AGENT HERO BLUE JACK MISSION

AGENT HERO BLUE JACK MISSION
JADI AGENT SERU JUGA


__ADS_3

Zero dan kawan-kawannya yang sedang istirahat, mengisi waktu luang mereka dengan berbagai cara, Zero dan Navy melihat Koran, Beast bermain kucing, Techno seperti biasa sruput. ‘’APAAAAA yang benar saja.’’ Teriak Zero membuat kucing Beast lompat jauh dan menumpahkan kopi Techno.


‘’parah ini orang ya.’’ Balas Navy.


Beast menghampiri. ‘’apa ehh apa ini busetttttt 85 orang gara-gara apa itu.’’


‘’cep hmm hah kalau tidak salah karena asap racun.’’ Balas Techno.


Zero membaca korannya. ‘’hmm pelaku tragedy ini, pelakunya adalah BUL BUL JEKI mafia yang paling di cari Indonesia, dan dari kejadian ini hanya DOBS selaku pemilik gedung dan penanggung jawab dari bank pusat Indonesia dia selamat karena menggunakan maske,’’ Zero meremas korannya. ‘’Awas saja orang garing itu karena dia puluhan nyawa tak bersalah melayang.’’ Ucap Zero dengan marah.


‘’begoo jangan di rusakin bodoh, belum baca aku.’’ Beast menggelak kepala Zero.


‘’ehhhh kamu ini.’’ Balas Navy.


‘’hahahah tangkap Roo.’’ Techno niat menyindir.


‘’yaa bagaimana, kita saja jadi tukang bersih-bersih.’’ Curhatan seorang Agent Zero.


‘’katanya Agent.’’ Sindir Beast.


‘’berisik sudah beresin dulunih kerjaan, baru ngobrol lagi.’’ Zero mengambil sapunya.


‘’katanya Agent.’’ Sindir lag Beast. Zero hanya cemberut kesal.


Di siang harinya. Zero sedang berada di pasar, dia di suruh timnya untuk membeli makanan. Zero hanya menggunakan kaos oblong putih, kaos tangan untuk cuci piring, dan penutup badan yang biasanya dipakai Chef.


‘’waduhhh beli telor dimana yaaa.’’ Zero melepas topinya, lalu di jadikan kipas.


‘’MALINGGG-MALINGGGG.’’ Terdengar dari belakang, suara seorang ibu-ibu meminta pertolongan. Zero memalingkan wajahnya dan melihat kebetulan pencuri itu jatuh menabrak warung sayuran.


‘’ehhhh kayak kenal, hmmmmm. Ohyaaa si pecakkk.’’ Zero segera mengejarnya.


Marko terus berlari-lari di sekeliling pasar, dia di kejar gerombolan pedagang yang berlagak seperti samurai, tapi pedang mereka alat-alat dapur. ‘’kejarrr dia. Kalau ke tangkep suruh dia beli dagangan kita semuaaa!! Huuuuuuu.’’ Para pedagang sangat bersemangat mengejar mereka.


‘’hmm dimana dia.’’ Marko sedang bersembunyi, di dalam keranjang besar bawang putih.


‘’kalau kutemukan dia langsung ku suruh buat beli cabe se kantong semen.’’


‘’weee di sini.’’ Zero muncul membuat semua pedagang itu menghampirinya.


‘’di mana orang itu?’’ tanya seorang pedagang.


‘’dia,’’ Zero menunjuk sambil kelelahan. ‘’dia huhhhh, huhhhh, huuuuuh.’’ Masih kelelahan.


‘’DIMANA!’’ bentak seorang pedagang.


‘’eeee.. di dalam toko semangka.’’ Zero sambil muka beler penuh ke bohongan.’’


Semua orang sontak berlari. ‘’tangkap diaaaa masehhhh.’’ Teriak seseorang membuat gerombolan pedagang itu berlari.


Zero menghampiri warung yang menjual buah-buahan. ‘’keluarlahh,’’ Zero mengamati sekeliling. ‘’heyyy keluarlah, aku tahu kamu di dalam.’’ Zero berbicara dengan keranjangmangga.


