
Angga menutup restorannya karena hari sudah malam jam sepuluh. Saat menutup restoran mata Angga tidak sengaja menatap sesosok orang sedang melihatnya dari kejauhan di balik tiang listrik. Angga melihat sebentar sebelum akhirnya naik ke atas menuju kamarnya. Ia meletakan kunci restoran di atas nakas lalu membuka kancing bajunya satu persatu hingga terlepas, lagi- lagi Angga melihat orang yang ia lihat saat di bawah tadi. Angga segera menutup jendelanya dengan tirai lalu melesat ke kamar mandi. Setelah mandi ia memakai baju hangat bewarna hitam.
setelah memakainya Angga sedikit menyingkap tirainya sedikit untuk melihat apakah masih ada orang yang memperhatikannya atau tidak.
''buat apa dia di situ...'' gumam Angga.
Angga keluar dari restoran lalu berlari pelan sambil menyebrang jalan raya ia tertuju pada tempat seseorang yang memperhatikannya tadi. Saat sampai orang itu sudah menghilang angga mengacak pingganya sambil melihat sekitar
''tidak ada orang..'' gumam Angga sambil berbalik. Saat berbalik Angga di sambut oleh lima preman berbadan besar. Rupanya salah satu preman tadi sedang mengintai karena mereka ingin merampok restoran milik Abra.
''ada masalah...'' kata Angga tenang. Lima preman itu saling melihat satu sama lain sambil tertawa tangannya memegang balok cukup besar.
''berani sekali kamu sendirian menghadapi kami anak muda!!"' kata preman itu ke Angga. Angga hanya diam ia menghembuskan nafasnya kasar
''buat apa takut!! ...'' jawab Angga
''berani- berani sekali kamu berkata seperti itu. Apa kamu tidak tau kalau kami yang mempunyai daerah sekitar sini...'' kata preman itu emosi. Angga hanya berdecih rendah
''yang punya pemerintah bukan kalian!! Enyahlah dari sini...'' kata Angga.
''sial...'' umpat preman itu
''kita habisi saja dia bos...'' ujar anak buah preman itu.
Preman itu mengangguk mereka langsung mengambil posisi untuk memukul Angga. Angga hanya diam namun matanya memperhatikan di sekitarnya
''hyaaa...'' preman itu mulai melangkah maju ke Angga dan melayangkan kayu besar ke kepala Angga. Dengan sigap Angga menghindar ke samping lalu mematahkan tulang tangan preman itu hingga kayu yang di pegangnya jatuh ke tanah dengan sekali hentakan preman itu jatuh di bawah kaki teman- temannya. Empat preman lainnya tercengang namun sedetik kemudian mereka berempat langsung memukul Angga secara bersamaan.
''akh'' jerit Angga saat salah satu preman itu menusukan pisau lipatnya ke perut Angga ia sempat terjatuh namun di tahan. Angga dengan cepat ia menghabisi ke empat preman itu dan berlari menuju restoran yang di bukanya.
''akh'' ringis Angga sambil berlari dan memegang perutnya yang berdarah.
''jangan kabur woy...'' teriak preman itu sambil mengejar Angga.
Dengan anfas yang tersenggal Angga mempercepat larinya sambil melihat ke belakang.
__ADS_1
Brakkk...
Dengan cepat Angga masuk ke restoran dan menguncinya. telat sedetik saja preman itu bisa masuk dan menghancurkan isi restoran. Setelah selamat Angga tersungkur begitu saja di depan pintu . Matanya perlahan tertutup sempurna kesadarannya perlahan menghilang nafasnya berhembus lemah.
*****
Makan malam di sebuah meja makan, Ratna tengah melipat tangannya di dada sedangkan matanya menatap tajam ke anak gadisnya. Ardi mengetuk jarinya di meja makan sambil menaikan sebelah alisnya. Adrian **** senyum melihat adiknya sedang di sidang mamah dan papahnya dan Abra ia menopang dagunya di meja makan sambil memainkan hpnya.
Ratna, tadi siang ia di kirimi oleh putra bungsunya sebuah foto dan Ratna bahagia. Malam ini Ratna akan menyuruh Aika untuk menikah dengan Angga.
''Ai...'' panggil mamah. Aika langsung bersekedap ia memberanikan diri untuk melihat wajah mamahnya.
