
Setelah selesai berhubungan badan, Dimas pun langsung beranjak pergi. Ia pergi meninggalkan kamar Clara menuju kamar Sarah. Saat ia melihat Sarah yang masih tertidur, membuatnya merasa bersalah, ingin rasanya ia menyentuh istrinya itu, namun ia masih merasa kotor dan memilih untuk langsung membersihkan badan.
Sadar akan kedatangan Dimas, membuat Sarah kembali menangis, hatinya bagai tersayat, ia tidak menyangka sakitnya akan seperti ini, saat menyaksikan suami yang paling ia cintai harus memadu kasih dengan wanita lain.
Setelah selesai melakukannya, Dimas baru sadar, kenapa ia bisa melakukan itu. Padahal niat hatinya sama sekali tidak ingin menyentuh Clara, namun kenapa? Kenapa hal itu harus terjadi, kenapa imannya harus runtuh dan masih mengingat kenikmatan yang jelas ia rasakan dengan Clara.
Dimas pun langsung mengguyur seluruh tubuhnya, dan mencoba untuk melupakan apa yang sudah terjadi.
Setelah selesai mandi, Dimas pun kembali menuju kamar untuk melihat Sarah. Sarah yang menyadari itu, langsung menyapu air matanya, dan kembali berpura-pura untuk tidur.
"Maafkan Mas, Sayang, Mas sudah mengkhianati cinta kamu," ucap Dimas, sambil mengelus rambut Sarah dengan lembut, saat mendengar itu, membuat hati Sarah semakin terasa sakit seperti tercabik.
Kemudian dimas pun mengecup kening Sarah, lalu bersiap untuk berangkat kerja.
Clara yang sudah selesai menangis langsung bergegas membersihkan diri. Setelah itu, ia pun langsung turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
Rasa keram dan nyeri di perut dan daerah kewanitaannya masih sangat terasa, namun Clara berusaha untuk menahannya, tidak hanya itu, Dimas bahkan meninggalkan banyak bekas ciuman yang melekat hampir di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Penampilan Dimas selalu membuat pangling, tubuhnya yang tinggi, dada bidang serta perut sispax, membuat setiap mata akan terpana memandangnya, banyak wanita yang tergila-gila dengan Dimas, namun Dimas sama sekali tidak tertarik, apalagi tergoda, di hatinya hanya ada Sarah seorang.
Namun siapa sangka, sosok Clara kini berhasil memasuki kehidupan lelaki tampan itu, lelaki yang diidam-idamkan oleh banyak wanita sekelasnya.
Setelah selesai, Dimas sengaja tidak membangunkan Sarah, ia mengira Sarah masih tertidur pulas, padahal Sarah sudah sangat merasa lelah, dan belum sanggup membuka mata untuk menyapa suaminya itu.
"Mas berangkat kerja sayang. I love you!" ucapnya berbisik, lalu kembali mengecup kening Sarah.
Saat berada di tangga, Dimas langsung menyaksikan Clara yang sedang berbenah di meja makan. Spontan bayangan serta rasa kenikmatan yang ia sudah peroleh pun langsung terlintas. Dimas langsung merasa malu, rasanya itu bukan dirinya, ia tidak mungkin segampang itu.
"kak Dimas, ayo sarapan dulu, aku sudah siapkan sarapannya untuk, Kakak," ajak Clara, rasanya Dimas ingin sekali menolak, namun kejadian tadi malam langsung menghantuinya, hingga membuat ia tidak dapat menolak tawaran Clara.
Dimas pun langsung berjalan menuju meja makan, namun pandangannya langsung teralihkan saat melihat Clara berjalan seperti menahan sakit.
"Kamu kenapa?" tanyanya penasaran.
"Perut dan bagian tubuhku yang lain sakit dan nyeri, Kak," jawab Clara. Mata Dimas pun langsung terbelalak saat melihat bekas ciuman yang sangat jelas di leher Clara.
__ADS_1
Saat Dimas ingin membuka suara, tiba-tiba Sarah pun langsung hadir diantara mereka, kedatangannya membuat Dimas dan Clara terkejut, hingga menjadi salah tingkah.
"Pagi, sayang," sapa Sarah, lalu mencium kening Dimas dan duduk di pangkuan Dimas.
"Selamat pagi sayang," jawab Dimas, sambil membelai rambut Sarah.
Melihat keromantisan Sarah dan Dimas membuat Clara menelan ludah. Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, baginya apa yang dilakukan Dimas dan Sarah merupakan hal yang sewajarnya dilakukan oleh pasangan suami istri.
Sebenarnya Sarah masih sangat merasa cemburu, namun rasanya ia sangat gengsi jika harus menunjukkan rasa cemburunya, namun saat melihat bekas ciuman di leher Clara, membuat hatinya kembali semakin terasa sakit.
"Pagi, Clara!" sapa Sarah juga, ia tidak ingin terlihat cemburu, ia ingin bersikap baik-baik saja, seolah ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Pagi, Kak Sarah!" jawab Clara gugup. Entah kenapa Clara bisa merasakan tatapan sinis dari Sarah, Clara pun langsung berbalik menuju dapur, untuk mengambil lauk yang sudah ia siapkan.
Bukan hanya Clara, Dimas juga merasakan hal yang sama. Bertahun-tahun ia sudah mengenal Sarah, namun kali ini, tatapan mata Sarah sungguh sangat berbeda, sehingga membuatnya merasa bersalah dan merasa tidak nyaman.
__ADS_1