‘’aku di sini.’’ Marko keluar dari keranjang bawang putih.


Zero melongo kaget. ‘’ohh. Oke jadi kenapa kamu ada di sini, bukannya sama SEKI BUL BUL?’’ tanya Zero.


‘’dia bukan Bossku lagi, dan ini semua gara-gara kamu.’’ Marko mencekik Zero.


‘’eeee..eee kok aku yang di salahin, suruh siapa jadi orang jahat.’’ Germobolan pedagang tadi datang, dan melihat Marko sedang mencekiki Zero.


‘’ehhh kita di tipu, tunggu dulu itu orangnyaa, eeh dia sedang di cekik.’’


‘‘eehh bukannya itu orang yang nipu kita tadi, jangan-jangan dia partnernya.’’


‘’betul itu, betul, yasudah serang ORAAAAA.’’


‘’ehhh bukan-bukan. Hih aku jadi korban kan.’’ Marko melepas cekikannya, dan berlari mengikuti Zero. Mereka terus berlari, mengelilingi pasar layaknya puzzle yang besar. Melompati atap-atap warung dan ambles, serta bersembunyi di balik tihang-tihang kayu. Sampai akhirnya mereka menaiki motor scoopy Zero.


‘’hee, hee makasih yaa.’’ Marko memegang baju Zero.


‘’weee jangan pegang-pegang. Huhh kau ngapainsihh bisa seperti itu?’’


‘’ohhnya aing poho,’’ Marko mencekiki Zero sambil membawa motor. ‘’gara-gara dia aing di pecat ku Boss, terus aing jeng si Pero hiru sebagai preman jeng maling.’’ Ucap Marko greget sunda.


‘’lahh kok aku yang di salahin, wee lepas. Kalau kamu gak jahat juga gak akan aku melakukan itu, yaa coba kamu pikir kalau kamu yang di curi, padahal itu uang yang di kumpulin cape-cape.’’ Zero menjelaskan agak sinis.


‘’eehh aing tehh Cuma maling brokoli, buat masak.’’ Alasan Marko.


‘’sama aja haromm, kalau aku jadi kamu, aku lebih baik kerja dari pada mencuri. Duit yang kamu kumpulkan sendiri itu lebih baik rasanya. Terus mau jadi apa kamu di depan nanti?’’

__ADS_1


‘’ulah sok bijak dia Zero.’’


‘’serah kamu aja. Habis ini berhenti di mana.’’


‘’di jembatan aja.’’


‘’itu merekaaaa tangkapp.’’ Ternyata para pedagang belum menyerah, mereka kini menaiki angkot untuk mengejar Zero dan Marko. kamu tahu kan pembalap angkot itu bagaimana.


Angkot terus mengejar mereka, Zero berusaha mencari jalan yang aman untuk di lalui. ‘’pegangan.’’ ‘NGENGGGG’ Zero mempercepat motornya, mereka melewapasar dan toko-toko yang ramai, ada foto-foto di depan sebuah toko, terus mereka lewati, dan yang ke foto adalah Zero dan Marko yang sedang ngebut. ‘’astaga mereka ini sudah seperti asasin, bagaimana mengalahkannya? Hah ohh oke.’’ Zero melihat dua mobil teuk yang akan berpaspasan.


‘’dengan ini mereka akan tertahan.’’ Zero mengaktifkan sarung tangan gravitasynya, ternyata dia memakai dua sarung tangan. ‘NGENGGGG’ Zero memasukan efek sarung tangan gravitasy ke motor scoopynya. Diangkatnya melewati jalan sempit itu dengan memutar ke belakang, kepala Zero berpaspasan dengan pengemudi truck yang akan menuju arus balik.


