
"Kamu pernah liat gelang ini, Sha?"
Shanon menganggukkan kepalanya. "Apa ini milik Kak Ethan?"
"Bukan, itu bukan milik Mas Ethan. Arsen bolehkah aku saja yang menyimpanp gelang itu? Aku pernah melihat gelang ini dipakai seseorang, tapi aku belum terlalu yakin."
"Tentu saja, Sha."
Arsen kemudian memberikan gelang itu pada Shanon, dan dia tampak mengamati sejenak gelang yang ada di tangannya sambil tersenyum kecut.
"Udah yuk sayang, kita makan malem dulu buat bekal."
"Bekal apa?"
"Bekal tenaga di kamar habis makan malem."
"Dasar!" balas Shanon sambil menyentil kening Arsen.
Setelah makan malam, mereka kemudian naik ke lantai atas. "Arsen, aku ambil ponsel dulu ke kamar."
"Iya sayang."
Shanon lalu mengambil ponselnya, dan ketika melihat layar ponsel itu, dia pun tampak membelalakkan matanya saat membaca pesan dari Ethan yang mengatakan kalau dia akan pulang, dan kemungkinan sampai di rumah keesokan harinya.
Setelah membaca pesan itu, Shanon bergegas masuk ke dalam kamar Arsen yang saat ini tampak sedang duduk di depan meja kerjanya.
"Arsen!"
"Ada apa, Sha?" tanya Arsen ketika melihat Shanon yang saat ini tampak begitu panik.
"Arsen, lihat ini!" jawab Shanon sambil memperlihatkan pesan yang dikirimkan Ethan padanya.
"Jadi, besok Kak Ethan mau pulang?"
Shanon pun menganggukkan kepalanya. "Kita harus bagaimana, Arsen?"
__ADS_1
Arsen kemudian memegang bahu Shanon lalu mengangkat dagunya. "Lihat aku, Sha! Kamu percaya sama aku kan?"
Shanon menganggukkan kepalanya. "Lalu bagaimana sekarang perasaanmu pada Kak Ethan?"
"Entahlah, Arsen. Aku tidak tahu, untuk saat ini sangat sulit untuk percaya padanya setelah semua kebohongan yang dia lakukan padaku. Tapi, bagaimanapun juga dia adalah suamiku. Sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
"Jadi kau sudah tidak percaya pada Kak Ethan?"
Shanon menganggukkan kepalanya kembali. "Bagus Sha, kalau begitu sepertinya aku harus menceritakan sebuah rahasia padamu."
"Rahasia? Rahasia apa?"
"Sha, kau tahu tentang masa lalu kita kan? Lalu, apa kau pikir aku mau hidup satu rumah dengan cinta pertamaku yang sudah menikah dengan laki-laki lain?"
"Itu yang menjadi pertanyaanku, Arsen. Pasti ada satu alasan yang membuatmu pulang, meskipun itu artinya kau harus menahan sakit hatimu karena harus tinggal satu rumah denganku dan Mas Ethan, iya kan?"
"Kau benar, Sha. Memang ada alasan tertentu yang membuatku untuk memilih pulang dan tinggal bersama kalian, itu karena aku menemukan sesuatu hal yang aneh pada perusahaan Papa, ada beberapa transaksi aneh, proyek fiktif, bahkan kerugian yang cukup significant pada dua tahun terkahir. Dan, apakah kau tahu, sebenarnya yang membuat usaha orang tuamu bangkrut saat di Jepang adalah Kak Ethan."
Deg
"Aku punya buktinya, Sha. Saat itu anak perusahaan kami juga menghadiri tender yang diadakan di Jepang, dan beberapa hari sebelum presentasi tender itu, salah seorang suruhan Kak Ethan mencuri data yang akan dipresentasikan oleh perusahaan milik orang tuamu. Dia bekerja sama dengan orang dalam yang bekerja di perusahaan ayahmu, dan kebetulan dia yang membuat desain itu. Setelah kejadian itu, ayahmu mendapat banyak masalah tentang pencurian, hak cipta, dan membuat hilangnya kepercayaan dari client. Itulah yang menyebabkan bisnis orang tuamu mengalami kebangkrutan, Sha."
Shanon pun begitu marah mendengar perkataan Arsen, dadanya tampak naik turun diiringi nafas yang begitu menderu. "Dasar brengsekkkkk! Jadi, dia yang sebenarnya membuat orang tuaku mengalami musibah itu?"
Arsen pun menganggukkan kepalanya. "Dasar brengsekkkk! Bedebah kau, Ethan! Kurang ajar!"
"Sha, tenangkan dirimu, Sha."
"Arsen, tolong katakan padaku, kenapa dia melakukan semua itu pada kami? Kesalahan apa yang telah kami perbuat padanya hingga membuat kami terpojok dan begitu bodoh mengikuti saja skenario darinya!" geram Shanon.
"Bukan kalian, tapi aku."
Shanon pun menoleh pada Arsen. "Apaaa?"
"Iya Sha, tujuan utama dari permainan Kak Ethan itu bukan kalian tapi aku."
__ADS_1
"Kau? Kenapa harus kau, Arsen?"
"Karena dia ingin menjatuhkan mentalku. Dia tahu aku sangat mencintaimu, Sha. Apa kau tahu, dulu saat aku kehilanganmu, aku begitu terpukul, hidupku begitu berantakan, aku bahkan hampir gila dan begitu putus asa menjalani hidup ini. Dia tahu aku sangat mencintaimu, dan setelah tahu keberadaanmu di Jepang, Kak Ethan menghancurkan bisnis kedua orang tuamu, agar kalian masuk ke dalam jebakannya. Itulah alasannya dia menikahimu, untuk menghancurkan kehidupanku, dan membuatku terpuruk. Dia pasti berfikir kalau kau menikah dengannya, aku tidak akan pulang ke rumah dan dia bebas menguasai perusahaan Papa."
"Astaga, jadi dia melakukan semua ini untuk menguasai perusahaan Papa?"
"Iya sayang."
"Jadi arti dari kepulanganmu ke Indonesia untuk merebut perusahaan Papa?"
"Dan merebutmu, Sayang," balas Arsen, lalu mengecup bibir Shanon yang membuat raut wajah Shanon bersemu merah. Arsen pun terkekeh melihat tingkah Shanon.
"Arsen, lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Menghindarlah dari Kak Ethan, aku tidak mau kau melayani dia sebagai istrinya."
"Hahahahaha..."
"Jadi kau cemburu?"
"Tentu saja."
"Jangan mau layani, Kak Ethan. Sekarang layani aku saja," sahut Arsen sambil membopong tubuh Shanon ke atas tempat tidur.
"Aaaaaaa... Arsen...."
***
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, tampak seorang laki-laki keluar dari bandara dengan langkah yang terburu-buru. Setelah itu, dia tampak masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang telah menunggunya.
"Ayo pergi sekarang!" perintah laki-laki itu pada sopir pribadinya.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah kecil yang ada di pinggiran kota. Dia kemudian turun dari mobil, lalu bergegas memasuki rumah itu, dan membuka salah satu kamar yang ada di rumah tersebut. Dia kemudian mendekat ke sebuah ranjang yang ada di kamar itu lalu tersenyum pada laki-laki yang tampak terbaring lemah di atas ranjang.
"Apa kabarmu, Papa?"
__ADS_1
Bersambung...