After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Clara Mencintai Dimas?


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Dimas pun langsung berangkat ke kantor dengan Raka. Hari ini, Sarah memutuskan untuk tidak kerja, dan menghabiskan waktu di rumah dengan Clara.


Saat melihat Clara, membuat hati Sarah terasa sakit, namun sebisa mungkin ia pun membuang perasaan itu, bagaimanapun ia yang menginginkan hal ini terjadi, tidak sewajarnya ia menyimpan rasa sakit hatinya lama-lama.


Sebulan sudah Clara tinggal bersama mereka, namun Clara tidak juga hamil, sejak malam itu, Dimas sama sekali tidak pernah tidur dengannya, Dimas masih merasa bersalah dengan Sarah, walaupun terkadang rasa kenikmatan itu masih melekat jelas di dalam ingatannya.


Hubungan Clara dan Dimas masih terlihat biasa saja, mereka bicara hanya seperlunya, bahkan Sarah dan Dimas tidak sungkan-sungkan untuk selalu memamerkan kemesraan di hadapan Clara.


Lusa, perusahaan Dimas akan mengadakan party, party rutin yang biasa mereka lakukan setiap sekali setahun.


Party ini biasanya selalu ramai, dihadiri oleh kaum berkelas seperti Dimas dan Sarah.


"Mas, sepertinya aku tidak ada baju untuk party lusa," ucap Sarah, padahal di dalam lemarinya sudah di penuhi oleh baju-baju yang masih bersegel.


"Ya sudah, Mas akan temani kamu belanja," jawab Dimas. Sebisa mungkin ia selalu meluangkan waktunya untuk Sarah, semata-mata hanya untuk menebus kesalahan yang sudah ia lakukan.


Saat Sarah dan Dimas ingin berangkat ke Mall, Clara pun terlihat sibuk di dapur. Clara selalu menyibukkan dirinya di dapur, padahal Sarah sudah melarangnya, agar ia bisa cepat hamil, namun kebiasaannya yang selalu bekerja, membuat tubuhnya terasa remuk jika hanya duduk bersantai.


Seketika Sarah pun merasa iba, ia juga memperhatikan Clara selalu menggunakan baju yang sama, dengan persetujuan Dimas, Sarah pun mengajaknya untuk shoping, membeli pakaian, sepatu, tas dan makeup baru.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya berangkat, Sarah dan Dimas menggunakan mobil yang sama, sedangkan Clara satu mobil dengan Raka.


Sepanjang perjalanan, Clara hanya diam, membuat Raka ingin bertanya, sudah lama ia ingin bicara dengan Clara, namun ia merasa sungkan, sebab Clara adalah istri Dimas. Walaupun hubungan mereka terlihat dekat, Raka sama sekali tidak pernah mengganggu apa yang sudah jadi milik Dimas.


"Apa yang nyonya lamunkan?" tanya Raka, membuat Clara terkejut dengan pertanyaan yang Raka lontarkan.


"Jangan panggil saya begitu, saya tidak pantas mendapatkannya, panggil Clara saja," jawab Clara merendah, ia benar-benar tau dan sadar akan posisinya.


Melihat wajah Clara membuat Raka tersenyum, Clara masih terlihat cantik sejak saat pertama ia melihatnya.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Raka kembali, sebenarnya Clara sedang memikirkan kenapa ia tidak satu mobil dengan Dimas dan Sarah. Apa ia serendah itu, sampai-sampai Dimas dan Sarah tidak sudi berada satu mobil dengannya.


"Tidak ada apa-apa, kok. Saya hanya melihat pemandangan, sudah sebulan saya tidak keluar rumah, jadi rasanya lega banget," jawabnya beralasan.


"Mobil yang dipakai oleh Pak Dimas dan Bu Sarah merupakan mobil pernikahan mereka, jadi siapapun tidak boleh menaiki mobil itu selain mereka berdua," ucap Raka, mendengar itu membuat Clara terkejut, bagaimana bisa Raka mengetahui apa yang ada di dalam benaknya.


"Tunggu, bagaimana kamu tahu apa yang sedang saya fikirkan?" tanyanya kebingungan. Ia bahkan tidak sungkan-sungkan untuk mengakuinya, mendengar itu Raka pun tersenyum. Senyumannya seakan menambah ketampanannya, ketampanan Raka tidak kalah jauh dengan ketampanan Dimas.


"Ekspresi kamu sangat mudah ditebak," jawab Raka, dengan senyum yang masih melekat di bibirnya. Melihat senyuman Raka membuat Clara pangling, ia seakan sedang menyadari bahwa Raka juga laki-laki yang berparas tampan.

__ADS_1


"Tapi kamu jangan salah paham, saya sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa untuk, kak Dimas!" tegas Clara.


Raka pun mengangguk, ia seolah tidak percaya dengan ucapan Clara.


"Selama aku bekerja dengannya, hanya kamu yang bicara seperti ini. Di luar sana, banyak wanita yang mendambakan Pak Dimas, bahkan mereka rela melakukan apapun untuknya," sahut Raka, dan Clara hanya diam.


Sembari menyetir, diam-diam Raka pun melirik Clara, senyumannya yang manis, seakan bisa membaca apa yang ada di dalam hati dan pikiran Clara.


"Kamu tidak usah berbohong, aku bisa melihat cinta dari mata kamu untuk Pak Dimas," ucap Raka lagi.


Mendengar kata cinta membuat Clara diam, ia juga tidak mengerti apa yang dikatakan Raka benar atau tidak, seumur-umur ia belum pernah mencintai atau dicintai, jadi ia tidak tahu apa itu cinta.


"Tidak, saya tidak mencintainya, dan saya tidak bisa untuk mencintainya!" tegas Clara, ia benar-benar mengingat perjanjian yang sudah ia lakukan dengan Sarah, walaupun hati dan pikirannya terkadang memikirkan Dimas, namun ia tidak bisa memastikan bahwa ia memang mencintai Dimas.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2