After Wedding Agreement

After Wedding Agreement
Apa yang Terjadi dengan Ayah Clara?


__ADS_3

Menghabiskan waktu 4 jam, Clara dan Raka pun tiba di tempat biasa ia dan ibunya mangkal, hati Clara terasa tercabik, saat melihat ibunya yang ternyata masih jualan kerak telor di sana.


Lagi-lagi Clara pun menangis, padahal ia tidak pernah cengeng sebelumnya, namun semakin bertambah usia kandungannya, semakin bertambah pula rasa cengengnya.


"Hei, kamu kenapa menangis?" tanya Raka lembut.


"Padahal aku sudah menyuruhnya untuk tidak kerja, aku sudah mengirimkan uang untuknya, tapi kenapa kak, kenapa ibuku masih kerja di sana," keluh Clara. Raka pun menatap Clara dengan dalam.


"Kita gak pernah tahu alasan seseorang melakukan sesuatu Clara. Aku mohon jangan menangis seperti ini, kasihan anak dalam kandungan kamu. Apa kamu ingin keluar mobil? Aku akan membantu kamu untuk bisa melihat ibu kamu."


Clara pun menggeleng, lalu menyeka air matanya.


"Kak Raka, apa aku bisa minta tolong?"


"Tentu saja, apa yang bisa aku bantu?"


"Tolong keluar belikan kerak telor ibuku, kalau bisa beli semua, agar dia bisa cepat pulang," pinta Clara, sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Namun belum sempat Clara mengeluarkannya, Raka pun langsung menahan tangan Clara.


"Uangnya simpan saja, aku akan borong dagangan ibu kamu," ucap Raka, belum sempat Clara berkata-kata, Raka pun langsung keluar dari mobil, lalu menghampiri ibu Clara.

__ADS_1


Melihat laki-laki dengan setelan jas yang rapi di hadapannya membuat ibu Clara melongo. Pertama kali seseorang dengan tampilan seperti Raka berhenti tepat di depan dagangannya.


"Permisi Bu, apa kerak telornya masih ada?" tanya Raka sopan.


"Ada, kebetulan dari tadi belum ada yang beli nak," jawab ibu Clara semangat. Melihat keadaan ibu Clara membuat Raka merasa iba, apalagi mendengar ibunya belum mendapat pembeli, membuat ia semakin merasa iba.


"Oh, kebetulan banget, kebetulan di kantor sedang ada perayaan, aku akan membeli semua kerak telor ibu untuk dibagikan di sana," sambung Raka.


"Apa kamu serius?" tanya Ibu Clara terkejut.


"Iya Bu, jadi tolong buatkan kerak telur yang enak, aku akan borong semuanya," jawab Raka. Dengan ekspresi dan perasaan bahagia, ibu Clara pun langsung menyiapkan kerak telurnya, lalu memberikan sebuah kursi kecil untuk Raka.


"Duduk dulu nak, sembari menunggu ibu masak kerak telurnya," ucap ibu Clara.


Sementara Clara hanya bisa memandangi wajah ibunya dari kejauhan, ia ingin memeluk ibunya itu, bahkan ia ingin menemaninya jualan, namun kebohongan yang sudah ia lakukan membuat ia sama sekali tidak bisa berkata-kata. Lalu tidak lama setelah itu, tiba-tiba seorang wanita pun menghampiri ibu Clara, ternyata dia adalah Utari adiknya, air mata Clara kembali berlinang, padahal masih beberapa bulan ia tidak melihat Utari, rasanya Utari tumbuh lebih cepat daripada dugaannya.


"Ibu, kenapa ibu tidak menjawab telfon?" tanya Utari, Raka yang tadinya memandangi ibu Clara seakan mengetahui, bahwa perempuan itu adalah adik Clara yang ia ceritakan.


"Utari, kenapa nak? Ibu lagi ada pembeli, ibu tidak dengar handphonenya bunyi," jawab ibunya.

__ADS_1


Utari pun menangis, "Ayah Bu, Ayah..."


Seketika tangan ibu Clara langsung berhenti, lalu menatap Utari dengan dalam, "Kenapa ayah kamu?"


"Ayah pingsan Bu, ayah tidak sadarkan diri di rumah," jawab Utari, sepulang sekolah ia melihat ayahnya tergeletak di lantai, ia pun langsung menghampiri ayahnya, lalu mengangkat ayahnya ke tempat tidur. Utari sudah mencoba untuk membangunkan ayahnya, namun sampai sekarang ayahnya juga belum sadar. Mendengar itu membuat ibunya syok, termasuk Raka.


"Maaf nak, ibu harus pergi, mungkin lain kali kamu bisa datang kemari," ucap ibu Clara kepada Raka. Tanpa mempedulikan dagangannya, ibu Clara dan Utari pun langsung berlari menuju rumah, yang kebetulan rumah mereka tidak berada jauh dari sana.


Raka hanya bisa diam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan dengan Clara, sementara Clara yang melihat ibu dan adiknya pergi dengan panik, membuatnya kwatir, ia pun memutuskan untuk keluar mobil dan menghampiri Raka.


"Kak Raka, apa yang terjadi? Kenapa ibu dan adikku terlihat panik seperti itu? Dan ke mana mereka pergi?" tanya Clara beruntun.


Raka juga seakan tidak bisa bernafas, "Kata adikmu, ayahmu pingsan Clara," jawabnya, membuat jantung Clara langsung berhenti berdetak.


Tanpa berkata-kata, Clara pun langsung berlari, ia menyusul Utari dan Ibunya, ia seakan sudah tidak memperdulikan keadaan. Raka yang juga merasa panik langsung mengikuti Clara, ia mengejar Clara yang berlari menuju rumah mereka.


Perasaan Clara sungguh sangat rapuh, ia menangis sambil berlari, tanpa ia sadari ia kesandung dengan lubang kecil, sehingga membuatnya terjatuh.


Raka yang melihat itu pun langsung berlari, ia takut terjadi sesuatu dengan Clara, begitu juga dengan anak yang ada dalam kandungannya.

__ADS_1


"Clara, kamu tidak kenapa-napa?"


Tidak mempedulikan pertanyaan Raka, Clara pun kembali berdiri, lalu berlari menuju rumahnya.


__ADS_2