
Sejak mengetahui kehamilan Clara, Sarah dan Dimas memberikan perhatian penuh untuknya, mulai dari makanan sehat, serta pemberian gizi, mereka juga selalu meluangkan waktu untuk Clara.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01:00 Malam, namun Clara sama sekali belum memejamkan mata. Rasanya ia sangat merindukan Dimas, dan ingin tidur di pangkuan Dimas.
Keinginannya sejak hamil selalu menyangkut dengan Dimas, ia sama sekali tidak mengidam makanan, atau hal lainnya, melainkan ngidam untuk selalu dekat dengan Dimas suaminya.
Bukan ia yang meminta, semua datang dari bawaan bayinya. Clara juga tahu diri, ia masih mengingat jelas surat perjanjian yang sudah ia tanda tangani, bahwa ia diharamkan untuk jatuh cinta dengan Dimas.
"Jangan siksa mama begini, nak. Mama tidak bisa menemui Papa kamu," kata Clara sambil mengelus perutnya.
Dimas yang sudah terlelap tidur seperti mendapat sebuah tanda, tiba-tiba saja ia terbangun dari tidurnya. Dimas menatap jam dinding di kamar mereka, dan ia pun mencoba untuk kembali tidur.
Ia sungguh masih merasa ngantuk, namun matanya sama sekali tidak bisa untuk dipejam, tiba-tiba wajah Clara langsung muncul dalam benaknya.
Dimas pun menatap wajah Sarah yang sudah tertidur dengan lelap, dengan lembut ia mengelus wajah Sarah, dan mencium keningnya dengan mesra, setelah itu, Dimas pun menarik selimut dan menutupi tubuh Sarah.
Dimas sama sekali tidak mengerti, hatinya seperti terpanggil oleh Clara, sehingga ia memutuskan untuk menghampiri Clara ke kamarnya.
Dimas pun menutup pintu dengan hati-hati, agar ia tidak membangunkan Sarah. Setelah itu ia pun menuju kamar Clara, yang berketetapan ada di samping kamar mereka.
Saat ia sudah berada di depan pintu kamar Clara, tiba-tiba ia merasa ragu, ia takut menganggu Clara, dan jika ia menghampiri Clara ke dalam kamar, apa yang harus ia lakukan? Dimas pun memutuskan untuk kembali, dan saat ia melangkah, ia pun mendengar suara dari kamar Clara, dengan cepat ia langsung membalikkan badan dan langsung membuka pintu kamar Clara.
"Clara," panggil Dimas. Clara yang memilih untuk berjalan-jalan kecil di kamarnya sungguh sangat merasa terkejut saat melihat Dimas.
__ADS_1
"Kak Dimas, apa yang Kakak lakukan di sini?" tanya Clara. Sebenarnya dalam hati ia sungguh sangat merasa senang, karena keinginannya langsung terpenuhi.
Dimas pun langsung berjalan menghampirinya, dengan wajah bingung dan otak yang berfikir untuk mencari alasan.
"Tadi aku mendengar suara dari dalam kamar kamu, itu sebabnya aku ke sini, aku takut kamu kenapa-napa," ucapnya keceplosan.
Clara pun tersenyum, sebab Dimas sedang menghawatirkan dirinya.
"Aku tidak bisa tidur, Kak. Itu sebabnya aku jalan-jalan kecil di sini, tidak sengaja aku menjatuhkan ponselku," ucap Clara.
Dimas pun menatap ke lantai, dan benar saja ponsel Clara sudah tercecer di lantai.
Dimas pun langsung memungut ponsel Clara, dan tidak sengaja ia melihat fotonya ada di layar ponsel Clara. Senyum tipis seakan langsung tersirat di bibir Dimas, dengan cepat Clara langsung mengambilnya.
"Bukan aku yang ingin melihat foto, Kakak. Tapi sejak hamil, aku selalu mengidam untuk melihat dan ingin selalu berada di samping Kakak. Bahkan malam ini aku tidak bisa tidur karena aku ingin tidur di samping Kakak. Tapi aku sadar, siapa aku dan posisiku," ucap Clara jujur. Mendengar itu membuat hati Dimas sangat tersentuh, ia bisa mengerti bagaimana perasaan Clara. Sebagai seorang wanita hamil tentu memiliki keinginan yang harus dipenuhi, namun Clara memilih memendamnya sendiri.
