Aika with a trouble maker

Aika with a trouble maker
Episode 7


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Balikpapan..


 


Dr. Daniel baru saja keluar dari mobilnya ia melangkah terburu- buru saat memasuki rumah Barraq.


''Barraq, Barraq...'' panggil Daniel namun si empu yang punya nama tidak menjawab melainkan anaknya Eduardo.


''kenapa om berteriak...'' kata Ed sambil menuruni anak tangga.


''mana daddymu..?'' kata Daniel, Ed memiringkan kepalanya di belakang Daniel ia melihat sesuatu


''apa yang om bawa...'' kata Ed sambil tersenyum


''suatu yang sangat berharga...'' jawab Daniel sambil melangkah mundur. Tatapan Eduardo seperti orang psikopat akut


''berikan padaku, nanti akan ku berikan ke daddy..'' kata Ed sambil mengulurkan tangannya


''tidak perlu biar om saja yang memberikannya langsung kalau gitu permisi...'' kata Daniel sambil buru- buru melangkah pergi.


Prok prok prok


Eduardo menepuk tangannya tiba- tiba saja sembilan pria bertubuh kekar keluar dan mengelilingi Daniel. Daniel membulatkan ke dua matanya bertas yang ia bawa di peluknya erat.


''ambil berkas itu...'' titah Ed ke anak buahnya. Anak buah itu mengangguk dan menatap Daniel yang ketakutan, pria bertampang preman itu menjulurkan tangannya ke Daniel tanda agar dokter itu menyerahkan berkasnya. Namun Daniel menggeleng keras


''kenapa kamu ingin berkas ini Ed, lagian kamu tidak tau isinya...'' kata Daniel berani.


''aku tau om! Berkas itu surat DNA bukan? Antara daddy dan pria itu, sudah ku bilang Ethan telah meninggal..'' kata Eduardo frustasi lalu tertawa keras ''Derrek rampas berkas itu lalu usir dia..'' perintah Ed muak. Derek mengangguk sambil mendekati Daniel dengan sekali hentakan lelaki berambut panjang itu sudah mengambil berkas dari dokter itu


''ini tuan...''' kata Derrek. Ed menyuruh sembilan preman itu mengusir Daniel dengan bahasa isyarat, hanya mengusir bukan membunuh. Setelah pergi Ed membuka berkas itu dan membacanya dengan teliti. nafas Ed tercekat matanya membulat lebar dan jantungnya berpacu kencang. Eduardo meremas lembaran kertas dari dokter Daniel matanya berkilat ke tidak sukaan, ternyata benar lelaki itu adalah Ethan saudara tirinya.


''brengsek, ternyata ke curigaanku benar!!'' ucap Ed tidak suka. "aku harus merubah surat ini agar daddy tidak mengetahuinya..'' sambung Ed. "ah...'' Eduardo memukul kepalanya sendiri harusnya ia menyuruh preman tadi untuk membunuh Daniel bukan mengusirnya begitu saja. Bisa saja Daniel nanti memberi tahukan ke daddnya.


''sudah tuan...'' lapor Derrek


''Derrek, kamu dan anak buahmu pergi ke Samarinda dan bunuh lelaki yang ada di foto ini... buang mayatnya ke sungai Mahakam...'' perintah Ed sambil memperlihatkan foto Angga yang diam- diam ia mengambilnya saat di pyoyek.


''baik tuan...'' kata derrek sambil berlalu pergi


Ed tersenyum puas


■♡■♡■♡■♡■


Samarinda...


Angga melipat kedua tanggannya lalu bersandar di tengah pintu satu kakinya ia angkat dan di tumpukan di rangka pintu, terlihat ia sedang melamun. Melamuni seseorang yang tidak menampakan lagi dirinya selama seminggu ini.


''Ai kalau kamu tau ini kakak, bagaimana?'' gumam Angga pelan. Jam menunjukan pukul sembilan malam restoran mulai sepi. Angga membuang nafasnya ia menegapkan tubuhnya lalu memasukan kedua tangannya ke dalam kantung celana, ia akan menutup restoran ini lalu pulang ke rumah. Angga sempat melihat arah luar matanya tidak sengaja melihat Aika sedang berdiri di sebrang jalan dengan menggunakan rok panjang hitam dan jaket kepalanya ia tutup dengan tudung jaket tersebut. Aika melangkah mendekati Angga, setelah sampai Aika sempat menatap mata milik Angga.


