After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Kedatangan Orang Tua Dimas


__ADS_3

Saat sadar dari pingsannya, Clara kembali menangis histeris, ia belum bisa menerima kenyataan, apalagi ia tidak bisa melihat almarhum ayahnya untuk yang terkahir, membuat ia semakin menangis histeris. Setelah ayahnya di makamkan, Clara dan Raka pun akhirnya pulang, bahkan untuk melihatnya ayahnya di makamkan saja, ia harus melihat dari kejauhan.


Clara masih tidak percaya, ini semua akan terjadi dengannya, ayahnya kini sudah tiada, lantas untuk apa ia melakukan itu semua. Sepanjang jalan ia memikirkan untuk kembali ke rumah ibunya, namun apa yang harus ia katakan, sekarang ia hamil, dan bagaimana dengan uang denda yang harus ia bayarkan dengan Sarah. Hal itu semakin membuat Clara merasa sedih.


Setibanya di rumah, Dimas dan Sarah pun dikejutkan dengan kehadiran Clara dan Raka, saat itu juga orang tua Dimas datang berkunjung untuk melihat Sarah. Dimas yang sedari tadi sudah berusaha untuk memberikan kabar untuk Raka dan Clara, namun satupun diantara mereka tidak ada yang membuka ponsel.


Dengan wajah sembam dan mata bengkaknya, Clara pun berjalan memasuki rumah, saat melihat ekspresi Dimas dan Sarah membuat Clara mengerti, siapa sepasang suami-istri yang sudah terlihat setengah baya itu. Namun saat ini Clara sama sekali tidak bisa mentolerir apapun, ia pun langsung berjalan melewati Dimas dan Sarah, lalu menuju kamarnya.


Orang tua Dimas, termasuk Sinta yang juga ada di sana hanya bisa melongo, saat melihat kedatangan Clara, dan menilai Clara sama sekali tidak ada sopan santunnya.


"Dimas, Sarah, siapa wanita itu?" tanya mama Dimas. Sarah hanya bisa mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Dimas, sementara Raka masih berdiri seperti patung di depan pintu.


"Namanya Clara, ma," jawab Dimas, ia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa, dan jika ia mengatakan Clara adalah istri dari sahabatnya, rata-rata sahabatnya dikenal oleh mamanya.

__ADS_1


"Mama tidak menanyakan namanya, mama bertanya siapa dia, kenapa dia bersikap seolah tinggal di rumah ini," sambung mama Dimas, membuat Dimas dan Sarah semakin bingung, apa yang harus mereka katakan.


"Ma, dia teman Sarah. Beberapa Minggu ini dia memang nginap di sini, suaminya lagi kerja ke luar kota, dia gak bisa hidup sendiri, itu sebabnya Sarah memintanya untuk nginap di sini, syukur-syukur Sarah juga ada teman, dia sebenarnya wanita baik kok ma, jadi mama tidak usah kwatir," ucap Sarah.


"Jangan sembarang menerima wanita lain Sarah, apalagi sampai menginap. Kamu gak dengar berita-berita yang lagi viral sekarang, banyak wanita yang rela merusak rumah tangga temannya sendiri. Dan kamu Dimas, jangan sampai berani-berani meliriknya, apalagi dia sudah punya suami, dan kamu juga sudah punya istri, dan sebentar lagi kalian punya anak. Mama tidak mau rumah tangga kalian kenapa-napa," sambung mama Dimas.


"Iya ma," jawab Dimas dan Sarah serentak.


Melihat Raka yang hanya berdiri diam seperti patung di depan pintu, Sinta pun datang menghampiri dan mengajaknya untuk bergabung. Sejak 2 tahun terakhir, Sinta sudah menyukai Raka, namun Raka menganggap Sinta seperti adiknya sendiri.


"Selamat malam Om, selamat malam Tante," ucapnya.


"Raka, kenapa kamu bisa bersama wanita itu? Siapa namanya?" tanya mama Dimas. Dimas dan Sarah hanya bisa diam, mereka tahu mamanya pasti sudah meletak kecurigaan untuk mereka.

__ADS_1


"Clara, Tante," jawab Raka. Mendengar Raka menyebut nama Clara membuat Sinta cemburu, ia takut Clara mengganggu Raka, walaupun Sarah sudah mengatakan bahwa Clara memiliki suami.


"Ha, Clara. Kenapa kamu bisa datang bersamaan dengan Clara?" tanya Mama Dimas lagi, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Oh, tadi kebetulan aku melihatnya nunggu taksi di pinggir jalan Tan, kebetulan aku ingin ke sini, itu sebabnya aku memberikannya tumpangan," jawab Raka. Namun mama Dimas masih tidak percaya.


"Apa kamu juga memiliki hubungan dengannya?" tanya mama dimas lagi. Papa Dimas yang sudah merasa lapar pun langsung menengahi.


"Sudahlah ma, Dimas dan Sarah kan sudah jelaskan siapa dia. Lagian apa salahnya jika dia menginap, toh dia temannya Sarah. Mama menginterogasinya seperti dia wanita tidak baik saja. Sudahlah, ayo kita makan, papa sudah lapar," ucap papa Dimas.


Sarah pun langsung menggaruk kepalanya, "Maaf pa, di sini tidak ada pembantu, jadi tidak ada makanan."


Seketika mama Dimas kembali melongo, "Apa? Kalian tinggal jauh begini, dan tidak pakai pembantu? Apa kalian sudah tidak waras?"

__ADS_1


"Sudahlah ma, kami tidak kenapa-kenapa hidup tanpa pembantu. Dimas akan pesan makanan," ucap Dimas, namun seketika ia langsung teringat, bahwa sangat sulit mendapatkan driver ke rumah mereka.


Tidak ada pilihan, Dimas pun meminta Sarah, untuk membujuk Clara memasakkan makanan untuk mereka. Raka yang ingin menghalangi sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Ia takut rahasia Dimas dan Sarah akan terbongkar, dengan perasaan bersalah Raka pun memilih diam.


__ADS_2