
Saat mereka sudah tiba di Mall, Dimas dan Sarah jalan bergandengan di depan, sedangkan Raka dan Clara jalan di belakang mengikuti mereka. Kapan dan di mana pun, Sarah dan Dimas selalu terlihat mesra.
Sarah pun membawa Dimas singgah disebuah butik yang cukup terkenal di mall itu, pelayan butik itu langsung melayani mereka dengan sangat baik, sebab Sarah merupakan salah satu customer mereka di sana.
Sarah hanya duduk manis, para pelayan membawakan koleksi baru ke hadapannya, sedangkan Clara berjalan mengelilingi butik, sambil memilih pakaian mana yang menarik perhatiannya.
Tiba-tiba mata Clara pun langsung terpana ke sebuah gaun merah, gaun itu merupakan gaun limited edition, namun saat melihat harganya yang selangit, membuat Clara langsung menjauh, ia langsung sadar posisi, baginya bisa melihat gaun indah dan mewah seperti itu saja sudah membuat ia bersyukur.
Melihat Sarah yang dilayani dengan baik, membuat Clara sedikit merasa cemburu, andai ia bisa merasakan hal yang dirasakan oleh Sarah, pasti ia sudah sangat merasa bahagia.
"Clara, apa kamu sudah menemukan gaun yang kamu inginkan?" tanya Sarah, spontan Clara pun langsung menatap gaun yang menarik perhatiannya.
"Aku tidak memiliki selera bagus, Kak. Aku tidak tahu harus memilih yang mana, semua terlihat bagus," jawabnya. Dimas yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Clara, tentu ia tahu bahwa Clara sangat menginginkan gaun merah yang ada di hadapannya.
"Mba, tolong ambilkan gaun merah itu," ucap Dimas, dengan cepat pelayan butik itu pun langsung mengambilnya. Dan hal yang tidak diduga pun terjadi, Sarah mengira Dimas memberikan itu untuknya.
"Ya ampun sayang, aku gak tau kalau ada gaun sebagus ini, ya sudah mba, aku nambah ini satu, ya." ucap Sarah. Mata Clara seakan tak berhenti menatap gaun itu, Dimas juga tidak bisa melakukan apa-apa, padahal ia ingin memberikan gaun itu kepada Clara. Namun Clara yang salah paham mengira Dimas sengaja melakukannya, hanya untuk menunjukkan betapa ia sangat mencintai Sarah.
Dimas sungguh sangat merasa bersalah, ia bisa melihat rasa kecewa dari wajah Clara, ia pun langsung membidik setiap sudut butik, berharap ia bisa menemukan gaun yang cocok untuk Clara. Dan saat melihat Sarah yang tengah menerima telepon, Dimas pun berkesempatan untuk mencari gaun untuk Clara, ia tidak ingin Sarah mengetahuinya, ia takut Sarah berpikir yang tidak-tidak dengannya.
__ADS_1
"Clara, silahkan coba gaun ini," ucapnya datar, sambil memberikan Clara sebuah gaun yang tidak kalah cantik dari gaun pertama. Dimas juga tidak mengerti, kenapa ia harus memilihkan gaun itu, dan kenapa ia harus merasa bersalah saat Sarah mengambil gaun merah itu.
Tanpa ekspresi apa-apa, Clara pun mengambil gaun itu dari Dimas, namun saat melihat Dimas memberikan gaun itu seperti sembunyi-sembunyi, membuat ia merasa sedih, Clara bisa mengerti, Dimas sengaja melakukannya agar tidak membuat Sarah marah.
"Kalau kamu suka, langsung bungkus saja, jangan biarkan Sarah melihatnya," ucap Dimas lagi, ia takut Sarah akan mengambil apapun yang ia ambilkan, namun lagi-lagi Clara salah mengartikan maksud Dimas.
Sembari menunggu, Dimas dan Raka pun saling mengobrol, tidak lama kemudian, Sarah pun datang dengan raut wajah sedikit kesal.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dimas, ia bisa menyadari perubahan wajah Sarah.
"Ada masalah di kantor, Mas. Aku harus segera ke kantor," jawab Sarah.
"Hem, aku hanya membeli gaun ini, sisanya aku pakai yang ada di rumah saja," jawab Sarah. Dimas pun mengangguk, kemudian ia mengeluarkan kartu atm-nya lalu menuju kasir. Saat ia ingin membayar milik Clara, ia takut Sarah mengetahuinya. Dan akhirnya Dimas pun memberikan kartu kreditnya secara diam-diam untuk Raka.
"Tolong kamu tungguin Clara, dan nanti bayar semua belanjaannya pakai kartu ini," ucapnya berbisik. Raka pun mengangguk dan mengambil kartu kredit Dimas.
"Mas, ayo. Aku harus segera ke kantor," panggil Sarah yang sudah keluar dari butik. Dengan buru-buru Dimas pun berlari menghampiri Sarah.
Saat mereka sudah melangkah, Sarah pun kembali membalikkan badan.
__ADS_1
"Raka, nanti bawa Clara belanja yang lain, nanti tagihannya aku yang bayar," ucap Sarah, dan Raka pun hanya mengangguk. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Dimas sudah memberikan kartu kreditnya untuk Raka. Bagi Sarah ia bisa memberikan apapun untuk Clara, namun jangan Dimas yang memberikannya, itu sebabnya Dimas melakukannya sembunyi-sembunyi, sebab ia tidak ingin membuat Sarah cemburu.
Setelah mencoba gaun yang Dimas pilihkan, Clara pun kembali mengganti pakaian, dan langsung keluar dari ruang ganti. Namun saat ia membuka tirai ruang ganti, matanya pun langsung terbelalak saat tidak melihat keberadaan Dimas dan Sarah di sana.
"Kak Raka, di mana Kak Sarah dan Kak Dimas?" tanyanya.
"Mereka sudah pergi, sepertinya Bu Sarah ada pekerjaan penting," jawab Raka. Mendengar itu Clara hanya mengangguk, sebegitu tidak pentingnya dirinya sampai-sampai ia tidak harus diberitahu.
Melihat gaun yang ada di tangan Clara, Raka pun langsung menghampiri.
"Apa ini yang kamu pilih?" tanyanya.
Sejenak Clara pun berfikir, "Gak, aku tidak menyukainya," jawabnya. Walaupun sebenarnya ia juga menyukai gaun itu, namun entah kenapa ia tiba-tiba merasa kesal, dan tidak ingin memakai pilihan Dimas.
"Apa kamu mau mencari di tempat lain?" tawar Raka.
"Hem," jawab Clara, mungkin lebih baik baginya mencari di tempat lain.
Setelah itu, Raka pun membawa Clara ke butik lain, ia juga memiliki selera fashion yang bagus, jadi mungkin ia bisa membantu Clara memilihkannya.
__ADS_1