After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Diam-diam Mengagumi


__ADS_3

Mendengar kabar kehamilan Sarah, membuat keluarga Dimas bahagia, namun mereka masih merasa ragu, sebab rahim Sarah yang tidak kuat untuk mengandung. Mereka takut kejadian sama akan terulang kembali, di mana Sarah harus terpaksa menggugurkan kandungannya, atau keguguran dengan sendirinya.


"Apa dokter mengijinkan kamu untuk hamil, Sarah?" tanya Mama Dimas. Sarah dan Dimas pun saling menatap, mereka bahkan tidak kepikiran menyuap seorang dokter untuk bekerjasama dengan mereka.


Melihat kecemasan di wajah Sarah, dengan cepat Dimas pun langsung menjawab, "Sudah Ma, sebelum Sarah hamil, kami sudah konsultasi dengan dokter," jawabnya, mendengar itu membuat mama Dimas bahagia, dan langsung memeluk Sarah dengan erat.


"Akhirnya, terimakasih Sarah, akhirnya kamu bisa memberikan Mama cucu," puji mama Dimas. Sarah pun tersenyum, akhirnya ia bisa mendapatkan kasih sayang dari mama Dimas Kembali.


Sembari mengelus perutnya yang masih datar, Clara pun menatap keluar dari jendela kamarnya, perasaan rindu kini menggebu untuk keluarganya, terutama untuk Ayah dan Ibunya.


Ia ingin bertemu, namun apa daya, kebohongan yang ia mulai seakan menjadi penghalang untuknya.


Di tengah ketermenungannya, tiba-tiba ponsel milik Clara pun berdering, saat melihat nomor tidak dikenal, membuatnya bertanya, siapa yang tengah menghubunginya. Tanpa menunggu lama, Clara pun langsung menjawabnya, ia takut ada sesuatu yang penting.


"Halo," ucap Clara lesu. Sejak kehamilannya, ia sering merasa lelah, walaupun tidak melakukan apa-apa.


Mendengar suara Clara membuat jantung Dimas berdebar, saat ia hendak kembali ke kamar Sarah, ia sengaja menyimpan nomor Clara, agar bisa menghubungi Clara secara diam-diam.


"Clara, ini aku Dimas," ucap Dimas. Seketika membuat jantung Clara juga berdebar.


"Kak Dimas, ada apa Kak?" tanya Clara santai, padahal jantungnya sudah berdetak dengan kencang, namun ucapan Dimas yang menyuruhnya untuk tidak berharap lebih atas pernikahan yang mereka lakukan, membuat Clara benar-benar menyadarkan diri, ia berusaha untuk melupakan perasaannya, dan hanya fokus untuk mengandung dan melahirkan.

__ADS_1


"Apa Sarah sudah mentransfer uangnya untuk kamu?" tanya Dimas. Padahal Dimas hanya menjadikan itu sebuah alasan, karena sejujurnya ia hanya ingin mendengar suara Clara.


"Belum Kak," jawab Clara.


"Ya sudah, aku akan mentransfernya, kirim nomor rekening kamu, tapi tolong jangan katakan kepada Sarah, nanti jika Sarah juga mentransfernya, simpan saja uangnya," ucap Dimas.


"Gak usah kak, biar aku tunggu dari kak Sarah saja," tolak Clara. Ia sama sekali tidak ingin membebani Dimas, apalagi harus menerima kebaikan Dimas dengan cara sembunyi-sembunyi seperti itu, Clara merasa ia akan mengkhianati Sarah jika menerima uang dari Dimas.


"Tapi Clara..." sambung Dimas.


"Gak usah kak Dimas, aku memang butuh uang, tapi aku tidak akan menerima uang dari kak Dimas dengan cara seperti ini," tegas Clara, lalu mengakhiri telfonnya, Dimas hanya bisa terpelongo, rasanya sangat nyesek saat mendapat penolakan seperti itu.


Setelah menghubungi Clara, Dimas pun langsung menghubungi Sarah, ia ingin menanyakan tentang uang yang Clara butuhkan. Entah kenapa ia menjadi begitu peduli, padahal awalnya mendengar tentang Clara saja membuat ia muak.


