
Benarkah itu dia? Dia wanita yang selama ini Angga rindukan ? Menjadi penyemangat lelaki itu selama ia mendekam di penjara? Aika tambah cantik. Angga terdiam mematung, jantungnya bedebar kencang, pikirannya terus menahan perasaan agar tidak memeluk wanita itu.
Ai ini kakak sayang batin Angga.
"Jangan dong, Juna nanti kakak belikan yang bagus yah yah..." kata Aika memelas, tangannya ia tautkan seperti memohon kalung itu sangat berarti bagi Aika walaupun seseorang yang ia benci memberikan nya.
"Kak Ai juga gak pernah pake ! kan sayang kalung sebagus ini di pake cuma buat gantungan tas..." jawab Juna sambil memeggang kalung tepat di depan wajahnya. Juna sempat menyipitkan matanya karena terdapat sebuah nama di kalung tersebut
"Ethan..." gumam Juna.
"Apa?" Tanya Ai yang mendengar gumaman itu.
"Kalung ini ada namanya kak Ai, namanya Ethan..." kata Juna.
Tubuh Angga langsung menegang dengan cepat ia mendatangi Arjuna lalu mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil itu. Angga mencoba untuk membujuk Juna agar kalung itu ada di tangannya dan memberikannya ke Aika.
Aika sempat terdiam.
Flashback
Aika segera pergi dari balik kaca besar ia berlari cukup jauh lalu melepas cincin dan kalungnya, lalu cincin itu ia masukan ke kalungnya, ia letakan kalung itu di lantai berharap Angga mengambilnya setelah itu ia pergi keruangan mamahnya. Aika kaget saat papahnya menarik kerah jaket Angga. Aika berlari ke dalam pelukan ibunya ia tidak kuat untuk melihat Angga seperti itu. Ai tidak tau dengan perasaannya sendiri.
Aika berdiri di depan lorong sambil menggenggam kalungnya Angga, di depan matanya ia melihat Angga tengah mengambil kalungnya di lantai dan di bawa oleh pihak berwajib Angga sempat menoleh ke belakang dan sedikit tersenyum tangannya ia lambaikan pelan. Aika membuang pandangannya dan pergi ia tidak sanggup melihat lelaki brengsek itu pergi meninggalkannya. Setelah cukup jauh dia duduk di kursi panjang kepalanya ia tundukan. Matanya melihat kalung milik Angga berbentuk sayap Aika membalik mata kalung itu dan terdapat sebuah nama ETHAN.
flashend
"Juna kakak boleh pinjam kalungnya..." ucap Angga lembut tangannya ia ulurkan untuk meminta kalung itu. "Janji deh, nanti kakak buatkan ramen ukuran mangkuk besar, gimana...?" Sambungnya lagi. Arjuna nampak berfikir Angga memasang senyuman semanis mungkin ke Juna. Juna langsung mengangguk dan memberikan kalung itu ke Angga. Hal itu tak luput dari pandangan Aika, ia sempat syok karena adiknya itu luluh dengan pria di depannya.
"Mau...." pekik Arjuna. Angga hanya tertawa pelan sambil mengangguk.
"Iya sayang kakak beneran, atau Arjuna mau ikut kakak membuatnya hm..." jawab Angga sambil menawar. Great!! Senyumannya membuat Ai ikut meleleh.
Setelah mendapatkan kalung itu Angga segera berdiri lalu membalikan tubuhnya di kebelakang tepat di hadapan Aika tengah berdiri.
Dia melupakanku batin Angga.
"Ini kalungnya..." Angga memberikan kalung itu dengan jarak yang dekat. Ai merasakan aroma maskulin Angga.
Aroma ini mirip dengan lelaki itu batin Ai. Ai mengambil kalung itu ia bisa merasakan hembusan nafas Angga di kepalanya.
