
Di malam harinya Zero dan kawan-kawannya di bariskan untuk masuk ke kamar pelantikan agent baru, ‘’oh jadi seperti ini tampang orang-orang tertentu dan terpilih sungguh luar biasa.’’ Zero mengamati setiap muka.
ada yang nyisir mulu, ada yang selalu sinis, seleb ,orang pinter dan banyak lagi. Saat itu Zero berada di barisan paling belakang, total mereka ada 20 ditambah tim Zero menjadi 24, saat Zero ingin masuk dia sempat mengobrol bersama Jeremy. ‘’weeh kak Jeremy ketemu lagi, kakak lagi ngapain di sini.’’
‘‘bukan apa-apa aku hanya di suruh mengawasi kalian hmm hey Zero ingat.’’ Ucap dia.
‘‘hah.’’ Zero sambil nupil.
‘’selalu focus ok.’’
‘‘ok.’’ Zero memberikan jempolnya. Lalu saat Zero akan masuk pintu, Jeremy menepuk pundaknya. sebuah benda bulat, tidak begitu besar yaa paling sebesar tutup toples kue kecil, dan memiliki lubang di tengahnya, berwarna putih.
‘’ehhh.’’ Kawan-kawan Zero sempat melihat itu namun Jeremy menutup pintu otomatis nya dengan menekan tablet dan beberapa sandi suara DO MI FA SO LA, Zero hanya bengong dan tiba-tiba cahaya biru menyala di tengah benda bulat itu. Lalu dia terbang tertarik sesuatu, seperti di bawa terbang setan menuju suatu tempat.
Navy Beast dan Techno mulai panik, mereka berusaha membuka namun alhasil tidak bisa sama sekali kecuali memasukan sandi.
‘’hahhh yaudah lah paling Cuma di tanya.’’ Ucap Beast mulai menyerah.
‘’cepp kamu temen bukan, Zero pasti bakal di tes sesuatu.’’ Balas Techno agak kesal ke Beast.
‘’haduhh gimana ini,’’ Navy melihat layar di samping pintu. ‘’hahh ini dia ee kita harus tahu sandinya.’’
‘’hmmm gimana ini. Aku tidak tahu caranya’’ Balas Techno.
Semua agent baru mulai berdatangan dan membantu mereka. ‘’hmmm coba biar aku lihat,’’ Seseorang berkacamata yang keliatannya agak pintar melihat sandi itu. ‘’ini sandi suara.’’ Jawab dia.
‘’hahh suara terus bagaimana.’’ Balas Navy yang mulai gelisah.
‘’hmm aku orang yang masuk ke pintu ini, yang ke 17 , jika saja ada yang masuk terakhir pasti dia sempat mendengar sandi itu lewat tablet Jeremy,’’ Ucap orang itu memegang dagunya. ‘’apa ada yang masuk terakhiran di sini.’’
‘’aku,’’ jawab Navy. ‘’saat Zero terbang aku mendengar kak Jeremy menekan beberapa suara.’’ Balas Navy denga serius.
‘’hmm bagus tapi kalau di lihat-lihat.’’di saat mereka sibuk berdebat tiba-tiba alarm merah berbunyi semua orang terkejut dan bertanya ‘apa yang terjadi’ lalu tidak lama kemudian terdengarlah suara Kak Jeremy dari sebuah sound bulat tertempel di atas mereka.
‘’salam hormat para agent ini adalah test pertama kami yag kalian harus lewati, di ujung belakang kalian terdapat tiga lubang pipa, kalian di beri waktu 10 menit untuk menyelesaikan kode yang ada di pintu besi ini, setiap kalian salah maka waktu kalian berkurang 1 menit jika waktunya habis akan ada gas beracun yang akan membuat kalian pingsan, namun efek dari gas ini melupakan hilang ingatan secara permanen, jadi jika kalian gagal kalian harus melupakan tempat ini selamanya, baik lah di mulai dari sekarang.’’ Ucap dia, membuat semua orang takut.
Orang yang berkaca mata tadi mulai serius dan mengamati benda itu. ‘’kita harus cepat.’’ Ucap dia serius.
