
"Sebentar lagi kamu juga akan tahu," jawab Dita singkat, Clara hanya bisa melukiskan senyumnya, meski ia sudah mulai merasa takut dan panik. Tidak lama setelah itu, Dita pun menerima pesan dari Sarah, memberitahu bahwa mereka sudah berada di depan pintu. Dengan cepat Dita pun langsung beranjak untuk membukakan pintu.
"Bu Dita mau ke mana?" tanya Clara lagi, ia hanya bisa bertanya dalam hati, matanya tidak pernah lepas dari Dita. Dan saat Dita membuka pintu, mata Clara pun langsung tertuju kepada Sarah dan Dimas, yang sangat membuat ia merasa pangling.
"Siapa mereka?" tanyanya lagi, rasa penasarannya pun langsung buyar saat Dita memperkenalkan Sarah dan Dimas untuknya.
"Clara, semua rasa penasaran kamu akan terjawab, Ibu akan meninggalkan kamu di sini, setelah selesai, Ibu akan datang kembali," ucap Dita. Rasa takut Clara semakin menjadi, apa yang akan ia lakukan dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal di sana.
"Tapi Bu, apa yang saya lakukan di sini, saya ikut Ibu saja," pintanya, namun Dita sama sekali tidak menghiraukan, ia pun langsung keluar meninggalkan Clara bersama Sarah dan Dimas.
Clara hanya bisa menatap kepergian Dita, saat ia ingin mengejar, tiba-tiba Sarah pun langsung menahannya.
"Tunggu, kamu tidak usah takut, kami tidak akan menyakiti kamu," ucap Sarah, spontan Clara pun langsung melepaskan tangan Sarah dari lengannya.
Sementara itu, Dimas hanya berdiri di dekat pintu, ia sama sekali tidak tahu harus berbuat dan berkata apa, sampai detik ini, ia sama sekali tidak percaya, kenapa ia harus setuju melakukan hal gila ini.
"Siapa kalian, apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Clara dengan panik, melihat ketakutan yang tersirat dari wajah Clara, membuat Sarah tersenyum, dalam kondisi takut seperti itu saja, Clara masih terlihat cantik. Dita benar, Clara memang gadis yang cantik dan manis, batin Sarah.
"Perkenalkan, saya Sarah, dan dia Suami saya Dimas."
Mata Clara pun langsung membidik ke seluruh tubuh Dimas, saat Dimas kembali menatapnya dengan tajam, membuat ia takut dan langsung merunduk menyembunyikan wajah cantiknya. Sarah yang menyadari itu, langsung menghukum Dimas dengan menatapnya dengan tajam.
Sarah pun mencoba untuk menuntun tangan Clara dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Tidak ada pilihan, Clara pun hanya bisa patuh.
__ADS_1
Clara hanya bisa merunduk, ia sungguh sangat merasa takut, dalam pikirannya ia akan di jual atau dijadikan sebagai wanita penghibur. Apalagi ia mengetahui banyak teman-teman sekampusnya yang begitu, semata-mata hanya untuk mendapatkan uang.
"Mas, sini, duduk dengan kami," pinta Sarah, sambil mendengus, Dimas pun akhirnya datang untuk bergabung.
Dimas selalu menatap Clara dengan tajam, bagaimana tidak, Clara akan menjadi wanita seperti yang Sarah harapkan, belum memulainya saja sudah membuatnya merasa kesal dan tidak menyukai Clara. Apalagi saat mengetahui umur Clara yang masih 18 tahun, membuatnya semakin ilfil.
"Clara," panggil Sarah lembut, dengan ragu, Clara pun mengangkat wajahnya menatap Sarah.
Senyum Sarah seakan tidak lepas sejak melihat Clara. Clara merupakan gadis yang ia inginkan, gadis yang akan ia relakan untuk berbagi suami dengannya.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kami bahas dengan kamu," ucap Sarah, Clara pun berusaha untuk menenangkan diri. Mengusir segala pikiran kotor yang mengganggu jiwanya.
"Apa yang kalian inginkan, saya bahkan tidak mengenal kalian, saya tidak punya apa-apa, jadi tolong jangan curi saya, kasihan Ayah dan Ibu saya, mereka tidak akan punya uang untuk menebus saya dari kalian," ucap Clara. Mendengar itu Sarah pun tertawa, sedangkan Dimas hanya geleng-geleng. Ia merasa Clara hanya gadis lugu dan bodoh.
"Hahahaha, kamu bisa saja. Kami tidak sedang mencuri kamu, justru kedatangan kami ingin menawarkan sesuatu untuk kamu," sambung Sarah.
