
Setelah cukup beristirahat, Taka, Shinoda dan aku pergi mengunjungi sebuah stasiun radio yang terkenal di Korea Selatan. Di Korea Selatan, radio masih sering didengarkan karena memiliki pesona klasik dan romantisme tersendiri. Biasanya, agar dapat menarik penggemar muda, para produser radio mengundang bintang tamu yang merupakan idol grup dan memiliki banyak penggemar. Seperti hari ini, Taka dijadwalkan untuk melakukan wawancara dengan seorang penyiar yang juga seorang idola grup.
***
Kami disambut produser dan para staf radio. Dengan bahasa Jepang yang terdengar fasih, mereka berbicara dengan Shinoda dan Taka. Kami diantar ke ruang produser untuk beberapa pengarahan. Karena Taka merupakan idola dari luar Korea Selatan, dia diminta untuk merekam sebuah video pendek untuk dipasang di layar besar yang akan diletakkan di ruang publik dalam rangka mempromosikan stasiun radio ini di kalangan anak muda. Setelah pengarahan selesai, ia diantar ke ruang ganti untuk dirias.
"Permisi, anda asisten Taka-san? Bisa ikut saya sebentar?"
Aku yang baru saja memasuki ruang rias menoleh untuk memastikan jika gadis di sebelahku ini memang bicara denganku. "Saya?" tanyaku.
"Iya kamu, siapa lagi? Kamu satu-satunya asisten di sini. Kamu pikir, kamu yang akan direkam? Ikuti saya, bawakan beberapa baju ganti untuk Taka-san agar dia bisa memilihnya." Walaupun diucapkan dengan lirih, aku bisa mendengar nada ketus dari suaranya.
Mau tidak mau, aku ke luar ruangan di bawah tatapan khawatir Taka dan Shinoda.
***
Aku kembali ke ruang rias dengan wajah yang sepertinya buruk karena Shinoda tersentak melihatku. Dengan kedua tangan yang dipenuhi pakaian, aku duduk di sebuah sofa tunggu, tepat di belakang Taka yang sedang duduk dirias.
__ADS_1
Moodku memburuk karena ucapan gadis yang menyuruhku untuk mengikutinya. Dengan kedua orang temannya, mereka membicarakanku tepat di depan mata dengan menggunakan bahasa Inggris. Kata-kata seperti "𝙠𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 𝙄𝙣𝙜𝙜𝙧𝙞𝙨, 𝙬𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙞𝙢𝙞𝙜𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖 𝙅𝙚𝙥𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠" tepat ditujukan untukku. Untuk sesaat, aku hampir membalas perkataan mereka dengan bahasa Inggris yang cukup fasih saat tiba-tiba aku berpikir jika berpura-pura menjadi orang bo*doh akan menguntungkan. Aku bisa tau apa saja yang mereka bicarakan tentang aku atau Taka, langsung di depan wajahku.
***
Seorang staf radio masuk dan memberitahu Taka jika penyiar radio yang akan mewawancarainya sudah datang dan akan ikut merekam video pendek bersama. Tidak lama, orang yang dimaksud hadir dan memperkenalkan diri secara resmi pada Taka dan Shinoda.
"Nona, bisa ikuti saya?" Lagi-lagi gadis yang tadi, datang dan memanggilku. Dengan malas, aku berdiri dan mengikutinya dari belakang.
"Apa makanan dan minuman kesukaan Taka-san? Kami akan memesan sesuatu untuk menjamunya sehabis siaran."
Aku terdiam untuk sejenak, lalu tanpa ragu langsung menyebut makanan vegetarian.
Aku mengangguk pelan. Kami lanjut berjalan hingga tiba di sebuah ruang kerja. Di atas meja sudah berjejer banyak dus yg kuperkirakan berisi barang-barang khas Korea Selatan, karena aku bisa mengenali kotak kemasan ginseng yang terletak paling depan.
"Aku sudah berkata pada Shinoda-sama jika ada sedikit buah tangan dari kami," ucapnya padaku.
"Lalu?" tanyaku tidak mengerti.
__ADS_1
Gadis itu memandangku dengan pandangan meremehkan. "Sepertinya kamu baru saja bekerja, sehingga tidak tau apa tugas dari seorang asisten. Aku memberitahukanmu jika kami sudah menyiapkan beberapa buah tangan. Dan buah tangan itu berada tepat di depan matamu. Jadi sebaiknya, kamu mulai membawa semua barang di atas meja itu dan taruh di mobil yang membawa kalian ke sini."
Aku terpana beberapa saat setelah mendengar penjelasannya. Tanpa menunggu jawabanku, gadis itu mulai mengambil satu buah dus dan meletakkannya langsung di tanganku.
"Bergegaslah, cepat!" ucapnya ketus.
***
"Silakan diminum." Seseorang menyodorkan sebotol air mineral dingin. Saat mengangkat wajah, aku terpana pada sosok yang mengulurkan botol tersebut.
"Terima kasih," ucapku kikuk.
Sosok yang ternyata adalah penyiar radio di tempat ini tersenyum ramah. "Beristirahatlah dulu, kamu sudah bekerja dengan baik."
Aku berjalan ke arah sofa dengan menggenggam botol air mineral. Saat aku baru saja duduk, penyiar radio itu kembali mengulurkan sebuah kipas elektrik kecil.
"Silakan, kamu terlihat kepanasan," ucapnya lagi.
__ADS_1
Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Saat tidak sengaja menoleh ke sudut ruangan, aku terpana melihat Taka yang sedang duduk dan menatapku dengan tatapan tajam.