''aku lapar...'' kata Aika ke Angga. Angga menatap Aika dan mengangguk


''mau makan apa hm...;; kata Angga lembut tangannya tetap bertahan di saku celananya.


''mau makan mie goreng...'' pinta Ai


''gak boleh...'' kata Angga cepat. Aika terdiam sejenak baru kali ini ada sorang pria yang melarangnya makan mie selain seseorang di masa lalunya.


''tapi aku mau mie, pokoknya aku mau makan mie...'' kata Aika cempreng


''Ai...'' kata Angga tegas, suara baritonnya begitu terdengar, Aika langsung menunduk.


Ternyata benar dia kakak, dari nada peringatannya aja sama. Batin Ai


''kakak...'' panggil Ai. Tubuh Angga menegang ''kakak aku mau makan mie...'' pekik Ai keras ia menghentakan kakinya satu


''namaku Angga bukan kakak...'' kata Angga

__ADS_1


''kalo Ai mau panggil kakak gimana...'' kata Ai.


''terserah...'' kata Angga sambil melengos pergi.


Angga melesat ke dalam dapurnya ia mengambil beberapa bahan di kulkas untuk di masak. Aika memicingkan matanya


''ternyata dia Anggabaya Cakara! Pria yang sudah memperkosaku di ruangan kosong!!'' kata Ai, perlahan ia melepas tas kecilnya lalu mendatangi Angga.


''kakak masak apa..'' tanya Ai sambil melihat Angga.


''sayur...'' jawab Angga singkat. Ai memberanikan diri masuk ke dalam kukungan Angga. Kejadian sepuluh tahun yang lalu tidak membuatnya takut. Aika mencoba untuk menarik kerah baju Angga agar mendekat namun Angga menahannya dengan cara memegang pinggir meja di belakang Aika


''apa yang kamu lakukan Ai, jangan macam- macam gadis manis...'' kata Angga. Kini jarak mereka hanya lima senti. Aika menatap mata itu sekali lagi. Mata bewarna hitam yang tajam tapi lembut


''gadis manis yang mana hm? Jika ke gadisanku sudah kakak ambil merasai cecapan manisnya... aku masih ingat itu kak...'' desis Aika matanya menyorotkan rasa sakit yang mendalam. Angga dapat melihat mata Aika telah memerah dan berkaca- kaca. Angga mendekatkan bibirnya dan menyentuh bibir Aika menyesap pelan bibir gadis itu setelah cukup lama akhirnya angga melapasnya. Aika melepas cengkramannya dari kerah Angga dan pergi begitu saja ia mengambil tasnya dan berlari keluar.


''Aika...'' pekik Angga namun tidak di hiraukan. Angga terduduk frustasi.


Sepanjang jalan Aika menangis ia memeluk dirinya sendiri, Aika terus berjalan hingga ia sadar kalau ia tersesat di sebuah sudut jalan yang sangat sepi dan gelap di sudut sana terdapat sebuah rumah reot. Di balik kegelapan sembilan lelaki orang suruhan Ed untuk membunuh Angga keluar mereka tersenyum saat melihat Aika. Mata aika membulat ketakutan langsung menguasai dirinya ia memegang tali tasnya sambil berjalan mundur


''mau kemana kelinci putih cantik, sini sama kita- kita...'' kata lelaki berpakaian hitam singlet rambutnya panjang sebahu.


''lumayan bos pengisi daya sebelum ngebunuh Angga...'' timpal lelaki lain. Mata Aika membulat


''kakak'' kata Aika pelan. Aika tidak salah dengar mereka menyebut nama Angga. Ke sembilan mirip algojo itu langsung memegang Aika dan menggiring gadis itu pergi


''kakak...'' teriak Aika ketakutan. Ia menangis histeris aika mencoba untuk berontak namun sia- sia.


''berhenti...'' teriak suara yang Aika kenal. Aika langsung menengok. Angga tengah di berdiri di belakang mereka. Mata Angga memancarkan tatapan membunuh di tangannya terdapat sebuah batangan besi yang ia dapat di sudutan gedung. Derrek memicingkan mata.


''whoaaww ini Ethan Nathael Daniel Antony bukan...'' kata Derrek sambil melipat kedua tangannya. Angga tersenyum sambil megayunkan besi itu di tangannya, perlahan ia melangkah maju


''cih, aku bukan Ethan tapi Angga...''jawab Angga. Derrek berdecih sambil melangkah maju juga.