Sementara ituuuuuuu. Zero terbang ke sana kemari, nabrak tembok atau pun orang-orang yang berpakian dokter, benda yang menempel di punggung Zero dari tadi berkedip–kedip entah kenapa. Zero melayang sangat cepat sampai hanya terlihat kalau badannya saja yang terbang tapi kalau tangan, kaki dan badannya tertinggal. '‘HAHHHH HEHH MAAF MAAF SIALLLLLLL, huhh kenapa aku bisa terbang,’’ Zero meraba benda itu di punggungnya, lebih tepat di tengah punggungnya. ‘’hahhh oke sekarang bagaimana melepas benda ini.’’
Zero berusaha melepasnya dengan mencengkram ujung dari benda itu. ‘’hahhhhh susah amat,’’ benda itu sangat merekat di baju yang Zero pakai, hampir setara dengan lem gajah. ‘’brengsekkkkkk ahh,’’ benda itu pun lepas, dan di waktu lepasnya Zero juga tidak ikut terbang kembali. Dia melepasnya tepat menuju sebuah belokan tajam kiri. Saat benda yang Zero lepas bukannya berhenti tapi dia tetap tebang, sampai pada akhirnya, benda itu masuk ke belokan dan meledak.
Zero kaget dengan melotot. ‘’ehhh untung aku jago haha..,’’ ‘krek’ sebuah bunyi benda tepat terdengar sangat dekat telinga.
Zero berusaha mengintipnya namun tidak bisa yasudah dia melihat di lantai dan tahu orang macam apa dia, hanya lewat matannya.
‘’ tidak perlu tahu siapa aku yang jelas china, kuat, tangkas dalam petarung,’’ Jawab orang itu. Dia memakai celana hitam, kemeja putih, sepatu pantopel, dan dasi hitam, serta rambutnya di cukur bulat rapih.
Zero hanya terdiam melihat sebuah pistol normal hitam di todong belakang kepalanya. Tapi sebelum dia membalas kata-katanya, munculah seorang wanita dari tempat ledakan tadi, yaitu Bu Yosi. Dia keluar dengan elegannya di tambah kobaran api muncul di belakangnya. Dia menghampiri Zero yang sedang di todong ‘’langsung ke intinya saja, jadi ini adalah tes pertamamu, kamu ku bedakan dengan yang lain, saat ini teman-temanmu sedang dalam ancaman, mereka sedang dalam tes pertama, tidak terlalu sulit, hanya saja jika mereka tidak menemukan sandi suaranya,’’ Zero teringat dengan kak Jeremy yang menekan beberapa tombol yang mengeluarkan suara di tabletnya sebelum di bawa terbang. ‘’akan ada asap beracun yang akan menghapus ingatan mereka secara permanen. Jadi tes pertamamu adalah kalahkan orang yang di belakangmu dan selamatkan temanmu,’’ sebelum pergi Bu Yosi memberi satu hal lagi. ‘’ohyaa waktumu hanya 9 menit jika habis temanmu akan tamat.’’ Ucap Bu Yosi lalu pergi.
‘’bagaimana apa kamu menyerah.’’ Rintih orang itu.
‘’eee apa kamu sudah maaka.’’ Zero berbicara tidak jelas untuk memancing.
‘’hah apa kou bilangggee!!.’’ Tiba-tiba Zero berbalik mutar. Dan merebut pistol itu dengan tangan kirinya lalu berdiri dan menodongkannya kembali.
‘’ohh hebat sekali.’’ Orang itu langsung membalas gerakan Zero, menahan pistolnya mengelakan tembakan ke kanan atas sampai akhirnya di senjata itu di buang Zero ke belakang orang itu melewati bawahnya, karena pelurunya habis.
Orang itu menangkis tinjuan kanan Zero mengambilnya lalu menariknya kebawah, berbarangan menarik ke bawah orang itu meluncurkan tangan kanannya ke dagu Zero, Zero terpental namun karena tangan kanannya di pegang. Orang itu menarik Zero lagi, meninju perut uluh hati dan tenggorokannya dengan kecepatan bukan kekuatan.