''Terima kasih..." jawab Ai sambil memakai kalung bermata sayap, untuk pertama kalinya ia memakai kalung itu. Mata Ai melihat di celah kancing Angga yang terbuka. lelaki itu memakai kalung bermata cincin namun tidak jelas, tangan Ai ingin menyingkap kerah kemeja Angga namun ia urungkan, sedangkan Angga hanya melihat jari lentik itu di tariknya.
__ADS_1
"Kak Aika..." pekik Abra yang baru saja turun dari tangga, remaja tampan itu langsung memeluk kakaknya.
"Huaa Abra kakak kangen..." Aika langsung memeluk tubuh adiknya juga dan bergoyang- goyang mirip teletubis.
''kapan datang huahh!!'' pekik Abra lebay, Angga yang berada di situ hanya menggaruk kepalanya
Mereka berdua lebay. Batin Angga.
'' satu jam yang lalu tadi turunin barang dulu di rumah nenek...'' jawab Aika.
"Kakak kenalin ini namanya, " Abra sempat melirik ke Angga namun Angga menggeleng sambil menggigit bibirnya. Ia tidak mau Abra memberi tahu namanya.
"Namanya siapa aja, kalo tripple panggil sih namanya kakak tampan..." sambung Abra.
"Oh ya, masa begitu..." kata Ai. Ai melepas pelukannya lalu mendekati Angga.
"Kakak kok tinggi banget sih..." tanya Aika sambil mencari kursi lalu naik diatasnya. Maklum Aika memiliki tinggi seukuran dada bidang Angga. Dari jarak 30 cm Aika mengacak pingganya lalu melihat Angga.
"Namanya siapa..." tanya Ai cempreng, ia menautkan kedua tangannya di pinggang Ai sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Mau tau atau mau tau banget..." jawab Angga biasa. Padahal jantungnya hampir meledak. Angga mendekatkan wajahnya ke Aika sedangkan kedua tangannya ia tautkan kebelakang. Aika pun ikut mendekat juga. sedikit lagi Angga dapat mencium bibir manis itu tapi ini bukan waktunya. Senyuman Angga sempat membuat Aika terpana.
"Bodo amat!! " Angga sambil ikut menjauhkan wajahnya ia hendak ingin pergi tapi,
Aaaaiiii!!!!
Aika terpekik saat kursinya terjungkang ke depan. Angga dengan sigap langsung menangkap tubuh Ai dan jatuh ke lantai bersamaan , kini posisi Angga di bawah dan Ai di atas. Ai melihat mata harimau Angga, mata itu mengingatkannya dengan seseorang yang memperkosanya.
"Kya!!! Mamah papah Ai ternodai huaaa" jerit Ai sambil bangun dari tubuh Angga, Angga hanya diam dan ikut bangkit dari posisinya. Angga menahan tawanya dalam hati
''hei gadis manis jangan mimpi!!'' kata Angga memperbaiki pakaiannya. Aika membuka mulutnya lebar dengan cepat ia berdiri dan membersihkan celana jeansnya.
''situ sengaja kan jungkangin kursi Ai, mentang- mentang Ai cantik mirip Kendall Jenner terus mau di manfaatin huh'' tuduh Aika, Angga melototkan matanya tak terima. sumpah ingin rasanya Angga menjitak kepala Ai. Angga mensejajarkan wajahnya ke Aika
''hay gadis manis! Aku tidak tertarik dengan dirimu!! Lihatlah bodymu tipis kaya papan triplek 3 ml...'' desis Angga sambil mengacungkan jarinya ke body Aika. Sebenarnya Angga berbohong tubuh Aika bisa di bilang berisi apalagi dadanya. Aika mengatupkan bibir pingnya
'' dasar tiang listrik...'' umpat Aika sambil berbalik. Angga terdiam ia memasukan kedua tangannya di saku celana, dalam hati ia bersyukur Aika tidak mengetahui dirinya dan ia bisa se cerewet ini. Angga pikir Aika akan mengalami depresi berat ternyata pikirannya jauh dari ekspetasinya.
