
"Mbak tau dari mana jika aku yang disukai Taka?" Obrolan ini membangkitkan semua rasa penasaran dalam diriku.
"Dari Rindu sendiri. Dia berkata jika Hiro menyukai kamu, bukan dia. Dan itu yang membuat Rindu terluka dan sempat membencimu, Dek. Mbak sendiri baru sadar jika Taka adalah Hiro saat Mbak meminta maaf padanya karena apa yang sudah Mbak lakukan. Hiro mungkin tidak ingat jika Mbak adalah teman dari Rindu dan tau semua cerita di antara mereka."
"Apakah hubungan Mbak dan kakakku baik-baik saja? Maksudku, tadi malam aku melihat bahwa kalian berdua tidak akrab seperti biasa," tanyaku.
Mbak Aga menghembuskan nafas panjang. "Hubungan kami memang tidak baik-baik saja saat Mbak berkata pada Rindu untuk berhenti mencampuri hidupmu. Mbak merasa bersalah sudah mengikuti permintaan Rindu untuk memisahkan kalian. Apalagi saat Mbak tau jika Taka adalah Hiro. Orang yang sudah lama menyukaimu."
Aku menyandarkan punggungku ke kursi. Hal ini cukup membuatku terkejut.
***
Taka menghampiriku yang sedang duduk di balkon begitu dia pulang. Wajahnya terlihat lelah dan ia menatapku sendu.
"Bagaimana keadaan Shinoda?" tanyaku pendek.
__ADS_1
"Dia baik-baik saja. Akan butuh waktu untuk pemulihan tapi secara umum kondisinya tidak mengkhawatirkan."
Kami sama-sama diam selama beberapa saat sampai akhirnya Taka kembali bersuara. "Aku baru tau jika kakakmu adalah seseorang yang dulu kukenal."
"Duduklah dulu, aku akan mengambilkanmu minum," ucapku pelan.
***
"Aku mengenal Rindu saat sering tampil di kafe-kafe sekitar Stasiun Shinjuku. Dia dan teman-temannya dari Indonesia sering datang pada saat akhir pekan. Karena seringnya bertemu, kami menjadi teman.
Dia cukup sering menceritakan tentang keluarganya di Indonesia dan segala hal tentang Indonesia pada umumnya. Kami juga sering keluar berdua karena ia terkadang memintaku untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Hubungan kami sebatas pertemanan saja.
Entah kenapa pada saat itu, Rindu tidak jadi memperkenalkan aku dengan keluarganya dan ia pergi dengan tergesa-gesa bersama kalian. Beberapa hari kemudian, saat kami bertemu lagi di kafe, aku banyak menanyakan dirimu. Setelahnya, beberapa kali pula aku menitipkan coklat juga buku padanya untuk diberikan padamu karena katanya, kamu sangat suka membaca. Hal itu membuat Rindu agak kesal kurasa. Dia mulai berkata hal yang buruk tentangmu. Jujur saja, aku tidak suka jika ada orang yang berkata buruk tentang orang lain. Pada saat itu aku menegurnya langsung dan ia tersinggung. Ia pergi dan tidak pernah terlihat lagi datang ke kafe.
Setelah sekian lama tidak terlihat, dia kembali datang ke kafe dan memintaku untuk mengantarkannya ke suatu temoat setelah band kami selesai tampil. Saat mengantarnya itulah, ia menyatakan perasaannya. Namun, aku yang hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang teman memberitahukannya jika aku menyukai gadis lain yang adalah kamu. Aku juga menjelaskan bahwa itu juga alasan kenapa aku sering menitipkan sesuatu lewat dia.
__ADS_1
Penjelasan dan penolakanku sepertinya menyakiti hati Rindu lagi karena setelah itu dia tidak pernah muncul kembali di kafe seperti biasanya. Saat kami tidak sengaja bertemu, ia berkata jika adiknya yang adalah kamu, menolak semua pemberian dariku. Aku yang pada waktu itu cukup kecewa dengan penjelasan Rindu, memilih untuk melupakan perasaanku. Apalagi setelah Rindu lulus dan kudengar ia kembali ke Indonesia. Aku sudah benar-benar melupakan hal itu."
Aku membolakan mata mendengar cerita Taka yang sama persis dengan yang diceeitakan Mbak Aga.
"Aku tidak pernah menganggap Rindu lebih dari sekedar teman," Taka menatapku lekat. "Tidak pernah terjadi aoa-apa di antara kami. Hanya sebatas bertukar cerita dan pergi ke suatu tempat."
Aku mendekat dan memeluk Taka erat, "Aku percaya padamu," ucapku lirih di telinganya.
***
Aku sedang bersiap-siap. Taka mengajakku makan malam di luar dan setelahnya kami akan mengunjungi Shinoda di rumahnya Pria baik itu terjatuh dari undakan anak tangga saat sedang bermain golf dan membuat kakinya terkilir.
Dering ponsel menghentikan gerakanku yang sedang meluruskan rambut. Panggilan dari kakak membuatku mengerutkan kening. Pasalnya, panggilan itu masuk ke ponsel suamiku. Aku mengingat jika pada waktu makan malam kemarin, mama sempat meminta nomor Taka untuk berjaga-jaga jika aku sulit dihubungi.
"Hiro, tolong kembalilah padaku. Aku sudah berkata jika adikku itu bukan seorang perempuan baik-baik. Dia hanya terlihat baik di luar dan dia hanya suka mencari perhatian. Kamu ingat 'kan ceritaku dulu? Adik angkatku selalu memonopoli perhatian kedua orang tua kami." Suara kakak langsung bisa ku kenali tepat setelah mengangkat telepon.
__ADS_1
"Jadi kakak sudah dari dulu menjelek-jelekkan aku? Bahkan pada orang yang belum mengenalku sama sekali?" tanyaku ketus.
Tidak ada jawaban dari ujung sana sebelum akhirnya panggilan terputus.