Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 15


__ADS_3

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup modern bertuliskan Toshimaen Niwa-No-Yu (Taman Air Panas Toshima). Nama Taman Air Panas diberikan karena tempat ini yang letaknya berdampingan dengan Nihon Teien (taman Jepang) yang sangat luas.


Nihon Teien adalah taman buatan yang diciptakan untuk mewujudkan kembali keindahan dari pemandangan alam dengan cara tradisional khas Jepang.


Selain Onsen alami yang letaknya menghadap Nihon Teien, daya tarik lain dari tempat ini adalah pengunjung bisa masuk ke 𝙗𝙤𝙙𝙮 𝙯𝙤𝙣𝙚 dengan memakai baju renang.


***


Setelah mendapatkan kamar dan menaruh koper-koper kami, aku dan Taka menuju ke Onsen yang tepat berada di luar dengan menggunakan bathrobe (gaun ganti yang terbuat dari bahan handuk atau kain lain yang bisa menyerap air) yang disediakan oleh penginapan. Kami menyewa fasilitas Kashiki atau Onsen pribadi karena peraturan Onsen umum yang salah satunya melarang pengunjung bertato untuk menggunakan fasilitas tersebut.


Onsen yang kami sewa terbuat dari batuan alam yang ditumpuk sedemikian rupa dan tidak terlalu besar. Onsen ini memiliki pemandanganan langsung ke Nihon Teien yang indah.


***

__ADS_1


Aku bangun dengan tubuh yang terasa segar saat langit masih gelap. Berendam air panas alami nyatanya berkhasiat untuk membuat badan rileks dan tidur lebih pulas. Taka sudah terbangun beberapa saat lalu ketika ponselnya berbunyi dan menunjukkan waktu sholat. Dari sudut mata, aku melihatnya menunaikan sholat subuh dan pura-pura kembali tertidur saat ia berusaha membangunkanku.


"Apakah aku harus menghapus tato di tanganku?" tanyanya ketika aku kembali naik ke atas tempat tidur.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Dari artikel yang aku baca, tato menghalangi masuknya air yang berfungsi untuk menyucikan diri. Apakah ibadahku akan di terima jika bahkan air saja tidak bisa menyucikan tubuhku?" ucapnya.


Untuk sesaat, aku menatapnya terpana, "Untuk hal itu kurasa kamu bisa mendiskusikannya dengan orang-orang di Tokyo Camii. Bukannya apa-apa, pemahamanku pun terbatas, jadi jika aku menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan agama kepadamu, aku takut memberikan informasi yang salah.


Dan untuk masalah ibadah, aku juga tidak bisa memutuskan apakah ibadahmu sah atau tidak. Tidak ada satu pun manusia yang tau apakah ibadah mereka diterima oleh Tuhan atau tidak. Intinya adalah melaksanakan kewajiban yang di perintahkan, itu saja," aku menjelaskan pemikiranku pada Taka yang kemudian dianggukinya.


"Aku mengerti," ucapnya pelan. Kami terdiam beberapa saat sebelum ia kembali bersuara. "Kembalilah tidur, kita akan pergi ke studio untuk menyerahkan paspormu pada Shinoda. Mungkin setelah itu kita akan pergi jalan-jalan."

__ADS_1


Aku tersenyum lebar mendengar perkataannya lalu menarik selimut tebal menutupi tubuhku.


***


Keadaan Shinoda sudah terlihat lucu dengan gips yang terpasang di kaki kanannya. Saat bertemu denganku, ia sibuk menceritakan peristiwa kenapa kakinya bisa terkilir. Semua anggota band yang lain juga sedang berkumpul untuk keperluan perjalanan ke Korea Selatan. Aku dan taka menghabiskan waktu sampai makan siang lalu setelahnya kami pamit untuk menuju ke Ikebukuro.


***


Ikebukuro adalah sebuah distrik komersial dan hiburan yang terletak di Toshima, Tokyo, Jepang. Distrik ini bersebelahan dengan distrik Nerima, tempat di mana kami menginap.


Tujuan kami adalah Stasiun Ikebukuro. Seperti yang pernah kubilang, di Jepang ini banyak tempat wisata yang berada di sekeliling stasiun.


Pada bagian pusat Ikebukuro terdapat stasiun kereta api dan kereta bawah tanah. Di pintu keluar bagian barat, terdapat daerah pecinan yang dihuni imigran Tiongkok. Mereka datang ke Ikebukuro pada tahun 1986 dan masih bertahan sampai dengan hari ini. Banyak dari mereka yang menjual berbagai produk asli dari Tiongkok. Walaupun cukup ramai, Taka berkata jika Pecinan Ikebukuro lebih kecil dan kurang populer dibandingkan dengan Pecinan Yokohama yang terletak di bagian selatan Tokyo.

__ADS_1


Di dekat pusat kota terdapat sebuah patung burung hantu yang disebut Ikefukurō-zō yang memiliki arti danau patung burung hantu. Patung burung hantu ini menjadi tempat yang cukup terkenal sama seperti patung Hachikō yang terletak di depan Stasiun Shibuya.


Kami menghabiskan waktu sampai sore di Otome Road, area perbelanjaan terkemuka untuk produk-produk Otaku yang ditujukan bagi perempuan. Otaku adalah istilah bahasa Jepang yang digunakan untuk menyebut orang yang betul-betul menekuni hobi. Banyak Otaku yang datang dan mencari barang koleksi mereka di tempat ini.


__ADS_2