
Di pagi harinya Zero terbangun di jam enam dan di bangunkan oleh Navy, maksudnya di bangunin. ‘‘heh Zero bangun ayo test akan di mulai.’’
‘’HAH YANG BENAR.’’ Zero langaung lompat dari ranjang membuat Navy kaget dan pergi kekamar mandi, Navy merapikan kasurnya sebentar dan saat sudah hanya butuh waktu 2 menit, dia malihat Zero sudah selesai mandi.
‘’buset kamu hantu, mandinya cepet banget.’’
Zero menggunakan baju olahraga yang di dalam tas ransel, di sebelah ranjangnya.
‘‘eihhhh bulat..busettt Zero boy hah sudah makannya di mana, hmm kamu empat oke nice.’’ Ternyata Zero mendapatkan kaos yang memilik urutan nomor nol, sesuai otaknya. Weeeee.
‘’di ruangan sebelah kanan. Jalan aja terus nanti ketemu bacaan chiken.’’ balas Navy.
Ingin membuat Zero tertawa tapi malah, di beri sinis, karena salah pengucapan.
‘’oke thank you.’’ Zero langsung berlari keluar kamar, membuat para peneliti kaget. Saat di perjalanan menuju dapur. ‘’huuuu ahha hahha kita jadi Agent, tidak kebayang haluan ku menjadi nyata.’’
saat sampai ternyata makananya habis dan hanya tersisa nasi. ‘’lah habis ya sudahlah.’’ Zero berjalan diam-diam menuju wadah nasi. Jalan menjijit agar tidak ada orang yang melihat. Di balik itu ada cctv yang merekamnya, Pharmy yang melihatnya hanya tertawa ngakak sampai jatuh dari kursinya.
Zero diam-diam memasukan tangannya ke dalam wadah nasi, yaaa di congot, tangan kosong, dia langsung memakannya. Namun aksinya ini terlihat oleh seseorang, yaitu yang memakai kacamata tadi. Zero menjadi canggung.
‘’eeee..ohh ee..ini nasinya ada batu, eee centongnya di ambil sama thor buat gantiin palunya, katanya dia jadi kuli.’’ Zero tersenyum lebar dan pergi dari tempat itu segera. Dan orang yang berkacamata tadi hanya terdiam.
Saat sudah sampai di di dalam stadion yang besar di belakang gedung PHAS. Lebih tepatnya di area penonton. Sebuah stadion bulat yang di tengahnya memiliki lapangan rumput besar. Dan di sampingnya terdapat jalan untuk para jogging. Zero sangat terkejut ada sebuah stadion besar di balik gedung. ‘‘wowwwwww.’’
‘’PRITTTTTTTT.’’ suara peliut yang di tiupkan seorang yang berpenampilan seperti guru olahraga. Semua orang datang ke arah suara, terkecuali Zero yang masih mengamati stadion itu. Dari ke jahuan ternyata Navy memanggil Zero, tapi dia bonge gak kedengaran.
Beast memukul kepala Zero. ‘’ayo cepat ngumpul bodoh.’’ Ucap dia kesal.
Di balik melihati stadion seperti orang norak. Ternyata Zero hanya mengamati keadaan apakah ada yang mencurigakan. Yaaa tadi saya sempat melihat mahluk besar tak berambut, pasti kalian tahu.
__ADS_1
‘’eeee iya sabar, hmmm ada sebuah mobil golf dan garis putih yang di buat antara per empat lapangang, lalu ituuuu… ee ada gendurUWU.’’ Saat Zero sudah memalikang wajahnya dan menghadap ke depan betapa. Terkejutnya dia melihat orang yang by one sama dia tapi kalah, sedang berdiri di atas bangku penonton menghadap ke bawah para Agent baru.
Zero memasang muka sinis. ‘‘perkenalkan anak-anak namaku Pak Yoso, aku yang akan menjadi pengawas tes kedua kalian. Kuatkan tekad kalian dan berjuanglah, hmm tes kedua ini….yaitu Fisik baiklah sebelum itu, aku beri tahu kalian prinsip ku, aku tidak peduli kalian ingin menang dengan cara apapun, tapi kalian harus mengikuti aturan.’’ Pak Yoso melihat ke Zero sekedip, membuatya kaget.
‘’eeee ngeliat diahmmm…aneh sekali prinsipnya ini orang.’’ Ucap Zero di kerumunan.
‘’baiklah kita mulai test kita, yang pertama yaitu berlari dari sini sampaiiiiiii finis itu oke. Sekarang bersiaplah berbaris sesuai urutan nomor di garis putih pendek itu.’’ Menunjuk ke garis putih. Semua orang pergi dari tempat itu, saat Zero dan kawannya akan pergi, sekilas dia melihat ke belakang. Melihat Pak Yoso sedang tersenyum kepadanya, tapi Zero memberinya sinis.
Zero bilang ke timnya dengan percaya diri. ‘’tenang saja kita bakal dapat urutan nomor pertama.’’
‘’kamu dukun yak ok tahu.’’ Techno membalas.
‘’sok tahu gila, hahh,’’ Beast melihat tangan Zero yang masih kotor karena bekas nasi.
‘’eeRoo kamu makan nasinya langsung di ambil,’’ Zero hanya terdiam. ‘’hahah malu-maluin, Ro kamu tu orang kota.’’ Sindir Beast sambil merangkul Zero.
‘’Berisikkkk.’’ Zero dengan muka suramnya.
Mereka pergi menuju ke baris pertama. Tapi bukannya angka nol malah dari angka terakhir yaitu 21. Zero tidak terima akan hal itu.