‘’HAAAAAHHH.’’ Di balik truck tadi masih banyak mobil-mobil yang bergerak, Zero menarik topinya lalu tersenyum, dia keluar dari motornya, memegang stir motor, lalu mengangkat motornya tinggi, kakinya di pakai untuk melompati setiap mobil yang akan di tabrak mereka. Marko hanya memegangi jok motor, Zero melompat dan mendorong ke kaca mobil kanan, masuk kembali ke motornya, pindah ke arah kiri seperti pengendara motor cros. Melewati setiap kemacetan mobil. Dan mereka akhirnya sampai di ujung jalan yang masih sepi.


‘’huhhh selesai, hebat juga yaa aku eeeehh.’’ Zero membenarkan topinya, Marko terjatuh dari motor dengan kaku karena terkejut, dia seperti membeku.


Zero sedang berbincang dengan Marko di samping jalan. ‘’ehh nu bener ie te nanaon.’’ Marko merasa tidak enakan.


‘’yaaa kagak apa-apa sudah ada mobil avivi hitam.’’ Jawab Zero. Ternyata di sini Zero memberikan motornya ke pada marko, dan seluruh uangnya.


‘’ohhh terima kasih yaa.’’ Marko menaiki motorya lalu mengambil uang dan pergi.


‘’huhhh oke jadi bagaimana kita bisa pulang.’’ Zero berjalan sambil membawa plastic bawaannya.


‘’ITUUUU DIA TANGKAAPPP.’’ Ternyata gerombolan pedagang itu masih belummenyerah.


‘’hahhh HAAAAAAA.’’ Zero berlari kencang.


Jam menunjukan pukul 2. Kebetulan Zero sedang mengepel di depan ruangan Komandan Bull. ‘’mana ada aku cuek apa lagi cuekin sampah kalau ada buang sammmpahnya.’’ Zero mendengar suara tangisan seseorang, dan dia segera menempelkan telinganya ke dinding.


‘‘hi hi huss hi.’’


‘’hahh.’’ Zero membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia melihat Komandan Bull menagis di atas mejanya, menunduk dan meratapi meja. ‘’…eee Om ada apa om, sangat aneh sekali Om, melihat orang darah tinggi menangis,’’ Zero duduk di kursi yang berada di depan meja. ’’om.’’


‘’Zero apakah aku pantas menjadi pemimpin?’’ tanya seorang Komandan Bull.


‘’hmmmmm menurutku tidak,’’ Komanda Bull langsung menengok. ‘’tapi aku tahu kenapa alasan Om seperti itu. Dari awal kita ketemu saja saya sudah tahu kalau Om orang yang memliki trauma berat seperti saya.’’ Zero melihati sekeliling.


‘’seperti kamu maksdunya?’’


‘’janji ya Om tidak beritahu siapa-siapa,’’ Komanda Bull mengangguk. ‘’saya dulu adalah ada orang yang memiliki kekurangan, yang di mana saya tidak bisa memahami pola pikir manusia biasa, dari kecil saya selalu menangis dan berlindung di orang tua saya, saya tidak harus apa namun saya hanya merasakan penderitaan tidak memiliki teman selama 15 tahun, tidak memiliki orang untuk mengobrol, sampai sewaktu saya menganggap diri saya gila karena berbicara sendiri, saat saya berbicara sendiri saya merasa nyaman. Tapi dari pada saya hanya menyesali dan balas dendam ke orang yang menghina saya, lebih baik saya mengajak mereka dan berusaha membuat diri ini berubah dan hasilnya saya memiliki mereka bertiga,’’ Komadan Bull menutup mulutnya dengan lengannya.


‘’mengobati masa lalu bagaimna?’’ Komandan Bull yang tertarik.


‘’gimana ya aku ingin pembuat masalah itu menjadi temanku.’’ Zero melihat ke atas.


Komandan Bull tersadar sesuatu. ‘’Zero yang kamu sebutkan tadi benarkan.’’


‘’untuk apa saya bohong.’’ Balas Zero.


‘’heh terima kasih.’’ Komanda Bull segera mengusap air mata.


‘’sooo apa ada yang bisa ku makan Om.’’ Zero tersenyum lebar.


