After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Pernikahan Itupun Terjadi


__ADS_3

Segala sesuatu sudah dipersiapkan oleh Sarah, dan kini, waktu yang ia tunggu-tunggu pun tiba, Dimas akan menikahi Clara, pernikahan itu hanya disaksikan oleh Dita, Raka dan juga seorang penghulu.


Kini, Clara sudah resmi menjadi istri siri Dimas, sah di mata Agama dan yang penting tidak melakukan zina.


Hati Clara terasa tercabik, saat ia menyandang gelar sebagai isteri, tanpa kedua orangtuanya dan Adiknya Utari.


Keluarganya sama sekali tidak mengetahui masalah ini, sepengetahuan mereka, Clara pergi kerja ke luar negeri. Padahal Clara masih di Jakarta, tinggal bersama Dimas dan Sarah, dan akan dibuang setelah berhasil melahirkan seorang anak.


Setelah akad selesai, Clara hanya bisa menangisi takdir, apa yang akan terjadi dengan hidupnya. Melihat itu, membuat Raka merasa iba, ia bisa mengerti bagaimana perasaan Clara saat itu juga.


Sarah dan Dita terlihat tertawa bahagia, tidak lama lagi, ia akan memiliki seorang anak, walaupun bukan anak kandungnya, yang penting bisa membuat keluarga Dimas dan keluarganya bahagia. Sementara Dimas, ia langsung sibuk kembali bekerja, ia sama sekali tidak menganggap pernikahan ini ada, baginya, istrinya cuma satu yaitu Sarah seorang.


Sarah pun mengantar Clara ke kamar, saat ini, ia harus memperlakukan Clara dengan baik, agar semua yang ia inginkan bisa terwujud.

__ADS_1


"Bagaimana, apa kamu sudah siap?" tanya Sarah.


"Siap apanya, Bu?" tanya Clara yang tidak mengerti. Sarah pun hanya tersenyum, bagaimana bisa ia menemukan gadis yang masih sangat polos di ibu kota Jakarta seperti ini.


"Clara, sekarang kamu sudah menjadi isteri Mas Dimas, saya pikir kamu sudah tau hak dan kewajiban kamu, tapi mengenai kewajiban, kamu tidak usah pikirkan, kamu tidak usah mengurus Mas Dimas, tugas kamu hanya mengandung, urusan Mas Dimas biar saya yang mengurus," tutur Sarah, kini Clara semakin mengerti posisinya, yang mereka butuhkan hanya rahimnya, bukan dirinya. 


"Satu lagi, jangan panggil saya Ibu, panggil saya Kakak saja," pinta Sarah, dan Clara pun hanya mengangguk setuju.


"Baiklah, malam ini, saya akan biarkan suami saya berbagi kenikmatan dengan kamu, setelah itu jangan harap, karena saya sama sekali tidak suka berbagi," sambung Sarah memperingatkan, tatapannya dalam dan tajam, sehingga membuat Clara merasa ambigu, padahal, jelas-jelas ia yang menginginkan semua ini, namun jika hanya berbuat sekali kenikmatan, apa Clara akan langsung hamil? Dan bagaimana jika ia tidak hamil? Apa dia akan langsung dibuang? Hal itu membuat Clara takut, ia takut, akan membayar sesuai yang sudah mereka sepakati.


Sarah pun membiarkan Clara mempersiapkan diri. Saat ia menuju kamar, ia pun melihat Dimas yang masih sibuk dengan laptopnya. Dimas terlihat santai, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mas," panggilnya dengan lembut.

__ADS_1


Dimas pun langsung menarik tubuh Sarah, hingga Sarah duduk di atas pangkuannya.


Seperti biasa, Dimas akan selalu bermanja dan melakukan kewajibannya sebagai suami.


Namun, kali ini Sarah harus menolak, sebab malam ini, Dimas harus melakukan kewajibannya dengan Clara.


"Kenapa sayang?" tanya Dimas kebingungan. Hasratnya yang sudah melambung membuat ia tidak kuasa untuk menahan.


"Mas, Mas tidak lupa 'kan, kalau Mas sudah punya istri, jika mas tidak melakukan dengannya, bagaimana bisa Clara akan hamil," ucap Sarah. Saat mendengar itu, spontan membuat mood Dimas langsung berantakan. Mendengar nama Clara saja sudah membuatnya muak, apalagi harus bercinta dengannya.


"Sayang, Mas mohon, beri mas kesempatan, Mas sama sekali belum bisa melakukan ini," tolak Dimas memohon.


Melihat ekspresi Dimas membuat Sarah tidak kuasa, ia juga bisa mengerti, apa yang dirasakan oleh suaminya itu. Ia tahu Dimas sangat mencintai dirinya, pasti pernikahan ini sebenarnya membuat Dimas tertekan, namun semua itu tetap Dimas lakukan hanya untuk kebahagiannya.

__ADS_1


"Ya sudah, malam ini Mas tidur dengganku, tapi malam besok, Mas harus melakukan tanggungjawab Mas dengan Clara. Dan ingat, aku izinkan hanya sekali, aku harap Mas bisa membuatnya langsung hamil. Mas tahu sendiri, aku paling tidak suka berbagi," ketus Sarah, mendengar itu membuat Dimas mengangguk pasrah, ucapan Sarah seakan juga menekannya, namun kekecewaannya ia tutupi di balik senyumannya, ia sama sekali tidak pernah menunjukkan rasa sedih atau kecewanya kepada Sarah.


"Iya Sayang," ucap Dimas. Sarah pun tersenyum, setelah itu ia melakukan kewajibannya sebagai istri, ia mulai menggoda Dimas, dan membangkitkan kembali hasrat Dimas yang tadinya sudah bergejolak. Walaupun Dimas sudah tidak mood, namun terpaksa ia harus mengikuti permainan Sarah, ia tidak ingin membuat Sarah kecewa.


__ADS_2