Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 25


__ADS_3

"Sepertinya kamu menantangku!" Mina kembali berkata ketus.


"Memang! Jika apa yang kamu katakan benar, kamu pasti tidak akan ragu untuk melaporkan hal ini ke polisi. Tapi yang aku lihat malah sebaliknya. Kamu menggunakan kekuatan fans dan publik agar bersimpati padamu. Apa bisa kubilang jika kamu sedang menumpang di status sosial Taka-san, Mina-shi?"


"Kurang ajar!" maki Mina.


"Aku memang bisa menjadi kurang ajar jika berhadapan dengan anda, Mina-ssi" ucapku santai.


"Siapa kamu? Tidak mungkin seorang asisten bisa dengan berani berkata hal seperti itu padaku!"


Aku terdiam beberapa saat, "Kamu akan kaget jika mengetahui siapa aku sebenarnya."


Mina tertawa dan bertepuk tangan, "Benar dugaanku, kamu menjalin hubungan dengan Taka-san. Ini akan menjadi berita yang bagus! Seorang vokalis grup band terkenal melakukan pelecehan sek*sual dan tidak bersedia bertanggungjawab karena terlibat asmara dengan wanita lain. Bagaimana menurutmu? Apakah itu bagus untuk menjadi judul topik berita selanjutnya?"


Aku hampir saja tertawa mendengar perkataan Mina tentang judul topik berita. Hal itu mengingatkanku pada sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia yang kerap menampilkan sinetron dengan judul yang sangat panjang.


"Bagaimana jika topik berita selanjutnya adalah tentang seorang anggota idola grup wanita terpaksa pensiun dini karena diboikot oleh media terkait dengan kebohongan besar yang dilakukannya? Terdengar bagus bukan?" tanyaku balik.


"Apa maksudmu?" Mina kembali meninggikan suaranya.


"Aku memiliki penawaran untukmu, Mina-ssi. Tarik semua ucapanmu di media, dan aku pastikan Taka akan melupakan kasus ini."


"Jika aku tidak mau?" tanyanya menantang.


"Judul topik berita yang tadi kusebut, akan menjadi kenyataan." Aku tersenyum sinis. "Kamu boleh berkata bohong ke semua pihak asalkan tidak merugikan Taka dan grup bandnya. Sayangnya, kamu sudah sangat merugikan. Ditambah lagi, bukannya menyesal, kamu malah semakin menantang."


"Aku tidak menantang siapapun, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya terjadi."


Aku mendengus kesal, ini harus diakhiri dengan cepat. "Baiklah kalau itu maumu. Biarkan aku memperkenalkan diri secara resmi. Namaku Rinai Melodi Zeinobya dan aku adalah istri sah dari Takahiro Moriuchi."


Mina terbelalak sesaat lalu kemudian tertawa. "Jadi kamu mengaku-ngaku menjadi istrinya sekarang?" ejek Mina padaku.


"Tidak, itulah yang sebenarnya terjadi."


"Terserah! Walaupun itu benar, aku hanya akan memberitahumu sesuatu. Suamimu ini sudah melecehkanku di studio rekaman!" Mina tersenyum sinis.


"Dengan menggunakan alat kontra*sepsi?"


Ia mengangguk.


"Aoakah kamu pikir, pelaku pelecehan sek*sual sempat untuk memakai alat kontrasepsi?"


Wajah Mina panik untuk beberapa saat. "Ya! Buktinya Taka menjatuhkan satu dari sekian banyak alat kontra*sepsi yang dibawanya."


"Nona Mina, suamiku alergi dengan alat kontra*sepsi. Dia salah satu dari sedikit pria yang tidak bisa menggunakan alat kontra*sepsi. Itulah kenapa, dari awal aku tau jika kamu berbohong. Jadi sekarang, bawalah barang buktimu itu ke mana saja, dan aku akan membawa surat dokter yang menyatakan bahwa memang benar suamiku memiliki alergi terhadap benda itu. Oh iya, jangan lupa juga. Pihak kami akan menuntut kerugian yang cukup besar pada anda."


Wajah Mina sudah sepenuhnya pucat. "Tidak mungkin," lirihnya.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Pilihanmu hanya dua, menarik perkataanmu kemarin, atau semakin meributkan hal ini. Bahkan kamu bisa membuka identitasku pada media. Tapi ingat, aku juga tidak akan diam saja. Aku akan melakukan semuanya untuk melawanmu dan memastikan kamu menanggung malu yang teramat sangat."


Aku bangkit berdiri dan diikuti oleh Taka yang selama perbincanganku dengan Mina hanya diam saja. Aku memang sudah memintanya untuk diam saat aku bicara.