"Tidak, maksud kami tidak begitu, saya dan suami saya berencana untuk menyewa rahim kamu," ucap Sarah. Mendengar itu membuat Clara terkejut, rasanya ia bagai tersambar petir di siang bolong, sehingga membuat ia kesusahan untuk bicara.
"Ma-maksudnya apa?" tanyanya belepotan, Sarah pun langsung beranjak dan mulai menceritakan rumah tangganya.
"Saya dan Mas Dimas sudah menikah 10 Tahun, namun sampai detik ini, kami sama sekali tidak bisa memiliki anak. Sebagai perempuan tentu ini hal yang sangat menyakitkan. Saya tahu, permintaan saya mungkin sangat tidak wajar, namun jika kamu setuju, kami akan memberikan apapun yang kamu mau, berapa pun yang kamu minta, tapi dengan satu syarat, kamu akan pergi jika sudah selesai melahirkan."
Mendengar itu membuat Clara sangat terkejut, ini merupakan penawaran yang sangat tidak masuk akal baginya.
__ADS_1
"Maksudnya kalian ingin membeli tubuhku dan rahimku?" tanya Clara memperjelas, pertanyaan yang Clara ajukan membuat Dimas tidak setuju dan langsung mengumpat Clara.
"Jika kamu tidak setuju ya sudah, kami tidak akan memaksa, dan saya juga akan sangat merasa senang jika kamu menolaknya," tegas Dimas.
Mendengar itu membuat Clara semakin takut, wajah tampan Dimas tidak sepadan dengan tuturnya. Melihat reaksi Clara membuat Sarah mendengus, Sarah juga bisa mengerti bahwa suaminya belum sepenuhnya setuju untuk memenuhi keinginannya.
"Mas, jangan bicara seperti itu," ucap Sarah, Dimas pun langsung memalingkan wajahnya. Ia benar-benar merasa kesal, ia juga tidak tahu, kenapa ia sangat kesal kepada Clara seperti itu, apalagi mengetahui Clara gadis yang menurutnya bodoh, membuatnya semakin kesal. Dimas pun mengepal kedua tangannya, serta menggertak gigi gerahamnya, ia takut meluapkan amarahnya, dan akan membuat Sarah marah.
Setelah itu, Clara pun langsung membuka suara, "Sebagai wanita, saya bisa mengerti apa yang kamu rasakan, namun sebagai wanita, apa kamu bisa mengerti atas permintaan yang kamu tawarkan. Saya tidak menyangka, kalian bisa berfikir sekeji itu, dan saya pikir, saya sama sekali sudah tidak ada urusan dengan kalian, kalian bisa mencari wanita lain, yang setuju dengan penawaran gila yang kalian tawarkan," tolaknya mentah-mentah, Clara merasa harga dirinya sedang dipertaruhkan. Ia merasa tidak semuanya di dunia ini bisa dibeli dengan uang.
Saat Clara ingin beranjak, Sarah pun langsung menahannya, Sarah benar-benar sudah sangat menyukainya, dan berharap Clara akan setuju.
"Clara, saya mohon, saat ini saya hanya bisa berharap dengan kamu. Kami akan memberikan apapun yang kamu mau, jadi saya mohon, setujulah untuk menikah siri dengan suami saya," pinta Sarah tulus, Clara benar-benar merasa iba, air mata Sarah berhasil meluluhkan hatinya, namun saat ini, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, bagaimanapun ia sangat butuh uang, dan jika menerimanya, bagaimana harga dirinya sebagai perempuan, dan jika menolaknya ia juga merasa tidak tega.
"Beri saya waktu untuk berfikir," jawab Clara pasrah, mendengar itu Sarah pun kembali tersenyum, setidaknya ia masih punya sedikit harapan.
"Ini kartu nama saya, kapan pun kamu siap, kamu bisa hubungi saya," ucap Sarah semangat, sambil menyerahkan kartu namanya, melihat kartu nama Sarah membuat Clara kembali terkejut.
"Apa? Dia pemilik hotel ini?" batin Clara terkejut.
"Pantas saja mereka berani memberikan apapun yang aku inginkan," batinnya lagi.
Melihat ekspresi Clara, membuat Sarah penuh harap, sementara Dimas berharap Clara menolak dan tidak akan pernah menghubungi Sarah.
__ADS_1
"Hem, saya pasti akan menghubungi Ibu," ucap Clara bersikap sopan. Clara merupakan gadis yang sangat mudah tersentuh, melihat Sarah memohon seperti itu saja langsung membuat hatinya luluh.
"Panggil kakak saja, saya akan menjadi kakak untuk kamu, jadi kamu tidak usah takut, saya akan menjaga dan melindungi kamu," sahut Sarah, ia harus bisa mengambil hati Clara, agar Carla setuju menikah siri dengan Dimas.