
Di kediaman rumah Ardi, seisi rumah nampak sedih terlebih lagi Ratna sejak semalam anak gadisnya itu belum pulang ke rumah.
''ya tuhan, di mana kamu nak hiks...'' Ratna bersandar di bahu Ardi. Ardi mengusap belakang Ratna.
''Ran coba hubungi pengawal suruh mereka cari keberadaan Aika...'' kata Ardi. Adrian mengangguk sejak semalam abangnya Aika itu tidak tidur karena mencari Aika ke mana- mana.
''kenapa sih Ran kalau adikmu mau keluar itu gak tau, ya tuhan anakku...'' kata Ratna lagi
''Ran gak tau mah, Ran kan baru pulang ke rumah...'' jawabAdrian sambil menelpon pengawal dan orang suruhan lainnya.
''bagaimana...'' tanya Ardi.
''salah satu pegawal bilang kalau Aika pergi ke restoran Abra tapi setelah itu ia menghilang...'' kata Adrian. Ratna menangis menjerit saat mendengar perkataan Adrian. Ardi menutup matanya guna meredam amarah. Ardi melepaskan dekapannya ia mengambil kunci mobil lalu keluar.
''papah mau kemana?'' tanya Adrian
''restoran...'' jawab Ardi singkat. Adrian ikut berdiri dan mengekori papahnya. Sedangkan Ratna menyeka air matanya dan menyusul Ardi dan anaknya.
******
Pagi telah menyapa, Aika membuka matanya saat sinar matahari masuk ke dalam kamar melewati atap yang bolong. Aika bangun dari tempat tidurnya sambil menyibakan sarung tipis.
Sarung?
Aika melihat ke bawahnya namun di tempat itu sudah kosong, rupanya sarung ini alasnya Angga untuk tidur dan di berikannya saat subuh tadi. Aika menurunkan kakinya dari atas kasur hingga menjadi duduk di tepinya, rambutnya ia perbaiki hingga menjadi kunciran asal. Angga yang baru saja selesai mandi langsung masuk ke kamar ia hanya melilitkan handuk putih usang di pinggangnya. Mata Aika membulat saat melihat body Angga seperti atlet dada yang bidang dan perutnya berbentuk enam kotak. Dengan cuek Angga membuka lemari dan mengambil pakaiannya ia tidak memikirkan jika ada Aika di belakangnya
''morning Ai...'' sapa angga sambil memilih baju. Hari ini ia akan memakai kemeja bewarna hitam dengan celana bewarna senada karena seragam kerjanya kotor dan belum sempat di cuci.
''hm...'' balas Aika yang langsung keluar kamar, ia membuka pintu usang itu lalu duduk di meja makan yang sudah rusak. Matanya menjelajahi setiap sudut ruangan itu. Mungkin setelah dari sini ia akan berbicara ke adiknya untuk memberikan Angga tempat tinggal yang layak seperti di restoran.
Aika pov
Kenapa dengan perasaanku? Sejak pertama kali bertemu dengannya jantungku berdegup kencang, diriku seperti magnet yang ingin terus menempeli kakak. Padahal lelaki itu sudah memperkosaku, kenapa aku tidak menjauh dari dirinya ya tuhan. Sungguh aku membencinya.
Author pov
''Ai kamu gak mandi...'' suara Angga membuyarkan lamunan Aika. Reflek Aika menengok ke belakang. matanya lagi- lagi terbelalak melihat ketampanan Angga, rambut yang biasanya jatuh ke dahi ia sisir ke belakang namun sebagian rambut itu jatuh kesampingnya. Aika menggelengkan kepalanya.
''gak mau, sampai di rumah aja baru mandi'' kata aika sambil beranjak berdiri dan melewati Angga begitu saja di depan pintu kamar. Aika mencari tasnya setelah dapat ia keluar dari kamar.
******
''Abra...'' panggil Ardi yang baru saja sampai.
''iya pah...'' jawab Abra yang baru saja keluar dari dapur.
