
Sudah menjelang tengah malam, namun aku tidak dapat sedikit pun memejamkan mata karena perasaan aneh yang baru kali ini aku alami. Sore tadi, aku dan Taka menyambut kedatangan teman-teman anggota grup band yang datang dengan pasangan masing-masing dan menginap di hotel dekat Tokyo Camii. Selain mereka semua, besok juga akan datang manajer dan pemilik perusahaan label untuk menghadiri pernikahanku dengan Taka yang akan dilangsungkan di masjid terbesar di Jepang ini.
Selain sebagai masjid terbesar di Jepang, Tokyo Camii juga menyediakan layanan akad nikah secara islam bagi para muslim di sini. Untuk mengadakan akad nikah, pertama-tama aku harus mengisi formulir pernikahan melalui websitenya. Aku dan Taka memilih tanggal yang sama dengan tanggal yang disepakati dengan penghulu dari KBRI. Setelah formulir dikirim, dalam beberapa hari pengurus Tokyo Camii mengontakku via email untuk mengkonfirmasi tanggal dan waktu pelaksanaan nikah.
Persyaratan yang perlu dipenuhi untuk mengadakan pernikahan di Masjid Tokyo Camii adalah dengan menpersiapkan Sertifikat Pernikahan (Kekkon Gubi Shoumeisho), pas foto calon mempelai pria dan wanita, fotokopi paspor, dan uang administrasi sebesar 10,000 yen. Masjid Tokyo Camii juga akan menerbitkan Sertifikat Pernikahan Islam segera setelah pernikahan dilangsungkan.
***
"Mr. Takahiro Moriuchi, son of Mr. Shinichi Moriuchi. I marry Rinai Melodi Zeinobya to you with the mahr agreed upon," ucap penghulu yang juga bertugas sebagai wali hakim.
"I accept marrying Rinai Melodi Zeinobya with the mahr agreed upon," lanjut Taka dengan satu tarikan nafas.
Aku tidak bisa menahan jatuhnya air mata saat mendengar Taka mengucapkan ijab kabul dengan dipandu penghulu. Ada kelegaan yang kurasa setelah selama ini cukup stres dikarenakan pengurusan dokumen yang lumayan memakan waktu dan juga rumit. Istri Toru yang terus berada di sampingku, memelukku dan juga ikut menangis. Dia mendoakan kebahagiaan kami berdua dan berharap kami bisa langgeng selamanya. Akhirnya, hari ini aku resmi menjadi Nyonya Taka. Yeay!
__ADS_1
Setelah pernikahan, kami menuju ke aula lantai satu yang difungsikan sebagai tempat resepsi dengan membayar sekitar 15.000 yen per jam. Aulanya cukup luas untuk menampung sekitar 100 orang. Namun, karena pernikahan ini tertutup dan tidak boleh diketahui pihak media. Total hanya sekitar 30 orang yang hadir. Kami bersantap hidangan khas Turki dan bercengkrama selama dua jam kedepan. Setelahnya, aku dan Taka pulang ke apartemenku untuk sekedar mengambil koper lalu kemudian pindah ke apartemen Taka.
***
Netraku memindai ke segala arah sesampainya di apartemen Taka.
"Silakan lakukan sesukamu Nyonya Taka. Aku akan menaruh kopermu di kamar terlebih dahulu," ucapan Taka mengalihkan perhatian dan membuatku tersenyum lebar.
Aku berjalan pelan mengamati seluruh tempat dan menemukan jika ada dua kamar di apartemen ini. Satu sebagai kamar utama dan satu lagi berfungsi sebagai walk in closet. Secara definisi, walk in closet sebetulnya merupakan sebuah ruangan untuk menyimpan pakaian seperti pakaian, sepatu, dasi, ikat pinggang, perhiasan, dan lainnya.
Terdapat juga dua kamar mandi yang terletak di kamar utama yang dilengkapi dengan bathtub dan yang terletak di dekat dapur yang lengkap serta merangkap ruang makan. Sebuah home theater terpasang di ruang keluarga dengan sofa serta karpet bulu yang hangat dan sebuah meja pendek di atasnya.
Bagian yang kusukai adalah balkon. Terdapat ruang kecil untuk keperluan mencuci di sebelah kiri balkon yang lantainya dilapisi bahan kayu.
__ADS_1
Aku menuju ke kamar mandi di dalam kamar, berniat untuk membersihkan diri. Tidak lama, Taka masuk ke kamar juga dan memberitahukan jika ia sudah mengeluarkan semua baju dalam koper milikku dan menaruhnya di walk in closet.
"Kamu yang terbaik," ucapku sambil sedikit membungkuk memberi hormat.
Melihat kelakuanku, Taka tertawa cukup keras.
***
Karena kelelahan setelah menjalani prosesi pernikahan, aku dan Taka pergi tidur setelah mandi. Cukup lama kami tidur hingga saat aku membuka mata, keadaan kamar gelap gulita. Aku bangun dan duduk dalam keadaan pusing.
Saat akan turun dari tempat tidur, Taka menyentuhku pelan. "Berbaring saja. Biar aku yang menyalakan lampu," suranya terdengar masih mengantuk.
Tidak ingin melewatkan kesempatan, aku kembali berbaring dan menarik selimut tebal menutupi tubuhku.
__ADS_1