
Malam harinya Zero dan Beast sedang duduk di tepi jembatan, dan mereka memancing di kali Jakarta. Zero memakai celana pendek dan kaos, membuat nyamuk-nyamuk datang kepadanya. Pukul menunjukan jam 11 di jam tangan Beast.
‘hinnnnng SPLAKKK’ ‘’hihh banyak nyamuk sekali di sini.’’ ‘SPLAKK’ ucap Zero kesal, sambil menampar pipinya.
‘‘yaelah lebay banget kamu ini liat nih.’’ Beast menyindir, dia memperlihat’kan tangannya.
‘’apa.’’ ‘SPLAKK’
‘‘itu di bawah lengan.’’ Beast menunjuk sebuah bulatan besar di bawah lengannya.
‘’busettt apa itu.’’ Zero nyangap setelah melihat tonjolan besar merah di bawah lengan Beast.
‘’ini hasil di sengat tawon, lihat aku biasa saja hemmm.’’
‘‘kok bisa.’’ Zero mengamatinya dengan serius.
‘’ee itu karena ada pohon manga, terus ada buahnya aku ambil eeh ternyata ada penunggunya brengsek.’’ Ucap Beast kesal dan tertawa.
‘’hahhah balasan itu wehh emang disini bisa dapat ikan.’’ Zero memalingkan wajahnya ke kali.
‘’bisa jadi.’’ Jawab Beast yang melihat kail pancingnya.
‘’mana adaaa, ijo seperti ini airnya.’’ Zero dengan muka suram.
‘‘hehhh di Jakarta barat aku dapat gurame. Sini kepalanya biar suruh mikir eeahh.’’ Beast memberi tahu Zero sambil menjitak.
‘‘mungkin di sini dapat hiu.’’ Zero dengangaya berfikir.
‘’hiu matamu.’’
‘’yamungkin saja kamu sudah tahu kabar belum.’’ Zero emberitahu Beast pasal Pak Yoso.
‘’tahulahh, emang kamu dari mana aja, dasar kudettt.’’ Beast menyindir Zero.
‘’kudet apaan?.’’ Zero bertanya balik.
‘’kurang update. Makannya keluar kamar, jangan ngerem mulu, nonton prymitf teknologi.’’ Beast emnyindir lagi.
‘’memang kenapa itu, kok bisa datang-datang jadi dokter ngesot.’’
‘’phusptt,’’ Beast tertawa. ‘’parah kamu di azab baru tahu.’’ Beast melihat kail pancingya.
‘’eehh emang kenyataanya seperti itu, dia datang pakai mobil jip, buka pintu terus jatoh,gaya superman.’’ Zero tambah tidak mengerti.
‘’hii parah si Zero, tuhanku semoga orang yang di samping saya kena azab.’’ Beast berdoa sambil tertawa.
Zero sinis. ‘’weeeee emang tidak tahu aku ini.’’ Zero jadi panik.
‘’gini kata, si Techno. Dia tadi sore ngobrol sama Kak Jeremy. Terus di ceritain..’’
‘’memang seperti apa ceeritanya?.’’
‘’intinya Pak Yoso sama Bu Yosi itu, ngambil misis saat siang, eeh datang-datang malah jadi atlet lari, Kak Justin juga bingung.’’ Beast menjelaskan secara penuh sindiran.
‘’ohhhh emang siapa yang musuhnya.’’ Tanya lagi.
‘’cape aah tanya aja sana sendiri.’’ B’east memperhatika pancingannya.
__ADS_1
‘’wee’e lanjutin, tadi apa, Beast Beast. Ahhhhhh eh haaaa.’’ Zero memegang kedua matanya, tapi karena ulahnya pancingan Beast jatuh ke kali.
‘’hehhh bodo amat Roo ambil.’’
‘’eeh tapi hilang, itu dalem, banyak buaya.’’ Zero berusaha mencari alasan.
‘’bodo amat, ambil pokoknya, gak ambil awas kamu gak di kasih ikan.’’
‘’banyak buaya Beasttt, aku mati nanti bagaimana.’’ Zero memohon-mohon.