Zero membebaskan tangan kanannya membalas orang ini dengan kecepatan juga. Zero melangkah kedepan dengan cepat, melancarkan dua pukulan sekaligus, satu mengarah kepala dan satunya ke dada. Tapi bukannya kena, orang itu menahannya dengan mencengkram pergelangan tangan Zero, memutarnya dan menghantamkan tempurung tangan kanannya ke muka Zero lalu menarik tangan kanannya lagi kebawah dan meninju perut Zero.
Zero hanya bisa diam, terkadang dia menahan amarahnya untuk tidak mengamuk. Dan juga sering juga mengeluarkan pukulannya namun alhasil setiap pukulannya di tahan dan di kembalikan oleh orang sipit itu.
Dari kejahuan Bu Yosi hanya mengamati tekad Zero. Dia hanya berdiri tegak di pojokan melihat Zero yang terus melawan sia-sia. Orang ini sangat pandai dalm bela dirinya sampai Zero tidak bisa membaca gerakannya. ‘DUUK’ sebuah pukulan mendarat di perut Zero, membuatnya jatuh tersungkur, Lalu tidak lama kemudian sebuah kata-kata membakar diri Zero.
‘’hhpp waktumu hanya 4 menit lagi dan jika kou gagal temanmu tidak akan selamat.’’
Ucap Bu Yosi, Zero yang mendengar itu mata terbuka dia berdiri dengan cepat.
Mengeluarkan tinju kanannya. Orang sipit tadi hanya tersenyum, mengiranya akan bisa menghindarinya. Tapi dia salah Zero memancung jarinya yang tadi menjadi pukulan berubah menjadi seperti moncong ular. Orang Sipit itu tidak menangkis namun membalas meninju, bukannya menang tapi Zero melilit baju tangan orang itu dengan tangannya secara lentur, meninju hidung orang itu sampai mengeluarkan darah dan pingsan. Bu Yosi hanya terdiam tidak percaya kalau Zero bisa mengcopy skill.
Terlihat banyak sekali keributan di dalam ruangan itu, di karenakan waktu bertahan tersisa 2 menit. ‘’AAAAAAAAA BAGAIMANA INI AKU HARUS TETAP KERJA.’’
__ADS_1
‘’KESIANN MEREKA EHH AKU JUGA KESIAN AAAAA.’’
‘’EHHH CEPAT SELESAIKAN KAMU PINTAR KAN.’’
‘’TIDAKKK UTANG KU MASIH BANYAK.’’
‘’AHHHH AKU MASIH INGIN LIHAT ENDING ONE PIECE.’’
‘’WAAA AKU MASIH JOMBLO.’’ Semua orang menjahui dia dan menyisakan lubang besar untuk dia sendiri.’’
‘’diam apa aku sedang serius.’’ ucapNavy di tengah keributan.’’
‘’ayo cepat. Apa kelanjutannya.’’ Balas orang berkaca mata tadi.
Lautan manusia menggunjang seisi ruangan itu sampai-sampai Jeremy mengaktifkan peredam suara. Kak Jeremy dan Komandan Bull hanya mengamati urutan angka yang berubah drastis di luar pintu. ‘’wow luar biasa.’’ Ucap Komandan Bull.
‘’ehhh eh aaa aha bunyi yang terakhir heeee eeee etolong.’’ Navy yang akan berbicara tertelan lautan manusia.
Diantara mereka Beast sedang berusaha mencari jalan keluar dari situ, kadang-kadang dia menjambak rambut orang yang menyenggolnya lalu dongkok agar tidak ketahuan. Sedangkan Techno tidak mau ambil pusing dia ke kasurnya laluuuuuu menyeduh kopi dan duduk di ranjang sambil melipat kedua kakinya.
‘’AHHHHH bagaimana ini.’’ Orang pintar yang berkacamata itu mulai menyerah, padahal hanya satu kolom yang harus di isinya dengan bunyi apa, saat dia akan mengisi kolom kosong itu, keringat sudah membajiri tangannya dan menjulur ke seluruh badannya. Dia takut karena waktu menunjukan 1 menit lagi, ini adalah pilihan yang sulit.
