After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Lelaki Kardus


__ADS_3

Hari ini party yang dilakukan perusahaan Dimas pun berlangsung. Gedung hotel sudah dipenuhi oleh rekan-rekan bisnis Dimas beserta seluruh karyawannya. Party ini adalah bentuk apresiasi Dimas kepada seluruh karyawan dan rekan-rekan kerjanya, sebagai bentuk kerja keras mereka.


Setiap tahun, Sarah selalu memberikan penampilan terbaik, begitu juga dengan Dimas, itu sebabnya mereka selalu menjadi sorotan, selain kaya, mereka juga terlihat tampan dan cantik. Mereka seperti pasangan yang saling melengkapi satu sama lain.


Namun, kali ini Dimas dan Sarah tidak datang berdua, mereka datang dengan Clara. Malam ini Clara terlihat sangat anggun dengan gaun yang Raka pilihkan, dan saat melihat Clara tidak memakai gaun yang ia pilihkan, membuat Dimas merasa sedikit kecewa, namun dengan cepat Dimas membuang kekecewaannya, ia masih bersikeras bahwa ia tidak mencintai Clara dan tidak menganggap Clara sebagai istrinya.


Saat mereka memasuki gedung, semua mata pun tertuju kepada Clara, melihat Sarah sudah biasa, namun saat melihat Clara, membuat hati para lelaki bertanya-tanya, siapa wanita cantik yang ada dengan Dimas dan Sarah.


Dimas pun langsung membuka party, dan membiarkan semua menikmati musik, serta minuman yang sudah tersedia. Namun sebelum berangkat, Sarah sudah memberi arahan untuk Clara, untuk mengaku sebagai istri dari sahabat jauh Dimas. Clara hanya bisa mengangguk, mengikuti semua permainan dan perintah yang Sarah arahkan. Toh memang ia dibayar untuk seperti itu, dipakai untuk seperlunya saja.


Terus terang, ini kali pertama bagi Clara. Ia sungguh sangat merasa risih, mendengar suara musik dan juga aroma alkohol, membuatnya semakin merasa tidak nyaman. 


Clara pun memilih untuk duduk di sudut ruangan, sambil meneguk segelas jus jeruk dan memperhatikan orang-orang yang yang hanyut dalam disko. Lalu, seorang laki-laki yang cukup gagah pun datang menghampirinya, dimana sedari tadi laki-laki itu sudah memperhatikannya.


"Hai, apa aku boleh duduk di sini?" tanya laki-laki itu, saat melihat tatapannya membuat Clara risih, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengijinkan laki-laki itu duduk di sofa yang sama dengannya.


Laki-laki itu pun langsung duduk di samping Clara, matanya seakan tidak berhenti memandangi tubuh Clara, semua ia perhatikan dari ujung kuku hingga rambut. Senyumannya yang jahat seakan sedang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak tentang Clara.


Suara disko pun semakin kuat, semua seakan terlena, sambil meneguk alkohol sembari bergoyang ria. Ruangan itu benar-benar sudah di sulap seperti sebuah bar yang sangat mewah. Sarah sebagai pemilik hotel, tentu saja dapat melakukan itu semua.


Lelaki bernama Rian itu pun semakin mendekati Clara, aroma alkohol dari mulutnya membuat Clara ingin muntah, Rian menduga Clara adalah wanita simpanan Dimas, sehingga ia menawarkan sejumlah uang untuk dapat memberikan kepuasan untuknya malam ini.


"Kamu tidak usah munafik, berapa harga tubuhmu untuk Dimas, aku juga dapat memberikannya," kata Rian, sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Clara.  


"Saya bukan wanita murahan, pergi! Jangan ganggu saya!" usir Clara dengan tegas. Namun Rian sama sekali tidak perduli, Rian pun mulai mengelus wajah Clara, lalu menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya, Clara pun mulai berteriak, namun suara musik yang kuat membuat suaranya tertelan, sehingga tidak ada seorangpun yang mendengar selain Rian.


"Percuma kamu teriak, tidak akan ada yang bisa mendengar suara kamu, ayo lah! Kamu tinggal bilang, berapa yang harus aku bayar dengan tubuh indahmu ini," ucap Rian lagi, Clara pun semakin merasa takut, ia mencoba mencari Dimas, namun ia sama sekali tidak bisa melihat keberadaan suaminya itu.


Rian pun semakin bersikap kurang ajar, ia bahkan tidak sungkan-sungkan untuk menyentuh tubuh Clara, Dimas yang tadinya juga asik berdisko, tidak sengaja melihat Rian sedang menggoda Clara, namun ia mengira mereka mau sama mau, dengan perasaan kesal, Dimas pun menghiraukannya, dan melanjutkan untuk berdisko.

__ADS_1


"Jangan sentuh saya, apa kamu tidak tahu siapa saya," ucap Clara, ia bahkan hampir membeberkan hubungannya dengan Dimas, namun Rian sama sekali tidak peduli, saat ia ingin menyerang Clara dengan ciuman, Dimas pun langsung berlari dan memberikan pukulan di wajah Rian. Awalnya Dimas ingin menghiraukannya, namun saat melihat Rian yang ingin bersikap kurang ajar, membuat Dimas tidak bisa diam, spontan darahnya mendidih dan langsung berlari menghajar Rian.


"Kurang ajar, Lo!" ketus Dimas, lalu memberikan pukulan kedua di wajah Rian. Sementara Clara hanya menangis, ia benar-benar merasa takut, selain Dimas, tidak ada yang pernah menyentuh dirinya.