''aku di perintahkan untuk membunuhmu esok pagi, tapi sepertinya tidak jadi!! Karena dirimu sudah berada di sini sekarang, ternyata tidak susah mencarimu tuan muda Antony...'' kata derrek mengejek. '' biarkan gadis itu, kita habisi lelaki ini dulu...'' perintah derrek. Angga tersenyum meremeh. Aika terlepas begitu saja dengan cepat ia berlari di belakang Angga


''bagaimana bisa ...''balas Aika


''nanti kakak jelaskan sekarang kamu mundur...'' kata Angga sambil melangkah maju, Angga sudah terkepung ia di kelilingi oleh sembilan orang suruhan Eduardo itu. Ke sembilan orang itu memegang pisau, kayu, dan benda lainnya. Aika bersembunyi di balik tong sampah besar.


''tuhan selamatkan dia...'' gumam Aika.


Angga diam, tangannya mencengkram kuat batangan besi itu dan


Bugh


Bugh


Bugh


Aika terpekik saat Angga memukul ke sembilan orang itu dengan sekali pukul, darah mengalir di mana- mana hingga pakaian putih Angga berciprat darah mereka. Angga sempat meringis karena ikut terkena pukulan di pelipisnya kepalanya berdenyut hebat. Angga menguatkan dirinya ia mencoba untuk melumpuhkan ke sembilan orang itu hingga terjatuh


''Aika keluar...'' teriak Angga. Dengan cepat Angga meraih tangan Aika dan membawanya lari keluar. Angga membawa Aika lari sejauh mungkin dari kejaran mereka.


''tangkap dia!!!'' perintah derrek sambil memegang dadanya. Ke sembilan lelaki itu berdiri dan mengejar Angga.


'' Angga menarik Aika bersembunyi di balik tembok yang gelap. Nafas mereka sama- sama terengah Aika memeluk Angga kuat ia tidak berani membuka matasnya


''kemana mereka...'' teriak salah satu dari mereka.


''kita kehilangan jejak tuan...'' teriak mereka lagi.


Aika membuka matanya ia ingin berteriak saat melihat ke sembilan preman itu berada di depan mereka tapi Angga membekap mulut Aika dengan tangannya


''ssttt it's ok!! Tutup matamu...'' kata Angga sambil memeluk Aika erat. Aika mengangguk dan menutup matanya lagi. Aika dapat menghirup aroma Angga yang menggelitik di hidungnya.


''besok kita cari lagi, pastikan mereka berdua mati...'' kata derrek sambil berlalu pergi bersama lainnya. Angga menyembulkan kepalanya sedikit sambil melihat mereka pergi dan menghilang. Angga membuang nafasnya lega


''hahhh mereka sudah pergi...'' kata Angga. Angga menundukan kepalanya dan melihat Aika masih memeluk dirinya kuat.

__ADS_1


''buka matamu, mereka sudah pergi...'' ujar Angga sambil mengangkat wajah Aika. Aika mencoba membuka matanya hal yang pertama ia lihat adalah senyuman Angga.


''apa yang terjadi...'' bisik Aika


''aku tidak tau, mereka pasti orang suruhan keluargaku!" kata Angga sambil menyingkirkan anakan rambut Aika.


''kakak punya keluarga?" tanya Aika. Angga mengangguk pelan


''punya tapi kakak di buang begitu saja sama daddynya kakak!!" jawab Angga. Aika mengeluarkan cairan beningnya.


''kenapa bisa...?" tanya Aika. Angga menggeleng pelan


''kakak tidak tau,'' kata Angga sendu,'' sebaiknya kita pergi Ai, hari semakin gelap entar kamu sakit...'' kata Angga sambil memegang Aika


''kita kembali ke restoran?" tanya Aika. Angga menggeleng, ia tidak mau ambil resiko untuk membahayakan Aika. Angga menunjuk sebuah gubuk tua, Aika membelakakan matanya, kejadian sepuluh tahun yang lalu itu tiba- tiba saja terlintas. Angga menghembuskan nafasnya seolah mengerti


''itu rumah peninggalan orang tua angkat kakak Ai, sementara kita nginap di sana!! Kakak janji tidak akan mengulang kejadian itu...'' kata Angga. Aika nampak ragu


''yaudah kalo gak mau...'' Angga pergi begitu saja membuat Aika ketakutan, Aika langsung berlari dan menautkan tangannya di lengan Angga.