‘’yaa gak pedulilah, mau kamu mati, hidup, di makan buaya. Yang pentinga pancingan ke sini lagi.’’ Beast dengan muka kesal.
‘’bagaimana ngambilnya.’’ Zero memasang muka sad.
‘’yaaa gak tahula, kamu kan Agent yaudah cepet cari caranya.’’ Beast berusaha mendorong Zero jatuh.
‘’eee iya iyaeeee, hihh sini pinjam pancingannya.’’ Zero meminta.
‘’awas kamu, jatuh lagi gak bakal aku deketin.’’ Beats kesal dan tawa.
‘’iyaaa iyaaa.’’ Zero mengulur pancingannya, lalu mengaitkannya, di pancingan yang jatuh ‘’hahhhh dapetkan, jenius gak aku.’’
‘’gakk.’’ Jawab Beast singkat.
‘’hehhh anda terlalu meremehkan seorang Agent. Hmmm bentar ehhhhh.’’ Zero mula-mula bergaya lalu menyentuh aspal jembatan itu.
Zero menempelkan telinganya ke tana. ‘ ’hmmmmm ada yang.’’ Dengan uka curiga.
‘’kenapa Roo.’’ Beast sambil merapihkan barang-barangnya.
‘’itu bukan presiden bodoh.’’ Beast mukul kepala Zero.
‘‘hmmmm itu bukan mobil yang kemarin, kalau yang kemarin ada pelacak nya.’’ Zero menamati telilti.
‘‘teruss.’’ Beast tidak tahu harus apa, melanjutkan memancing atau mengikuti mobil itu.
‘‘ayo ikutin. Eeeeeee BEAST-BEAST.’’ Zero terpeleset hampir jatuh ke kali, tapi Beast memegangnya.
‘’jagan teriak-teriak bodoh. Di lepasin nh.’’ Beast menarik tangan Zero.
Zero dan beast membawa sepeda dan mengikuti mereka diam-diam, dari belakang. ‘’yang cepet apa Roo, ketinggalan kita.’’ Beast mengeluh sambil di bonceng
Zero sudah lelah dan mengeluarkan lidahnya.
‘’heeeeehhee BERISIK APA.’’ Terus menggoes.
Setelah agak jauh dari jembatan tadi, ternyata mobil itu mengarah ke sebuah pabrik ikan kaleng, ‘‘ngapain mereka kesini.’’ Zero melihat dengan membuat teropong dari tangannya. Mereka mengintip di balik tembok.
‘’turun dikit kepalanya.’’ Beast tidak kelihatan. Terlihat beberapa orang memasuki kotak-kotak ke mobil avivi itu ‘’aha bagus, waktu yang tepat aku bawa pelacak nya.’’
‘‘terus yang pas pagi itu apa,’’ Beast berbicara di belakang Zero.
‘’ehhh yang itu ketahuan, aku dan Navy menulusuri tapi ujung-ujugnnya di kali tadi.’’ terlihat Zero dan Navy yang lelah mencari pelacaknya, ternyata di kali.
‘’ohhh hahah.’’
__ADS_1
‘‘jaga sepedanya aku tempelkan ini.’’ Zero mulai keluar dari tepi dinding.
‘‘hati-hati kamu ketahuan aku harus ngomong apa.’’
‘‘iya iya tumben kou baik, jadi terharu aku.’’ Zero berjalan perlahan melewati papan dan tembok lalu menempelkan pelacaknya di bawah mobil avivinya, saat Zero kembali ternyata Marko curiga, ada bau ikan di sekitarnya.
‘’hmmm.’’ Marko mengendus-endus.
‘’ada apa Kapten.’’ Tanya seorang Skull.
‘’ada bau ikan.’’ Jawab Marko dengan serius.
‘’eeee kita kan di pabrik ikan?? Kapten.’’
‘’pabrik bapak kou, ini bau ikan local asli dapat mancing, oleh seseorang yang jenius.’’ Marko melihat sinis sekeliling.
‘’eeee Kapten apakah kamu pilek.’’ Tanya lagi Skull yag tadi.