Rian pun mencoba bangkit untuk membalas. Rian adalah musuh dalam selimut, sebenarnya Dimas sudah mengetahui itu, hanya saja Dimas masih memiliki hati, sehingga ia masih melakukan kerjasama.


Namun aksi Rian pun gagal, dengan cepat Dimas menangkis tangan Rian, dan justru Dimas lah yang melayangkan pukulan ke wajah Rian lagi.


"Berani lo ganggu dia, tidak segan-segan gue bunuh lo!" kata Dimas tegas, ia benar-benar sangat marah, ditambah saat ia melihat wajah ketakutan dari wajah Clara, membuatnya ingin menghabisi Rian saat itu juga.


Namun Dimas masih bisa berfikir panjang, ia tidak ingin merusak pesta, ia pun meninggalkan Rian dan mengajak Clara ke kamar hotel.


Seluruh tubuh Clara masih gemetar, Dimas dapat mengerti, apalagi ia sudah mendapatkan keperawanan Clara, jadi ia tahu bahwa Clara benar-benar gadis yang baik.


Setibanya di kamar, Dimas pun membawa Clara ke ranjang. Clara masih menangis, aroma alkohol yang keluar dari mulut Rian masih tercium jelas di hidungnya.


"Kamu tidak kenapa-napa?" tanya Dimas yang mulai merasa kwatir. Bukan hanya Clara, sejak malam itu, Dimas sama sekali tidak pernah bisa untuk tidak memikirkan Clara, bayangan wajah Clara selalu memenuhi otaknya, namun Dimas tidak yakin apa ia mencintai Clara, sebab ia tahu, ia hanya mencintai Sarah.


"Jangan takut, aku ada di sini, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu," ketus Dimas, ucapan Dimas benar-benar membuat Clara tersentuh. Walau hanya ucapan, tapi mampu membuat hatinya tenang. Rasanya Clara sangat bahagia mendengar kata itu keluar dari mulut Dimas.


Aroma tubuh Dimas benar-benar membuat Clara merasa nyaman, namun saat Clara mengangkat kepalanya, ia pun mencium aroma alkohol dari mulut Dimas, sehingga membuatnya ingin muntah, dengan cepat Clara pun berlari ke toilet, untuk mengeluarkan cairan yang ingin keluar dari dalam perutnya.


Seketika Dimas merasa panik, dan langsung menyusul Clara ke toilet.


"Clara, kamu kenapa?" 


Tanpa menjawab pertanyaan Dimas, Clara terus muntah, sampai membuat perutnya terasa keram.


Uwokk..uwokkk..uwokk..

__ADS_1


"Apa kamu sudah makan?" tanya Dimas lagi, dan Clara hanya menggeleng.


Dimas pun langsung memijat punggung Clara, dan membuat Clara semakin ingin muntah, dan benar saja, Clara pun langsung mengeluarkan semua cairan bahkan jus jeruk yang tadi ia minum.


Clara sungguh sangat merasa lemas, ia sudah tidak memiliki tenaga, bahkan untuk berdiri saja ia sudah tidak sanggup.


"Aku sangat lemas, Kak," ucapnya dengan getir. Dimas pun langsung membersihkan bekas muntah Clara, serta mencuci mulut Clara dari sisa muntah.


Dimas adalah lelaki yang mudah merasa jijik, namun saat ini, ia sama sekali tidak peduli, ia bahkan menyentuh muntah Clara.


Dimas pun mengangkat Clara dan membaringkannya ke tempat tidur, lalu menarik selimut menutupi tubuh Clara.


Setelah itu, Dimas pun menghubungi Raka untuk membawa teh hangat dan bubur, lalu juga menelfon dokter. Dimas benar-benar sangat merasa panik, setelah mendapat telfon dari Dimas, membuat Raka juga merasa panik dan kwatir. 


Tidak menunggu lama, Raka pun datang membawa teh hangat dan juga bubur. Saat melihat Clara yang terbaring lemah, membuat ia merasa sedih, rasanya ia ingin menghampiri Clara, namun apa boleh buat, Clara masih berstatus istri Dimas.


"Apa lo sudah menghubungi dokter?" tanya Dimas, sambil mengaduk-aduk bubur yang sudah berada di tangannya.


"Sudah!" jawab Raka. Matanya seakan tidak berpindah dari Clara.


"Ya sudah, Lo tunggu dokternya di lobi," ucap Dimas memberi perintah, Raka sama sekali tidak bisa menolak, ia pun langsung pergi ke lobi untuk menunggu dokter.


Dengan lembut, Dimas pun membangunkan Clara. Ia tidak ingin membiarkan perut Clara kosong, ditambah tadi Clara sudah mengeluarkan semua dari dalam perutnya.


"Clara, bangun, kamu makan dulu ya, biar kamu ada tenaga," ucapnya dengan lembut, Clara pun mulai bangkit, dan langsung dibantu oleh Dimas. Dimas langsung meletakkan bantal untuk menjadi sandaran Clara.


Dimas pun mulai mengambil sesuap bubur dari mangkok, lalu memberikan kepada Clara. Dengan lemas, Clara pun membuka mulutnya. Saat ia ingin menelan bubur itu, ia justru kembali muntah, dengan cepat Dimas langsung menampung muntah Clara dengan tangannya.


Pertama kali Dimas melakukan itu, baginya itu sungguh sangat menjijikkan, namun demi Clara, ia rela melakukan itu semua, walaupun ia tidak mengerti, kenapa ia harus melakukan itu, padahal bisa saja ia memanggil Sarah, atau pelayanan hotel untuk membantu Clara.

__ADS_1


 


 


__ADS_2