Di waktu terakhir, sekitaran 30 detik, mereka sudah putus asa, ada yang memakai masker, menutup semua mukanya dengan pakain, atau pun ada yang bawa topeng ultraman tiga. Navy masih terjebak dalam lautan manusia. Beast yang masih sibuk menjabak rambut orang dan Techno yang dari tadi hanya meminum kopi. ‘’sepertinya mereka memang tidak berbakat.’’ Ucap Komandan Deddy.
‘’eeeee komandan sepertinya kamu salah.’’ Balas Kak Jeremy.
‘’apa maksudmu.’’
Di arah belokan tajam keluarlah Zero, dengan cepat berlari menuju mereka berdua, Zero mengepalkan tangannya kuat-kuat dan memoncongkan tangan satunya seperti ular.
"WOYYYYYYY MASIH SEMPATTTT." teriak Zero. Zero melesat cepat mengambil tablet Kak Jeremy dann.. Di dalam semua orang sudah pasrah, dalam hitungan beberapa detik lagi gas akan menyembur hisung mereka. ‘THEET5……THETTT4……THETTT….3….THETTTT2……DUSSSS’ pintu yang tadi tertutup rapat. Dan mereka semua berusaha membobolnya ternyata sudah di buka oleh seseorang yang sedang di terkam oleh Komandan Bull. ‘’hahhh ngapain kamu hahhh. Berani kamu.’’ Komandan Bull dengan senang menindas Zero.
‘’eeeOm mau ngapain Om.’’ Balas Zero.
Komandan Bull melirik ke arah agent baru. ‘’eee.eeee….eee dia pencuri.’’
‘’apaaaaaaa.’’ Balas Zero terkejut, namun dia sempat melihat kea rah teman-temannya yang sudah dari tadi tersenyum kepadanya, dan beberapa orang yang kagum ke Zero. Sedangkan beberapa lagi hanya biasa saja karena tidak bisa melihat di luar pintu.
‘’hahhhahahhaweeeee.’’ Zero tertawa dalam cengkraman Komandan Bull.
‘’om lepas ommmm nanti saya beliin pomade.’’ Ucap Zero yang masih tercengkram oleh lengan Komandan Bull.
‘’hahhhh,’’ Komandan Bull mencengkramanya lebih keras. Lalu mencekiknya. ‘’dengarkan ini kamu hanya beruntung, jika besok kamu masih hidup bersyukurlah.’’ Komandan Bull melepas tangannya dan pergi.
‘’tenang saja, dia memang begitu ke beberapa orang saja.’’ Kak Jeremy menenangkan Zero
Lalu pergi.
Navy-Techno dan Beast menghampiri Zero yang sedang memegang lehernya.
‘’sabar Ro sabar Ro.’’ Beast mengusap punggung Zero.
Zero menunjuk mukannya. ‘’ bengkak gak.’’
‘’hmm Cuma sebelah sini yaa Cuma dikit.’’
Ucap Techno.
‘’coba lihat hahhahah,’’ Beast tertawa entah kenapa. ‘’gara-gara apa ini Ro.’’
‘’haha tadi lihat kamu terbang kocak, eee terus itu kamu gimana ceritanya.’’ Ucap Navy.
‘’panjang intinnya agak seru. Dahh masuk dulu baru cerita.’’ Zero dan timnya memasuki kamar Agent baru.
Sebuah ruangan yang agak besar, bentuk memanjang persegi panjang, memiliki ranjang bertingkat dua sebanyak 11 dan sebuah lemari besi di sampingnya. Ranjang di susun memanjang di kanan dan kiri dinding, di waktu ini mereka sudah ada di atas ranjangnya.
‘’Ro.’’ Navy memulai pembicaraan. Navy tidur di bawah ranjang Zero, jadi dia di tingkat satu.
‘’hmmm.’’ Zero sedang mencoba tidur dengan menghadapkan mukanya ke bantal, jadi tertutup alias tergeletak.
‘‘Ro.’’ Navy melihat ke atas.
