After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Canda Sebelum Tidur


__ADS_3

Tanpa meminta persetujuan Clara, Dimas pun langsung menyusun bantal dan membaringkan tubuhnya di sana.


Sembari menatap langit-langit, ia terlihat tersipu saat membayangkan apa yang barusan ia lakukan.


"Kenapa aku bisa melakukan itu?" batinya kebingungan, padahal jelas-jelas ia menolak Clara mentah-mentah. Tapi kenapa bisa ia menyerang Clara dengan sangat buas.


Sembari menahan rasa malu, Clara hanya bisa duduk terpaku sambil menutup tubuhnya dengan kimono rapat-rapat. Dimas adalah laki-laki pertama yang menciumnya, rasanya bagai mimpi, hingga terlihat jelas wajahnya memerah karena merasa malu.


"Tidurlah, aku tidak akan mengganggu kamu," ucap Dimas, Clara pun langsung menatap wajah Dimas, hingga membuatnya semakin merasa malu, bayangan saat Dimas meminta lidahnya untuk dikeluarkan masih terbesit jelas di ingatan, sehingga ia tidak berani menatap lama-lama suami tampannya itu.


Clara pun langsung membaringkan tubuhnya dan memilih untung memalingkan tubuh. 


"Kenapa? Apa kamu malu?" tanya Dimas dan Clara pun menggeleng.


"Kalau tidak malu, lihat aku," sambung Dimas menantang, dengan jantung yang masih dag dig dug, Clara pun memberanikan untuk membalikkan tubuhnya ke arah Dimas.


Jarak mereka kini hanya berkisar 5CM. Hingga Dimas kini bisa melihat wajah cantik Clara dengan jelas.

__ADS_1


"Kenapa kamu setuju melakukan ini?" tanya Dimas memecahkan kecanggungan, bagaimana ia ingin tahu, kenapa Clara setuju untuk menikah siri dengannya.


"Aku butuh uang, Kak. Aku minta maaf, aku sudah hadir di tengah-tengah keluarga, Kakak," jawab Clara merasa bersalah, melihat ketulusan dari wajah Clara, membuat Dimas percaya, dan tidak kuasa untuk melampiaskan uneg-uneg yang sudah lama ia pendam.


Dimas juga tidak mengerti, kenapa saat melihat wajah Clara, ia tidak mampu meluapkan kekesalannya, padahal sebelumnya ia sudah merencanakan untuk marah, dan berfikir untuk membantu Clara kabur.


"Ya sudah, silahkan tidur!" perintahnya, ia tidak tahu harus berkata apa lagi, kata-kata yang sudah lama ia susun, kini buyar begitu saja. Ia pun melihat ketenangan dari wajah Clara, ketenangan yang tidak pernah ia lihat dari wajah Sarah.


Tidak tahan melihat tatapan Dimas, Clara pun langsung memejamkan mata, dalam kondisi seperti ini, ia sama sekali tidak mengantuk, dan berpura-pura tidur adalah jalan jitu satu-satunya yang bisa ia lakukan.


Clara semakin merasa salah tingkah, ia lupa untuk membalikkan badan, hingga kini Dimas masih fokus memandangi wajahnya. Wajahnya semakin memerah, hingga membuat Dimas ingin menyentuhnya.


"Kenapa aku seperti ini?" keluh Clara dalam hati, sebelumnya ia tidak pernah merasakan seperti ini, jantungnya berdebar dengan kencang, hingga membuat tubuhnya hampir gemetar.


"Kenapa wajah kamu panas dan merah begini, apa kamu demam?" tanya Dimas.


"Tidak, Kak. AC nya tidak dingin, jadi aku kepanasan," elaknya.

__ADS_1


Dimas pun merasa aneh, justru AC di kamar Clara sangat dingin, tapi kenapa Clara justru merasa kepanasan? Tanyanya dalam hati.


Dimas pun meraih remot AC, dan menurunkan suhu AC. Tidak lama kemudian Clara pun kedinginan, hingga membuatnya menggigil. Udara AC serasa menusuk tulang belulangnya.


"Aduh, kenapa Ac-nya jadi dingin begini," batinya, tanpa sadar, ia pun menarik selimut yang kini sedang digunakan Dimas.


Bukan hanya Clara, Dimas juga merasa hal sama, ia juga merasa kedinginan, Dimas pun melakukan hal sama, ia menarik selimut lalu melilitkan ke tubuhnya.


Mereka pun kini saling adu, hingga membuat keduanya semakin lengket.


Waktu sudah menunjukkan pukul 03:00 pagi, saat Sarah ingin memeluk Dimas, ia pun langsung terbangun saat sadar Dimas tidak ada di sana.


Tiba-tiba Sarah pun merasa penasaran, bahkan ia juga sudah mulai merasa cemburu, kali pertama sejak menikah, Dimas tidak tidur bersamanya. Ia pun memutuskan untuk melihat suaminya ke kamar Clara yang berketepatan di sebelah kamarnya.


Saat ia sudah berada di depan pintu, Sarah merasa panik, kenapa ia harus melakukan itu? Bukankah ini yang ia inginkan? Namun sebagai perempuan, ia ternyata tidak bisa menahan cemburunya, selama ini Dimas menolak sehingga belum membuatnya merasa cemburu, namun kali ini, tiba-tiba rasa cemburu itu pun langsung menyerangnya. Sehingga membuatnya merasa gelisah.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2