After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Kupu-kupu Memenuhi Perut


__ADS_3

Hampir satu jam Dimas memandangi wajah Clara, dan lagi-lagi, ia merasa seolah seperti pernah bertemu dengan Clara sebelumnya. Namun sekuat apapun Dimas untuk mengingat, ia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Akhirnya Dimas pun memilih untuk menghempaskan pikirannya. Setelah itu, ia pun menyingsingkan rambut dari wajah Clara, agar ia bisa memandangi wajah cantik istri sirinya itu.


Sentuhan tangan Dimas membuat Clara terbangun, seketika membuat jantung Dimas berdebar, ia merasa malu dan tidak tahu apa yang akan ia katakan, jika Clara bertanya apa yang ia lakukan, dan kenapa ia bisa tidur di pangkuannya.


Namun sepertinya Clara belum sepenuhnya terbangun, ia merasa bagai mimpi. Clara pun memandangi wajah Dimas, lalu tanpa aba-aba, ia langsung mengecup bibir Dimas. Jantung Dimas yang tadinya berdebar kencang seketika berhenti berdetak, ia hanya bisa menelan salivanya, Clara terlihat sangat mahir saat mengecup bibirnya, lama semakin lama, Dimas pun terlena, lalu mengikuti permainan Clara, ia membalas ciuman Clara, bahkan bermain dengan bibir dan lidah Clara.


Ciuman itupun hanya berlangsung 3 detik, tiba-tiba Clara kembali memejamkan matanya, lalu mengatur posisi untuk kembali tidur di pangkuan Dimas, setelah merasa aman, Dimas pun memindahkan kepala Clara dari pangkuannya, lalu memutuskan untuk meninggalkan Clara dan kembali ke kantor.


Sepanjang perjalanan, Dimas terus memikirkan apa yang Clara lakukan, ia merasa lucu, seperti kupu-kupu sedang memenuhi perutnya. Ia pernah jatuh cinta, bahkan sampai saat ini ia masih mencintai Sarah, namun kenapa rasanya berbeda seperti apa yang ia rasakan dengan Clara.


"Ada apa ini? Apa aku mencintai Clara?" tanya Dimas dalam hati.


"Tidak! Tidak! Aku hanya pangling, atau aku hanya merasa bahagia, karena dia sedang mengandung anakku, aku tidak mencintainya, tidak akan pernah," sambung Dimas menyakinkan diri.

__ADS_1


Tidak lama setelah Dimas pergi, Clara pun bangun dari tidurnya. Apa yang ia lakukan dengan Dimas seakan langsung menyerang pikirannya, ia merasa bingung, apa dia benar-benar mencium Dimas terlebih dahulu, atau itu hanya mimpi. Clara pun mencoba untuk menenangkan diri, namun seketika matanya langsung tertuju ke sebuah pesan singkat yang Dimas tulis untuknya.


"Maaf tidak membangunkan kamu, kebetulan aku dan Sarah baru selesai makan siang di restauran dekat rumah, Sarah tidak punya waktu untuk menyinggahi makanan ini untuk kamu, aku melakukannya karena Sarah dan anakku yang ada di rahim kamu. Silahkan makan! Sebagai wanita hamil, kamu harus menjaga kandungan kamu, kami menaruh harapan besar untuk kamu," tulis Dimas. Ucapannya bahkan tidak sesuai dengan kenyataan.


Membaca pesan Dimas, Clara hanya bisa menghela nafas, namun mengetahui kedatangan Dimas membuatnya langsung merasa panik, ia pun langsung mengambil ponselnya, lalu mengirim pesan untuk Dimas.


"Kak Dimas," tulis Clara, pesannya sudah terkirim namun belum dibaca oleh Dimas.


"Kak Dimas, maaf mengganggu, kakak di mana? Aku mau bertanya sesuatu," tulis Clara lagi, namun Dimas yang baru tiba di kantor sama sekali tidak memeriksa ponselnya, ia langsung menuju kantor sebab ia sepertinya bisa mengikuti meeting yang ia serahkan kepada Raka sebelumnya.


Seketika jantung Clara berdebar kencang, saat melihat Dimas sudah membaca pesannya.


"Ayo kak, balas pesannya, jangan hanya dibaca," gumam Clara, padahal Dimas baru saja membacanya.

__ADS_1


Saat Clara ingin mengetik pesan baru, tiba-tiba ia mendapat pesan dari Dimas.


"Kenapa? Apa yang ingin kamu tanyakan? Soal uang yang kamu butuhkan sudah aku kirimkan, itu permintaan Sarah, bukan keinginanku, jadi kamu tidak usah berpikir yang macam-macam," balas Dimas. Lagi-lagi ia berpura-pura bersikap cuek, namun aslinya ia juga sekarang merasa dag dig dug, ia seakan bisa menebak apa yang ingin Clara tanyakan sebenarnya.


Membaca pesan Dimas justru membuat Clara terkejut, ia bahkan tidak mengetahui ia mendapat kiriman uang. Clara pun memeriksa m-banking nya, dan benar saja, ia mendapat kiriman uang sebesar 150 juta rupiah.


"Astaga, banyak sekali," lirih Clara terkejut. Segampang itu ia bisa mendapatkan uang sekarang, padahal dulu mencari 10 ribu saja ia harus banting tulang dari pagi hingga malam.


Clara pun kembali mengetik pesan, "Kenapa banyak sekali kak?" tanyanya, ia takut uang dispensasi yang akan ia terima akan habis begitu saja, dan ia tidak bisa membantu keluarganya setelah selesai melahirkan. Sebenarnya Clara juga ingin mengubah takdirnya, dan takdir keluarganya, ia ingin lepas dari kemiskinan. Sementara Sarah juga ingin mengubah takdirnya, untuk menjadi seorang wanita yang memiliki anak, dan menjadi seorang ibu.


"Aku dan Sarah tidak selalu bisa ada bersama kamu, seperti yang kamu tahu, aku dan Sarah sibuk. Sekarang kamu hamil, setahuku wanita hamil memiliki banyak kemauan, pakai uangnya untuk membeli apa yang kamu inginkan, kamu tenang saja, itu tidak termasuk dari bayaran yang akan kamu terima. Kami memberikannya untuk anak kami, bukan untuk kamu," balas Dimas lagi, entah setan apa yang merasukinya, kenapa ia terlihat judes dan nyeselin seperti itu.


Tidak ingin berdebat, Clara pun membalas, "Baiklah, terimakasih," ucapnya. Ia bisa mengerti maksud Dimas, toh apa yang dikatakan Dimas juga benar. Clara pun kembali meletakkan ponselnya, lalu membuka bungkusan nasi yang ada di meja.

__ADS_1


Mendapat pesan singkat dari Clara membuat Dimas kesal, "Kenapa dia hanya membalas seperti ini," gumamnya, ia ingin Clara banyak bertanya, sehingga ia bisa komunikasi dengannya.


"Wah, dasar. Bisa-bisanya dia langsung mengalah. Seharusnya dia bertanya, apa uangnya bisa aku kirimkan untuk orangtuaku?" sambung Dimas. Lalu suatu yang tidak terduga pun terjadi, tiba-tiba Clara kepikiran, apa uangnya bisa dikirimkan untuk orangtuanya. Dengan memberanikan diri, Clara pun kembali mengirimkan pesan untuk Dimas.


__ADS_2