''ikut...'' kata Aika. Sepanjang jalan mereka hanya diam angga dengan pemikiran keluarganya sedangkan Aika dengan pikiran perasaannya.


''Ai kamu membencinya kenapa gak menjauh dari dirinya sih...'' rutuk Aika dalam hati.


Setelah sampai Angga membuka pintu pagar dan mempersilahkan Aika masuk duluan.


''di sini gak ada apa- apa Ai kecuali setan dan teman- temannya...'' kata Angga sambil menutup pintu pagar. Ia mendekati pintu rumah dan membukanya.


Hal yang pertama Aika lihat adalah tanaman liar yang menjalar ke dinding- dinding rumah, gelap dan serem.


''aku takut...'' kata Aika sambil melihat dalam rumah. "kakak kok tinggal di sini sih...'' kata Aika


''karena kakak gak ada tempat tinggal Ai...'' jawab Angga sambil masuk ke dalam rumah ia membuka pintu kamarnya dan menyuruh Aika masuk. Saat Aika masuk matanya melihat seragam SD, SMP dan SMA milik Angga tidak lupa jaket kesukaan Aika yang suka Angga kenakan dulu.


''kakak masih menyimpan semuanya...'' kata Aika sambil menyentuh pakaian itu. Yang yang baru saja menyalakan lilin langsung mengagguk


''kakak belum sempat membuangnya!'' jawab Anga sambil melepas pakaian putihnya dan menggantinya menjadi kaos hitam.


''sementara kamu tidur di kasur atas dan kakak di bawah...''kata Angga sambil membuka selembar sarung tipis di bawah dan mulai berbaring. Aika melihat Angga mulai tertidur perlahan ia mendekati lelaki itu


''aku benci kakak...'' gumam Ai sambil menjauh dan tidur di kasur Angga.


♧♢♧♢♧♢♧♢


''brengsek...'' umpat seorang lelaki itu. Ia mengepal tangannya kuat. ''kenapa kalian tidak membunuh saja, tembak dia...'' kata Ed.


''tidak bisa tuan, karena tuan Angga sedang bersama anak dari seorang pengusaha terkenal Agatha corp...'' jawab seseorang di sana.


Ed menghempaskan tangannya ke udara.


''dasar tidak berguna...'' Eduardo mematikan telfonnya. "tuan tuan dia pikir siapa tuannya!! Brengsek..'' umpat Ed sekali lagi.


''kenapa Son...'' tanya seorang wanita cukup tua ia mengenakan gaun tipis bewarna biru.


''Ethan bebas mom, dan dia sekarang dia lagi di Samarinda...'' kata Ed pelan, Kathrina sempat tersedak minumannya


''bisa gagal rencana kita, jika daddymu tau kalau Ethan masih hidup...'' jawab Kathrina ketakutan.


''tenang mom, besok Ed akan ke sana dan membunuhnya!!'' kata Angga sambil menahan amarah.


''ibu dan anak sama saja merepotkan...'' kata Kathrina sambil menautkan kedua tangannya. ''Adelia kabur dari suami yang mommy suruh, entah ke mana...''kata Kathrina ''mommy takut ia akan menemui daddymu dan memberitau kalau orangnya mommy adalah penyuruhannya...'' sambung Kathrina.


''penyuruh apa mom..'' tanya Ed tidak mengerti


''mommy menyuruh sahabat mommy untuk menculik Adelia saat wanita itu di usir oleh daddymu!! Om Bram menculik Adelia lalu memperkosanya hingga hamil dan di bawa pergi jauh tepatnya di tanah Grogot...'' kata Kathrina. ''tapi sekarang dia kabur, mungkin ia ingin mencari keberadaan anaknya Ethan.'' Kata Kathrina lagi. Eduardo mengepalkan tangannya.


''kita harus menyingkirkan mereka secepatnya mom...'' kata Ed. Kathrina memngganguk sambil membelai rambut gelombang anaknya.


Di balik pembicaraan serius mereka dari jarak tiga meter seorang lelaki bersembunyi di situ dan mendengarkan pembicaraan mereka, dengan cepat ia pergi sebelum ketahuan. ia mngepalkan tangannya kuat kekecewaan dan penyesalan begitu dia rasakan sekarang

__ADS_1


__ADS_2