
Aku menatap pemandangan sungai Han di sisi jembatan yang kami lalui dengan taksi. Sungai Han yang terkenal itu membentang luas sepanjang jangkauan mataku. Kami menuju ke studio rekaman karena telepon dari Shinoda. Pria itu sendiri sudah dari pagi berada di sana.
***
"Taka-ssi!"
Aku memutar mataku malas. Di studio rekaman, kami bertemu lagi dengan gadis yang merupakan salah satu member grup idola wanita.
"Taka-ssi, masih ingat aku? Aku Mina. Kita pernah bertemu di stasiun radio."
Taka mengangguk pelan, "Apa kabar?"
Aku melihat sekeliling dan hanya menemukan gadis itu seorang diri tanpa anggota grupnya yang lain.
"Aku sedang merekam lagu untuk debut solo di sini. Suatu kebetulan bisa bertemu denganmu, Taka-ssi!" ucapnya girang.
Shinoda berjalan menghampiri kami, dan sontak gadis itu menyapanya dengan ramah.
"Taka, Mina-ssi akan ikut dalam proyek rekaman kali ini. Kalian akan rekaman bersama," ucap Shinoda. Pria itu kemudian menengok ke arahku. "Dan Rinai-san, tolong bantu Taka untuk mendapatkan apa yang dia perlukan, ya?"
"Baik, Shinoda-san," ucapku. Aku tidak bisa melepaskan mataku dari tangan Mina yang memegang lengan Taka.
"Personel lain akan tiba sebentar lagi, jangan lupa ingatkan Taka untuk makan siang bersama di hotel saat para personel sudab datang, ya?" lanjut Shinoda.
__ADS_1
Aku kembali mengangguk dan mengalihkan pandangan ke arah wajah Taka yang sudah terlihat pucat.
***
Makan siang bersama di adakan di hotel tempat kami menginap. Istri Toru memelukku erat dan berkata jika ia senang bisa bertemu lagi denganku. Kami membicarakan banyak hal karena terakhir kali bertemu saat acara pernikahanku. Dalam perjalanan ke Korea Selatan ini, ternyata hanya aku dan istri Toru yang ikut serta. Pasangan para personel lain tidak bisa ikut karena kesibukan masing-masing di Jepang.
Menjelang sore, kami semua pergi dengan sebuah mobil van dan berjalan-jalan di kawasan Insadong. Kawasan ini merupakan tempat berkumpulnya budaya tradisional dan menjadi rumah untuk toko-toko yang menjual kerajinan tradisional, galeri seni dan kedai teh. Aku membeli banyak sekali barang-barang unik lucu untuk semua mertuaku serta adik-adik Taka. Taka yang berjalan di sebelahku menghilang untuk sesaat tanpa aku tau ke mana. Saat kembali, sebuah bungkusan ia berikan padaku.
"Hadiah," ucapnya pendek. Aku yang teramat girang karena menerima hadiah, berjinjit dan mengecup pipinya sekilas.
Kami kembali ke hotel setelah puas berjalan-jalan dan juga makan. Besok, Taka dan para personel yang lain akan mulai rekaman.
***
Tingkah laku Mina semakin hari semakin membuatku kesal. Gadis itu bersikap mesra pada Taka di depan orang banyak. Aku —yang sudah hampir mele*dak— ditenangkan berkali-kali oleh istri Toru dan juga Shinoda. Untungnya, proses rekaman sudah hampir mencapai tahap akhir, dan diperkirakan beberapa hari lagi akan selesai.
Kelelahan karena proses rekaman membuat Taka terserang flu. Untungnya, ia sudah menyelesaikan rekaman bagiannya dan hanya tinggal merekam untuk live. Aku memberinya obat flu yang biasa kubawa-bawa ke mana saja.
***
"Kamu tidak mau menemaniku di studio?" tanya Taka. Ia sudah memakai masker dan tudung hoodienya.
"Aku sudah berjanji akan pergi mengantar istri Toru, mungkin setelahnya akan mampir ke sana. Kamu akan pulang pagi lagi?"
__ADS_1
"Semoga tidak, kepalaku pening. Aku ingin tidur sepuasnya," jawab Taka. Ia pun berpamitan setelah memelukku erat.
***
Aku mengabarkan Taka jika tidak bisa mampir ke studio. Aku dan istri Toru tersesat karena salah menaiki bis. Kami tersesat karena kesalahan istri Toru membaca huruf Hangeul. Akibatnya, selain tidak bisa menhampiri Taka di studio, kami sampai di hotel setelah lewat waktu makan malam.
Pesan dari Taka yang baru sempat kubaca membawa perasaan tidak enak. Ia berkata jika flu yang dideritanya sudah semakin parah dan akan berusaha pulang sebelum jam sepuluh malam. Namun, hingga akhirnya jarum jam menunjukkan pukul sebelas, sosok suamiku itu masih belum terlihat. Aku mencoba menghubunginya namun ponselnya tidak aktif. Berusaha mengenyahkan pikiran buruk, aku berbaring dan mencoba tidur.
***
"Rinai-san! Buka pintunya!"
Suara nyaring seseorang dan suara gedoran di pintu kamar hotel membuat kesadaranku berangsur pulih. Mengenali suara itu sebagai suara istri Toru, aku bangkit seketika dan terserang rasa pusing hingga harus diam sejenak. Setelahnya, pintu kubuka dengan tergesa-gesa. Perasaanku tidak seperti biasa.
"Rinai-san!" ucapnya langsung masuk dan memelukku begitu pintu terbuka.
"Ada apa?" tanyaku was-was.
"Tolong tenangkan dirimu, aku akan menceritakan semuanya jika kamu tenang," pintanya.
Aku mengangguk tidak sabaran, "Tolong katakan ada apa? Sesuatu terjadi pada Taka?"
Dengan pelan wanita itu mengangguk. "Taka terlibat masalah di studio rekaman."
__ADS_1
Mataku terbelalak karena kaget. "Ada apa?"
"Taka ...," Ucapnya terbata seraya menatap mataku lekat.