After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Dimas dan Clara Bulan Madu


__ADS_3

Malam ini Dimas sungguh sangat merasa resah, ia sudah tidak ada alasan untuk mengelak, hal yang sama juga dirasakan oleh Clara, sebab Sarah sudah memberitahunya untuk menunggu Dimas di kamarnya.


Perasaan Clara kini campur aduk, ia tidak bisa duduk tenang menunggu sang suami, sedari tadi ia jalan mondar-mandir, namun tidak juga berhasil membuat ia merasa tenang.


Kalau benar akan terjadi, itu artinya ia akan memberikan keperawanannya untuk Dimas, untuk suami yang sama sekali tidak ia cintai dan tidak mencintainya. Clara masih tidak menyangka, ia akan melakukan hal gila seperti itu, hanya demi uang.


Clara sama sekali belum pernah jatuh cinta, ia bahkan belum pernah pacaran, kepolosan dan keluguannya tidak bisa untuk ia sembunyikan. Sedari tadi jantungnya dag dig dug, ia memikirkan harus memulai dari mana, dan apa yang akan ia lakukan jika Dimas hendak melakukannya.


Jantungnya pun semakin berdegup dengan kencang, saat ia mendengar suara pintu, matanya langsung terbelalak melihat Dimas yang sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya, bukan karena merasa pangling, tapi karena merasa takut, apalagi Dimas menatapnya dengan tajam, membuat ia semakin takut, tatapan Dimas kepadanya jauh berbeda dengan tatapannya kepada Sarah.


Dimas pun membanting pintu dengan kuat, melihat itu membuat Clara semakin merasa takut, Clara sama sekali tidak berani menatap Dimas, ia memejamkan mata, sembari menundukkan wajah cantiknya.


Sifat jail Dimas pun mulai muncul, melihat ketakutan yang tersirat dari wajah Clara, membuatnya merangsang ingin menggoda istri kecilnya itu.


Dimas pun menghampiri Clara, lalu naik ke atas ranjangnya. Kemudian, dengan kasar, ia pun mengangkat dagu Clara, hingga kini dengan jelas ia bisa melihat wajah cantik istri kecilnya itu.


Tatapan mata Clara yang polos, membuat hati Dimas bergetar, rasanya ia tidak tega jika harus menyakiti wanita lugu itu.


Dimas pun mulai meletakkan bibirnya di atas pipi Clara yang lembut, bukannya terangsang, Clara justru merasa takut hingga ia teriak dengan kencang.


Mendengar teriakan Clara, dengan cepat Dimas pun langsung membungkam mulutnya dengan tangannya.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan, sih? Kenapa kamu berteriak?" tanyanya panik, ia takut Sarah akan mendengar suara Clara.


"Aku belum siap, Kak," jawab Clara, namun bukannya membuat Dimas iba, justru semakin membuatnya merasa tertarik.


"Siap tidak siap kita harus melakukannya," ucap Dimas, dan kembali mencium seluruh wajah Clara.


"Hentikan, Kak. Geli!" rintih Clara, namun Dimas sama sekali tidak memperdulikannya. Baginya, ia cukup sekali bercinta dan menamakan benih di rahim Clara, setelah itu Sarah tidak akan memaksanya lagi, dan urusannya dengan Clara selesai.


Dimas pun mulai menyisihkan kimono Clara, hingga dengan jelas ia melihat tumpukan daging yang begitu kenyal, padat, putih dan mulus, yang sangat jauh berbeda dengan Sarah. Dimas akui, milik Clara jauh lebih indah daripada yang Sarah miliki.


Lalu, tanpa aba-aba, Dimas pun mulai bermain di area payud*ra Clara, sehingga membuat Clara merintih geli.


******* Clara yang manja dan **** semakin membuat semangat Dimas menggebu, ia bahkan sudah tidak mengingat Sarah lagi, yang ada dalam benaknya, ia ingin cepat-cepat menikmati tubuh Clara yang sangat menggoda.


"Keluarkan lidah kamu," ucap Dimas, dengan polos, Clara pun menuruti perintah suaminya itu.


Clara pun mulai mengeluarkan lidahnya, dan dengan cepat langsung disambar oleh Dimas.


Dimas benar-benar merasa sensasi yang luar biasa, padahal Sarah sudah melayaninya dengan baik, namun entah kenapa, Clara bisa membuatnya seperti singa yang sangat kelaparan.


Melihat Clara yang tidak ada aksi, membuat Dimas bertanya-tanya, kenapa Clara sama sekali tidak membalas ciumannya.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu tidak membalas ciumanku?" tanyanya kesal.


"Aku tidak tahu, Kak. Terus terang ini kali pertama bagiku," jawab Clara jujur, mendengar itu membuat Dimas tertawa, ia tidak menyangka, ia akan mendapat mangsa yang sangat empuk.


"Jadi, kamu masih perawan?" tanyanya serasa tidak percaya.


"Hem!" jawab Clara sambil mengangguk.


Dimas pun mengerti, ia tidak bisa melakukannya secara terpaksa, apalagi ini pertama kali bagi Clara, tentu harus siap mental juga.


Dimas pun kembali mengikat Kimono Clara yang sudah terlepas. Ia seperti melupakan kebencian yang ia rasa sejak melihat Clara.


"Ya, sudah. Kita tidak akan melakukannya malam ini. Nanti jika Sarah bertanya, kamu jawab saja sudah, aku tidak akan memaksa kamu," ucap Dimas, dan Clara pun mengangguk, melihat Dimas seperti itu membuatnya tersentuh, ternyata Dimas tidak sekejam yang ia kira.


Dimas pun membaringkan tubuhnya di samping Clara, jika ia kembali ke kamar Sarah, maka sepanjang malam, Sarah pasti akan menginterogasinya. Demi keamanan, ia pun memutuskan untuk tidur dengan Clara.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2