‘’tidak, hanya ingusan husss.’’ Dengan gaya cool.
Zero bersembunyi di balik tembok, tempat Marko berdiri, dia hanya deg-degan tambah rasa ngakak. Saat Marko memalingkan wajah Zero mulai bergerak tapi Marko langsung memalingkan lagi karena nyamuk, sehingga Zero ketahuan.
‘’hmmm gatal, ehhhhh KAMUU.’’ Marko melihat Zero yang sedang berjalan pulang dengan merangkak.
‘‘lahh ngechit dia.’’ Ucap Zero. Zero langsung berlari sembari Beast naik sepeda, ‘‘heyy tunggu woy tunggu.’’
‘’TANGKAP MEREKA!!!.’’ Teriak Marko membuat para skull mengejar Zero dan Beast, dua orang langsung menaiki motor sedangkan Zero dan Beast menaiki sepeda, ‘’oke jadi seperti ini.’’ Zero membuat rencana.
‘’haha aku bersyuku membawa kamu, Zero melebarkan tangan nya, dan mengaktifkan sarung Tangan Gravitasy nya. ‘dalam sekejap mereka melaju dengan cepat.
‘’wihhhhh busseeettt.’’ Beast terkejut dengan raut muka dan rambut-rambut yang terbawa angina.
‘’hahahhha ee awas-awas.’’ Mereka hampi menabrak tukang baso.
Satu motor ngebut di belakang mereka, tapi Zero menutup jalan dengan menerbangkan kayu-kayu agar motornya tidak bisa maju, lalu si Skull ini menghindari semua kayu yang bertebangan ke arah nya. ‘NGENGGGG’ dia terus mengebut sampai berada di belakang sepeda. ‘’hehe ehhhh Bast cepet Beast. ‘’ Zero kaget melihat Skull yang sedang bertengger di mototrnya.
Skull ini tidak hanya diam, dia menabrakan ban nya ke ban sepeda, mereka hampir saja jatuh. ‘’BEASTT REMM.’’ Teriak Zero dan Beast langsung mengerem, di saat mengerem Zero meluruskan tangannya kesamping sehingga Skull itu terjatuh karena kepalanya menabrak tangan Zero. ‘DRUSK DRUS’ ‘’hahaha mampus.’’ Zero meledek Skull yang sedang terkapar di tanah.
Lalu muncul satu motor lagi yang mengejar, saat dia membalap dan di samping mereka. ‘‘HALO.’’ Zero dan Beast menyapa orang itu dengan ramah lalu. ‘‘DRUSHHHH’’ si pengandara itu jatuh karena Zero dan Beast menendangnya bareng, ‘‘hehehhehe berhasil.’’ Zero senang. mereka berdua selamat dari kejaran Skull dan datang ke PHAS jam 4 pagi.
‘’dari mana saja kalian, aku tunggu katanya masak ikan, Techno sudah tidur.’’ Ucap Navy. Marah-marah seperti emak.
‘’huhuhu panjang ceritanya.’’ Zero sudah mengantuk, Dan berkeringat.
‘’berisik apa capek nih.’’ Ucap Beast yang berkeringat seluruh tubuh.
‘‘kenapa dengan mereka,’’ sepeda nya di parkir jatuh. ‘’ahhh ngagetin mulu, ehh ini kan sepeda tukang bersih-bersih, bannya kempes aku tidak peduli lagi pula mereka ini yang pakai, Techno ayo bangun.’’ Membangunkan Techno yang tertidur dengan menyelimuti dririnya, dekat api unggun.
‘’hahh hehhhh tidak jadi, jangannn-jangannnambil dia.’’ Techno masih beler.
‘’hahaha kenapa , ayo pulang ke kamar.’’ Menarik tangan Techno.
‘’ehh iya-iya duluan.’’ Techno masih mengantuk.
‘’ehh cepet nanti kamu tidur di luar lagi, kaya pas di post ronda, bilang duluan malah nginep di sana.’’ Navy berusaha membangunka.
‘’ceppp ehhh.’’ Techno berdiri dan pergi.
__ADS_1