Abra sempat terbengong melihat kakaknya secerewet tadi. ia bersyukur karena Angga Aika bisa menjadi yang dulu.
''huah kakak cerewet sekali, aduh sini Abra cium muachh...'' kata Abra sambil mencoba memeluk kakaknya, Aika tidak lagi menjadi pemurung seperti yang sebelum- sebelumnya. Abra yakin itu
__ADS_1
''eh main cium,'' Aika menahan Abra agar tak di peluk '' kasian kamu dek jangan bilang faktor jones jadi begini atau mesummu ketularan karena orang itu!!'' kata Aika sambil melirik lelaki di belakangnya
''aku gak mesum...'' dengus Angga sambil melangkah pergi ke tripplet, bisa gila dia jika dia di situ.
Abra mendengus "Hih! Kalian buat ke lebayan, kakak udah gih sana pergi... gara- gara kakak pelangganku jadi kaburan!! " sungut Abra sambil menarik kakaknya.
"Kakak tampan mana ramennya..." tagih Arjuna sambil menyilangkan tangan di dada. Angga menggaruk kepalanya sengaja sambil nyegir.
"Iya kakak buat dulu yaa..." Angga segera melesat ke dapur untuk membuat ramen. Angga masuk ke dapur dan memakai celemeknya di pinggang, dengan cepat ia mengambil pisau dan bahan- bahan sambil memotong sesekali ia tertawa akibat berbaur dengan beberapa teman- temannya di sana, di balik kaca transparan Aika dapat melihat Angga. Senyuman lelaki itu sangat di kenalnya namun Aika menggeleng kuat.
''kenapa kak...'' tanya Abra
''gakpapa, itu cowok baru kerja di sini...'' kata Aika sambil melihat Abra. Abra mengangguk
''baru kemarin ia bekerja di sini...'' jawab Abra
''tinggal di mana dia...'' tanya Aika keppo. Abra menggedikan bahunya.
''dia gak punya rumah, rencananya Abra mau menyuruhnya untuk tinggal di restoran ini...''' kata Abra sambil ikut melihat Angga.
''dia ganteng tapi mesum mirip---'' Aika menghentikan ucapannya sendiri
''kak seandainya lelaki itu kembali, kira- kira apa yang kakak lakukan...'' tanya Abra hati- hati sekaliam memotomg pembicaraam Aika
''kakak membencinya dek, karena dia hidup kakak hancur! Kakak gak mau lihat dia lagi seandainya ketemu, kakak akan pergi jauh bila perlu ikut abang ke luar negeri...'' jawab Ai sendu. Abra langsung memeluk kakaknya sembari tersenyum
"Silahkan di nikmati..." kata Angga. Suara Angga tiba- tiba saja membuyarkan adegan mellow Aika dan Abra.
Ai yang melihat Angga membawa ramen langsung meneguk.
"Punyaku mana..." tanya Ai. Angga hanya menggedikan bahu lalu kembali ke dapur. Aika yang tidak terima langsung mengikuti Angga dan berdiri tepat di depan lelaki itu.
"Mau mau ramen juga..." pinta Ai galak, Angga maju mendekati Aika hingga Aika mentok di meja besi.
"Apa..." tanya Aika gelagapan. Angga menumpukan kedua tangannya di meja tersebut hingga membuat Aika terkurung dalam tubuhnya. Angga mendekatkan wajahnya membuat Aika gelalapan dan menutup mata.
''nah...'' kata Angga. Rupanya ia mengambil semangkuk ramen di belakang Aika.
''aku tidak tertarik mencium bibirmu, jadi jauhkan pikiran kotormu nona manis..'' kata Angga pelan sambil berlalu pergi, ia melepaskan celemek hitam dan menuju keluar. Angga menggelengkan kepalanya seolah tersadar berada di dekat gadis itu membuat dirinya ingin mencium bibirnya. Aika diam sambil melihat Angga pergi meninggalkannya. Mata itu Aika tidak tidak pernah di lupakannya.
Kakak batin Aika
__ADS_1