''iya mah...'' jawab Aika
''mamah ingin----''
Tiba- tiba hp Abra bunyi, ia melihat layar hpnya salah pegawai menelfonnya. Hal itu membuat Ratna menghentikan pembicaraannya.
''hallo...'' kata Abra serius
''tuan, Angga mengalami sesuatu ia tersungkur di lantai pintu dan berdarah...'' lapor pelayan itu. Ridwan tak sengaja melewati tempat kerjanya dan tidak sengaja melihat Angga tersungkur ke lantai ia langsung panik dan mencoba untuk membuka pintu namun tidak bisa.
''baiklah sekarang jaga dia...'' perintah Abra
''pintu retoran terkunci tuan tidak bisa di buka...'' kata pelayan
''astagah, semoga dia tidak apa- apa...'' kata Abra sambil menutup telfonnya.
''kenapa...'' tanya Ratna.
''terjadi sesuatu dengan kak Angga mah, karyawan Abra tadi bilang kalau kak Angga pingsan di depan pintu restoran dalam keadaan berdarah parahnya pintu retoran itu terkunci...'' jawab Abra. Aika langsung berdiri tanpa sadar air matanya jatuh. Aika langsung mengambil kunci mobil Adrian yang berada tidak jauh dari dirinya. Aika lari begitu saja melesat ke dalam mobil sedangkan Abra dan lainnya menyusul.
''panggilkan dokter dan polisi Adrian...'' titah Ardi sambil ingin menyusul Aika dan Abra yang sudah pergi. Ratna hanya diam di rumah sambil menangis.
Begitu sampai Aika langsung turun dan menuju pintu restoran. Aika meraih hendle pintu dan membukanya berkali- kali
__ADS_1
''kakak...'' panggil Aika dari luar.
''kakak...'' panggil Aika lagi
''kakak hiks!!'' panggil Aika sambil menangis. Mata Angga perlahan terbuka saat seseorang memanggil namanya. Angga memfokuskan penglihatannya yang sempat buram di sisa tenaganya Angga mencoba bangun dan membuka pintu itu.
''kakak...'' pekik Aika yang langsung memeluk Angga
''akh...'' ringis Angga sambil memegang perutnya
''mana yang sakit...'' kata Aika langsung melepaskan pelukannya. Angga mencoba untuk tidak membuat Aika khawatir.
''tidak ada Ai, tadi kakak Cuma istirahat!! Ya istirahat...'' kata Angga pelan, nafasnya terengah- engah.
''bohong terus itu darah apa..'' tunjuk Aika di lantai dan tangan Angga yang sedang memegang perut sebelah kanannya
''Ai bantuin kakak boleh...'' kata Angga yang semakin lemah
''apa kak...'' tanya Aika
''kakak lelah, kakak tidur sebent—'' tubuh Angga roboh begitu saja ke dalam pelukan Aika. Aika langsung panik
''kakak, kakak...'' panggil Aika namun Angga tidak menjawab malah tangan yang berada di perutnya kini terjatuh.
Abra, Adrian dan Ardi baru saja sampai mereka bertiga langsung mengambil alih tubuh Angga dan di baringkannya di atas sofa. Adrian segera memerika denyut nadi Angga.
''masih ada tapi lemah...'' beritahu Adrian.
''mana dokternya...'' kata Aika histeris. Tak lama kemudian Pram datang.
''ada apa ini...'' kata Pram yang langsung mengeluarkan alat medisnya
''aku tidak tau...'' jawab Ardi. Kini setelah mereka menyingkir Pram mengatur alat- alatnya seprti oksigen. Pram membalut luka Angga hingga selesai.
Setelah selesai Pram menyeka keringatnya
__ADS_1
"Lukanya tidak terlalu parah! Tidak sampai menembus ke dalam perutnya!! Jika itu terjadi mungkin lelaki ini sudah meninggal..." tutur Pram ke Ardi. "Biarkan dia istirahat!! Kasian banyak sekali lebam di tubuhnya" kata Pram lagi. Pram bangkit dari duduknua sejenak ia melihat Aika yang berurai air mata. Aika perlahan mendekat ke Angga
"Jangan sakit kak... jangan buat Ai kehilangan seseorang untuk di benci...." kata Aika sambil mengusap kepala Angga. Karena sofanya cukup besar Aika naik ke sofa tersebut dan tidur di samping Angga sambil memeluk dada bidang lelakinya.