"Pertimbangkan baik-baik karena kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan dari suamiku. Selamat siang, Mina-ssi." Aku berjalan keluar dari kafe dengan tangan dalam genggaman Taka.


***


Shinoda dan yang lain keluar dari kafe sesaat setelah Mina pergi. Mereka menghampiriku dan menepuk pundakku pelan.


"Kerja yang bagus, Rinai-san. Aku terharu melihat caramu membela Taka-san," ucap istri Toru memelukku.

__ADS_1


"Kita masih harus menunggu langkah apa yang akan dilakukan Mina," balasku pelan.


"Tidak apa-apa, Rinai-san. Dalam waktu dekat, kita akan bisa mengetahuinya," Shinoda menimpali.


Kami semua berjalan pelan menuju tempat parkir mobil dan berniat kembali ke hotel.


***


"Rinai-chan."


Aku merasakan pelukan dari belakang ketika terbangun dan dengan terkejut menemukan sisa air mata di pipi. Dengan pelan, aku berbalik menghadap ke arah Taka.


"Apa yang kamu mimpikan sehingga sampai menangis?" tanyanya lembut.


"Aku bermimpi jika kamu pergi meninggalkanku bersama Mina."


Di luar dugaan, bukannya menenangkanku, Taka malah tertawa dan membenamkan kepalaku di dadanya. "Sepertinya hal ini membuatmu stres, Rinai."


"Ya." jawabku jujur.


"Tadi kamu keren sekali waktu berbicara dengan Mina."


"Aku memang keren dari lahir." Sesuatu yang melintas di pikiran membuatku terdiam sejenak. "Maafkan aku," ucapku tiba-tiba.


"Untuk?" tanya Taka penasaran.


"Memberitahu Mina jika kamu alergi terhadap kon*dom."


"Tidak masalah, Rinai. Itu bukan suatu masalah besar. Aku tidak malu juga karena hal itu. Bahkan itu membuatku lolos dari masalah yang menyebalkan ini."


Aku tersenyum dan kembali mengingat beberapa malam setelah pernikahan kami di saat kami bermaksud melakukan sesuatu berdua untuk pertama kalinya dengan menggunakan alat kontra*sepsi. Kami sepakat untuk menunda memiliki anak karena Taka yang baru saja bergabung dengan grup bandnya.


Namun, perasaan lucu itu seketika berganti rasa syukur yang tidak terhingga, saat ia sendiri berkata baru tau jika memiliki alergi alat kontra*sepsi. Masuk akal. Jika dia tau dari dulu, dia pasti akan menghindarinya.


Apa yang dikatakan Taka tersebut membuatku yakin, jika ia tidak pernah menggunakan alat kontra*sepsi ini sebelumnya dan kemungkinan besar, dia juga tidak pernah tidur dengan perempuan mana pun selain aku.


***


Tidak butuh waktu lama konferensi pers yang berupa klarifikasi susulan dari Mina disiarkan. Hasil dari konferensi pers itu ramai dibicarakan hampir semua media di dunia maya. Banyak yang mengecam, dan banyak juga yang kagum dengan keberanian gadis itu mengakui kesalahannya. Ia juga dengan tegas bersedia mundur dari manajemen dan grup idola sebagai bentuk pertanggungjawaban. Dan di dalam konferensi pers, dia sama sekali tidak menyebut namaku sebagai istri sah dari Taka.


***


Kami bersiap-siap untuk meninggalkan hotel dan akan menuju ke bandara. Hari ini kami akan kembali ke Jepang dan rencananya akan langsung menempati rumah di Shibuya. Personel band yang lain mengabarkan jika keadaan di Jepang sudah membaik karena klarifikasi yang dilakukan oleh Mina. Banyak fans yang ingin bertemu dengan Taka untuk sekedar memberikan dukungan moril pada suamiku tersebut.


"Apakab suatu saat kamu ingin kembali ke sini?" tanya Taka saat kami sudah berada di dalam mobil.


"Tidak. Maksudku, Korea Selatan memang negara yang indah. Tapi aku mendapat kenangan buruk di sini. Mungkin suatu saat jika aku sudah bisa melupakan peristiwa ini, aku akan kembali ke sini," jawabku.


Taka tertawa dan mengacak rambutku.


***


"Pakai kacamatamu Rinai!" ucap Taka geram ketika aku berbalik ke arah belakang hanya untuk melihat seorang pria yang sangat cantik waktu berjalan ke arah ruang tunggu khusus penumpang.


"Nyonya Taka!" Tegurnya lagi saat aku masih belum memakai kacamataku.


Aku terkekeh dan mengikuti perintahnya.


"Rinai-ssi!"

