
"Kak Dimas, apa uangnya bisa ku kirim ke orangtuaku?" tanya Clara dalam pesannya. Mendapat pesan dari Clara Dimas pun senyum-senyum nyengir, tanpa ia sadari ada Raka yang sedari tadi sedang memperhatikannya.
"Hem, sekarang itu uang kamu, gunakan sesukamu," balas Dimas. Setelah itu Clara pun mengakhiri untuk mengirimkan pesan, ia langsung membuka m-banking nya, lalu mengirimkan uang untuk orangtuanya.
Merasa curiga, Raka pun langsung menghampiri Dimas, ia baru saja selesai melakukan meeting, dan akan menyampaikan hasil meetingnya untuk Dimas.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta," sindir Raka, lalu meletakkan sebuah dokumen di meja Dimas.
"Siapa?" tanya Dimas lugu, ia sama sekali tidak merasa Raka sedang menyindirnya.
"Gue," jawab Raka. Dimas pun langsung beranjak, "Siapa wanita itu?" tanyanya semangat. Raka hanya bisa mendengus, ia tidak tahu sejak kapan Dimas menjadi idiot seperti itu.
"Sudahlah! Gak usah dibahas. Ini laporan hasil meetingnya, silahkan Lo baca," sambung Raka, ia seolah tahu apa yang membuat Dimas seperti itu.
Dimas pun langsung membuka dokumennya, dan langsung menandatanganinya.
"Ini, gue setuju. Gue yakin Lo juga pasti setuju," ucap Dimas. Raka pun melongo, Dimas bahkan tidak membaca poin penting dari laporan itu.
"Apa Lo yakin?" tanya Raka.
"Of course, ini proyek yang bagus. Jika kita membangun mall di sana, gue yakin, akan berhasil dan membuat kita semakin kaya," sahut Dimas.
"Tapi lokasinya di pemukiman penduduk, apa Lo mau usir mereka?" sambung Raka lagi.
__ADS_1
"Itu bukan tanah mereka, jadi masalahnya apa? Apa perlu gue harus mikirin setiap keluarga yang tinggal di sana? Gue gak mau tau, Lo urus semua masalah ini, dalam waktu 2 bulan, para warga harus meninggalkan lahan itu," tegas Dimas. Raka hanya bisa mengangguk, dalam sekejap sikap Dimas seolah kembali, yang hanya memikirkan uang dan kekayaan.
Tidak terasa, usia kandungan Clara kini sudah menginjak 8 Minggu, Sarah juga selalu mengikuti kondisi perut Clara, ia memakai bantal perut, seolah ia memang terlihat sedang hamil. Sudah 3 bulan lamanya Clara hanya terkurung di dalam rumah, ia benar-benar sangat merindukan keluarganya, sehingga ia meminta izin kepada Dimas, untuk diam-diam menemui orangtuanya.
"Sebentar lagi Raka akan ke sana, aku tidak bisa menemani kamu, aku sedang makan siang dengan Sarah," balas Dimas. Lagi-lagi Clara hanya bisa pasrah, perutnya terlihat semakin buncit, namun lama semakin lama, Dimas bahkan tidak punya waktu untuk dirinya. Dimas sibuk untuk proyek pembangunan mall yang akan ia lakukan, begitu juga dengan Sarah, yang selalu sibuk membantu Dimas, mengurus semua dokumen-dokumen yang Dimas butuhkan.
Clara pun menatap pemandangan dari jendela kamarnya, ia seperti seorang tahanan, yang sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ternyata memiliki uang tidak bisa menjamin kebahagiaan, aku kira dengan memiliki banyak uang, aku bisa bahagia. Nyatanya aku hanya seperti ini, rasanya hidupku jauh lebih bahagia saat tidak memiliki uang satu rupiah pun," batin Clara. Dalam kondisi seperti ini, ia merasa berada di dekat orang yang disayangi jauh lebih berharga, daripada memiliki uang namun jauh dari keluarganya.
Tidak lama setelah itu, Raka pun datang, dengan semangat ia menggunakan setelan terbaiknya, hanya untuk menemui Clara.
Clara pun turun menemui Raka, dengan senyuman tipis, ia menyambut Raka, "Maaf, aku sudah merepotkan kakak," ucapnya.