''semalam kamu ke mana? Kakakmu hilang setelah dari sini...'' kata Ardi. Abra kaget sejak semalam ia pulang ke rumah dan langsung tidur di kamar
''Abra kan pulang pah ke rumah lewat dapur terus langsung tidur!!'' jawab Abra sambil mikir terakhir yang di sini siapa. Mata Abra membulat
''Angga, karyawan baru dia terakhir disini pah! Mungkin dia tau keberadaan Aika...'' kata Abra sambil mengambil hpnya tapi tiba- tiba ia lupa dan langsung memukul jidatnya
''Abra lupa Angga gak punya hp...'' Abra sambil memasukan kembali hpnya di kantong
''Angga siapa...'' tanya Adrian serius
''Anggabaya Cakara...'' jawab Abra.
Mata ketiga orang di depannya Abra membulat sempurna, Abra tersenyum masam sambil menggaruk belakang kepalanya.
''jangan marah pah, mah dan abang!! Abra bisa jelasin...'' kata Abra.
''dia sudah bebas...'' kata Ratna pelan.
Ting
Lonceng restoran berbunyi saat pintu terbuka kedua orang itu masuk Aika dan Angga
''mamah...'' pekik Aika. Ratna langsung berbalik saat Aika.
''ya ampun nak kamu dari mana...'' Ratna langsung memeluk Aika erat sedangkan Adrian, Ardi dan Abra menatap Angga. Angga menundukukan wajahnya
Adrian menerjang Angga dan memegang kerah bajunya.
''kau bawa kemana adikku...'' teriak Adrian, untung saja restoran belum buka, satu tangan Adrian siap untuk memukul Angga.
''abang jangan, abang Ai mohon...'' pinta Aika memelas '' Ai bisa jelasin...'' kata Ai lagi. Ai menautkan kedua tangannya. Adrian menghempaskan Angga hingga ia mundur ke belakang. Angga memperbaiki kerah bajunya.
''hm mending kita semua duduk lalu sarapan. Abra yakin kalian semua belum sarapan kan hehe... abra sudah buat nasi goreng dan teh hangat... sebentar...'' Abra mendorong tubuh Adrian, papah, mamah dan lainnya duduk di meja panjang. Angga dan Aika duduk berdekatan. Abra segera melesat ke dalam dapur lalu keluar dengan membawa nampan besar berisi menu sarapan pagi mereka.
''ayo di makan dulu, abang Ran tatapannya jangan seperti itu dong ayo lembutan dikit hehe...'' kata Abra ceria, Adrian membuang pandangannya dari Angga. Ardi hanya menghela nafasnya sedangkan Ratna mengelus tangan anaknya.
__ADS_1
''jadi bagaimana kronologinya...'' kata Ardi. Angga membuang nafasnya lalu mengangkat wajahnya. Angga meneliti satu persatu wajah di hadapannya. Rupanya mereka adalah keluarga Agatha. Tante Ratna. Om Ardi dan juga Adrian
''malam itu Aika datang ke restoran saat saya ingin menutupnya. Dia bilang kalau dirinya lapar akhirnya saya suruh masuk. terus selagi saya masak tiba- tiba saja,.. Angga sempat melihat Aika di sampingnya yang sempat melotot
''tiba- tiba saja Aika menghampiri saya karena matanya kelilipan, ia menyuruh saya untuk meniupnya lalu setelah itu ia pergi begitu saja...'' kata Angga sedikit berbohong.
''iya itu benar pah, mah dan abang Ran. Setelah Ai keluar tiba-tiba Ai salah jalan karena masih kelilipan sehingga bertemu dengan sembilan orang pria preman, ia ingin menodai Ai. Ai pikir hidup Ai bakal hancur lagi, Ai sempat di bawa mereka mah ke suatu tempat tapi tiba- tiba saja kak Angga datang dan nolong Aika. Ai langsung di bawa lari sama kakak dan akhirnya nginap di rumah orang tua angkatnya tapi kita gak ngapain- ngapain kok pah, mah , abang...'' jelas Aika dengan sedikit ke bohongan. Ratna menutup kedua mulutnya air matanya sudah berderai begitu saja.
