
Setibanya di rumah mereka, suara tangisan pun terdengar dari dalam, Clara tidak tahu, apa yang sudah terjadi, ia pun meminta Raka untuk masuk ke dalam, dengan perasaan ragu, Raka pun akhirnya memutuskan untuk masuk.
Saat Raka sudah berada di dalam, betapa terkejutnya batinnya saat melihat ibu Clara dan Utari yang sedang menangisi ayah Clara, Raka pun mendekat, "Permisi Bu, apa yang sudah terjadi?" tanyanya memberanikan diri.
Tangisan dari ibu Clara pun langsung meledak, "Tidak! Ini tidak mungkin!" jeritnya. Perasaan Raka mulai tidak enak, ia pun mendekat, dan mencoba mencari letak nadi ayah Clara, jantung Raka seakan berhenti berdetak, saat tidak dapat merasakan nadi ayah Clara, dan juga tidak dapat merasakan detak jantungnya.
"Tidak mungkin!" ucap Raka yang juga merasa terkejut, Ayah Clara kini sudah tiada, ia meninggal karena terjatuh dari tempat tidur.
Raka pun keluar menghampiri Clara, mulutnya terbungkam, air matanya juga mengalir, ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Clara akan mengetahui ini semua.
"Kak Raka, apa ayahku baik-baik saja?" tanya Clara, walaupun perasaannya juga tidak enak, namun ia selalu berusaha untuk berfikir positif.
Raka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Clara, "Kak Raka, jawab. Apa ayahku baik-baik saja?" tanya Clara lagi.
__ADS_1
Dengan berat hati, Raka pun akhirnya menjawab, "Ayah kamu sudah tiada, Clara."
Spontan jantung Clara serasa berhenti berdetak, mulutnya terbungkam, matanya tidak berkedip, serta air matanya mengalir dengan deras.
Raka pun langsung menghampiri, serta memeluk Clara.
"Kamu yang sabar ya Clara, ayah kamu pasti sudah tenang di sana," ucap Raka. Namun ucapan Raka sama sekali tidak bisa merubah apapun, kaki Clara yang tadinya berdiri dengan tegak, kini langsung terjatuh.
"Ayahku tidak meninggalkan, kan?"
Melihat keadaan Clara membuat Raka tidak tega, berapa penderitaan lagi yang harus Clara terima, apalagi saat mengetahui keluarga Clara tinggal di tanah tempat Dimas akan membangun mall, membuatnya sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa. Saat mereka tiba, Raka sangat merasa terkejut, sebab sebulan yang lalu ia sudah memberikan aba-aba kepada penduduk untuk meninggalkan lahan tersebut, dan memaksa mereka untuk meninggalkan rumah mereka. Raka pun menangis, ia tidak bisa membayangkan bagaimana Clara akan membencinya setelah mengatahui apa yang sudah ia lakukan.
Tangisan Clara membuat Raka tersentak, ia pun menyeka air matanya, dan membantu Clara untuk berdiri. Hatinya kini sekarang gelisah, serta perasaan bersalah yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba ponsel Clara pun berdering, melihat nama ibunya di layar ponselnya membuat tangis Clara semakin pecah.
"Clara, kamu tenang, jika kamu menangis seperti ini, maka tidak ada gunanya kamu bersembunyi seperti ini," ucap Raka.
Clara pun berhenti menangis, ia menyeka air matanya, setelah itu ia menarik nafas dalam-dalam, dengan tangan yang bergetar, ia pun akhirnya menjawab telfon dari ibunya itu.
"Halo Bu."
Suara tangisan ibunya pun terdengar jelas, "Clara, ayah kamu nak, ayah kamu," ucap Ibunya. Clara yang berpura-pura tidak tahu pun menahan tangisnya, ia menggigit bibirnya agar tidak menangis.
"Ibu, ayah kenapa? Kenapa ibu menangis?" tanya Clara lagi, Raka yang mendengar itu semakin terpuruk, suara Clara sudah mulai terdengar bergetar, air matanya mengalir deras.
"Ayah kamu sudah meninggal, nak," ucap ibunya, membuat Clara menangis menjerit, ia bahkan sampai pingsan, dengan cepat Raka pun membantunya dan membopongnya untuk kembali ke mobil.
__ADS_1