Komandan Bull melihat Zero dan tersenyum, Zero segera menyadari sesuatu dan berlari keluar dari ruangan itu. ‘’maaf om maaf aku tidak bermaksud memanfaatkan mu.’’ Zero berteriak sambil berlari.


Komandan Bull mengejar Zero. ‘’ayo sini katanya mau makan ini tanganku makan.’’


‘’maaf of maafffffffff,’’ Zero melihat pintu kamarnya yang terbuka. ‘’WOYYYY JANGAN TUTUP,’’ Beast nongol dari dalam, dia tersenyum dan bilang sesuatu ke Techno dan Navy. Mereka masuk kembali lalu menutup pintunya. ‘’WOYYY BEAST JANGAN DI TUTUP WOYY,’’ ‘DUR DUR DUR’ Zero mengedor pintu berharap di buka,namun nihil hasilnya sama saja. Komandan Bull sudah mendekat. ‘’BEASTT BEASTTT WOYYY SIALAN AWAS SAJA KAMU.’’ Zero segera berlari lagi.


Zero yang sudah berlari masuk kamar nya dengan lelah, dan waktu menunjukan pukul 4. ‘’huhhh huhhh huhh akhirnya selamattt.’’ Zero masuk keruangannya dan mengusap keringatnya.


Zero duduk di sofa dan di hampiri Beast, Zero sinis. ‘’dari mana Roo kamu ke habisan ikannya.’’


‘’hahh yang benar tidak jadi makan kan hahhh,’’ Zero jatuh lesu. ‘’INIIIII SEMUAA SALAH MUUU.’’ Zero melompat menuju Beast.


Beast melompat ke samping sofa, lalu bersembunyi di belakang sofa.’’hahahhaah mau makan gak.’’ Zero terus-terus mengejar Beast, Beast berputar-putar di sofa lalu pergi menuju dapur.


‘’WEEEEEE SINIIIIEEE.’’ Zero mengejar Beast. Techno yang sedang ngopi, tersenggol oleh Beast.


Kopinya jatuh ke dada Techno, padahal itu masih panas. ‘’heey AHHHHHHH Beast, BODOHHH.’’ Kopi panas berlumuran di bajunya.


Techno datang ke dapur. ‘’Techno, sebentar aku ambilkan….ehh apa yaa, aha.’’ Beast pergi kekamar mandi dan mengambil segayung air. Saat akan pergi menuju Techno, Zero melempar bantal sofa menuju Beast, Beast dengan cepat menunduk sehingga bantal itu terbang dan menghantam Navy sampai jatuh. ‘’AHHHH HADUHHH.’’


Zero sedang menyekap Beast di lantai. ‘’HAHHHH SIALANA KOUUUUU.’’


‘’ROO ROO sudah Ro.’’ Beast sedang tersekap di lantai.


Navy berdiri dan segera memisahkan Zero, ‘’sudahhhhh Rooo.’’ Zero tidak sengaja menyikut perut Navy, mebuatnya mual dan pergi menuju kamar mandi. ‘’EEEE EEEE.’’

__ADS_1


‘’ahhh Ro beast coba jangan kaya bocah.’’ Ucap techno dengan tegas di depan mereka.


Zero dan Beast berhenti bergerak, lalu menatap sinis Techno. ‘’JANGAN CAMPUR, SOK STAY KOU.’’ Balas mereka berdua sambil saling menyekap di lantai, lalu di lanjutkan kembali.


‘’HUSF,’’ Techno mengelap ingusnya lalu pergi menjauh dengan kesedihan. ‘’aku memang stay ngaco.’’


‘TENGG NONG’ suara bell terdengar dari luar kamar tim zero. ‘’eeee mereka sedang mengambil misi?’’ tanya Komandan Bull di temani di sebelahnya dengan Kak Jeremy. Mereka berencana makan bareng bersama tim Zero.


‘’eebukannya komandan sudah memberhentikan mereka.’’ Balas Kak Jeremy.


‘’ohhh lupakan saja.’’ Komandan Bull memalingkan wajahnya.


‘THENG NONG THENG NONG’ ‘’Rooo sudah Rooo ada tamu itu haha.’’ Beast yang dalam perlawanan.


