaliin ini sama kamu, Zian. Ini punya kamu kan?" jawab Shanon sambil memberikan sebuah gelang yang ditemukan oleh Arsen di rumah mereka beberapa minggu yang lalu.

__ADS_1


Zian pun tampak begitu gugup saat melihat gelang yang ada di tangan Shanon. "Zian, kok kamu kaya orang bingung sih? Ini gelang kamu kan? Aku masih inget ini gelang kesayangan kamu kan?" cicit Shanon kembali yang saat ini begitu puas melihat raut panik di wajah Zian.


"Emh-e, Sha. Kamu nemu gelang itu dimana Sha?'


"Oh ini, aku nemu di belakang rumah. Mungkin ga sengaja kebawa sama Mas Ethan."


"Oh iya makasih, Sha," jawab Zian sambil mengambil gelang itu dari tangan Shanon.


"Iya sama-sama, kalo gitu aku pulang dulu ya, Zian."


"Iya Sha, sekali lagi terima kasih banyak udah ngembaliin gelangku, sampe kamu repot-repot datang ke sini."


"Gapapa, Zian. Tenang aja, ya udah aku pulang dulu," pamit Shanon. Dia kemudian berjalan meninggalkan Zian yang saat ini sebenarnya terlihat masih begitu salah tingkah.


Zian menatap kepergian Shanon sambil menhembuskan nafas panjangnya. "Untung aja Shanon ga curiga," gerutunya. Namun, tanpa dia tahu, dibalik punggung Shanon, wanita itu tampak tersenyum menyeringai sambil mengirim pesan pada Arsen.


Arsen:


Arsen, seperti yang kuduga, pemilik gelang itu adalah Zian.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2