
Sebelum melanjutkan, author akan memperkenalkan tokoh utama dalam novel.
Dimas Putra Sanjaya
Clara Diana
Sarah Elisa
Raka Adiatma
Next........!
"kamu minum teh ini dulu, biar perut kamu hangat," ucap Dimas, dan Clara pun langsung meneguknya.
__ADS_1
Clara menatap Dimas dengan dalam. Tatapan Dimas sungguh sangat berbeda dengan tatapannya sebulan yang lalu.
"Aku minta maaf, Kak," ucap Clara merasa bersalah.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Dimas kebingungan.
"Seharusnya Kakak menikmati pesta, tapi aku justru menyulitkan Kakak di sini," sahut Clara.
Dimas pun langsung meraih tangan Clara yang sangat terasa dingin.
"Bukan hanya aku, bahkan siapapun yang bersama kamu juga akan melakukan ini," jawab Dimas, sambil menatap Clara dengan dalam, Dimas sama sekali tidak mengerti, kenapa ia merasa sesuatu yang sangat sulit untuk ia jelaskan. Ia merasa tidak tenang, saat melihat Clara menahan sakit seperti itu, ia merasa seperti sudah memiliki hubungan lama dengan Clara, namun ia sendiri juga bingung, kapan dan di mana ia bertemu Clara sebelumnya.
Lalu suara ketukan pintu kamar pun terdengar, Dimas langsung mempersiapkannya masuk, dan itu ternyata Raka dan seorang dokter yang sudah datang bersamanya.
Ditengah kecemasan Dimas, tiba-tiba ponselnya pun berdering dan terlihat nama Sarah di layar ponselnya. Dimas pun mengangkat telfon dan menjelaskan semua yang terjadi, Sarah yang juga merasa panik, langsung berlari menyusul mereka.
Tidak menunggu lama, Sarah pun tiba di sana, dan menanyakan keadaan Clara, "Bagaimana keadaan Clara?" tanyanya.
"Dokter masih memeriksanya sayang," jawab Dimas. Dimas, Sarah dan Raka hanya bisa memandangi sang dokter yang tengah memeriksa keadaan Clara.
Setelah itu, dokter itu pun kembali mengemas barang-barangnya, dari raut wajahnya terlihat seperti tidak ada yang terjadi dengan Clara.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Adik saya dokter?" tanya Sarah panik.
"Kalian tidak usah kwatir, dia baik-baik saja," jawab dokter itu, Dimas dan Raka pun langsung merasa lega dan melukiskan senyum tipis di bibir mereka.
"Kalau boleh tau, diantara kalian siapa suaminya?" tanya dokter itu, membuat hati Dimas bergetar, Dimas ingin membuka suara, ia ingin mengatakan bahwa dialah suami Clara, namun belum sempat ia membuka suara, Sarah langsung menghalanginya.
"Memangnya ada apa, Dokter? Kalau ada apa-apa, Dokter bisa memberi tahu kami, saat ini suami adik saya sedang berada di luar kota, jadi kami yang akan mengurusnya," jawab Sarah berbohong, mendengar itu membuat hati Clara tercabik, namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Mendengar jawaban Sarah membuat dokter itu kebingungan, sebab sewaktu mereka datang, ia melihat Dimas dan Clara yang saling berpegangan tangan, namun dengan cepat dokter itu membuang kebingungannya, dan hanya menjalankan pekerjaannya.
"Saat ini Adik Ibu sedang hamil muda, kandungnya benar-benar sangat lemah, jadi tolong jaga dia dengan baik, serta berikan perhatian penuh, dan penuhi kebutuhan gizinya. Dalam kondisi seperti ini Suami Bu Clara harus selalu berada di sisinya, itu semua demi kesehatan Ibu dan Calon bayi," ucap Dokter itu, mendengar itu membuat Dimas, Clara, Sarah dan Raka pun terkejut.
"Aa-apa? Clara hamil?" tanya Sarah yang masih merasa tidak percaya.
"Iya benar, jadi tolong jaga kesehatannya," jawab dokter itu lagi. Sarah pun langsung menghampiri Clara, dan memeluk Clara dengan erat.
"Terimakasih Clara, aku sungguh sangat merasa bahagia!" ucapnya.
Setelah itu, dokter pun pamit pulang, dan Dimas meminta Raka untuk mengantarnya ke lobi.
Dimas sungguh sangat merasa bingung, ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia rasakan, apa ia harus sedih atau merasa bahagia. Dan satu posisi ia juga tidak mengerti perasaannya, apa ia juga mencintai Clara atau tidak.
__ADS_1