‘’BERISIKKK MATIIIIII.’’ Teriak Zero membuat Komandan Bull menjadi panik.


‘’sepertinya mereka dalam bahaya, Jeremy mundur lah biar aku saja.’’ Komandan Bull menarik tangan kanannya untuk meninju pintu kamar Zero.


‘’Komandan tunggu dulu..’’ sela Kak Jeremy. ‘DUKKKK’ suara kencang menghantam pintu, membuat seluruh orang yang di dalam terdiam. Zero yang lengah segera di sikat oleh Beast, Beast memutal balik tubuh Zero dan di sekap baliknya.


‘’WEEEEE, WEEE CURANG TIDAKKKKK.’’ Teriak Zero membuat Komandan Bull semkain panik. Techno sedang di dapur, memasang music dan menyimpan tisu di sampingnya untuk mengelap air mata.


‘’aku memang stay ngaco.’’ Techno dalam lautan kesedihan.


Sementara Navy yang sedang siap-siap untuk untukmuntah di kamar amandi. ‘’HUKKK EE HUUUUUK.’’ Menutup mulutnya, dan memegang perutnya.


Di luar Komandan Bull menarik tangannya dari pintu besi, saat di tarik keluar. Kak Jeremy melotot kaget bukan main, di karenakan bekas tinjuan Komandan Bull berdampak besar di pintu besi, yaitu sampai bolong menebus kamar Zero. ‘’eeeee..ee oke,’’ di dalam hati Kak Jeremy. ‘’mungkin setelah ini aku akan ngegym.’’ Kembali berbicara normal. ‘’Eee Komandan, lebih kou tidak melakukan itu lagi,’’ Kak Jeremy menekan beberapa tombol di tabletnya. ‘’aku bisa menghack benda ini.’’ Kak Jeremy menekan tombol yang berada di sampan pintu dan terlihat lah kekacauan besar, di dalam kamar Zero dan timnya.


Komandan Bull melihat Zero yang sedang diterkam Beast. ‘’WEEEEE, eee Om halo Om, lepaskan akuuuu.’’ Zero memberi salam dan Beast juga, di dapur mereka melihat Techno yang sedang bertengger di meja dapur sembari mengusap ingusnya, serta memasang lagu sad.


‘’eeee apa yang terjadi?’’ Komandan Bull sangat terheran-heran.


Terlihat Navy yang sudah tidak kuat menahan rasa mual di kamar mandi. ‘’HUEKKKKK HUEEKKKKKK HUEKKKKKK.’’ Zero dan Beast berhenti bertengkar, Komandan Bull bersama Kak Jeremy hanya ngeri mendengar itu, dan Techno tidak peduli sama sekali.


‘’WIHHHHHH ini beneran pizza Om,’’ Zero dengan mata berbinar-binar, mengamati sebuah sajian kiriman special di depannya. ‘’coba ku coba sedikit.’’ Zero akan mengambil tapi ‘SPLAKKKK’


Tangan Zero di geplak Beast. ‘’dusun punya adab gak, mikir bodoh.’’ Sindir Beast.


‘’iayaa-iyaaa, ee maaf Om kamar nya sempit, memang ada apa Om sampai ada acara seperti ini?’’ tanya Zero.


‘’hmmm tidak apa-apa aku sudah terbiasa dengan kamar ii,’’ Komanda Bull mengusap lantai, membuat Zero sinis. ‘’tadi Jeremy beli pizza, tapi kelebihan, dia gak punya uang lebih, ehhh terus minta tolong saya hahaha.’’ Jawab Komandan Bull, membuat Kak Jeremy malu.


‘’ohhhhhhhh, kalau begitu kenapa kita tidak matungan saja, eee bukannya kaka youtuber yak,’’ Zero di geplak Beast. Lalu memberi syarat melotot ke Zero. ‘’maaf-maaf.’’


‘’hmm ini pizza ayam yaaaa, enak banget baunya.’’ Navy menyium baunya kaya tikus.