''terus kamu gak makan Ai...?" selidik Adrian ia menaikan alisnya sebelah. Ai meringis dalam hati. Angga melirik Ai yang sedang gelisah
''dia gak jadi makan karena temannya nelpon...'' jawab Angga sambil terdehem pelan. ''sembilan orang lelaki itu mencariku, mereka orang suruhan keluargaku. Mereka gak sengaja menemukan Aika sendirian di luar..'' kata Angga. '' mereka ingin membunuhku...'' jawab Angga kini suaranya nyaris tercekat di batang tenggorongkannya.
''apa kamu Ethan Nathael Daniel Anthony...'' kata Ratna hati- hati. Angga terdiam sejenak matanya ia tundukan ke bawah perlahan ia mengangguk.
''iya bu aku Ethan...'' jawab Angga.
Adrian mengepalkan tangannya kuat ia berusaha untuk tidak memukul Angga sedangkan Ardi hanya diam sedangkan Abra tersedak dengan nasi gorengnya.
''buat apa mereka mencarimu...'' kata Ardi. Angga menggeleng tidak tau
''mungkin mereka ingin menguasai harta daddy...'' jawab Angga.
''baiklah Ethan, panggil aku mamah dan ini,'' Ratna menunjuk Ardi '' panggil dia papah sedangkan di sana, mungkin kalian seumuran panggil saja dia Ran... sama di ujung sana Abra'' kata Ratna tersenyum lembut. Angga mengangkat wajahnya tak menyangka. ia pikir dirinya akan di eksekusi ternyata, Angga mengembangkan senyumnya.
''apa kalian menerimaku setelah kejadian itu...'' kata Angga. Ratna mengangguk
''itu hanya masa lalu lagian Aika sudah tidak apa- apa malah selama beberapa minggu ini ia terlihat sedikit santai dan banyak tersenyum...'' kata Ratna ambil melihat Aika. Aika menyendokan nasi gorengnya ke mulut sambil tersenyum masam.
'' Abraham...'' panggil Angga. reflek Abra langsung melihat Angga. " Abraham yang suka berjualan di tepian Mahakam bocah berusia tiga tahun, aku sering melihat anak itu karena lucu, murah senyum suka menghibur'' kata Angga sambil mengingat masa lalunya. ''tante Ratni suka menyuruhku untuk membeli dagangannya setiap aku pulang sekolah tante Ratni menjemputku dan ia meminta untuk menemaninya duduk di tepian Mahakam. katanya dia merindukan kakaknya dan juga keponakan tampannya...'' kata Angga lagi. abra mengingat kejadian masa lalunya memang benar waktu itu ada seorang remaja berseragam sekolah membeli dagangannya. ''ibu Ratna dengan wajah polosnya selalu duduk sambil melihat Abra menjejalkan jualannya. rambut tergerai bewarna coklat pipi yang chuby matanya memancarkan kasih sayang dan cinta...'' kata Angga sambil tersenyum. lihatlah Ratna nampak tersipu ia memegang kedua pipinya. Abra nampak terharu dengan itu
''ternyata dunia itu sempit ya kak, di masa lalu kita pernah bertemu dan di masa depanpun begitu!! mungkin ini namanya takdir. Angga tertawa pelan sambil mengangguk.
''hm!! mungkin ini namanya jodoh ckckck!!'' jawab Angga.
''Ar benarkah kalau dulu aku cantik!! aduhh Angga ...'' kata Ratna malu. ardi menengok ke Ratna dan tersenyum manis sedangkan di bawah meja kakinya menendang kaki Angga.
''aww'' ringis Angga.
''kamu dari dulu cantik kok sayang... '' kata Ardi
Aika mendekatkan dirinya ke Angga
''kakak lihatlah mamah seperti anak abg!! uh...'' bisik Ai kesal, Angga hanya tersenyum cengengesan
''sengaja biar kakak gak di amuk masa Ai...'' balas Angga lagi.