"Aku minta maaf, seharusnya aku harus berada di samping kamu, bagaimanapun kamu sedang mengandung anakku. Tapi kamu juga harus mengerti posisiku Clara, kamu tau aku sangat mencintai Sarah, aku sungguh tidak ingin melukainya. Dan aku juga tidak ingin kamu terluka, aku mohon, jangan berharap lebih dengan pernikahan kita ini," sahut Dimas, rasanya bagai disayat, namun Clara mencoba untuk tegar dengan menyembunyikan lukanya dibalik senyum palsunya.
"Kakak tidak usah merasa bersalah, dan ini semua resiko yang harus aku terima. Apa Kakak lupa? Kakak dan Kak Sarah sudah membayarku mahal atas ini semua."
"Clara, aku benar-benar minta maaf, bukan maksud aku menjadikan kamu pelampiasan, tapi, jika aku tidak melakukannya, bagaimana bisa kamu hamil dan memenuhi tugas dan janji kamu dengan Sarah," sambung Dimas merasa bersalah. Ia sudah memikirkan ini matang-matang, ia menyakinkan diri, bahwa ia tidak mencintai Clara dan hanya mencintai Sarah seorang.
Clara pun tersenyum, ia begitu mengagumi cinta Dimas terhadap Sarah.
__ADS_1
"Kak Sarah sungguh beruntung, ia memiliki suami yang begitu mencintainya," puji Clara.
Dimas pun menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya. Dan tanpa direncanakan, air mata Clara mengalir begitu saja.
"Aku berjanji Clara, setelah kamu melahirkan, aku tidak akan membuat hidup kamu susah. Aku akan memberikan harta, sehingga kamu bisa merubah hidup dan hidup dengan bahagia," ucap Dimas.
Clara hanya menangis, pertama kali di hidupnya mengenal laki-laki, dan pertama kali ia jatuh cinta, namun cinta yang tidak bisa untuk ia miliki. Clara kini menyadari, bahwa ia ternyata sudah mencintai Dimas.
Sejak malam itu, Clara sudah jatuh cinta dengan Dimas. Berulang kali ia untuk menolak dan menyakinkan diri. Namun hatinya lebih kuat dan Cintanya semakin nyata.
Untuk menenangkan hati Clara, Dimas pun memutuskan untuk menemani Clara tidur. Bagaimanapun, ia juga harus menjaga kesehatan ibu hamil itu.
"Malam ini, aku akan temani kamu tidur," kata Dimas, lalu membimbing Clara ke tempat tidur. Tempat tidur itu adalah saksi bisu yang terjadi diantara mereka.
Setelah Clara membaringkan tubuhnya, Dimas pun meminta izin untuk mengelus perutnya. Tanpa ragu, Clara pun mempersilahkannya, karena bagaimanapun, itu adalah hal yang ia inginkan.
Dimas pun mulai mengelus perut Clara dengan lembut, "Tumbuh jadi anak yang pintar sayang, jangan susahkan Mama kamu, kamu harus menjaga Mama dari dalam, dan papa akan menjaga mama kamu dari luar, Papa janji, Papa akan selalu melindungi kamu," ucap Dimas. Setelah itu, ia pun mencium perut Clara. Terus terang, Clara sama sekali tidak bisa membendung perasaanya, jika Dimas bersikap seperti ini, perasaannya akan semakin bertambah besar, dan ia takut, ia tidak akan bisa meninggalkan mereka.
Setelah itu, Dimas pun menarik selimut menutupi tubuh Clara, ia ingin memberikan perhatian lebih, Dimas pun mengelus-elus rambut Clara sehingga membuat Clara langsung tidur. Setelah itu, matanya juga sangat mengantuk, sehingga ia tertidur tepat di samping Clara.
__ADS_1