‘’ehh ada yang berdiri di garisku. Hmmm. Maaf nona tapi aku hanya ingin melihat angkanyaaaaa....,’’ Zero melotot tajam, ketika dia sudah tahu nomor yang tertera bukanlah angka nol, tapi 21. ‘’lah lah kokkk 21 apa maksudnya ini.’’
‘’eeemaaf aku sebelumnya laki-laki,’’ Zero mundur terkejut.
‘’ehh maaf-maaf, eeee maksudnya apa ini semuanya melawan hukum alam namanya.’’ Zero yang masih kesal.
‘’ee terus kita di mana.’’ Balas Navy.
‘’…mungkin kalian garis yang paling belakang.’’ Balas wanita yang di belakang pria tadi, kelihatanya agak cengeng itu.
__ADS_1
Zero memegang dagunya dan mengamati dengan tajam. ‘’hmm aha itu dia, yaelahhhhh.’’ Mereka ber empat pergi dari tempat itu, sedang kan Beast menunjuk-tusuk ke kepala Zero. Artinya suruh mikir.
Mereka semua sudah berbaris, Zero curiga kalau misalnya di sini di curangi, ‘’hmmm pasti karena gendurUWU tak berambut itu.’’ Zero bercampur aduk antara kesal khawatir. Tidak tahu bagaimana cara bisa menang di test ini. ‘’ayo Zero berfikir bagaimana caranya,’’ melihat ke depan. ‘’kalau ku paksakan juga kami pasti kalah, ayo lah berfikir… tunggu dulu.’’ Zero mendapatkan ide cermelang. Lalu mengajak kawan-kawannya untuk berkumpul. ‘’heyy sini-sini aku ada ide.’’
‘’yakin ini Ro.’’ Navy merasa ragu.
‘’sudah diam saja.’’ Zero tersenyum yakin.
Di arah kejahuan terlihat dua orang sedang bertengger di pembatas penonton. Komandan Bull sedang mengamati mereka dan Bu Yosi memulai percakapan. ‘’hm kamu kejam sekali Bull,’’ Bu Yosi melirik Komandan Bull yang hanya diam mengamati Agent-Agent baru. ‘’apakah mereka sanggup menyelesaikan masalah yang akan datang?.’’ Tanya Bu Yosi membuat Komandan Bull aktif.
‘’aku tidak tahu.’’ Balas dia dengan nada orang stress.
‘’sepertinya kamu belum bisa melupakan masa lalu ya.’’ Balas Bu Yosi menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Di sini Zero memiliki ide dengan memanfaatkan prinsip Pak Yoso. ‘‘3-2-1.’’ ‘PRITTTT’ semua orang belari kecuali Zero dan timnya, orang pandai semalam melihat itu namun dia merasa aneh kenapa Zero dan kawannya hanya terdiam, sedangkan orang-orang yang sedang berlari menggosipkan Zero ‘‘kenapa mereka itu.’’ Ucap seorang bala.
‘’heeyy focus biarkan, dia orang bodoh.’’ Balas yang lebih bala.
Zero memberi tahu kawannya-kawannya. ‘’oke 3-2-1 sekarang.’’ mereka memutar badan mereka dan mulai berlari tapi berlawanan arah, orang-orang yang mengikuti test baru berlari sampai 4/2 jalan lingkar stadion. Sedangkan mereka harus melewati 4/3 jarak jalan stadion. karena Zero dan kawannya memilih jalan berlainan, jadi mereka hanya berlari 4/1. Semua orang terkejut atas apa yang Zero dan timnya lakukan, termasuk Komandan Bull yang lebih memajukan badannya untuk melihat tingkah anak ini. Bu Yosi juga termasuk orang yang terkejut akan hal itu, tapi tidak teralu lama karena dia tahu alasannya.
‘’anak itu.’’ Komandan Bull tersenyum. Bu Yosi hanya terperangah diam, bahwa orang yang selalu serius itu tiba-tiba tersenyum. Zero dan timnya berlari seperti mengejek-meraka yang berlari di jarak jauh. Yaa berlari mundur, lari gaya monyet dan lain-lain. Sedangkan si kacamata yang pandai tadi tiba-tiba di kaget dan langsung mengikuti cara tim Zero.
Mereka terus berlari sampai pada akhirnya tim Zero berhasil sampai finis. ‘PRITTTTTTT’ Zero dan timnya berhasil sampai finis pertama sedangkan orang tadi terakhiran.
Setelah istirahat 10 menit, dan di umumkan pemenang pada test kedua ini oleh Jeremy, Jeremy bediri di di tengah lapangan, agar semua orang mendengarnya.
Dia mengunakan sebuah microphone yang di beri oleh seorang Pharmy. Awalnya tim Zero di remehkan, namun prediksi Zero benar. ‘’terima kasih hmm,’’ Zero dan kawannya di tertawai orang-orang.
‘’hahaha lagian suruh siapa mereka mengikuti orang idiot itu.’’ Ucap orang bala.
__ADS_1
‘’BAIKLAH PERINGKAT TERBESAR DI ANTARA 1 2 DAN 3, DI BERIKAN KE ZERO BEAST DAN TECHNO.’’ Kak Jeremy memberi tahu sekaligus tersenyum kecil.
Mereka bergembira Navy berada di peringkat ke empat sedangkan orang yang mengikuti mereka di peringkat ke lima, semua orang hanya terpaku diam sekaligus malu. Di kejahuan ternyata komandan Bull melihat itu. ‘’boleh juga. ‘’Ucap dia dengan tersenyum merendahkan.