‘’hmmm,’’ tiba-tiba Beast datang dan naik ke atas ranjang Zero, bukan naik sih tapi Cuma pegangan, dan langsung menggeplak kepala Zero. ‘‘wiihh kenapa.’’ Bentak Zero.
__ADS_1
‘’lihat itu.’’ Beast menujuk ke arah depan. Lebih tepatnya ranjang ke tiga dari mereka.
‘‘kenapa hehhh.’’ Ternyat Techno sedang di mintai oleh dua Agent perempuan untuk foto, Zero yang melihat itu langsung turun dari ranjang. ’’ahhhhhh kenapa si Techno tenar mulu bingung aku.’’ Dengan nada agak kesal.
‘‘makannya stay cool kaya dia. Mending ganteng ini mah phssss’’ Jawab Beast.
‘’aku kesana lihat mereka akan minta foto denganku.’’ Zero mulai sok iye.
‘’silahkan.’’ Ucap Beast, Zero langsung pergi ketempat itu dan menyapa dua perempuan itu.
‘’halo nona-nona apa kabar kalian,’’ mereka merasa jijik dan sedikit menjaga jarak. ‘’maaf ya orang norak di samping kalian ini adalah partner ku, jadi jika kalian ingin berfoto dengan dia kalian harus foto dengan ku juga.’’ Ucap Zero, menjelaskan ala orang bijak.
‘‘eeee iya aku akan foto kamu, tapi kamunya mundur sedikit,’’ jawab salah satu dari mereka dengan keraguan. Zero tersenyum lebar sedangkan Navy dan Beast tertawa terbahak-bahak.
‘’mundur lagi mundur lagi terus , terus mundur.’’ Mengarahkan hp kameranya ke Zero, Zero terus mundur sampai pojok tembok. ‘‘cek nah sudah ya terima kasih.’’ Zero melongo di depan tembok sambil tersenyum dan langsung pergi ke ranjang dan terbarig kaku bagai mayat.
Techno yang melihat itu juga tertawa. ‘’Satu lagi dong.’’ Ucap si perempuan kepada Techno.
‘’hebat Ro hebat anda hebat.’’ ucap Beast tepuk tangan.
‘’Agent yang hebat.’’ Navy tepuk tangan.
‘’tidak apa-apa, lagi pula aku tidak memiliki niat untuk mencsri wanita, sudahlah…tidur.’’ Zero sambil mencoba tersenyum.
Di suatu alam lain Zero sedang berada di suatu tempat yang hitam. Gelap gulita tanpa ada cahaya sama sekali ‘’weee di mana ini, gelap amat, jangan bilang aku sudah mati. Haduhhh gelap amat woy.’’ Disaat Zero masih mencari tahu tempat apa itu. Tiba-tiba sekilas cahaya hijau menyinari dirinya membuat matanya melotot dan. ‘’weeee hehhh hehhh haahhh asap hijau.’’ Zero terbangun tepat di mana saat asap hijau keluar di ujung lubang bulat kamarnya. Asap itu sudah memakan 3 korban, di waktu itu Zero teringat dengan kata-kata Bu Yosi. ‘’aka keluar asap beracun yang bisa menghapus ingatan secara permanen.’’
Zero segera turun dari ranjangnya membangunkan semua orang dengan berteriak. ‘’Bangun-Bangun,’’ semua orang tidak bangun. ‘’woyyy ADA BANG ATTAAA BAGI-BAGI BAJU.’’ Sontak semua orang terbangun dari ranjang, dan betapa terkejut mereka, karena melihat ada asap hijau yang mengejar mereka di pojok ruangan. Dengan cepat, rombongan orang sebanyak 21 berlari menu pintu.
Zero berlari kencang di kiranya pintu akan terbuka otomatis ternyata tidak. ‘’heyyy tunggu.’’ ‘dukkkk’ orang yang memakai kacamata tadi memperingatkan Zero, namun terlambat Zero sudah mantog duluan.
‘’haduhhh kok gak kebuka. Hmmmm ke kunci ya, haduh pake sandi lagi.’’ Ucap Zero kesal.
Navy datang menghampiri Zero. ‘’hahh kamu yang masuk terakhir kan.’’ Ucap Navy tergesa-gesa.
