Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 19


__ADS_3

Lusa, para personel band yang lain dijadwalkan tiba di Korea Selatan untuk proses rekaman. Sambil menunggu, Shinoda memasukkan jadwal wawancara sebuah program televisi dan kunjungan ke studio rekaman milik perusahaan label Korea Selatan yang bekerja sama untuk membuat tiga buah lagu. Ketiga lagu itu akan dipakai sebagai original sound track dari film layar lebar dari sebuah rumah produksi di Seoul.


"Apakah proses rekaman akan lama, Shinoda-san?" tanyaku ingin tau.


Shinoda menjelaskan jika proses rekaman akan memakan waktu 4-5 hari karena Taka dan bandnya akan melalui dua macam rekaman yaitu rekaman secara live dan rekaman di studio. Rekaman secara live dilakukan secara bersama-sama dengan personel lainnya, pada saat itu juga dan tanpa melalui proses edit suara.


Sedangkan rekaman studio, proses perekaman akan dilakukan satu persatu. Di sini personel masuk ke studio dan bergantian merekam alat musiknya dengan bantuan Metronom (alat yang mengeluarkan bunyi berupa ketukan) tanpa personil yang lain. Karena Taka mengisi bagian vokal, ia akan menjadi yang terakhir rekaman.


Setelah semua proses rekaman terpisah selesai, rekaman tadi akan melalui proses Mixing atau penggabungan antara suara gitar, bass, drum, vokal menjadi satu lagu. Dan pada tahap terakhir adalah proses Mastering agar hasil audio menjadi bagus dan enak untuk didengar. Proses ini mengatur semua alat musik beserta vokalnya untuk mendapatkan volume atau nada yang sama, antara satu dan lainnya.


"Baiklah, terima kasih atas penjelasanmu, Shinoda-san," ucapku mengerti. Pengetahuanku bertambah karena menjadi istri dari seorang vokalis grup band.


***


Kami baru saja keluar dari gedung stasiun televisi yang sangat terkenal di Korea Selatan setelah wawancara. Karena masih banyak memiliki waktu luang, aku dan Taka berpisah dengan Shinoda yang langsung kembali ke hotel. Dengan menggunakan taksi, kami memutuskan pergi ke Gwanghwamun Square.


Gwanghwamun Square atau yang dikenal sebagai Gwanghwamun Plaza adalah ruang terbuka publik yang berada di Sejongno, Jongno-gu, Seoul, Korea Selatan dan dibuka pada 1 Agustus 2009 oleh Pemerintah Metropolitan Seoul.

__ADS_1


Di ruang publik yang buka selama 24 jam ini terdapat patung Laksamana Yi Sun-Shin yang sering dilihat dalam drama-drama Korea, salah satunya drama The King : The Eternal Monarch yang diperankan Lee Min-ho dan Kim Go-eun. Laksamana Yi Sun-Shin sangat terkenal akan jasanya dalam perang Imjin pada masa Dinasti Joseon melawan Jepang.


Patung Yi Sun-Shin sebenarnya bisa ditemui di banyak tempat di Korea Selatan, terlebih di sekitar Yeosu dan Busan. Yi Sun-Shin dianggap jenderal besar di Korea Selatan karena kemenangan dan kepiawaiannya dalam peperangan di lautan melawan angkatan laut Jepang.


Cerita paling heroik adalah saat pertempuran laut, di mana Laksamana Yi Sun-Shin dengan membawa 12 kapal, melawan Jepang yang pada saat itu membawa 133 kapal. Dalam pertempuran tersebut, 33 kapal Jepang berhasil ditenggelamkan.


Untuk menghormati prestasi Laksamana Yi Sun-Shin tersebut, dibuatlah air mancur tepat di depan patung yang dinamakan air mancur 12.23 untuk memperingati 23 pertempuran yang ia perjuangkan dengan 12 kapal perang ketika ia memimpin Korea meraih kemenangan selama invasi Jepang ke Korea (1592-1598).


Tidak jauh dari tempat ini terdapat pasar Dongdaemun. Pasar ini berdiri pada 1905 dan telah menjadi pasar terbesar di Korea Selatan.


***


Setelah makan malam, aku dan Taka kembali menuju ke hotel.


"Rinai!" Tepat di lobi hotel, seseorang memanggil namaku.


Aku terbelalak melihat penyiar radio yang merekam video pendek bersama Taka sedang berada di sini. "Halo, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku. Taka yang berdiri di sebelahku sudah membuang pandangan ke arah lain.

__ADS_1


"Maaf, karena sudah lancang memanggil namamu. Namaku Bobby, aku kemari karena ingin memberikan ini," jelasnya.


"Maaf, tapi asistenku tidak bisa menerima hadiah dengan maksud apapun!" Taka memotong dengan cepat.


Selama sesaat aku menahan nafas karena tegang.


"Maafkan saya, Taka-san. Tapi hadiah ini tidak disertai dengan niat buruk. Saya menghadiahkan kipas angin elektrik untuk asisten anda karena sepertinya ia kurang bisa menyesuaikan diri dengan suhu panas di sini," Bobby membuka suara dan menyodorkan sebuah tas belanja kecil.


"Akan kusimpankan," ucap Taka pendek seraya mengambil tas belanja tersebut.


"Baiklah kalau begitu, maafkan jika tindakan saya tidak berkenan untuk anda, Taka-san. Sampai jumpa lagi, Rinai."


Aku mengangguk mengiyakan. Baru saja Bobby berbalik dan berjalan beberapa langkah, Taka kembali bersuara.


"Asistenku sudah menikah, Bobby. Jadi jika kamu memiliki niat untuk mendekatinya, saya menyarankan untuk berhenti."


Bobby kembali berbalik ke arahku dan hanya tersenyum. Dengan cepat Taka meraih tanganku dan berjalan cepat menuju lift, matanya tidak berhenti melirikku dengan sinis.

__ADS_1


__ADS_2