
"Aku berhutang penjelasan padamu, Rinai."
Aku berbalik dan menatap Taka setelah menutup pintu. Keluargaku dan Mbak Aga baru saja pulang setelah makan malam canggung terjadi. Bagaimana tidak, kakakku berkali-kali mengajak suamiku berbicara tentang masa lalu tepat di depan Putra.
"Baik, tapi biarkan aku membereskan dapur dulu. Duduklah di balkon, aku akan membuatkan segelas kopi." Tanpa menunggu jawaban dari Taka, aku menuju ke dapur. Selama itu, aku berusaha menenangkan diri dan meredam emosi. Aku tidak mau berpikir hal yang negatif sebelum mendengar penjelasan dari Taka.
Ting!
Ponsel yang berbunyi mengalihkan perhatianku. Takut jika pesan itu berasal dari salah satu keluarga yang mungkim barangnya tertinggal, aku mengeringkan tangan dan bergegas melihat ponsel.
[Kakak ngga nyangka kamu nikah sama Hiro. Walau pun sekarang dia terkenal, jangan lupa Dek, kakak tau asal usulnya. Dia itu ngga lebih dari sekedar anak bodoh yang putus sekolah! Secara kualitas dia jauh dari Putra. Kakak heran, bisa-bisanya kamu nikah sama dia, Dek!]
Pesan yang kubaca membuat keningku berkerut. Dari mana kakak tau jika Taka putus sekolah? Dia tidak akan tau jika bukan Taka yang menceritakannya. Itu berarti hubungan mereka cukup dekat sehingga kakak mengetahui hal itu.
Perasaanku semakin tidak enak. Dengan malas, aku melempar ponsel ke sofa dan beranjak ke kamar untuk tidur. Aku lupa sama sekali jika suamiku masih menunggu di balkon.
***
__ADS_1
Aku terbangun saat matahari sudah bersinar. Kepalaku pusing karena gelisah sepanjang malam. Aku tidur, namun entah kenapa otakku masih tetap berpikir.
Keluar dari kamar, aku sudah menemukan apartemen dalam kondisi rapi. Ada secarik kertas yang Taka tempel di pintu kulkas, isinya mengatakan bahwa ia pergi menengok Shinoda karena mengalami kecelakaan dan meminta maaf karena tidak membangunkanku untuk pamit. Teringat sesuatu, aku mencari ponselku yang ternyata sudah berada di atas meja. Banyak pesan masuk dan hampir semuanya dari kakak. Hanya ada satu pesan dari Mbak Aga di antara pesan-pesan tersebut.
***
Setelah makan siang, aku baru saja duduk di salah satu kafe dekat Stasiun Tokyo ketika Mbak Aga masuk dan melambai. Tadi pagi, ia mengirimkan pesan dan bertanya apakah aku bisa bertemu dengannya sebelum ia kembali ke Shinjuku. Aku menyanggupinya dan mengirim pesan pada Taka untuk memberitahukan jika aku akan ke luar apartemen untuk melihat-lihat.
"Ada yang harus Mbak ceritakan, Dek." Mbak Aga menatapku serius setelah memesan secangkir kopi.
"Tentang kakak dan Taka 'kan?" tanyaku langsung.
Perkataannya membuat kepalaku mulai berdenyut, "Ada apa sebenarnya dengan kakak dan suamiku, Mbak?"
Mbak Aga menyesap kopinya yang baru saja diantar. "Ini semua terjadi saat kami kuliah di Shinjuku. Setiap libur, kami para mahasiswa dari Indonesia selalu keluar bersama untuk sekedar makan di kafe atau menonton film. Karena seringnya kami mengunjungi sebuah kafe, kami mengenal Takahiro. Saat itu, suamimu sering kali tampil bersama grupnya untuk menghibur pengunjung kafe. Mereka juga selalu tampil setiap kali festival musim panas diadakan. Karena seringnya bertemu, kami jadi berteman."
Aku menatap Mbak Aga lekat dan menunggu kelanjutan ceritanya.
__ADS_1
"Kami cukup akrab dengan Hiro dan seringkali berbincang. Hiro berlaku ramah pada setiap orang, apalagi pada kami yang merupakan pendatang. Pada waktu itu, Rindu bercerita pada Mbak kalau dia jatuh hati pada Hiro. Sayangnya, Hiro hanya menganggap Rindu tidak lebih dari seorang teman. Rindu sering kali menceritakan kegiatannya bersama Hiro pada Mbak setiap kali ia pulang dari sehabis bertemu. Sampai pada akhirnya, di suatu hari Rindu pulang dengan menangis."
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Hiro menolak perasaan rindu dan berkata jika ia menyukai gadis lain," jawab Mbak Aga.
"Hal itu membuat Rindu patah hati selama berhari-hari, apalagi setelah tau ...."
"Apa?" Aku memasang telinga untuk mendengar suara Mbak Aga.
" ... Setelah tau jika gadis yang di sukai Hiro adalah kamu."
"Bagaimana bisa?" tanyaku terkejut.
"Kenapa tidak? Kamu sering mengunjungi Rindu bersama orang tua kalian ketika ia kuliah. Di saat itu lah, Rindu menceritakan keluarganya pada Hiro dan ia pernah beberapa kali melihatmu di kafe bersama dengan keluarga kalian. Bahkan Mbak tau jika beberapa kali juga, Hiro memberikan hadiah kecil untukmu lewat Rindu. Entah dia menyampaikannya padamu atau tidak."
Ingatanku samar-samar mulai muncul. Aku ingat pada saat aku mengunjungj kakak, dia pernah bercerita jika sedang dekat dengan seorang pria Jepang. Beberapa kali ia pulang ke apartemen dengan membawa buah tangan yang diakuinya merupakan pemberian pria itu. Namun, entah kenapa wajah kakakku saat itu terlihat kesal.
__ADS_1
"Mbak rasa, Hiro juga baru sadar saat bertemu Rindu tadi malam. Jika kamu adalah cinta pertamanya."