
Raka dan Clara pun berjalan mengelilingi mall, Clara sangat merasa senang, akhirnya ia bisa keluar rumah. Begitu juga dengan Raka, ia merasa senang bisa jalan berdua dengan Clara. Ia juga tidak mengerti, sejak melihat Clara ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan saat melihat wanita lain.
Raka pun membawa Clara untuk membeli gaun ke sebuah brand yang cukup terkenal. Ia membantu Clara untuk memilah-milah, hingga mereka menemukan sebuah dress yang cukup indah.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Raka, ia memperlakukan Clara seperti seorang wanita yang sangat berharga.
"Hem," jawab Clara singkat.
"Ya sudah kamu coba dulu, kalau cocok kita akan membelinya," sambung Raka.
"Kalau begitu aku coba dulu ya," ucap Clara lagi, dan Raka pun mengangguk. Saat Clara hendak melangkah, Raka pun kembali memanggil, "Clara, kalau kamu bersedia, aku ingin melihat kamu memakai gaun itu," pintanya. Dengan senyuman tipis di bibirnya Clara pun mengganguk.
Tidak menunggu lama, Clara pun keluar dari ruang ganti, saat melihat Clara menggunakan dress itu, membuat Raka tidak berkedip, Clara terlihat sangat cantik. Ingin rasanya Raka untuk memuji, namun ia sadar, siapa Clara sekarang. Sehingga ia memilih untuk menyimpan rasa kagumnya.
"Bagaimana kak? Apa dress ini cocok denganku?" tanya Clara. Sambil menyembunyikan rasa kagumnya, Raka pun mengangguk.
Setelah itu, Clara pun memutuskan untuk mengambil dress itu, ia juga sangat menyukainya, sembari menunggu Clara mengganti pakaian, Raka pun menunggu di meja kasir.
"Berapa harganya Mba?" tanya Raka.
"Tujuh Puluh Juta, Mas," jawab sang kasir, mendengar harganya membuat Clara tercengang, hingga ia ingin membatalkan untuk membelinya.
Raka pun langsung memberikan kartu kredit Dimas, namun ditahan oleh Clara.
"Jangan, Kak. Ini kemahalan," ucapnya. Melihat ekspresi Clara membuat Raka tersenyum, andai Clara adalah wanita lain, pasti wanita itu sudah menggunakan kesempatan untuk menghabiskan harta Dimas.
"Kamu tenang saja, ini uang Dimas. Uangnya tidak akan berkurang dengan membeli baju seharga segini," jawab Dimas. Namun bukannya membuat Clara senang, ia justru semakin merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Setelah pembayaran selesai, Raka pun mengajak Clara untuk membeli perlengkapan yang lain.
"Clara, apa masih ada yang kamu inginkan?"
"Tidak ada," jawab Clara tidak semangat, ia takut memakai uang Dimas, ia takut suatu saat uang yang ia pakai akan menjadi bumerang untuknya.
"Apa kamu sudah memiliki heels yang sesuai dengan gaun ini?" tanya Raka kembali, Clara pun menggeleng, jangankan heels yang sesuai dengan gaunnya, sepasang heels pun ia tidak punya.
"Aku sama sekali tidak punya heels," jawab Clara merasa malu, kemudian Raka pun langsung menarik tangannya ke sebuah toko sepatu yang juga bermerek branded.
"Tolong ambilkan heels yang paling bagus dan paling nyaman digunakan," ucap Raka, Clara pun menatap Raka dengan dalam, ia tidak menyangka, hal yang diinginkan langsung terkabul dan dilakukan oleh Raka.
Clara pun duduk manis, semua pelayan toko itu membawa heels sesuai permintaan Raka.
Clara pun mulai mencoba heelsnya satu persatu, dan tidak butuh waktu lama, ia langsung menemukan yang ia suka.
"Ambil satu pasang lagi, kamu harus punya cadangan," sambung Raka, ia terlihat begitu semangat, semua orang mengira mereka pasangan kekasih, saat mendengar orang-orang membicarakan mereka seperti itu, membuat Raka semakin semangat.
"Aku ambil ini," ucap Clara lagi dan Raka masih tetap menyuruhnya untuk mengambil satu pasang lagi.
Akhirnya, Clara pun mengambil 5 pasang dan Raka langsung menyelesaikan pembayaran.
"Berapa Mba?"
"Totalnya 250.000.000 Rupiah, Mas," jawab kasir itu, Clara hampir tidak bisa menutup mulutnya saat mendengar harga sepatunya.
Raka pun langsung mengeluarkan kartu kredit Dimas, namun entah kenapa ia ingin sekali membelikan itu untuk Clara, akhirnya Raka menyimpan kartu debit Dimas kembali dan memberikan kartu debitnya.
__ADS_1
Setibanya di kantor Sarah, Dimas hanya duduk di ruangan Sarah. Mereka memiliki perusahaan masing-masing, itu sebabnya keduanya selalu sibuk mengerjakan bisnis.
Dimas memperhatikan transaksi dari layar ponselnya, namun ia hanya melihat transaksi pembelian baju.
Dimas pun langsung menghubungi Raka, untuk menanyakan apa yang sudah terjadi.
Raka dan Clara yang baru keluar dari toko sepatu dan akan berencana menuju toko tas.
Lalu, ponsel milik Raka pun berdering dan terlihat nama Dimas di sana.
"Clara, tunggu sebentar, ya. Aku angkat telfon dulu," ucapnya dan Clara pun mengangguk dengan senyum.
Raka sengaja mengambil jarak dari Clara, lalu menjawab telepon dari Dimas.
"Halo!"
"Apa Lo dan Clara masih di Mall?" tanya Dimas.
"Iya, kenapa bro?" jawab Raka santai, hubungan mereka tidak terlihat seperti bos dan karyawan.
"Kenapa hanya ada satu transaksinya yang masuk? Apa Lo tidak membawa Clara belanja?" tanya Dimas lagi, mendengar itu membuat jantung Raka dag dig dug, ia takut membuat Dimas salah paham.
"Gue masih membujuknya untuk belanja, baru kali ini gue nemuin perempuan yang tidak suka belanja, kalau gue jadi Clara, mungkin gue sudah menghabiskan semua debit Lo," jawab Raka mengelak, dan berhasil membuat Dimas tersenyum.
"Oh, ya sudah. Lo belikan apa pun yang Clara inginkan, buat mood dia bagus, lo tau kan apa yang diinginkan Sarah darinya," sambung Dimas menjual nama Sarah, padahal ia sendiri yang ingin Clara bahagia.
"Ok bro, Lo tenang saja," jawab Raka, lalu mengakhiri telepon mereka.
__ADS_1
Setelah itu, Raka pun membawa Clara untuk belanja tas serta perlengkapan makeup. Dan Raka kembali menggunakan kartu kredit Dimas agar Dimas tidak curiga.