Aishiteru, Taka!

Aishiteru, Taka!
Chapter 21


__ADS_3

"Taka ...," ucapnya terbata seraya menatap mataku lekat.


"Taka kenapa?" tanyaku penasaran.


Istri Toru menarikku ke arah sofa dan duduk. "Asisten Toru pulang jam empat pagi untuk kemudian pergi lagi. Dia sempat bercerita padaku jika ada masalah di sana. Ia juga memintaku untuk memberitahukan semua padamu. Aku akan memberitahumu, tapi dengan catatan, kamu harus diam dan jangan banyak bertanya karena aku hanya tau sebatas apa yang akan kusampaikan padamu."


Aku mengangguk cepat.


"Taka sekarang berada di kantor polisi. Tepat setelah tengah malam, beberapa polisi datang karena laporan seseorang jika ada yang menggunakan obat terlarang. Semua yang ada di studio di periksa dan Taka ditemukan dengan kondisi tidak sadar." Istri Toru menggenggam tanganku seolah menguatkan.


Deg!


Berita yang kudengar terasa sangat tidak nyata, hingga otakku mulai mencerna tiap kalimat dan pada akhirnya sesuatu tak kasat mata menghantam dadaku keras. Aku tidak bisa menahan pikiran buruk yang menuntunku ke segala kemungkinan serta menimbulkan banyak pertanyaan di kepala.


'Apa yang terjadi?'


'Kenapa dia tidak sadarkan diri?'


'Mungkinkah dia dijebak?'


Aku meremas rambutku kuat berusaha menghentikan banyak pertanyaan-pertanyaan tersebut.


***

__ADS_1


"Rinai-san! Tolong tenangkan dirimu!"


Suara istri Toru menyentak kesadaranku kembali ke dunia nyata.


"Aku ingin bertemu suamiku," ucapku lirih yang kemudian direspon anggukan.


"Bersiap-siaplah, kita akan ke sana setengah jam lagi," balas istri Toru menutup pembicaraan.


***


Perjalanan dari hotel ke kantor polisi terasa sangat lama. Aku cemas memikirkan kondisi Taka yang sedang sakit, ditambah lagi dengan masalah baru yang menimpanya. Pikiran dan hatiku pada akhirnya sepakat jika Taka terasa mustahil melakukan hal semacam itu. Selama mengenalnya, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menggunakan obat-obatan yang dilarang.


***


"Rinai ...," ucap Taka lirih begitu aku memasuki ruangan. Dia sedang duduk di depan seseorang yang memakai seragam. Aku mengedarkan pandangan dan melihat jika Shinoda dan para personel lain juga sedang dimintai keterangan.


"Apakah saya bisa berbicara dengan salah satu dari mereka?" tanyaku menatap ke arah Taka dan juga yang lain.


"Maaf, Nona. Tapi mereka masih dimintai keterangan. Tidak ada yang bisa bertemu siapapun selama hasil laboratorium pemeriksaan mereka belum keluar."


"Apakah anda bisa menjelaskan situasi ini pada saya? Saya harus mengabarkan ini pada pihak kami di Jepang," tanyaku lagi.


Polisi tersebut memintaku untuk menunggu sebentar. Ia berjalan menuju ke sebuah meja dan berbicara pada petugas lainnya. Setelah beberapa saat, polisi itu kembali menghampiriku.

__ADS_1


"Kita bisa berbicara di dalam ruangan," sahutnya pelan dan menunjukkan ruangan yang di maksud.


***


Aku menunggu lebih dari setengah jam sebelum akhirnya seorang petugas polisi yang tidak memakai seragam, memasuki ruangan dengan membawa kertas.


"Maaf sudah menunggu lama, Nona. Kami baru saja mendapatkan hasil laboratorium. Ada zat yang cukup tinggi terdapat pada hasil pemeriksaan Taka-ssi."


Aku terhentak sesaat. "Bisakah saya tau situasi yang terjadi?"


"Kami mendapat telepon dari seseorang dan mengatakan jika ada yang over dosis di studio rekaman. Berbekal laporan itu, kami datang ke sana untuk memeriksa. Semua dalam keadaan normal. Namun, saat kami memasuki kamar Taka-ssi, kami menemukannya tidak sadarkan diri. Ditemukan juga kemasan obat tepat di sebelah tempat tidurnya."


"Bisakah saya melihatnya?" tanyaku.


Petugas itu memberikan sebuah foto kemasan obat yang sangat kukenal dengan jelas. "Ini adalah obat flu." ucapku masih sambil melihat foto tersebut.


"Obat flu?"


"Ya, ini adalah obat flu dari negara saya," jelasku. "Saya membawa obat flu ini dari Indonesia. Karena sudah beberapa hari Taka-san menderita flu berat, saya memberikan obat ini padanya."


"Taka-ssi juga menyatakan dalam laporannya jika ia sedang terkena flu dan meminum sebuah obat yang diberikan oleh asisten pribadinya. Apakah itu anda?"


"Ya, itu saya. Saya memberikan obat flu yang sering saya minum dan dijual bebas di Indonesia. Saya membawa obat tersebut dari Indonesia ke Jepang dan juga ke Seoul dan selalu mendapatkan ijin ketika pemeriksaan di bandara karena saya memiliki resep dokter untuk obat tersebut. Anda bisa memeriksa kandungan obat itu dan akan tau jika kandungan yang terdapat di dalamnya aman untuk di bawa ke negara lain. Saya memiliki fotokopi resep, surat dokter dan juga catatan imigrasi jika anda ingin melihatnya sekalian."

__ADS_1


Petugas itu terlihat berpikir sejenak. "Kalau begitu, kami juga harus menahan anda sementara waktu untuk dilakukan pemeriksaan. Apakah anda bersedia, Nona?"


"Ya, saya bersedia," jawabku mantap.


__ADS_2