******
Eduardo baru saja sampai di Samarinda ia mengancing jas kebesarannya, kaca mata hitam begitu pas melekat di hidung pesek Ed. Ia akan pergi ke restoran tripllet A di mana di sana ia akan bertemu Angga dan juga kekasih hati saudara tirinya itu.
Tak butuh waktu lama akhirnya Ed sampai di restoran tersebut, matanya menyapu ke seluruh penjuru ruangan mencari sosok yang ia cari.
''itu dia...'' kata Ed sambil melihat Angga sedang berada di kasir. Mata Ed tak sengaja melihat Aika yang baru saja datang.
''Ai...'' panggil Ed, Aika menengok ke Eduardo saat ia ingin menghampiri Angga. Angga yang sedang menutup laci uang langsung menengok dan menatap Ed tajam. Eduardo menghampiri Aika.
''aku Eduardo Anthony !! apa masih ingat?'' kata Ed. Aika hanya diam alarm di otaknya mulai berbunyi. Ai ingat dia teman sekolah SMP nya dulu Ai mundur selangkah. Setiap bertemu lawan jenis Aika akan waspada kecuali keluarganya dan juga Angga.
''iya aku ingat, kamu Eduardo Anthony yang suka ajarin aku bahasa thai di Smp dulu!! Kata Ai tersenyum manis.
''kupikir kamu lupa...'' kata Ed. Aika menggeleng sambil tersenyum
''enggak! Aku masih ingat karena nama belakangmu mirip dengan seseorang...'' kata Ai sambil menarik kursi lalu duduk. ''duduklah...'' kata Aika lagi. Aika sempat melirik Angga yang sedang menatap tajam Ed.
Diujung sana Angga mencengkram kuat di pinggiran meja kasir, matanya tajam seperti harimau ingin memangsa makanannya.
''oh ya, siapa?" kata Ed sambil tersenyum iblis. Aika menggedikan bahu lalu membuka menu makanan. Ia akan meladeni permainan Ed untuk sekarang ini. sebenarnya ia sudah makan tadi saat bersama papah dan mamah dll. Aika ingin mengerjai Ed karena tidak suka
''selamat siang nona muda, ada yang bisa aya bantu..''sapa pelayan sambil memegang pulpen dan kertas
''selamat siang juga kakaknya,''sapa balik Aika membuat pelayan itu tertawa. Beginilah Aika selalu baik terhadap semua orang tidak perduli pekerjaannya apa yang penting mereka baik, sopan maka Aika dan membalasnya dengan tak kalah baik. ''mbak Kha Ai pesan samyang dua sama minumnya orange jus aja...'' pesan Aika.
''baiklah...'' kata Kha sambil mencatat makanannya lalu pergi.
''kamu suka makan samyang...?" tanya Ed. Aika mengangguk
''samyang itu enak loh Ed...'' kata Aika tanpa embel- embel kakak padahal Ed lebih tua darinya setara dengan Angga dan Ran umurnya. Ed meneguk liurnya sendiri ia mengangguk sambil membuka kancing kerahnya
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pesanan mereka jadi dan yang mengantarnya Angga.
''silahkan di nikmati...'' suara bariton Angga membuat Aika sedikit bergedik pasalnya suara itu terdengar seperti alarm untuk Aika agar tidak macam- macam.
__ADS_1
"Angga, kamu Anggabaya Cakara kan!! Yang baru keluar dari penjara dan bekerja bangunan di salah satu proyekku..." kata Eduardo sengaja membesarkan suaranya dan pura- pura kaget. Angga mengangguk dingin dalam hatinya merutuk Ed.
Cari perhatian, batin Angga
"Kamu tau sayangku Ai, " Eduardo sempat melihat Angga mengeraskan rahangnya. "Dia ini menolong daddy AKU dari kecelakaan di sana!! Dia melindungi daddyku dari jatuhan batu hingga ia nyaris kehilangan banyak darah..." beritau Eduardo ke Aika. Aika hanya menatap Angga dengan tatapan tidak percaya.