"Halo sayang, apa kamu sibuk?" tanya Dimas.


"Iya Sayang, dan sepertinya hari ini kita gak bisa lunch bareng, mas gak marah kan?" tanya Sarah, mendengar itu membuat Dimas tersenyum tipis, entah apa yang membuat ia merasa bahagia seperti itu.


"Padahal aku tadi mau ajak kamu lunch, tapi kalau kamu sibuk, gak apa-apa kok sayang. Aku bisa pergi dengan Raka," sambung Dimas berbohong, niatnya di awal hanya ingin bertanya tentang uang yang Clara minta, namun karena Sarah langsung mengatakan itu, membuat Dimas terpaksa berbohong.


"Ya sudah kalau begitu mas, aku mau lanjut meeting dulu," ucap Sarah, dan Dimas pun langsung menahannya.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu sudah mentransfer uangnya untuk Clara?" tanya Dimas, seketika rasa curiga langsung memenuhi otak Sarah, namun berhubung ia sibuk, ia pun langsung menghempasnya, ia tidak punya waktu untuk menerka-nerka apa yang sedang Dimas pikirkan untuk Clara saat ini.


"Astaga, aku lupa. Tolong Mas kirimkan dulu ya, aku benar-benar tidak punya waktu untuk mengirimnya, kalau begitu sudah dulu ya mas, tidak enak dengan klien," jawab Sarah.


"Iya sayang," sahut Dimas dan Sarah pun langsung mengakhiri telfonnya.


Setelah telfonnya terputus, Dimas pun langsung beranjak dari kursinya, ia menemui Raka dan menyerahkan pekerjaannya untuk Raka.


"Tolong Lo gantiin gue meeting hari ini, ada sesuatu yang harus gue urus," ucap Dimas semangat.


"Mau kemana Lo?" tanya Raka.


"Adalah, ini mendadak. Nanti kalau ada orang yang cari gue, bilangin aja ada pekerjaan penting dan gak bisa diganggu, ok," sahut Dimas, Raka pun mengangguk, ia belum pernah melihat ekspresi Dimas seperti ini, biasanya Dimas selalu tampil serius, sehingga membuatnya sedikit penasaran, urusan apa yang membuat Dimas terlihat semriwing seperti itu. Setelah itu, Dimas pun langsung berlalu pergi.


Di tengah perjalanan, Dimas pun singgah ke sebuah restauran, namun tidak menunggu lama, ia kembali dengan membawa bungkus makanan di tangannya. Setelah itu, ia kembali melanjutkan perjalanannya, namun Dimas tidak menuju kantor Sarah, melainkan ia menuju rumah mereka.


Setibanya di rumah, dengan semangat Dimas pun membawa makanan yang sudah ia beli, ia tahu Clara pasti belum makan siang, dan ia berencana untuk makan siang dengan Clara.


Saat melihat dapur dan meja makan yang kosong, Dimas pun langsung menuju kamar Clara, dan saat ia membuka pintu kamar Clara, matanya pun langsung tertuju kepada Clara yang tengah tidur di sofa kamarnya. Dengan langkah hati-hati, Dimas pun menghampiri.


Entah setan apa yang merasuki Dimas, saat melihat Clara tertidur pulas seperti itu, ia merasa Clara sangat cantik, bahkan hal yang tidak diduga pun terjadi, Dimas langsung mencium pipi Clara dengan lembut. Setelah itu ia pun duduk di sofa yang sama, lalu mengangkat kepala Clara ke atas pangkuannya.

__ADS_1



Clara yang tidak menyadari keberadaan Dimas pun langsung memeluk paha Dimas. Saat melihat wajah Clara dari atas seperti itu, membuat Dimas semakin merasa pangling, ia bahkan sengaja mengambil gambar Clara lalu menyimpannya. Setelah itu Dimas pun mengelus-elus wajah Clara, hatinya terasa nyaman saat berada di dekat Clara seperti itu.


__ADS_2