‘’eee enggak bukannya kamu.’’
‘’hahh tadi loh, ehh kamu tahu gak jawabannya.’’ Balas Navy.
Techno dan Beast datang menghampiri Zero. ‘’coba buka Ro. Kamu kan yang buka pintunya tadi.’’ Rintih Techno, agak santay tapi masih terengas-*****.
‘’hahhh hahh busettt udah kaya zona ff.’’ balas Beast.
‘’eeoke mari ku coba.’’ Keributan sangat meguncang seperti terjadinya tsunami manusia ‘’eee tolong tolong.’’ Navy yang memiliki badan pendek dia tenggelam lagi di lautan manusia sedangkan Beast berusaha melewati tempat itu dan sering kali memukul kepala orang, namun banyak rambut orang yang di Tarik lagi oleh dia dan menunduk agar tidak ketahuan, sedangkan Techno di suruh oleh wanita tadi untuk membuka pintunya.
Tapi dengan dinginnya, Thecno meninggalkan mereka dan lebih baik menyeduh kopi.
‘‘DIAMMM.’’ Teriak Zero. membuat semua orang terdiam, dan membuatnya focus mengisi kode, Zero melihat kode nya agak lama dengan muka ngantuk dan mulai menekan tombol DO MI FA SO LA pintu pun terbuka, komandan Bull dan Jeremy hanya diam melongo, ‘’hahh gangu tidur aja.’’ Segera semua orang keluar dari dalam kamar kutukan zona ff itu.
‘’huhhh tumben kamu bisa kamu gituan, bukannya pas dulu buka sandi gembok aja gak bisa.’’ Sindir Beast.
‘’berisik,’’ jantung Zero masih deg-degan karena ragu saat mengisi kode tadi.
Techno datang menepuk punggung Zero. ‘’cepp ngantuk ya ngantuk, ayo ngopi dulu kita Ro nih, ayolah.’’ Ajak Techno seperti tukang cd. Mungkin.
‘’coba aku mau minum.’’ Navy mengambil kopinya. ‘’prhutttfss apa ini pahit banget.’’
Navy menyemprotkan kopinya ke muka Zero.
‘’hehhh bodoh kesian itu Agent, sabar Ro yah aha sabar.’’ Beast entah bercanda atau serius, membuat Zero suram.
‘’eeee maaf Ro maaf,’’ mengambil tangan Zero dan meminta maaf, tapi Zero hanya diam suram. ‘’hee ayolah aku minta maaf Ro, ihh baper di amah.’’ Navy berusaha bercanda.
‘’heehhh kesian Zero,’’ Beast mengelus kepala Zero, dan menyingkirkan Navy. ‘’sabar Ro ya sabar, di amah memang begitu orangnya. Bala.’’
‘’huhhh perasaan aku di timpah ke sialan mulu.’’ Zero bertambah murung.’’
‘’eee Ro maaf atuh gak sengaja.’’ Navy berusaha namun, Zero tetap cuek.
Tiba-tiba datanglah beberapa Pharmy di arah depan mereka, membawa sebuah tas ransel besar di setiap orang, dan di antara mereka, ada Pharmy yang berdiri paling depan, membawa sebuah tablet besar. Tanpa lama kemudian muncul lah muka Bu Yosi. ‘’salam hormat para Agent, kalian telah selamat di test bonus ini,’’
Zero dengan nada rendah. ‘’ini orang sadis amat ya.’’
‘’orang-orang yang sudah terlanjur menghirup udara di dalam sana, sudah di nyatakan gagal dan akan di pulangkan, baiklah selanjutnya adalah test kedua, bersiaplah, sarapan dan ganti baju kalian dengan olahraga yang telah di siapkan Pharmy di dalam ruangan nanti. Dan yang terakhir berjuanglah.’’ Bu Yosi mematikan rekamannya.
__ADS_1
Dan para Pharmy memasuki ruangan, tapi sebelum itu mereka menyedot gas beracun tersebut dengan sebuah vakum atau alat sedotan, begitu saya menyebutnya. Ohyaaa ke jadian tadi itu pukul 4 pagi oke.