''senang bertemu denganmu lagi...'' kata Angga sopan. Ed hanya mengatupkan rahangnya. Menurut Ed adik tirinya itu miskin tidak punya apa- apa tapi dia mempunyai jiwa elegant, berkarisma dan tegas terlihat dari tampangnya berbeda dengan dirinya walaupun sudah memakai barang- barang ternama tapi tetap saja terlihat kecil dan menjijikan. Ed masih ingat perkataan Angga
''seorang buruk rupa tidak akan pernah berubah menjadi pangeran berkuda putih''
maksud dari kata itu adalah hati yang buruk rupa bukan penampilan. Tapi kebanyakan manusia menilai orang dari penampilan bukan hati.
'' kalau gitu saya kembali bekerja...'' kata Angga sambil melangkah pergi. Ia meletakan nampan di dapur dan kembali ke meja kasir
"Mas saya pesan orange jus sama mhh, " wanita itu nampak berfikir sambil melihat Angga menulis pesanannya
Boleh juga nih.. gumam wanita itu. Wanita itu mirip seperti pelacur jalanan. Celana pendek ketat bewarna hijau mirip seperti dalaman dan baju bermotif garis lalu bertali satu warna warni dan tas bewarna coklat tak lupa rambut panjang se pinggang bewarna pirang menyerupai tembaga
Mata Ai tak sengaja melihat seorang wanita sedang memandang Angga yang sedang menundukan kepalanya sambil menulis. Wanita itu menatap Angga seolah- olah ingin memilikinya. Ai yang melihat itu menjadi geram. Ai menggebrak mejanya lalu menghampiri Angga dan sekarang tepat di sampingnya.
"Mbak mau pesen apa? Cepetan..." tanya Ai ketus, Angga yang baru sadar ada Ai di sisinya langsung mendongakan wajahnya
''Ai...'' kata Angga.
''Mbak tolong jauh dari mas itu dong!! Sepet mata saya nih..." ujar wanita itu sambil mengibas- ngibaskan tangannya. Ai mengacak pinggangnya sambil melotot.
"Heh mbak ataupun siapa kamu!!! Dia ini suamiku, sekarang aku lagi hamil anaknya dua bulan!! Jadi jangan ganggu suamiku!! Pergi sana..." ucap Aika berapi- api ia memegang perut ratanya. Angga di buat kaget oleh sikapnya Aika. Jujur ia merasa bahagia dan juga lucu. Anak? Lah wong waktu di perkosa aja belum baligh Aikanya.
"Beneran mas.." tanya wanita itu lagi. Angga sempat terdiam dan befikir mau ngomong apa? Aika melirik Angga dan menaikan Alisnya. Angga menggarukan kepalanya.
''maaf mbak, tapi benar dia istri saya!!'' kata Angga
Angga menarik sudut bibirnya. ia memeluk Aika dan mencium bibir gadis mungil itu lembut penuh dengan cinta, awalnya Aika kaget tapi ia membiarkan itu malahan tangan Aika sudah mengalung ke leher Angga. Gak perduli banyak pengunjung yang lihat. Eduardo mengepalkan tangannya
Brengsek umpatnya pelan .
Wanita itu nampak shock saat melihat pemandangan di depannya, ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. tangan Angga sudah ia selusupkan di balik blues biru Ai tepatnya Angga memegang perut Ai. Seketika Angga melepas ciumannya dan tersenyum lembut
"Iya dia istri saya..." jawab Angga pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aika.
"Udah jelas kan udah sana pergi..." usir Ai ketus sambil menunjuk pintu keluar.
"Ih galak banget sih..." wanita itu menatap Ai jutek lalu pergi begitu saja. Sedangkan Aika melihat Angga yang berseri- seri
"Apa liat- liat? Aku gak mau pelayan sepertimu tidak bekerja konsisten kasian adikku membayarmu tapi bekerja saja tidak becus.. " kata Ai tidak jelas. Angga nampak menautkan kedua alisnya.