‘’eehtapi pisaunya tidak ada?’’ Kak Jeremy sadar akan tidak ada pisau pembelah pizzanya.


‘’tenang saja,’’ Navy menegluarkan sebuah pisau pizza di belakangnya. ‘’aku sudah tahu kalau tidak ada pisau pizza dari awal, heh pantas saja ada yang kurang.’’ Merapikan rambutnya.


‘’makannya Rooo stay cool tuh kayak Techno ahhahah.’’ Semua orang tertawa.


‘’ehh ayo makan,ayo Zero bukannya kamutadi ingin makan?’’ Komanda Bull mengajak mereka semua.


‘’tahu lagi bodoh,’’ Zero sinis ke Beast. ‘’iya-iya canda-canda ROOO.’’ Mengambil tangan Zero lalu salim, Zero hanya murung sambil memakan pizza di mulutnya.


Di malam mereka larut dalam canda tawa, bermain game bersama Kak Jeremy, main game chorlie apalah itu, ‘’okeee siap Chorlie Chorlie ayo main, ehhhhhhhhhh.’’ Sebuah bantal guling terbang menakuti mereka, namun setan ini harus tertimpa kesialan, berhadapan dengan GERDERUWU.


‘’’teruss Komandan, hajar-hajar, ancurin dia, jadiin kayak jeliii.’’ Seluruh orang menyemangati Komandan Bull yang menyiksa bantal gulingnya, di banting di tinju ratusan kali di sofa, di lempar, di bekuin dan masih banyak lagi. Di waktu perang bantal, tim Komandan Bull beranggotakan tiga orang yaitu dia dan Beast Navy.


‘’haduhh ampun Komandan, ampun Komandan.’’ Rintih Kak Jeremy di pukuli sambil berlari. Komandan Bull jadi seperti Aldous. Kak Jeremy jatuh tersungkur lalu di pukuli oleh Komandan Bull. ‘’AHHHHH Zerooooo.’’ Teriak dia sambil menutupi kepalanya.


‘’hahhh, wedehhh. Hahhhhhh.’’ Zero sedang berhadapan dengan Navy, Zero sangat ke sulitan melawan Navy, karena perpaduan antara perang bantal dan bela diri tinggi. ‘’haduhhhhhhh.’’ Zero di tinju mukannya. Di sini Zero memiliki rencana, dia terjatuh tersungkur sambil memegang mukannya. ‘’hahhhh mata ku mata ku.’’


‘’eee Ro maaf-maaf gak sengaja.’’ Navy mulai panik.


Beast sedang melawan Techno. ‘’NAVYYY JANGAN PERCAYAAA SAMA AGENT CABULL.’’ Teriak dia yang sedang mengadu bantal.


‘’hahhh.’’


‘’hahah kamu terperangkap.’’ Zero memasukan bantalnya ke tangan kanan, seperti Aldous. ‘DUBSSS’ Navy terkena headshot lalu knock.


‘’TUUKANNNN.’’ Balas Beast.


Zerp segera berlari menuju ranjangnya, lalu mengambil sarung tangan gravitasy, dia memakainya dan menggunakannya ke kedua musuh. Navy yang baru berdiri harus tertarik kencang oleh sarung tangan gravitasy. ‘’hahahhah aku menang,’’ Zero memalingkan pandangannya ke kanan.


Ternyata dia melihat Komanda Bull yang sudah dari tadi berdiri di hadapannya. ‘’eee..eee.’’ Komandan Bull memberi isyarat dengan menurunkan kepalanya ke kanan sembari menutup dadanya dengan lengan.Zero membalas isyarat itu dengan menggelengkan kepalanya. Komandan Bull tersenyum lalu menganguk. ‘DUBBSSS’ Zero segera di hantam tinjuan bantal.


Intinya mereka semua pesta sampai jam 12 malam. Komandan Bull dan Kak Jeremy berpaitan lalu pergi. Zero melamun melihat kea rah pintu yang berlubang. ‘’kenapa Roo?’’ tanya Navy.

__ADS_1


__ADS_2