__ADS_1


Saat akan masuk ke ruang tunggu khusus penumpang, seseorang memanggil namaku. Aku yang terbelalak menatap Vobby yang sedang duduk di bagian luar ruang tunggu khusus penumpang dengan spontan melepaskan tangan dari genggaman Taka. Wajah Taka sepertinya memerah karena ia terlihat tegang berdiri di sebelahku.


"Apakah kamu akan kembali ke Jepang?" tanyanya.


Aku mengangguk mengiyakan, "Apakahkamu akan berpergian juga Bobby-ssi?"


"Iya, aku akan pergi ke Amerika untuk mengunjungi orang tuaku."


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan," ucapku sembari tersenyum.


Saat aku berbalik, Bobby memanggilku lagi. "Bisakah aku meminta nomor ponselmu, Rinai-san?"


"Tidak," jawab Taka cepat. "Maafkan aku Bobby-ssi, tapi aku tidak mengijinkan kamu mendapatkan nomor ponsel istriku.


" Istri?" tanya Bobby terbelalak.


"Ya, Rinai adalah istri sahku."


Aku hampir tertawa ketika mendengar Taka menekankan kata 'istri sahku'.


"Maafkan aku kalau begitu Taka-san. Maaf karena aku tidak tau."


"Tidak masalah," jawab Taka. "Maaf, kami harus segera pergi."


Tanpa menunggu jawaban Bobby, Taka kembali menggenggam tangaku dan berjalan menuju ke ruang tunggu khusus penumpang.


***


Aku memasuki rumah yang akan kutempati dengan perasaan ringan. Matahari sore menyorot ke dalam rumah ini dan membuatnya semakin indah. Cahaya keemasan berpendar di sekeliling ruangan dan aku menyukai apa yang aku lihat.


"Aoakah kamu lapar?" tanya Taka tiba-tiba yang sudah berada di belakangku dengan beberapa koper milik kami.


"Tidak juga, aku sedang mendesain interior rumah ini dalam pikiranku."


Taka tersenyum dan kembali memelukku dari belakang. "Taukah kamu jika aku sangat menyayangimu?"


"Aku rasa iya, walaupun kamu bukanlah pria romantis pada umumnya. Tapi aku bisa merasakan jika kamu memang menyayangiku."


Taka membalikkan tubuhku agar menghadap ke arahnya. "Maafkan aku atas semua hal yang sudah kamu lalui. Untuk semua hal yang berat dan melelahkan. Aku tidak bisa berjanji apa-apa, tapi akan kupastikan kamu selalu bahagia di sisiku, Nyonya Taka."


"Dan apakah kamu tau? Aku belum pernah merasa begitu dicintai seperti saat ini. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Aku bersyukur untuk setiap kesulitan yang kita hadapi membuat kita menjadi semakin kuat. Aku bersyukur kamu selalu ada di sisiku. Aku juga tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi yang jelas, aku akan selalu ada disini. Kamulah rumahku, satu-satunya tempat di mana aku bisa pulang. Satu-satunya tempat di mana aku mendapatkan rasa nyaman. Terima kasih banyak Taka-chan." Tenggorokanku tercekat dan mataku terasa panas. Tanpa bisa ditahan, aku memeluk Taka erat-erat dan menangis.


***


Pada malam harinya, kami duduk di kursi taman setelah membereskan beberapa barang-barang kami. Taka menyampaikan jika untuk beberapa hari, ia diberi waktu istirahat sebelum pada akhirnya melanjutkan rekaman yang tertunda di Korea Selatan.


"Jadi kita akan kembali lagi ke Korea Selatan?" tanyaku.


"Tidak. Shinoda berkata jika rekaman akan dilakukan di Jepang. Setelah banyak hal yang membuat kepala sakit, ia ingin kita semua beristirahat dan menghabiskan waktu dengan keluarga. Bagus untukku, karena aku bisa dengan segera mengikuti kelas mengaji di Tokyo Camii."


Ucapan Taka membuatku menoleh. "Kamu mengikuti kelas mengaji?"


"Belum, tapi aku sudah berniat untuk ikut."


Aku menatap Taka dengan terharu. Terkadang, mereka yang mendapatkan hidayah untuk menjadi mualaf lebih rajin dan konsisten dibandingkan dengan yang sudah menjadi muslim dari sejak lahir. Mengetahui niat Taka untuk belajar mengaji membuatku mengucap hamdalah tidak henti-hentinya dalam hati.


"Aku senang mendengarnya," ucapku lirih. "Benar-benar senang."


Taka tersenyum dan mengusap pipiku lembut. "Tetaplah bersamaku, Rinai-chan. Temani aku terus."

__ADS_1


"Tentu! Aku akan terus berada di sisimu. Aishiteru Taka!" kataku cukup keras lalu memeluknya erat.


__ADS_2