"Tadi dia pesan Ai terus kakak catat pesanannya di sini!! apa itu tidak konsisten dan tidak becus coba di mana letak salahnya! Kakak juga gak ladenin perempuan itu kok..." jelas Angga sambil menggenggam satu tangan Ai. Ai gak tau harus ngomong apa ah sudahlah pikirnya.
"Tau ah!! ." Hawab Aika sambil kembali ke tempat duduk
"Kenapa Ai??" Tanya Eduardo pura- pura tidak tau.
"Tidak apa- apa kak" jawab Ai sambil menikmati samyang. Eduardo pun ikut menikmatinya tapi ia memuntahkannya kembali, karena rasanya pedas. Ed sangat tidak suka makan pedas
"Ini minumnya" kata Angga sambil meletakan dua gelas orange jus di meja. Angga segera berbalik baru selangkah ia sudah mendengar protesan Eduardo
"Makanan ini tidak enak..." Eduardo menjatuhkan samyangnya dari atas meja dan membuang sumpit yang ia pegang. Angga kemudian berbalik lagi
"ah aku lupa harusnya tadi kamu memesan ramen saja karena tidak pedas" kata Angga sambil tercibir remeh, ia menunduk untuk mengangkat pecahan beling itu
"Kalau tidak bisa masak tidak usah bekerja..." ucap Eduardo. Angga menghentikan aktifitasnya lalu berdiri melepas apronnya kasar dan menggebrak meja
Brak!!
"apa anda punya masalah dengan saya tuan...." tanya Angga ia sudah tidak memperhatikan sekitar terutama Aika. "Kalau tidak enak jangan di buang!! Kamu pikir cari makan itu gampang huh!! " kata Angga lagi. Eduardo tersenyum sambil memandang Aika.
"Ai kamu mau jadi istriku" kata Eduardo.
Angga gelap mata ia mencengkram kerah meja Eduardo hingga ia berdiri dan
Bugh
Bugh
Bugh
"Brengsek!! " umpat Angga. Aika ikut bediri dan melerai pukulan Angga
Angga masih memegang kerah baju Eduardo. Ed nampak kewalahan maklum Eduardo tidak jago berkelahi beda dengan Angga yang dulunya sempat ikut tekwondo dan menjadi geng perkelahian seluruh Samarinda.
"Apa- apaan ini.." gumam Adrian yang baru saja sampai di restoran adiknya di belakang Adrian ada papah dan mamah mereka.
__ADS_1
"Ai..." panggil Ratna. Ai langsung menghampiri ibunya dan masuk ke dalam pelukan Ratna
"rupanya orang- orang itu suruhanmu huh!! Ketahuan dari pikiranmu yang licik Ingat Eduardo!! Aku tidak perduli dengan harta daddy sedikitpun atau segalanya!! Aku sudah terbiasa hidup susah sejak daddy mengusirku!! Tapi ingat!! Tidak selamanya seseorang itu di bawah!! Karena kamu dan ibu sialanmu . aku harus kehilangan mommyku harus kehilangan cinta dan kasih sayangnya!! Beruntung daddyku memungut ibumu dan juga kamu kalau tidak, sudah di pastikan hidupmu sama melaratnya denganku bahkan lebih parah!!!" Kata Angga sambil menghempaskan tubuh saudara tirinya itu terjerembab di bawah. "Karena kamu dan ibumu keluargaku hancur!! Mommyku di usir entah kemana!! Dan sekarang kamu ingin mengambil Aika? Tidak akan Ed!! Mungkin aku bisa melepaskan daddyku untukmu tapi tidak untuk Aika..." ucap Angga matanya mengisyaratkan luka yang mendalam. "Semoga tuhan mengambil seluruh harta daddy!! Karena harta keluarga yang ia bangun hancur melebur..." desis Angga. Angga berbalik seketika ia pergi begitu saja meninggalkan kekacauan yang ia buat.Angga pergi ke tempat peristirahatan khusus karyawan. tangannya sakit ketika habis memukul Ed habis- habisan. Anga sempat meringis sambil memegang pergelangan tangannya.