"Ya sudah, ayo. Aku akan membawa ke manapun kamu mau," ucap Raka lagi. Setelah itu Raka dan Clara pun pergi, Clara meminta untuk membawanya ke tempat biasa ia dan ibunya untuk jualan kerak telor.
Sepanjang jalan, Clara dan Raka hanya diam, hanya suara radio dengan volume kecil yang terdengar di sana. Raka memperhatikan Clara yang sedang melamun, terlihat dari wajah Clara seperti tidak ada kebahagiaan.
"Clara," panggil Raka. Mendengar suara Raka Clara pun langsung tersentak, "Iya, Kak," jawabnya.
"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Raka, entah kenapa ia ingin mengenal Clara dengan baik. Ia merasa ada kesempatan untuk mendapatkan Clara, setelah Clara selesai melahirkan dan akan meninggalkan Dimas dan Sarah nanti.
"Aku kwatir ibuku masih jualan kerak telur sekarang, padahal aku melakukan ini untuk mereka. Aku tidak ingin mereka kerja, aku ingin mereka istrahat di rumah, tanpa mengkuatirkan apapun," jawab Clara.
__ADS_1
"Duduk di rumah juga hal yang membosankan, kamu tidak bisa menyalahkan ibumu, setiap seorang ibu pasti tidak ingin menyusahkan anak-anaknya," sahut Raka, namun ucapannya membuat Clara sedih.
"Entahlah, aku merasa tidak ada gunanya untuk melakukan ini semua, aku juga akan menjadi seorang ibu, namun ibu mana yang tega meninggalkan anaknya demi uang," ucapnya. Raka pun langsung meminggirkan mobilnya, saat melihat air mata Clara yang mengalir di wajahnya.
"Clara, hei. Kamu kenapa menangis?" tanya Raka, ia bahkan memberanikan diri untuk menyeka air mata Clara.
"Setiap malam aku selalu memikirkan, bagaimana nasibku setelah melahirkan, bagaimana jika aku merindukan anakku nanti, apa yang akan aku lakukan kak? Dan kenapa aku harus setuju melakukan hal gila ini, kemana aku akan pergi," jawab Clara, tangisannya semakin jelas, sehingga membuat Raka merasa tidak tega.
"Clara tenang, aku akan selalu ada untuk kamu, aku akan membantu kamu bagaimanapun caranya, jika suatu saat kamu merindukan anakmu, maka aku yang akan membawa kamu menemuinya. Kamu tidak usah takut, dan jangan memikirkan yang macam-macam."
Clara pun menatap Raka, "Bagaimana jika kak Dimas dan kak Sarah melarangnya?" tanyanya.
Raka pun meraih tangan Clara, "Maka aku siap berdebat dengan mereka," jawabnya, sehingga membuat Clara merasa sedikit tenang.
"Terimakasih kak. Tapi kenapa kakak mau melakukan ini?" tanya Clara lagi. Sejenak Raka pun diam, lalu melepaskan tangannya dari tangan Clara.
"Aku yatim-piatu Clara, aku tidak memiliki siapa-siapa, selama ini aku hanya bekerja dengan Dimas, jadi aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan," jawab Raka.
"Maaf kak, aku sama sekali tidak tahu kalau kakak yatim-piatu."
"Gak apa-apa, aku sudah biasa."
Clara pun meraih tangan Raka, "Mulai sekarang kakak bisa menganggapku sebagai adik, menganggap orangtuaku seperti orang tua kakak, bahkan aku juga punya adik, kakak bisa menganggapnya sebagai adik juga. Jadi kakak tidak akan pernah merasa kesepian lagi," ucap Clara, mendengar itu Raka hanya bisa tersenyum, karena apa yang Clara katakan tidak seperti yang ia harapkan. Raka pun mengacak-acak rambut Clara, "Kalau begitu, mulai sekarang kamu jangan cengeng, kamu harus selalu menuruti apa kata kakakmu ini," ucapnya. Ia tidak ingin terlalu menunjukkan perasaannya, ia tidak ingin membuat Clara merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Baik, kak," jawab Clara, ia sama sekali tidak merasa bahwa Raka memiliki perasaan untuknya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Raka pun kembali melajukan mobilnya.