Adik Iparku Kekasihku

Adik Iparku Kekasihku
Sambungan Telepon


__ADS_3

Chelsea menatap bangunan besar yang ada di depannya, bangunan mewah bak kastil disertai hamparan rumput yang hijau dan sebuah sungai kecil di sampingnya.


"Cambridge University, aku kemari memang untuk melanjutkan study-ku. Namun, tahukah kamu mengapa aku pergi sejauh ini dan memilihmu? Karena sebuah nama di hatiku. Sebuah nama yang sulit kugapai, tapi masih saja bernaung di dalam hatiku. Kalau aku tidak bisa memilikinya, setidaknya saat ini aku hidup dalam kenangannya di sini, meskipun hidup dalam kenangan sebenarnya sangat menyakitkan," gumam Chelsea.


Lamunan Chelsea tiba-tiba tersentak saat sebuah tepukan lembut menempel di pundaknya, diiringi sebuah suara berat terdengar dari balik tubuhnya. "Chelsea?"


***


Shanon terbangun di pagi hari, dengan sosok adik ipar yang berada satu selimut dengannya. Ya, selama semalaman mereka telah tidur dalam satu ranjang dan entah berapa kali melakukan permainan panas di atas ranjang itu. Sejenak, Shanon memandangi wajah Arsen yang masih terlelap dengan begitu nyaman. Wajah itu terlihat begitu tampan, hingga membuat Shanon tertarik untuk mencium bibirnya yang terlihat begitu seksi.


CUP


Cukup lama bibir Shanon menempel pada bibir itu, namun Arsen tidak bergerak, sepertinya dia masih sangat lelap. Mungkin dia kelelahan setelah permainan panas mereka tadi malam. Shanon kemudian menggerakkan tubuhnya sambil meringis, merasakan sakit yang ada di bagian bawahnya. Tubuhnya pun terasa pegal dan nyeri, rasanya tadi malam Arsen benar-benar menggila, mungkin itu sebagai perwujudan cinta sekaligus rasa rindu yang sudah dipendamnya selama bertahun-tahun.


Shanon kemudian menyingkirkan sebuah tangan kekar yang kini melingkar di pinggangnya, tangan kekar milik adik iparnya, bukan milik suaminya, yang masih membuat Shanon merasa sangat bersalah telah mengkhianati suaminya, sekaligus tidak percaya, dia sudah melakukan kesalahan sebesar ini, yaitu melakukan dosa dan hal terlarang dengan Arsen.


Shanon bergerak, bermaksud bangun dari posisi tidurnya. Tapi tangan Arsen masih setia memeluknya dari belakang. Gerakan tubuh Shanon akhirnya membuat Arsen terbangun.


"Arsen, ayo bangun, udah pagi," ucap Shanon sambil menepuk tangannya. Namun, Arsen malah mengeratkan pelukannya pada Shanon, dengan kepalanya yang mengusap manja di lehernya.


"Aku masih pengen kayak gini, Sha. Lagian di rumah ini cuma ada aku sama kamu. Bi Ijah juga hari ini ijin buat nemenin anaknya kontrol, iya kan?"


Shanon menghela nafas pelan, dan tiba-tiba kedua tangan Arsan mulai bergerak mengusap dan memainkan kembali tubuh bagian depan dan bawahnya yang membuat Shanon kaget dan spontan berteriak. "Arsen!"


"Kenapa?"


"Kamu ngagetin aja deh?"

__ADS_1


"Ya udah di sini aja dulu, Sha. Aku masih kangen, kamu tahu kan udah berapa taun aku nunggu kamu? Kamu tahu kan ini saat-saat yang paling aku nantikan dalam hidupku."


"Iya, iya, Sayang."


Di saat itu juga suara ponsel Shanon pun berbunyi, refleks Shanon meraih benda pipih yang ada di atas nakas begitu saja. Namun, detik itu pula Shanon menyadari jika panggilan telepon itu ternyata dari Ethan.


"Arsen berhenti sebentar, Mas Ethan telepon."


Arsen pun menghentikan pergerakannya sejenak, membiarkan Shanon mengangkat panggilan dari Ethan.


[Halo Mas.] jawab Shanon sambil merasakan degup jantung ya begitu kencang, antara takut juga hasrat yang masih begitu menggebu akibat perbuatan Arsen yang saat ini masih bergelirya menjelajahi tubuhnya.


[Kamu udah bangun, Sayang?] tanya Ethan dari ujung sambungan telepon.


[Iya Mas, aku udah bangun.]


Shanon sontak pun membelalakkan matanya lebar.


[Jangan Mas! Jangan sekarang!] tolak Shanon.


[Loh kenapa, Sha? Biasanya kamu kan yang selalu minta kita buat video call?]


[Emhhh..., gini mas, saat ini aku lagi nggak di rumah. Iya, aku lagi nggak di rumah. Aku lagi di jalan, Mas.]


[Di jalan? Tapi ini masih pagi, kamu pagi-pagi habis kemana, Sayang?]


[Aku habis olahraga, Mas.]

__ADS_1


[Olahraga? Kalau gitu bagus dong, aku pengen lihat wajah kamu saat lagi olahraga pasti seksi.]


[Oh, jangan Mas. Aku lagi kucel banget nih, iya pokoknya kucel Mas, banyak keringet. Lagi di jalan banyak asap sama kendaraan.]


"Ahhh..., emhh..." teriak Shanon, dengan sedikit kesal dia melempar tangan Arsen yang saat ini meremmas gundukan kenyalnya.


"Ouhgh..., Ah..." teriak Shanon kembali, karena saat ini Arsen sedang menggigit bahunya dan sesekali memberikan kecupan di tengkuk Shanon.


'Astaga, apa-apaan ini, Arsen. Apa dia sudah gila?' batin Shanon sambil memelototkan matanya pada Arsen.


[Sayang, kamu kenapa? Kenapa kamu teriak-teriak gitu? Kamu masih ada di jalan?]


[Iya Mas, emhhh, mas gimana kalau teleponnya aku tutup aja dulu? Tadi aku hampir saja tertabrak, Mas.]


[Apa? Hampir tertabrak? Ya udah kalau gitu aku tutup dulu teleponnya, kamu ati-ati ya, Sayang.]


[Iya Mas.] jawab Shanon pada akhirnya. Sebenarnya, dia ingin sekali melakukan panggilan video call dengan Ethan, setidaknya dia ingin tahu keaadaan suaminya saat ini. Apalagi setelah tahu kebohongan yang dilakukan Ethan, rasanya dia sudah tidak percaya lagi dengan kata-katanya. Tapi untuk saat ini, dia tidak bisa melakukan itu karena dia masih bergumul dengan Arsen, adik iparnya.


"Arsen!" teriak Shanon yang terkejut saat tiba-tiba Arsen sudah mencium ceruk lehernya ketika Shanon tengah termenung.


"Kenapa? Kamu mikirin Kak Ethan? Aku ga akan biarin kamu mikirin Kak Ethan pas lagi sama aku, Sha."


"Arsennn, empthh..."


***


Setalah menutup sambungan teleponnya, tiba-tiba netra Ethan tertuju pada sosok wanita cantik yang dikenalnya, dan saat ini sedang berdiri tidak jauh darinya. Ethan kemudian mendekat pada wanita itu, lalu menepuk bahunya, seraya memanggil namanya. "Chelsea!"

__ADS_1


__ADS_2